
***Kerajaan Holmes***
…Area Latihan Istana…
Leonard dan Damian melihat intens Carissa, karena Carissa mengatakan bahwa dirinya sekarang sudah bisa merasakan, aura kekuatan dari seseorang yang ada di sekitarnya.
"sejak kapan kau bisa merasakan aura kekuatan seseorang?" tanya Leonard masih penasaran.
"sejak hamba memakai cincin Pengikat ini, yang mulia…!!" jawab Carissa sembari menunjukkan cincin Pengikat, yang ada pada jari manis tangan kanannya.
"lalu kau juga bisa menghilang dan muncul begitu saja…?" tanya Leonard yang masih ingat beberapa kali, Carissa hilang dan muncul tiba-tiba di hadapan mereka.
"iya yang mulia, hamba bisa berteleportasi kemana pun yang hamba inginkan."
"berteleportasi…?" tanya Leonard dan Damian secara bersamaan.
"iya yang mulia, berpindah-pindah ke tempat lain yang kita inginkan, di sebut berteleportasi." balas Carissa lupa, jika zaman ini belum mengenal istilah dan arti berteleportasi.
Nafas Carissa terasa tercekat karena takut di curigai oleh Leonard dan Damian. Carissa hanya memasang wajah datarnya agar mereka berdua tidak curiga apapun pada Carissa?
"jadi menghilang dan muncul tiba-tiba, serta berpindah tempat dengan cepat, itu di sebut berteleportasi?" tanya Leonard untuk memastikan.
"iya yang mulia." setuju Carissa dengan anggukan kepalanya.
"waahhh hebat sekali…" ungkap Leonard senang.
Carissa hanya diam, ada sesuatu yang dia rasakan di dalam tubuhnya, tubuhnya mulai melemas karena tenaganya yang terkuras banyak. Carissa curiga kalau untuk berteleportasi memerlukan energi tubuh yang banyak dan kuat. Tidak hanya itu saja racun lendir hitam penyihir tersebut, sedikit membasahi kulit perut Carissa, dan mulai terasa panas dan tidak nyaman di kulit perutnya.
"ada apa Carissa, mengapa wajahmu berubah pucat?" tanya curiga Damian melihat perubahan mimik wajah Carissa.
Carissa hanya masih diam berdiri di tempatnya, Carissa harus cepat meminum penawar racun ajaib yang dia buat, dengan menggunakan sedikit sentuhan dari bola cahaya biru milik siluman ular, yang pernah Carissa bunuh.
Bola cahaya biru tersebut bisa menjadi racun dan juga bisa menjadi penawarnya, tergantung dari bahan campuran yang di pakai untuk membuat sebuah racun ataupun penawarnya. Dan Carissa berhasil membuat sebuah penawar racun ajaib yang bisa menyembuhkan racun, yang berasal dari racun golongan hitam.
Tetapi saat ini tubuh Carissa yang melemah, tidak bisa di gunakan untuk berteleportasi lagi ke kamarnya, bahkan untuk berjalan saja, Carissa akan tertatih karena kakinya yang sudah mulai gemetar lemas. Di tambah rasa panas dari kulit perutnya semakin memanas, akibat racun lendir hitam penyihir yang sudah menyebar di sekujur tubuhnya.
"Carissa apa kau baik-baik saja?" tanya Damian cemas melihat wajah Carissa yang semakin pucat.
"tidak yang mulia." ungkap Carissa dengan suara lemahnya, dengan di sertai tubuhnya yang mulai lunglai lemas ke tanah.
Kaki Carissa yang sudah gemetar lemas tidak bisa lagi menahan tubuhnya. Seluruh tubuh Carissa panas akibat racun yang sudah menyebar. Damian dengan segera meraih tubuh Carissa yang sudah jatuh lunglai ke tanah.
"Carissa…tubuhmu panas sekali." ungkap Damian bisa merasakan panas dari tubuh Carissa yang dia pegang. Bahkan suhu tubuh Carissa bisa di rasakan di balik kain baju yang dia pakai.
"yang mulia, tolong…bawa hamba ke kamar…!" ungkap Carissa dengan susah payah.
Tanpa pikir panjang lagi Damian mengangkat tubuh Carissa yang benar-benar terasa panas, bahkan Damian harus menahan rasa panas tubuh Carissa yang sudah membakar tangannya.
"Damian tanganmu…!" ungkap Leonard melihat kedua kulit tangan Damian memerah akibat panas yang menjalar.
"akan aku gunakan The Hot magic." ungkap Damian yang benar-benar tidak tahan akan rasa panas yang menjalar pada tubuh Carissa.
__ADS_1
Damian perlahan meletakkan tubuh Carissa kembali ke atas tanah, Damian takut akan menjatuhkan tubuh Carissa, bila Damian tidak bisa menahan rasa panas tubuh Carissa. Lengan baju Damian dan baju Carissa sampai mengeluarkan asap.
"jangan ada yang menyentuh tubuh Carissa." ungkap sang peramal suci yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"peramal suci." sebut Leonard dan Damian secara bersamaan.
Semua melihat ke arah Peramal Suci yang berdiri di atas kepala Carissa. Peramal suci lalu melangkah ke samping Carissa dan merendahkan tubuhnya.
"Carissa…tidak akan ada yang bisa mengangkat tubuhmu yang sepanas api ini, cepat katakan apa yang kau butuhkan di dalam kamarmu?" tanya sang peramal suci melihat pada wajah Carissa yang sudah memerah.
"penawar racun yang aku buat, dan aku butuh air dingin untuk mengimbangi panas tubuhku." ungkap Carissa dengan nafas yang mulai terengah-engah akibat suhu tubuhnya yang panas.
"baiklah…sebaiknya kalian aktifkan segel pada telapak tangan kalian bertiga, aku akan membantu kalian bertiga berteleportasi ke dalam kamar Carissa, melalui cincin Pengikat Carissa dan ruang Pikirannya." ungkap sang peramal suci melihat pada Damian dan Leonard.
Leonard dan Damian mengangguk tanda mengerti, dan mereka segera mengaktifkan segel yang ada di telapak tangan kanan mereka.
"dan kalian berdua cepatlah menyusul ke depan kamar Carissa dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam, kalian mengerti." ungkap peramal suci melihat pada dua pengawal pribadi Leonard dan Damian.
"hamba mengerti." balas mereka secara bersamaan.
"apa kalian sudah siap?" tanya sang peramal suci melihat ke arah Leonard dan Damian.
"kami siap." balas mereka secara bersamaan.
"genggamlah kedua tepalak tangan Carissa secara erat, dan tahan sebentar panasnya, jangan sampai kalian melepaskan tangan Carissa, sebab kita bisa saja terpisah di ruang hampa yang lainnya. Apa kalian mengerti?" tanya Peramal Suci pada Leonard dan Damian.
"mengerti Dewi Peramal Suci." balas Leonard dan Damian secara bersamaan.
"kalian dengar…!!" ungkap peramal suci melihat Leonard yang ada di sisi kiri dan Damian yang ada di sisi kanan Carissa.
"saat aku ucapkan kata sekarang, kalian genggam erat telapak tangan Carissa, lalu pejamkan mata kalian dan rasakan genggaman erat tangan Carissa. Aku akan melakukannya dengan cepat." ungkap peramal suci melihat sejenak pada Leonard dan Damian.
Peramal suci memejamkan matanya dengan
kedua telapak tangannya yang di satukan di depan dada, seraya merapalkan mantra yang tidak terdengar. Lalu Peramal Suci menyentuh kening Carissa dengan telapak tangan Kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang erat tongkat saktinya.
"Sekarang.…!" perintah paramal Suci, bersamaan dengan keluarnya cahaya dari kening Carissa yang di sentuh oleh Peramal Suci.
Damian menggenggam telapak tangan kanan Carissa dengan mempertemukan kedua segel yang ada di telapak tangan mereka, sedangkan Leonard menggenggam erat telapak tangan kiri Carissa, mereka berdua bisa merasakan panasnya api yang berasal dari kedua telapak tangan Carissa.
Dengan suara hentakkan dari tongkat sakti sang peramal suci, mereka berempat menghilang dari area latihan istana, meninggalkan kedua pengawal pribadi yang akan menyusul mereka menuju ke kamar pribadi Carissa, untuk berjaga di depan kamar.
......................
…Paviliun Kamar Pribadi Carissa…
Mereka berempat mendarat dengan tepat di atas lantai ruang tengah kamar Carissa.
"lepaskan genggaman tangan kalian." perintah peramal Suci.
Terlihat asap dari telapak tangan ketiganya, akibat bersentuhan dengan kulit Carissa yang sepanas api. Tetapi mereka tidak memperdulikannya karena saat ini, Carissa lah yang sedang sekarat menahan rasa panas di seluruh tubuhnya, sampai semua kulitnya terlihat memerah.
__ADS_1
"Carissa, apa kau masih bisa mendengarkanku?" tanya Peramal Suci yang masih duduk bersujud di atas kepala Carissa.
Carissa hanya mengangguk tanda mengerti, tanpa membuka matanya yang masih terpejam. Terlihat sekali Carissa menderita dengan nafas yang sudah tersengal-sengal.
"di mana penawar racunnya?" tanya sang peramal suci.
"laci meja hias, botol kecil warna biru dan hijau." jawab Carissa dengan susah payah.
Tanpa di perintahkan, Damian dengan segera menuju ke laci meja hias Carissa, dan mencari botol berwarna biru dan hijau yang Carissa maksudkan. Setelah menemukannya, Damian dengan segera membawa kedua botol tersebut ke hadapan Carissa.
"ini penawarnya." ungkap Damian memberitahu kan pada Carissa.
"ambil masing-masing dua butir, dan masukkan kedalam mulutku." ungkap Carissa masih dengan mata yang terpejam dan nafas yang terengah-engah.
"putra mahkota, apa bisa ambilkan segelas air, aku akan membangunkan tubuh Carissa dengan magic Activator, agar kita tidak perlu menyentuh tubuh Carissa." ungkap Peramal Suci yang mempunyai ide, karena suhu panas tubuh Carissa lama kelamaan terasa membakar kulit tangan mereka, saat tadi menyentuhnya.
"baik." balas Leonard cepat dan langsung berlalu, mengambil segelas air di atas nakas samping ranjang Carissa.
"buka mulutmu Carissa." perintah Peramal Suci. Carissa melakukannya dengan susah payah.
Sang Peramal Suci menggunakan kekuatan magic Activatornya, untuk membuat tubuh atas Carissa bangkit dengan posisi duduk, lalu Damian dengan segera memasukkan ke 4 butir penawar racun dan vitamin, ke dalam mulut Carissa yang dengan susah payah Carissa buka.
Setelah itu Carissa di beri minum segelas air oleh Leonard. Leonard bisa merasakan gelas yang ia pegang terasa panas, tetapi bisa di tahan oleh Leonard. Dengan cepat dan susah payah Carissa menelan ke 4 butir penawar racun dan vitamin tersebut.
Dengan segera Leonard melepaskan gelas yang terasa panas di tangannya ke atas lantai. Gelas itu langsung pecah dan berasap, mereka bertiga hanya melihat sekilas ke arah gelas. Lalu melihat pada Carissa yang terlihat kesusahan untuk menelan pilnya, dengan sedikit bantuan magic Activator dari Damian, Carissa bisa menelan ke 4 pil tersebut.
Mereka masih melihat intens Carissa, tapi tidak ada perubahan sama sekali.
"Carissa, dimana kunci Ajaib mu?" tanya Peramal Suci.
"ada di dalam kotak laci meja hias ku." balas Carissa masih tidak ada perubahan.
"apa kau sudah bisa memanggil kunci ajaib itu?" tanya sang peramal suci.
"aku tidak pernah mencobanya."
"kau tahu mantranya?" tanya sang peramal suci. Carissa hanya mengangguk pasrah.
"coba kau ucapkan, walau di dalam hati juga tidak apa-apa, bila kau tidak sanggup mengeluarkan lagi suaramu." perintah sang peramal suci, yang di jawab anggukkan kepala oleh Carissa.
Dengan cepat Carissa merapalkan mantra yang dia ingat, untuk memanggil Kunci Ajaibnya. Di manapun kunci ajaib itu berada, di saat sang pemilik memanggilnya dengan mantra, Kunci Ajaib tersebut akan muncul di tangan kanan Carissa, dengan membuka serta segel telapak tangan kanan Carissa.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya.
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1