DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
21.Surat Perjanjian Dan Cincin Pengikat.


__ADS_3

Mereka berdua berada di dalam ruang kerja Mr.X, Callysta tidak tahu apa yang ingin di bicarakan oleh Mr.X padanya, saat ini Callysta hanya bisa mengikuti apa yang di inginkan Mr.X bagaikan boneka kayu yang di kendalikan oleh tuan dalangnya.


Mereka kini duduk saling berhadapan di sofa yang ada di dalam ruang kerja, Mr.X di temani oleh minuman wine merah kesukaannya, Mr.X juga tidak lupa memberikan segelas wine tersebut tetapi di tolak langsung oleh Callysta, karena saat ini dia tidak ingin minum minuman keras sama sekali.


"lihatlah surat perjanjian itu, yang mungkin bisa menguntungkan mu !" perintah Mr.X setelah meneguk wine nya, dan menunjuk sebuah map coklat yang ada di atas meja kaca tepat ada di depan Callysta.


Dengan malas Callysta segera meraih map coklat yang ada di depannya, dia membuka dan segera membaca surat perjanjian yang di buat oleh Mr.X untuk mereka sepakati.


Surat tersebut tertuliskan.




Callysta akan menjadi istri Mr.X yang sah selama waktu yang tidak di tentukan.




Callysta di perbolehkan melakukan apa saja yang di sukainya dan Mr.X tidak akan melarangnya selama tidak merugikan kedua belah pihak.




Callysta akan mendapatkan setengah dari harta yang di miliki Mr.X bila Callysta bisa memberikan Mr.X keturunan, dan.




bila Callysta melanggar atau tidak patuh, Mr.X akan menghukum Callysta beserta keluarga serta semua anggota mafia milik Jimmy Choo dengan cara yang Mr.X tentukan.




itulah isi surat perjanjian yang di katakan akan menguntungkan Callysta, tetapi tidak sama sekali, hanya point ke 2 saja yang menguntungkan Callysta, itupun kalau tidak salah di mata Mr.X.


"perjanjian ini yang kau katakan akan menguntungkanku?" tanya Callysta menatap tajam pada Mr.X dengan mimik wajahnya yang datar dan dingin.


"point ke 2 dan ke 3 sangat menguntungkan mu." jawab Mr.X santai dengan masih menyesap minuman wine nya.

__ADS_1


"point ke 2 mamang sedikit menguntungkan ku, tetapi kalau itu tidak salah di matamu." balas Callysta seraya membaca kembali isi surat perjanjian yang ada di tangannya.


"point ke 3, kau seakan memaksaku hanya untuk melahirkan anak mu saja, kau pikir aku alat reproduksi apa?" tanya kesal Callysta tidak suka akan isi dari point ke 3 yang mengharuskannya memiliki anak dengan Mr.X.


"apa kau keberatan melahirkan anak dari buah pernikahan kita? anak itu anak sah bukan anak haram? anak itu adalah keturunan ku." balas Mr.X menatap tajam pada Callysta, seakan Callysta tidak ingin memiliki anak bersamanya.


"memiliki anak harus dasar suka sama suka bukan atas dasar pernikahan saja, selain kau memaksa ku menikah denganmu, kau juga akan memaksaku untuk memiliki anak bersamamu?" tanya Callysta masih menatap tajam Mr.X.


"apa kau pikir aku hanya akan menikahi mu saja? apa kau tidak berpikir dengan masuk akal? bila bukan bersama mu memiliki seorang anak, lalu aku akan memiliki anak dengan siapa?" tanya Mr.X tidak ingin kalah bicara dengan Callysta.


"itu terserah padamu? aku tidak ingin memiliki anak dengan cara kita tidak saling menyukai."


"sudah cukup aku saja yang suka padamu, itu lebih dari cukup untuk alasan kita bisa memiliki anak." balas Mr.X dengan berusaha tetap tenang, dia tidak ingin marah di hadapan Callysta yang akan buat Callysta semakin tidak menyukainya.


Callysta menghembuskan nafasnya perlahan, tidak ada gunanya berdebat dengan Mr.X, keinginan adalah miliknya, hukum juga miliknya, dan semua adalah miliknya, tidak ada bagian untuk Callysta, lebih baik mengikuti arus saja karena percuma untuk berdebat, tetap akan kalah dan tidak akan menang, tidak akan ada perubahan sama sekali.


"apa untuk point memiliki anak? kau tidak bisa memberikan aku kesempatan atau waktu untuk aku siap dulu, dan bisa tidak untuk tidak memaksa ku?" ungkap Callysta dengan suara yang lirih dan mimik wajahnya yang berubah muram.


Mr.X memperhatikan perubahan wajah Callysta, hati Mr.X merasa bersalah, karena telah memaksakan kehendaknya pada Callysta dalam surat perjanjian tersebut, tetapi kalau dia tidak melakukan itu dan memaksa Callysta, Mr.X takut Callysta akan dengan cepat meninggalkan Mr.X, dan dia belum siap untuk kehilangan Callysta.


"baiklah untuk point itu aku tidak akan memaksa mu, aku akan memberikan mu waktu, sampai kau siap untuk memberikanku anak, surat itu akan tetap berlaku dan kita akan tanda tangani." ucap Mr.X sedikit mengalah agar Callysta tidak terus kecewa pada dirinya.


Callysta menatap tidak percaya pada Mr.X dengan keputusan yang baru saja Mr.X ucapkan.


Dalam pikiran Callysta tidak ada gunanya melawan lagi, bukannya dia takut untuk mati atau tewas di tangan Mr.X, tetapi dia masih memikirkan semua anggota mafia sang papa yang tidak bersalah, karena banyak dari mereka yang sudah memiliki keluarga, bila dia menolak dan Mr.X melakukan ancamannya untuk menghancurkan dan membunuh semua anggota mafia Jimmy Choo, bagaimana dengan keluarga mereka yang terbunuh.


Walaupun resiko pekerjaan mereka adalah tewas di tangan musuh, tetapi Callysta tidak ingin mereka tewas karena dirinya yang menolak Mr.X dan ke egoisan hati Callysta, Callysta tidak ingin menyesal dan merasa bersalah pada dirinya sendiri bila apa yang menjadi ancaman Mr.X terlaksana, banyak nyawa yang harus Callysta pikirkan dan pertahankan.


Callysta tidak ingin hanya kerena ke egoisannya banyak anak yang akan terlantar karena tidak mempunyai orang tua, Callysta tidak ingin melihat anak-anak dari rekannya semua menjadi anak yang terlantar seperti dirinya dulu.Mr.X sangat tahu apa yang menjadi kelemahan Callysta.


Karena tidak semua dari anggota mafia Jimmy Choo yang menjadi pembunuh bayaran, hanya beberapa yang menjadi penembak jitu saja yang ditugaskan untuk membunuh seseorang termasuk dirinya dulu.


Anak buah mafia Balck King lebih banyak yang membantu Jimmy Choo menjadi pengawal bayaran, pelaku transaksi untuk penjualan senjata api yang dirakit, menjual racun yang Callysta ciptakan, dan obat-obatan yang mujarab penyembuh yang di ciptakan oleh Callysta ke pasar gelap dan menjualnya pada para pembeli yang membutuhkan.


Beberapa dari anak buah Jimmy Choo adalah anah buah yang membantu Callysta di laboratorium nya yang ada di markas Jimmy Choo, jadi tidak adil kalau mereka mati sia-sia.


"selesai, apa sekarang anda sudah puas?" ucap Callysta setelah selesai menanda tangani surat perjanjian tersebut.


Callysta menatap tajam pada Mr.X yang tersenyum senang karena puas dengan apa yang di inginkanya dari Callysta, Mr.X meraih surat perjanjian tersebut dan juga menanda tanganinya, setelah itu dia meletakkan sebuah kotak perhiasan berwarna merah di atas meja kaca yang ada di depan Callysta.


"buka kotak itu.!!"perintah Mr.X pada Callysta yang melihat ke arah kotak perhiasan dan Mr.X secara bergantian.


Tanpa menjawab perkataan Mr.X Callysta mengambil kotak perhiasan tersebut, dengan perlahan dia membuka kotak tersebut dan melihat sebuah cincin putih berlian yang sangat cantik, dengan model hati yang bertabur berlian kecil melingkari membentuk hati dan di tengah-tengah bentuk hati cincin itu terdapat berlian yang lebih besar, cincin yang sangat terlihat cantik dan mahal.

__ADS_1


"itu cincin keluargaku, yang akan di wariskan pada setiap pendamping atau istri sah yang akan menjadi nyonya keluarga selanjutnya, semua keluarga yang melihat cincin itu akan tahu kalau kau adalah istri sah ku." ungkap Mr.X menjelaskan pada Callysta yang hanya melihat cincin tersebut.


Callysta masih tetap diam melihat cincin yang dia pegang, tanpa dia sadari Mr.X berjalan mendekatinya dan duduk dekat di sampingnya, dan untuk pertama kalinya mereka berdua berdekatan dan itu membuat hati Mr.X senang.


Mr.X meraih kotak yang di pegang oleh Callysta, dia mengambil cincin tersebut dan meraih tangan kanan Callysta, dengan cepat dan lembut Mr.X menyematkan cincin berlian nya ke jari manis Callysta, pas !! sangat pas ukuran cincin dengan jari manis Callysta.


Callysta terkejut dengan kedekatan mereka, tetapi untuk menolak Callysta tidak bisa karena dengan lembut dan cepat Mr.X menyematkan cincin berlian ke jari manisnya, Callysta hanya bisa melihat telapak tangan nya pada gengaman lembut Mr.X.


Perlahan Mr.X mendekatkan punggung tangan Callysta pada bibirnya dan mengecup lembut serta meresapi kecupannya pada punggung tangan Callysta, Callysta hanya diam melihat semua perlakuan lembut Mr.X padanya. Pandangan mata mereka pun bertemu, mereka masih saling memandang.


"jangan pernah kau melepaskan cincin ini, karena cincin ini sudah memilihmu untuk menjadi pendampingku." ungkap Mr.X setelah selesai mengecup punggung tangan Callysta, dan menatap lembut mata Callysta yang juga masih menatapnya.


Callysta pun tersadar akan kedekatan mereka, dengan segera dia menarik tangannya dari genggaman Mr.X dan menggeser duduknya sedikit menjauh dari Mr.X.


Mr.X tersenyum dengan tingkah laku Callysta yang tiba-tiba menjauh darinya, Mr.X sudah sangat puas walaupun kedekatan mereka hanya terjadi beberapa detik saja, itu lebih dari cukup membuat hati Mr.X bahagia.


"besok bersiaplah menjadi tunangan ku dan calon istriku, besok kau harus menemaniku ke sebuah pesta, dan ini akan menjadi awal kau di ketahui oleh publik bahwa kau adalah calon istriku, karena di sana juga aku akan memperkenalkan dan mengumumkan kalau seminggu lagi kita akan menikah." ungkap Mr.X yang membuat Callysta terkejut melihat ke arah Mr.X.


"apa harus secepat itu pernikahan ini?" tanya Callysta dengan wajah yang terkejut.


"lebih cepat lebih baik, untuk apa mengulur waktu lebih lama?"


"tapi aku belum siap kalau secepat itu." ucap Callysta mencoba protes.


"sampai kapan pun kau belum siap kalau terus berpikir kalau kau belum siap, jadi besok ataupun seminggu lagi kau harus siap, kau mengerti?" balas Mr.X seraya melihat curiga pada Callysta.


"apa kau belum siap karena salah satu anggota dari keluarga Yuandara?" tanya selidik Mr.X.


Callysta yang mendengar nama keluarga Yuandara di sebut lagi oleh Mr.X pun memalingkan wajahnya ke arah lain, dan tidak melihat lagi wajah Mr.X.


"tidak…lakukan apapun yang ingin kau lakukan." balas Callysta seraya bengun dari duduknya, dan Mr.X terus memperhatikan nya.


"aku lelah…bisa kah aku istirahat sekarang?" ucap Callysta kembali tanpa melihat ke arah Mr.X.


Callysta tidak ingin membahas tentang keluarga Yuandara lagi, yang hanya akan membuat hatinya sakit mengingat Antoni Yuandara, sedangkan Mr.X sangat tahu akan perubahan mimik wajah Callysta yang sedih dan kecewa serta takut bila sudah membicarakan tentang keluarga Yuandara.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2