DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
58. Pertarungan Di Dalam Ruang Hampa.


__ADS_3

…Ruang Hampa…


Pria yang menutupi sebagian dari wajahnya, masih menatap Carissa intens, dia masih mencerna apa yang di ucapkan dan di ingikan oleh Carissa? cinta yang tulus dari seorang pria untuknya, serta sebuah keluarga yang utuh dan hangat. Ini lelucon baginya.


"hahahaha…aku jadi meragukan mu…!!! apakah kau ini benar sang pengendali…??" ucap tawa mengejek pria tersebut pada Carissa.


"sudah aku katakan, aku bukanlah sang pengendali, aku adalah diriku sendiri." jawab tegas Carissa dengan nada sedikit membentak, karena tidak suka mendengar tawa mengejek dari pria tersebut.


"benar kau bukanlah sang pengendali…kau hanya wanita biasa yang hanya menginginkan cinta yang tulus, dan mempunyai sebuah keluarga yang utuh serta hangat. Jadi mana mungkin kau sang pengendali yang kuat, yang bisa saja menghancurkan sebuah kerajaan dengan kekuatan mu yang tidak biasa." jawab pria tersebut dengan tatapan mata dinginnya.


"sudah aku katakan, aku bukan sang pengendali, aku adalah diriku sendiri. Apakah kau masih tidak mengerti juga…?" tanya Carissa dengan tatapan dinginnya.


Carissa benar-benar tidak menyukai pria ini, arogan dan kasar. Satu yang lebih Carissa tidak suka dari pria ini, sikap mengejek keinginan dan impiannya !! seakan semua apa yang Carissa impikan dan ingikan adalah lelucon baginya.


"lalu bagaimana bisa kau ada di sini dan telapak tangan mu…" ucapnya melihat pada kedua telapak tangan Carissa. "tidak ada tanda apapun disana…!!" tunjuknya karena tidak melihat tanda apapun pada kedua telapak tangan Carissa, seperti tanda pada telapak tangan kanannya.


Carissa juga melihat cepat pada kedua telapak tangannya, dan benar. Tidak ada tanda ukiran kunci ajaib yang tadi sudah ada di sana, saat sang peramal suci memberikan tanda itu.


'kemana tanda yang tadi di berikan oleh Sophie ya…? kok hilang…!!" gumam Carissa melihat heran pada kedua telapak tangannya.


"siapa kau sebenarnya…? bagaimana kau bisa memanggilku sampai ke sini…? bahkan kau membuatku tidak bisa mencegah diriku sendiri untuk tidak datang kesini." tanya heran dan curiga pria tersebut.


"itu bukan urusanmu, aku memiliki ataupun tidak tanda di sini…"


"itu sudah menjadi urusan ku, karena kau yang sudah menarikku masuk ke ruang hampa ini, ruang di mana hanya kau yang bisa mengendalikannya, dan bisa di masukki oleh yang memiliki tanda pada telapak tangannya, yang memiliki ikatan takdir denganmu."


'apa benar yang di katakan oleh pria ini? apa benar aku bisa mengendalikan ruangan ini? jadi bagaimana aku bisa keluar dari sini?' gumam Carissa melihat curiga pada pria tersebut.


"kenapa kau hanya diam…katakan siapa dirimu? kalau kau bukan sang pengendali? bagaimana caranya kau menarik ku ke sini?"


"aku juga tidak tahu…aku hanya memejamkan mataku…lalu tiba-tiba aku ada disini."


Pria tersebut menatap tajam Carissa, dari tatapannya seakan tidak percaya dengan ucapan Carissa. Pria tersebut masih tidak percaya, kalau seorang wanita biasa bisa menariknya ke ruang hampa ini.


'siapa wanita ini sebenarnya? apa ada yang membantunya? atau ada yang merencanakan ini semua…? mengapa dia bisa menarikku dengan mudah ke sini? aku tidak dapat merasakan kekuatan yang dia miliki, dia hanyalah wanita biasa.' gumam pria tersebut bertanya pada dirinya sendiri.


"apa yang coba kau sembunyikan? bila kita memang tidak ada ikatan takdir, kita tidak akan ada di sini, bila kau bukanlah calon istri ku. Lalu untuk apa aku di sini?" ucap pria tersebut dengan nada meremehkan.


"itu bukan urusan ku, aku ingin keluar dari sini."


"tidak semudah itu kau keluar dari sini, karena kau sudah berani menarikku ke sini, jadi kau harus membayar mahal waktuku yang kau sia-siakan." ucapnya dengan tatapan tajam dan membunuh ke arah Carissa.


"apa maksudmu…?" tanya Carissa menelan salivanya, karena ngeri melihat kilatan tajam dan tatapan membunuh dari pria tersebut.

__ADS_1


Dulu saat menjadi pembunuh bayaran, Callysta tidak pernah sekalipun merasakan ketakutan yang seperti ini. Tetapi saat ini, dia sungguh meras takut dan ngeri melihat tatapan membunuh pria yang ada di hadapannya tersebut.


"ada dua pilihan untuk mu…kau harus menjadi pelayan ku atau kau mati di tanganku, itu bayaran yang harus kau berikan karena telah menyia-nyiakan waktu ku."


"siapa kau mengatur hidupku…?"


"hahahaha…masih berani kau bertanya padaku, siapa aku…?"


'gawat auranya semakin kuat, sepertinya dia memang berniat membunuhku…apa yang harus aku lakukan? bagaimana caranya aku keluar dari ruang hampa ini. Sialan…otakku benar-benar buntu tidak bisa berpikir.' gerutu Carissa dalam hatinya.


"jadi apa pilihanmu? menjadi pelayan ku atau mati di tangan ku?" tanyanya lagi dengan melangkah maju.


"tidak keduanya…" jawab tegas Carissa dengan memundurkan langkahnya.


"baik kalau itu pilihan mu…" ucapnya dengan tangan yang terulur untuk menarik bahu Carissa.


Dengan cepat Carissa menghindar, dan menyerang dengan tendangan samping yang bisa di tepis oleh pria tersebut, Carissa mencoba melayangkan tinjunya, tetapi bisa di tepis juga olehnya. Dan terjadilah perkelahian antara Carissa dan pria tersebut.


Carissa terus melawan dengan tendangan dan gerakan lincah tangannya, tetapi hanya beberapa dari serangannya yang terkena pada pria tersebut, pria itupun tidak ingin mengalah. Beberapa tendangan dan pukulan dari pria tersebut mengenai keras perut dan wajah Carissa.


Beberapa kali juga pria tersebut ingin membuka kain penutup wajahnya, yang masih tetap bisa Carissa pertahankan, terlihat darah keluar dari sudut bibirnya akibat pukulan dari pria tersebut. Carissa geram dan murka, sudah cukup dia bertahan. Carissa terus menendang dan meninju serta menyepak kaki pria tersebut.


Semua gerakan bela dirinya sudah Carissa kerahkan, tetapi tidak ada satupun bisa melumpuhkan pria tersebut, walau beberapa kali terkena serangan dari Carissa, pria itu tetap kuat dan tidak tumbang sama sekali.


'pria ini benar-benar kuat, apa yang harus aku lakukan…? kalau terus begini aku bisa mati sia-sia.' rintih Carissa yang mulai putus asa.


Carissa merasakan sakit pada seluruh tubuhnya, dan darah dari mulutnya terus mengalir, akibat tendangan pada perut Carissa dan pukulan keras pada wajahnya. Pria itu hanya terluka sedikit di bagian pelipisnya yang mengeluarkan sedikit darah.


Saat Carissa mulai putus asa, Carissa mengingat Sophie yang juga memiliki ruang hampa yang berbeda, dia pun mencoba memanggil Sophie melalui telepatinya.


"Sophie kau mendengar ku, tolong aku Sophie…" panggil Carissa melalui telepatinya.


"apa hanya itu kekuatan mu? jangan menghabiskan tenagamu yang hanya akan sia-sia, ikuti apa perintah ku." ucap pria tersebut dengan nada meremehkan.


"tidak akan…brengsek kau…hiyaaa…" ungkap Carissa menyerang pria tersebut bertubi-tubi.


Dalam benaknya, Carissa tidak boleh menyerah, karena ini hidupnya yang sudah dia pilih, jadi semua harus berjalan dengan apa yang dia inginkan.


Carissa melompatkan kedua kakinya ke arah leher pria tersebut, mengapit keras dan membanting jatuh tubuhnya, agar tubuh pria tersebut ikut terjatuh. dan itu berhasil, saat tubuh Carissa berada di atasnya, dengan keras dan bertubi-tubi Carissa memberikan tinjunya pada wajah pria tersebut, beberapa dari serangannya mengenai wajah pria tersebut.


Dengan mudah dan cepat pula pria itu membalik tubuh mereka, dan menahan tubuh Carissa yang ada di bawahnya. Carissa tidak habis akal dia berusaha menendang punggung pria tersebut dengan kakinya, tetapi pria itu tidak bergeming sama sekali.


Pria tersebut ingin memberikan tinjunya pada wajah Carissa, Carissa bisa menahannya dengan kuat.

__ADS_1


'sialan…aku terjebak…Sophie tolong aku…' lirih Carissa yang sudah tidak bisa bergerak lagi.


"Callysta…apa kau mendengarku…apa yang terjadi padamu…? mengapa wajahmu ada luka dan mulutmu mengeluarkan darah…?" panggil Sophie melalui telepatinya.


"Sophie tolong aku…aku terjebak perkelahian bersama pria yang menjadi takdir ku dari kerajaan Darkness World." balas telepati Carissa pada Sophie, seraya masih menekan tinju dari pria yang ada di atasnya.


"Callysta itu ruang hampamu, kau yang telah memanggil pria itu, jadi kau sendiri yang bisa mengeluarkannya, atau kau keluar dari sana."


"bagaimana caranya Sophie…? cepat katakan aku sudah tidak kuat menahan serangannya." ungkap Carissa dengan berusaha mendorong kepalan tangan pria tersebut.


Carissa merasakan pegangan pada tangannya melemah, dengan kuat Carissa menarik kepalan tangan pria tersebut dan dengan kuat membenturkan kepalanya pada kepala pria itu, yang membuat pria itu lengah karena merasakan sakit pada keningnya. Lalu dengan kuat Carissa mendorong tubuh pria tersebut, hingga menyingkir dari atas tubuhnya.


Carissa merasakan sakit yang luar biasa pada keningnya, yang membuat dia sedikit sempoyongan saat berdiri. Carissa memegang keningnya yang sakit dan sedikit menekan keningnya agar rasa sakitnya berkurang.


"hahahaha…ternyata kepalamu kuat juga…" ungkap pria tersebut seraya bangkit dari duduknya. Terlihat pelipis pria tersebut yang sudah terluka, mengeluarkan banyak darah dari benturan yang di buat oleh Carissa.


"Callysta kau bisa keluar dari ruang hambamu, dengan cara yang sama saat kau keluar dari ruang hampaku." ucap Sophie melalui telepatinya.


"aku lupa caranya…aaahhh sialan kepalaku pusing Sophie" runtuk Carissa pada dirinya, karena sudah merasa pusing akibat benturan keras yang di lakukan Carissa tadi.


"Pusatkan pikiranmu untuk keluar dari ruang hampa itu, pusatkan pikiran mu pada ruang nyata di mana kau berada saat ini." balas Sophie yang masih bisa di dengar oleh Carissa.


"baiklah…pertarungan kita tunda sampai di sini, di lain waktu…akan aku balas kau…" ucap Carissa menatap tajam pada pria tersebut, Carissa sudah tahu cara keluar dari sana.


"apa kau ingin lari…?" tanya mengejek pria tersebut.


"sebaiknya kau persiapkan dirimu, untuk menghadapiku di alam nyata, karena aku tidak akan mengalah lagi."


"hahahaha…akan ku tunggu kedatangan mu." ungkap pria tersebut yang juga menahan rasa sakit pada kepalanya.


Sebenarnya tubuh pria tersebut juga letih dan mulai melemah, karena ruang hampa itu menyerap semua tenaganya saat dia banyak bergerak, dan dia sudah curiga sejak awal, tetapi dia mencoba bertahan dan terlihat kuat. Pria tersebut kagum akan cara beladiri dan pertahanan Carissa yang cukup membuatnya sedikit kewalahan menghadapinya


Sedangkan Carissa tidak tahu sama sekali, tentang itu…!! karena tidak bisa melihat mimik wajah lelah dan letih pria tersebut di balik penutup wajahnya, Carissa hanya merasakan pria ini cukup kuat dan tangguh menjadi lawannya saat ini.


Tanpa pikir panjang lagi Carissa memejamkan matanya, memusatkan pikirannya pada satu titik. Carissa memusatkan pikirannya ke alam nyata, di dalam aula pertemuan istana Holmes. Dan cahaya yang terang menyilaukan mata pria tersebut, membawa Carissa menghilang dari ruang hampa untuk kembali pada alam nyata.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2