
***Kerajaan Darkness World***
Semua yang ada di dalam aula Istana Lotus, mulai mempersiapkan untuk hadir dan menyaksikan pertarungan yang sudah di tetapkan oleh Kaisar Hayden Pris hari ini.
Keputusan baru saja di buat oleh mereka dengan pertimbangan yang sudah matang. Ada tiga orang yang akan melindungi dan mendampingi serta membantu Callysta untuk mendekati siluman Rubah Pria, Naranja Oscuro. Siluman rubah yang sudah menjadi target mereka saat ini.
"Aku ingin ada tiga orang yang akan bersama dengan Callysta." Kata Carissa membuat sebuah keputusan saat ini.
"Sebelumnya apakah ada yang ingin mengajukan diri atau mengutarakan pendapatnya?" Tanya Carissa tidak ingin mengambil keputusan sepihak.
Carissa sadar jika ia tidak sendiri saat ini. Banyak yang mendukung dan bersama dengannya sekarang. Dia ingin mendengarkan apa pun yang menjadi pendapat dari semua pasukkan sekaligus teman seperjuangannya saat ini.
"Maaf yang mulia. Sebelumnya tolong jelaskan apa saja yang harus kami lakukan untuk membantu nona Callysta?" Tanya Wakiza mewakili mereka yang ada di sana.
Carissa melihat ke arah Wakiza sejenak dan mengerti.
"Sebelumnya kalian harus tahu. Siluman rubah Naranja Oscuro adalah siluman rubah tercepat di dalam kerajaan Kegelapan, pergerakan cepatnya belum ada yang setara dengannya. Bahkan dua kaisar kegelapan mengakui kemampuan cepatnya itu. Bahkan mata kita tidak cukup cepat untuk melihat pergerakan yang akan di lakukan oleh siluman tersebut. Jadi kita membutuhkan seseorang yang dapat berpindah tempat, berlari atau bergerak cukup cepat. Agar saat Callysta mendekati siluman itu, bisa menghindarinya juga dengan cepat." Sedikit penjelasan Carissa sebagai bayangan mereka.
"Jadi maksud anda, nona Callysta membutuhkan seseorang yang memiliki kekuatan teleportasi seperti anda." Balas Wakiza mulai mengerti pendamping seperti apa yang di perlukan oleh Callysta saat ini.
"Salah satunya itu. Tapi di sini hanya ada tiga orang yang memiliki kemampuan itu. Aku, Shopie dan juga Oceana. Sedangkan aku harus pertarung dan mengawasi siluman rubah betina yang bisa saja menghalangi tujuan kita. Jadi untuk saat ini hanya ada Shopie dan juga Oceana yang bisa berada di posisi itu." Carissa melihat ke arah Shopie dan juga Oceana yang ia maksudkan.
Carissa memandang lama ke arah Shopie dan mengingat jika kekuatan Shopie belum sepenuhnya kembali, setelah tadi Shopie membantunya saat sekarat. Jadi Shopie pun tidak bisa ada di posisi itu.
"Shopie tidak bisa banyak membantu saat ini. Kekuatannya telah banyak terkuras setelah tadi menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki padaku, saat aku sekarat dan tidak berdaya. Jadi hanya Oceana yang akan cocok berada di posisi itu. " Ucap Carissa memandang ke arah Oceana.
Wanita cantik itu mengerti maksud dari Carissa yang telah menjadi junjungannya saat ini. Tentunya ia akan senang untuk dapat membantu kali ini, dia pun tersenyum sebagai tanda setuju apa yang telah di putuskan.
"Tentu putri, hamba menerima perintah anda dengan senang hati." Balas Oceana mengerti.
"Terima kasih Oceana karena bersedia membantu."
"Itu sudah menjadi kewajiban hamba putri, untuk selalu membantu dan mengikuti semua perintah dari anda." Balas Oceana sembari memberikan sikap hormatnya dan tersenyum manis ke arah Carissa.
Carissa membalas senyuman Oceana. Kemudian mencari dua orang lagi yang akan berada di samping Callysta, dia pun melihat ke arah Saira, Leonard dan juga Tristan Theodore yang menjadi salah satu pengawal pribadi Carissa dari Kaisar Louis Theodore.
"Baiklah dua orang lagi yang aku inginkan berada di samping Callysta." Kata Carissa melihat ke tiga orang yang ia inginkan ada di posisi itu.
"Bagaimana dengan kalian. Putra mahkota Leonard, Pangeran Tristan, dan nona Saira? Aku hanya ingin dua di antara kalian bertiga yang bersedia ada di posisi itu." Tanya Carissa memandang serius ketiganya.
__ADS_1
Saat Carissa menyebut nama Leonard, Callysta mulai gelisah. Dia belum terbiasa dalam mengontrol diri saat berada dekat bersama Leonard, pria yang sedang ia sukai dan cintai. Gadis itu datang mendekati Carissa dan berbisik sesuatu sebagai sikap tidak setuju.
"Carissa, bisakah jangan menempatkan putra mahkota Leonard di dekatku untuk sementara waktu. Maaf aku selalu gugup jika berada dekat dengannya." Bisik Callysta pada telinga Carissa.
Carissa mengerti maksud dari Callysta yang ia yakini memiliki perasaan terhadap Leonard.
"Apa kamu yakin tidak ingin dekat dengannya?"
"Sangat yakin. Untuk saat ini aku harus berkonsentrasi penuh. Jadi jika putra mahkota Leonard ada di dekatku, aku akan gugup dan tidak akan bisa berkonsentrasi dengan baik."
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan."
"Terima kasih."
Carissa kembali fokus kepada semua yang hadir di sana, setelah selesai mendengar keluhan dari Callysta.
"Sepertinya yang akan cocok untuk tugas kali ini adalah nona Saira dan juga pangeran Tristan." Ungkap Carissa seperti keinginan Callysta tadi.
"Mengapa bukan saya saja. Bukankah tadi saya juga yang pergi untuk menyelamatkan nona ini?" Ucap Leonard merasa ada yang aneh akan keputusan Carissa, setelah melihat kedua gadis di hadapannya berbisik-bisik.
Carissa tahu Leonard merasa keberatan atas keputusannya itu. Dia hanya bisa memberikan jawaban yang dapat di terima oleh sang putra mahkota kerajaan Holmes tersebut.
"Itu karena aku ingin anda, dan yang lainnya ada untuk selalu mengawasiku saat pertarungan nanti. Alasan utama mengapa saya memilih nona Saira dan Tristan adalah karena mereka memiliki kemampuan yang di perlukan oleh Callysta dalam misi ini." Jelas Carissa.
Leonard tidak langsung menjawab, dia hanya memandang tajam ke arah Callysta yang mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
"Baiklah, aku setuju." Balas Leonard menerima keputusan itu, tetapi di lain waktu pria itu akan membuat perhitungan dengan Callysta yang sangat ia curigai.
"Baiklah kalau begitu, sudah di putuskan. Nona Saira, Oceana, dan pangeran Tristan yang akan berada bersama Callysta dalam misi kali ini. Aku harap kita akan melakukan misi ini dengan sukses. Apakah kalian menerima keputusan ini?" Ungkap harapan Carissa pada rencana mereka untuk berjalan dengan lancar.
Tatapan mata Carissa melihat ke arah Saira, Tristan juga Oceana.
"Kami siap melaksanakan perintah, yang mulia." Serempak ketiganya menerima perintah Carissa.
"Terima kasih atas kesediaan kalian. Mari kita berjuang bersama demi kedamaian dunia ini." Balas Carissa tersenyum lega, terlihat anggun dan cantik. Wibawa yang Carissa tunjukkan terlihat sangat berkarisma seorang pemimpin bagi mereka.
"Satu yang harus kalian tahu." Celetuk Callysta dengan tiba-tiba.
Semuanya melihat kembali ke arah Callysta yang tiba-tiba berbicara.
__ADS_1
"Dewa Neraka ada di kerajaan ini, dia datang untuk melihat kemampuan sang Pengendali. Tapi ingat satu hal...!!" Ucapnya terhenti untuk mengatur rasa takut yang ia rasakan kembali, saat mengingat bagaimana sang Dewa Neraka yang tadi dia lihat dalam penglihatannya. Begitu kuat, bengis dan kejam.
"Apa pun yang terjadi, jangan pernah menyerang Dewa Neraka. Menyerangnya sama halnya memberikan sebuah peluang dan alasan untuk dia menyerang balik. Ingat satu hal, ini bukanlah wilayah yang bisa ia gunakan sesuka hatinya. Jadi dia tidak dapat bertindak sesuka hatinya seperti saat dia berada di dalam kerajaannya. Selain memiliki alasan kuat untuknya dapat menyerang wilayah ini. Itu karena Dewa Neraka dan Kaisar kerajaan ini memiliki sebuah ikatan dan kesepakatan yang kuat saling melindungi." Penjelasan Callysta apa yang ia ketahui dari penglihatannya.
"Bagaimana jika Dewa Neraka melakukan penyerangan terlebih dahulu terhadap kita yang akan melakukan sesuatu pada pengikut setianya. Siluman Rubah Naranja Oscuro, bukankah dia adalah jendral perang serta salah satu orang kepercayaan dari dua kerajaan kegelapan ini." Tanya Wakiza mewakili mereka semua.
"Itu benar, apakah kita hanya akan diam saja jika ada serangan darinya." Timbal Damian.
" Jika dia nekad untuk menyerang kita yang telah melukai salah satu pengikutnya. Apakah kita akan tetap diam saja? Itu artinya kita hanya akan mati sia-sia." Timpal kembali Leonard terlihat tidak suka akan ucapan Callysta.
"Diam saja. Kita hanya akan diam saja tanpa harus menyerang balik, karena akan ada yang berada di depan kita sebagai tameng untuk melindungi kita dari murka sang Dewa Neraka." Balas Callysta tahu jika Leonard tidak setuju akan ucapannya.
Callysta dapat merasakan perasaan Leonard yang tidak suka kepadanya. Dia hanya dapat mengelus dada untuk bersabar dan menerima sikap tidak suka Leonard terhadapnya.
"Apa jaminan dari perkataanmu itu? Apakah kamu dapat menjamin keselamatan kami tetap terjaga saat ada serangan dari Dewa Neraka dan kami tidak boleh menyerangnya balik." Balas Leonard menatap tajam dan tidak suka ke arah Callysta, sikapnya mulai tidak memiliki keramahan dan sikap hormat terhadap gadis yang menurut pria itu asing baginya.
"Aku yang akan menjadi jaminan kalian. Aku siap menjadi tameng di depan kalian." Balas sengit Callysta.
Semuanya terdiam untuk menyimak dua orang yang sedang memiliki perseteruan di antara mereka. Carissa yang sudah mengetahui perasaan keduanya, hanya akan diam saja dan cukup menyimak sampai di mana perseteruan keduanya.
"Kekuatan apa yang kau miliki untuk kuat menjadi tameng kami. Darah Kehidupan dan Mata Bathin yang kau miliki tidak akan cukup kuat melindungi kami semua." Balas Leonard tidak kalah sengit.
Callysta terdiam sejenak untuk mencerna semua perkataan Leonard. Apa yang di katakan oleh Leonard adalah benar. Dia tidak cukup kuat untuk melindung semua pengikut sang pengendali, hanya dengan kekuatannya itu. Bahkan saat akan melakukan misi mendekati siluman rubah Naranja Oscuro, dia harus di temani dan di lindungi oleh tiga orang pengikut sang Pengendali. Lalu bagaimana caranya untuk menjadi sebuah tameng untuk mereka?
"Anda benar putra mahkota. Saya tidak cukup kuat sebagai tameng kalian." Ucapnya lemah. Carissa hanya diam dan menyimak saja.
"Setidaknya nyawa saya dapat mengulur waktu untuk kalian menghindar dari semua serangan Dewa Neraka. Setelah itu kalian bisa memutuskan untuk menyerang balik atau tidak. Nyawa saya yang menjadi taruhannya, apakah itu tidak cukup, yang mulia??!!" Ungkap Callysta dengan tatapan sedihnya ke arah Leonard.
Callysta sadar, dulu ataupun sekarang pria yang ia sukai dan cintai tidak pernah suka kepadanya. Bahkan tidak pernah bersikap ramah dan baik terhadapnya. Hanya ada kebencian dan rasa tidak suka di mata Leonard untuk Carissa yang dulu dan Callysta yang sekarang. Hanya karena dia tidak memiliki kemampuan yang cukup baik di mata sang putra mahkota.
"Setelah nyawa saya yang menjadi taruhannya, kalian bisa melakukan apa saja setelah kematian saya." Ucap Callysta dengan sorot mata yang terlihat kesedihan yang mendalam, mereka semua melihat itu.
Callysta kemudian melangkah untuk menghindari tatapan tajam dan tidak suka Leoanard yang membuat sakit di hatinya. Gadis itu tidak kuasa melihat tatapan tajam pria yang sangat ia cintai selama ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.