
Satu hari pun telah berlalu dan aku sudah mulai bisa mendudukkan tubuhku, walaupun harus tetap hati-hati agar tidak berdampak pada leherku yang masih terluka.
Aku berpikir, aku harus segera mendapatkan tas tempat obat yang ada di loker ruang kerjaku. Mendapatkan obat ajaib yang aku buat sendiri, obat tersebut bisa membantu penyembuhan ku lebih cepat dan bisa dengan cepat mengurangi rasa sakit ku, tetapi ponselku pun tidak bersama denganku.
Aku melirik ke arah tuan muda yang duduk di sofa bersama asisten pribadinya.
Maklumlah, aku berada di area kamar VVIP untuk keluarga Yuandara, yaitu satu kamar bersama tuan muda Antoni. Menurut beberapa rekanku yang melihatnya akan berkata, ruang perawatan ku mewah, nyaman dan serba lengkap. Hanya aku sendiri yang tidak nyaman, karena harus sekamar dengan tuan muda Antoni.
Aku menolak dan meminta kamar biasa saja untuk diriku sendiri, tetapi itu hanyalah sia sia karena alasan tuan muda yang ingin melindungi ku dari penjahat. Penjahat yang mungkin saja akan datang lagi untuk mencelakainya. Sedangkan aku yang sudah pernah menolongnya ikut akan menjadi incaran para penjahat itu. Agar penjagaan lebih praktis, jadilah kami sekamar dengan penjagaan yang super ketat.
Aku hanya bisa pasrah karena sudah pasti setelah aku sembuh. Ini akan menjadi rumor yang menghebohkan dan terhangat untuk di bicarakan, karena aku bisa satu kamar perawatan dengan seorang putra pemilik dari rumah sakit Trina Yuan. Rumah sakit terbesar dan terbaik di kota A, aku harus bersiap menghadapi rumor tersebut.
Tuan muda yang masih dalam masa pemulihan, masih menggunakan baju rumah sakit sama sepertiku. Hanya bedanya, dia sudah bisa berjalan dengan leluasa walau masih terpasang infus di tangannya. Itu tidak membuatnya kesusahan untuk bergerak sama sekali.
Aku sangat heran dengar maksudnya, tidak mungkin semua penjahat yang mengincarnya mengenali wajahku. Mataku terus memandangi dia yang sedang bekerja bersama asistennya, ingin memanggilnya tapi masih takut untuk berbicara.
Bagaimana tidak? Makan saja aku harus memakan bubur cair agar dapat dengan mudah untuk di telan, jadi jangankan berbicara untuk menelan saja aku susah sekali.
'Ini orang kalau sudah kerja serius sekali, menoleh saja tidak. Bagaimana aku mau meminta tolong?' Gumamku berpikir yang masih duduk manis di atas ranjang rumah sakit.
'Ooo iya, yang sakit kan cuma leherku dan kaki ku masih bisa berjalan, kenapa aku sangat bodoh, aku masih bisa berjalan ke ruang kerjaku untuk mengambil obat ajaib itu.' Gumamku yang berusaha turun dari ranjang, pergerakkanku menjadi perhatian dari tuan muda dan asistennya itu.
"Kau mau kemana?" Tanya tuan muda yang melihatku sudah berdiri dan mematikan jalan infusku dan meraih botol infusnya.
Karena aku tidak boleh berbicara, jadi ya aku masa bodohlah tidak perlu susah-susah untuk menjawabnya. Aku hanya meliriknya sekilas dan tetap melangkah mendekati pintu ruangan untuk keluar.
Melihatku yang tidak memberikan jawaban apapun, tuan muda bangun dari duduknya dan berusaha menghalangi langkahku.
"Aku tanya kau mau kemana?" Tanyanya dengan tatapan tajamnya.
'Nah ini baru sifat asli tuan muda Antoni yang anti di sentuh oleh wanita, tatapan yang tajam dan mimik muka terlihat sangar, walaupun tampan sih..!' Gumamku dalam hati melihat tuan muda yang berdiri di depanku dengan tatapan tajamnya padaku.
"Aku tanya, kau mau kemana?" Tanyanya lagi karena aku hanya diam melihatnya dan tidak menjawab.
__ADS_1
'Ini orang yang bodoh atau aku sih? Apa dia lupa kalau aku tidak boleh berbicara? Apa dia pura-pura lupa? Kenapa terus memaksaku untuk menjawab pertanyaan nya?' Gumamku kesal melihatnya sambil geleng-geleng kepala.
Aku menarik dan menghembuskan nafasku dan melihat ke arah meja, akupun melangkah mendekati meja ingin mengambil buku agenda dan pena yang ada di sana.
"Jangan menyentuh buku ini, mau apa kau?" Tanya asisten Leo menatapku tajam.
Aku yang sedang kesusahan meraih buku tersebut, bukannya di bantu malah aku di larang dan di tatap tajam oleh asisten Leo.
"Biarkan asisten Leo." Perintah tuan muda Antoni pada anak buahnya, dan asisten Leo pun hanya bisa mengikuti perintah tuannya untuk melepaskan buku agenda yang ingin kuraih.
Aku segera menulis jawaban dari pertanyaan tuan muda tadi, karena saat ini aku hanya bisa menulis dan tidak bisa berbicara.
"Saya hanya ingin mengambil tas di ruang kerja saya, ada yang ingin saya ambil di dalam tas itu." Tulisku pada buku agenda itu dan memberikannya kepada tuan muda Antoni.
Dia membaca apa yang aku tuliskan. "Biar asisten ku yang mengambilkannya untukmu." Ucapnya memandangku.
Aku mengerutkan keningku dan meraih kembali buku agenda tersebut dan menulis sesuatu.
Dengan sedikit kasar aku menyerahkan buku agenda tersebut padanya, dan tingkahku menjadi sorotan oleh asisten Leo. Saat asisten itu ingin menegurku malah di cegah oleh tuannya.
"Baiklah, aku dan asisten Leo yang akan mengantar mu ke sana." Jawabnya, akupun dengan cepat mengambil agenda tersebut dan menulis lagi.
"Tidak perlu, saya bisa berjalan ke sana sendiri." Tulisku dan menyerahkan agenda tersebut.
"Kalau kau tidak setuju, kau tidak boleh pergi sama sekali." Jawabnya yang membuatku melotot kesal memandang tuan muda Antoni.
'Percuma berdebat dengannya, membuang energi dan waktuku saja, ya sudah lah dari pada aku tidak sembuh-sembuh, malah lebih lama lagi aku harus bersama dan dekat dengannya terus.' Gumamku dalam hati, aku pun menghela nafasku pasrah.
"Baiklah, terserah" Tulisku singkat dan langsung melangkah melewati tubuh tuan muda.
Aku melangkah sepanjang lorong, dan benar saja aku di ikuti oleh tuan muda Antoni bersama asisten itu. Seperti dua orang pengawal yang sedang mengawasiku, sontak aku menjadi pusat perhatian dan tatapan mata semua orang yang aku lalui melihat ke arah kami.
Aku hanya acuh saja, tidak peduli dengan tatapan dan pikiran orang kepadaku. Pikiran ku hanyalah ingin cepat mengambil obat ajaib agar segera sembuh. Cepat pula lepas dari tuan muda yang mau seenaknya saja memberi perintah menurut keinginannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian…
Aku, tuan muda Antoni, dan asisten Leo sudah berada di dalam ruang kerjaku. Sedangkan kedua pengawal yang ikut tidak ku izinkan masuk, ruang kerjaku tidak terlalu besar tetapi cukup nyaman untukku bekerja. Tuan muda dan asisten itu memperhatikan setiap sudut yang ada di dalam ruangan ku.
Aku membuka loker yang menggunakan mesin kode sidik jari dan sorot mata yang aku ciptakan sendiri. Alat canggih yang aku buat di dalam markas, tempat anggota ayah berkumpul untuk membuat alat dan mesin rakitan, mobil modifikasi, bom rakitan, dan senapan rakitan. Di sana aku juga memiliki ruang laboratorium pribadi saat membuat racun beserta penawarnya untuk di jual ke pasar gelap oleh organisasi mafia papa.
Tuan muda Antoni dan asisten Leo pun tercengang melihat mesin yang terpasang di lokerku, berbentuk sedikit aneh dan unik. Tidak sama seperti mesin kunci pintu sensor biasa yang di jual pada beberapa pasar atau toko.
Aku hanya acuh dengan ekspresi mereka, dengan cepat mengambil satu botol kecil yang berisi cairan berwarna bening dan memasukkan cairan tersebut pada spet suntikan. Aku menghidupkan aliran infusku terlebih dahulu, lalu menyuntikkan cairan obat tersebut pada selang karet infusku. Setelah itu, aku mengambil botol obat plastik tertulis kode rahasia. Hanya aku yang mengerti akan kode obat tersebut, aku meminumnya sebutir.
Aku juga ingin memberikan obat yang sama kepada tuan muda Antoni karena obat buatan ku ini adalah obat ajaib. Obat yang bisa cepat menyembuhkan luka apa pun tanpa efek samping. Ketika aku ingin menyuntikkannya, tuan muda dan juga asistennya mencegahku.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya tuan muda menjauhkan selang infusnya, dan asisten Leo memegangi tanganku yang memegang spet suntikan yang berisi obat ajaibku.
Aku menghembuskan nafasku karena tindakan mereka mencegahku. Dengan cepat melepaskan cengkraman tangan asisten Leo padaku, lalu segera meraih kertas kosong dan pena yang ada di atas meja kerjaku.
"Saya ingin menyuntikkan obat ini kepada anda tuan, obat ini bisa membantu dengan cepat menyembuhkan luka tembak dan paska operasi anda." Jawabku pada tulisan dan dengan cepat tuan muda membacanya.
"Apa kau yakin? Mengapa obat kita bisa sama? Bukannya sakit kita berbeda? Jangan jangan kau ingin memcelakaiku?" Tanya tuan muda menatapku curiga.
Aku benar-benar geram di buatnya, dia menuduhku ingin mencelakainya. Kalau memang benar seperti itu? Untuk apa aku menolongnya dari dua penjahat yang menodongnya sampai aku terluka seperti sekarang ini?
Aku tersenyum mengejek, ku kepalkan tanganku sampai buku buku jariku memutih untuk meredam amarahku akan tuduhanya. Begitu kasar gerakkan ku meraih kertas yang di pegang oleh tuan muda dan menulis sesuatu kembali untuknya, aku benar-benar kesal dibuatnya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1