
***Kerajaan Darkness World***
Callysta berusaha yakin akan penjelasan Sang Pengendali, gadis kuat yang tengah menepati tubuhnya. Callysta mencoba untuk percaya akan semua perkataannya, walaupun di dalam hatinya masih ada rasa khawatir dan takut akan semua yang terjadi di masa depan.
Carissa memeluk tubuh miliknya yang terasa semakin kuat dan memiliki aura tidak biasa. Aura yang terasa sangat kuat, special dan murni. Darah Kehidupan dan Kekuatan Mata Bathin yang di miliki oleh Callysta saat ini, akan sangat membantu mereka untuk melawan kekuatan kegelapan yang penuh akan trik jahat, licik, keji dan penuh akan kegelapan.
"Aku bahagia kamu datang ke dunia ini. Aku bahagia Carissa." Ucap Sang Pengendali berbisik di sela-sela pelukkan mereka.
Carissa Hubert yang tengah menepati tubuh Callysta Angelina, begitu senang saat nama aslinya di sebut oleh seseorang. Akankah nama aslinya itu masih menjadi miliknya kelak. Apakah mereka berdua tidak akan kembali lagi seperti sedia kala, kembali menjadi diri mereka masing-masing? Sebuah pertanyaan yang belum ada jawabannya.
"Aku juga bahagia Callysta. Terima kasih kamu telah menjaga tubuhku dengan baik. Bahkan membuat tubuh dan namaku sangat di hormati di dunia ini." Balas Carissa terharu dan bahagia, dia tidak buta untuk tahu bagaimana semua orang yang hadir di sana begitu sangat menghargai dan menghormati sosok Carissa Hubert yang menjadi sang Pengendali.
"Bahkan aku tidak pernah berharap atau bermimpi menjadi seperti kamu sekarang. Itu semua tidak pernah ada di dalam bayanganku sama sekali. Kamu berhasil melalui semua kesulitan yang bahkan mungkin aku tidak mampu untuk melewatinya. Terima kasih Callysta." Katanya kembali mengutarakan apa yang ada di hatinya saat ini.
Callysta mencoba meresapi pelukkan hangat dari sang Pengendali sembari memejamkan matanya. Begitu matanya terpejam, sebuah penglihatan akan kejadian dapat Callysta lihat dengan sangat jelas. Terjadi begitu sangat cepat dan terasa nyata, hingga membuat Callysta segera membuka kembali matanya dan melepaskan pelukkan mereka dengan nafas yang terengah-engah karena rasa terkejut dan takut.
Semua heran melihat sikap Callysta yang melangkah mundur beberapa langkah dari tubuh sang Pengendali.
"Ada apa Callysta?" Tanya Carissa tidak mengerti apa yang terjadi pada Callysta. Dia hanya dapat melihat jelas ketakutan di wajah Callysta saat ini.
Callysta ketakutan dengan nafasnya yang terengah-engah melihat ke arah Carissa.
"Kamu…kamu…!" Tunjuk Callysta ke arah Carissa dengan raut ketakutan masih terpatri di wajah gadis bermata coklat itu.
"Ada apa?" Tanya Carissa lagi.
Callysta mencoba untuk menenangkan dirinya, berusaha mengatur nafasnya yang terengah. Berdiri dengan tenang dan mengusir semua rasa takut yang ia rasakan. Tatapannya tertuju pada mata Carissa sang Pengendali yang melihatnya khawatir.
Tiba-tiba mata coklat Callysta bercahaya dan mulai berubah warna menjad silver kebiruan sama seperti yang Carissa miliki. Tubuh Callysta bercahaya dan terasa hangat. Posisi itu mengingatkan mereka pada posisi di mana saat Sang Peramal Suci mendapatkan sebuah pengelihatan.
Semuanya diam dan melihat apa yang selanjutnya akan terjadi.
"Ada sebuah pertarungan yang terjadi di Kerajaan ini. Seorang wanita dengan wujud rubah yang begitu besar akan menjadi lawan sang Pengendali, dan pria rubah dengan gerakkan yang begitu cepat akan menikam sang Pengendali dari arah belakang. Berhati-hatilah dengan tatapan mata mereka yang dapat mengendalikan semuanya. Dewa Neraka datang dan melihat segalanya, dia hanya diam karena pengaruh tiga kekuatan yang menjadi satu. Tempat ini bukanlah tempatnya untuk menghancurkan yang ingin ia hancurkan." Ucap Callysta dengan berdiri tegap dengan tubuh dan mata yang masih bercahaya.
"Tiga kekuatan dari tiga waktu yang berbeda akan menjadi satu. Sebagian dari Kerajaan ini akan hancur. Selamatkan semua orang yang tidak bersalah, dan berikan perlindungan dari cahaya hangat yang kalian miliki sekarang. Semua itu akan berbuah manis di masa depan untuk sebuah kebenaran dan kemenangan suci." Ucap Callysta kembali.
Semua orang mendengar dengan jelas semua perkataan Callysta yang tidak biasa. Tiba-tiba tubuh Callysta bergerak dengan cepat ke arah setiap orang yang hadir di ruangan itu, dan menyentuh dada mereka semua termasuk sang Pengendali yang hanya dapat diam pada tempatnya dan melihat semuanya.
__ADS_1
Callysta kembali pada posisi berdirinya semula. Perlahan cahaya pada tubuhnya meredup, dan cahaya matanya yang perlahan juga menghilang mengembalikan warna mata Callysta menjadi coklat kembali.
Callysta tersadar dan mengingat semua kejadian itu, walaupun semua perkataan dan pergerakan tubuhnya ada di luar keinginannya. Semua itu terjadi begitu saja, tubuhnya bergerak dengan sendirinya, dan bibirnya mengeluarkan semua perkataan itu tanpa ia pikirkan sama sekali.
Callysta melihat ke arah Carissa yang juga melihat ke arahnya dengan tatapan tenang.
"Apa yang semua kamu ucapkan adalah sebuah penglihatan yang baru saja kamu dapatkan, Callysta?" Tanya sang Pengendali.
"Iya. Apa kamu benar memiliki sebuah pertarungan dengan seorang siluman rubah?" Tanya balik Callysta dengan apa yang ia lihat tadi.
"Iya. Tepatnya pertarungan itu akan terjadi hari ini." Balas singkat Carissa. Dia melihat ada kekhawatiran pada raut wajah Callysta saat melihatnya.
"Ada apa Callysta? Apa ada yang ingin kamu katakan?" Tanya balik Carissa karena gadis di hadapannya hanya diam dengan raut wajah khawatirnya.
"Hati-hati pada mata mereka yang mulai bercahaya. Jangan tatap mata siluman rubah itu. Tatapan mata mereka dapat mengendalikan lawan yang ada di hadapan mereka." Balas Callysta menjelaskan apa yang menjadi kekhawatirannya pada pertarungan Carissa yang tadi ia lihat.
"Baik, akan aku ingat perkataan mu ini."
"Satu lagi Carissa."
"Apa itu?" Tanya Carissa tahu ada yang masih mengganjal di hati Callysta.
Callysta membuka penutup jarum suntik itu dengan mulutnya, sedangkan tangan kirinya ia genggam erat. Tangan kanan Callysta siap untuk menyuntikkan jarum tersebut ke dalam pergelangan tangannya.
Darah segar Callysta memenuhi sped suntikan yang ia genggam. Begitu jarum telah di tutup kembali, Callysta menyerah jarum suntik yang memiliki darah segernya kepada Carissa.
"Suntikan darah ini pada pria rubah itu, sebelum ia menyerangmu dan ingin membunuhmu. Itu akan membantumu, di saat dia berniat untuk melenyapkan mu." Ucap Callysta sembari menyerahkan darah segar yang ada di dalam sped suntikan tersebut.
Carissa menerima dan melihat sejenak suntikan yang ada di tangannya. Dia belum sepenuhnya mengerti apa maksud Callysta memberikan darah itu kepadanya. Carissa tidak mengerti, apa hubungan darah Callysta dengan pria rubah yang Callysta maksudkan.
"Apa maksudmu Callysta? Bukankah darah kehidupan ini untuk menyembuhkan seseorang yang terluka?" Tanya Carissa pada kebenaran tentang darah kehidupan milik Callysta.
"Iya. Pria rubah itu harus di sembuhkan dari penyakit yang ia derita, dan darah itu juga dapat mengembalikan ingatan yang telah hilang. Sebuah ingatan yang akan sangat membantu kita." Ucap Callysta.
"Apa maksudmu? Untuk apa kita menyembuhkan penyakit dari musuh kita Callysta?"
"Dengarkan aku Carissa." Mata Callysta terlihat serius kali ini.
__ADS_1
"Pria rubah itu telah di racun sejak kecil oleh seorang rubah betina yang menjadi Ratu di Kerajaan Rubah saat ini. Ratu yang telah membunuh Raja Rubah sebelumnya, yang merupakan ayah kandung dari rubah pria itu. Racun yang di dapatkan oleh ikatan darah antara Ratu Rubah betina dan Dewa Neraka. Racun yang menghilangkan ingatan pria itu sekaligus membuat sebagian kekuatan yang seharusnya ia miliki sebagai seorang raja tersegel. Itulah yang aku lihat." Penjelasan Callysta.
"Apa itu tidak akan berbahaya Callysta. Mengembalikan ingatan dan menghilangkan racun yang menyegel kekuatan rubah pria itu. Dia akan semakin kuat, dan mungkin akan membuat kita dalam kesulitan." Ada rasa khawatir Carissa tentang apa yang Callysta inginkan.
"Lakukan seperti apa yang aku katakan. Sisanya akan aku lakukan dan menyelesaikan semuanya." Bala Callysta dengan senyuman yang sangat yakin akan apa rencananya.
"Aku hanya perlu menatap mata rubah pria itu dari dekat. Semuanya akan selesai seperti yang aku yakini. Apa kamu bisa percaya padaku Carissa?"
"Tapi Callysta…Rubah itu memiliki pergerakan yang sangat cepat dan sulit untuk di lihat oleh kami, bahkan aku harus berkonsentrasi penuh untuk melihat pergerakannya."
Callysta tersenyum. "Mungkin bagi matamu akan sangat sulit, tapi tidak dengan mataku Callysta. Mata ini akan melihat semuanya. Aku hanya butuh satu orang yang dapat membawaku dekat di hadapannya, itu saja. Apa ada yang bisa membantuku?" Balasnya.
Semua terdiam untuk menyimak. Kemudian Callysta kembali berkata.
"Rubah pria itu adalah Raja Rubah selanjutnya. Seorang siluman rubah tidak suka untuk berhutang budi kepada siapapun. Apa lagi jika dia adalah seorang Raja rubah yang memimpin Kerajaan Rubah terbesar dari Kerajaan Rubah lainnya. Bahkan Dewa Neraka sekalipun, berani melakukan kerja sama dengan Ratu rubah untuk membunuh Raja rubah sebelumnya, agar dapat menguasi Kerajaan rubah dan seluruh pengikutnya."
"Ratu rubah adalah salah satu istri dari Dewa Neraka. Ratu yang telah membunuh saudara laki-lakinya sendiri untuk merebut tahta Kerajaan Rubah menjadi miliknya. Putra mahkota kerajaan Rubah di racuni dan di hapus ingatannya, agar tunduk dan tidak mudah untuk merebut tahta tersebut. Membunuh Raja Rubah adalah tindak pengkhianatan untuk Kerajaan Rubah, dan itu tidak akan di maafkan oleh pihak Kerajaan." Jelas Callysta sembari terus melihat ke arah Carissa.
"Membantu mengembalikan ingatan rubah pria itu, dan menyembuhkannya dari racun yang ia derita sejak kecil adalah sebuah tindakan budi yang harus mereka balas. Itulah aturan mereka, sekejam apa pun siluman rubah itu. Mereka tidak bisa berhutang budi pada seseorang yang telah menyelamatkan mereka."
"Apa kamu yakin. Siluman rubah terkenal memiliki sifat licik dan picik. Apakah kamu yakin dia tidak akan mengingkari aturannya?"
"Aku yakin, tetapi kalau dia melanggar aturan itu dan bersikap licik kepada kita yang telah membantunya. Darahku yang telah masuk ke dalam tubuhnya itu akan bereaksi. Mulai membuat panas dan membakar tubuh siluman rubah itu. Kita akan tetap menang apa pun tindakan siluman itu." Jelas Callysta akan keuntungan mereka.
Semuanya kini setuju akan rencana tersebut. Mereka hanya perlu menempatkan seseorang yang dapat membawa Callysta berada di hadapan siluman rubah pria tersebut.
"Baiklah aku setuju, dan percaya akan rencana mu ini. Aku bisa saja membawamu mendekati siluman itu dengan cepat dan mudah menggunakan kekuatan teleportasi ku. Tetapi aku harus tetap bertarung dengan siluman rubah betina. Bagaimana caranya aku mengatur itu? Aku tidak bisa lengah dari siluman betina licik itu." Jelas Carissa.
Kini gadis itu berpikir untuk menempatkan seseorang agar dapat membantu Callysta mendekati siluman rubah pria itu. Siluman Rubah Api tercepat di dunia kegelapan. Sehingga dia di beri nama pangeran Naranja Oscuro yang artinya pangeran 'Jingga Kegelapan'.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.