DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
63. Mencoba Kekuatan Cincin Pengikat.


__ADS_3

…Carissa Hubert…


Sudah seminggu aku mengurung diri di dalam kamarku, untuk membaca dan mempelajari ke tiga buku bahasa asing, yang menunjukkan kegunaan dari setiap benda keramat yang datang bersama buku tersebut.


Aku juga di bantu oleh Sophie bila ada keterangan yang tidak aku mengerti, hanya saja menggunakan magic yang aku tidak bisa sama sekali, karena magic dasar aku tidak ada.


Sophie menyarankan aku untuk belajar pada ahlinya langsung, yang benar-benar sudah menguasai magic special dari buku tersebut, yaitu belajar pada putra mahkota dan pangeran kedua. Aku masih berpikir keras, apakah harus aku lakukan? apalagi ini harus belajar langsung dari putra mahkota dan pangeran kedua.


Apa yang akan aku katakan pada mereka, dan apakah mereka mau untuk mengajariku? Aku masih berpikir keras karena mencari cara untuk berbicara pada putra mahkota dan pangeran kedua, yang super sibuk.


"aaaahkkk aku pusing…!!" ungkapku seraya mengacak-ngacak rambutku dan berguling-guling di atas ranjang.


"gimana cara ngomongnya ini?" gumamku kembali.


Aku melihat langit-langit kamarku, dan mencoba untuk berbicara pada Sophie. Sophie adalah teman curhat yang tidak terlihat.


"Sophie, apakah kau mendengarku?" panggil ku pada Sophie, yang ada di ruang hampanya.


"iya Callysta, ada apa?" tanya Sophie.


"apa kau tidak bisa mengajariku?" tanya ku balik.


"tidak bisa Callysta, ayolah…apa salahnya minta tolong pada mereka berdua."


"bukan salah Sophie, tetapi aku ngomongnya gimana?"


"ya tinggal ngomong, dan minta tolong saja kok susah sekali?!?" ungkap Sophie sengaja, karena dia bukan tidak bisa mengajari Callysta.


Sophie ingin supaya Callysta bisa dekat dan saling mengenal dengan mereka berdua, bagaimana juga salah satu dari mereka? adalah takdir pasangan Callysta.


"apa perlu aku kesana membantumu Callysta, untuk bicara pada mereka?"


"tidak, aku akan coba sendiri."


"baiklah.…silahkan."


Akupun bersiap dengan pakaian latihanku, dengan membawa ketiga buku bahasa asing tersebut, aku keluar kamar dan menuju ke arah ruang kerja putra mahkota. Aku ingin meminta tolong terlebih dahulu pada putra mahkota, bila Leonard tidak bisa baru aku akan menemui pangeran kedua.


Dari kejauhan aku melihat keramaian orang-orang yang terlihat seperti orang penting, aku yang penasaran pun bertanya pada salah satu penjaga yang aku lewati.


"hai kau…kesini…!" panggilku pada salah satu penjaga.


"saya nona." tunduk penjaga memberikan hormat padaku.


"ada apa di sana?" tunjukku pada kerumunan yang ada di depan ruang kerja putra mahkota.


Penjaga tersebut melihat pada arah yang aku tunjuk.


"mereka para pejabat tinggi istana dari berbagai wilayah nona." jawab penjaga tersebut.


Aku hanya mengangguk tanda mengerti, dan memerintahkan penjaga tersebut kembali lagi ke tempatnya.


"berarti dia saat ini sibuk." gumamku pelan.


"tunggu dulu, kalau putra mahkota sibuk akan urusan istana bersama petinggi kerajaan, otomatis pangeran kedua pasti juga sibuk." ungkapku lesu dengan menundukkan kepalaku melihat buku-buku tebal yang aku bawa.


"sibuk apa?" ucap seseorang dari arah belakang ku, yang membuatku tersentak kaget hingga membuang semua buku yang aku pegang, dan segera berbalik badan melihat orang tersebut.


"aaaaa…!!" teriakku tersentak kaget sembari berbalik badan dan mengelus dadaku.

__ADS_1


Semua melihat padaku yang teriak seketika. Terlihat Leonard terseyum senang karena sudah berhasil membuatku terkejut. Sedangkan Damian mengarahkan telapak tangannya, pada buku yang aku buang agar tidak jatuh ke lantai.


Aku yang masih terkejut sampai dadaku berdebar, melihat dingin pada Leonard, Damian dan semua yang ada di belakangnya.


Perlahan aku menarik dan menghembuskan nafas ku, agar jantungku tenang.


"salam hamba yang mulia." ucapku memberikan hormat anggun ku pada mereka.


Leonard masih tersenyum senang melihatku, sedangkan Damian hanya melihatku sekilas lalu menarik semua buku yang masih melayang, dan memegang ketiga buku tersebut.


Aku tahu sejak kejadian di kamar paviliun ku, saat aku meminta Damian segera pergi. Damian tidak pernah datang lagi menjengukku, dan hari ini tatapannya datar dan dingin padaku.


'apa Damian masih marah padaku?' gumamku dalam hati melihat pada Damian yang hanya cuek.


"apa yang nona Carissa lakukan di sini, dan mengapa nona memakai pakaian untuk latihan?" tanya Leonard ingin tahu dan dengan nada yang sopan.


Akupun sadar dengan pakaian yang aku kenakan, jauh berbeda dari pakaian bagus dan resmi yang mereka pakai. Karena pakaian latihan ini saja yang nyaman aku pakai, daripada memakai gaun-gaun panjang dan lebar mengembang.


"hamba memang akan latihan yang mulia."


"akan latihan? tetapi kenapa ada di sini? ini bukan jalan untuk ke area latihan istana." jawab Leonard bingung pada Carissa.


Carissa malu sendiri, karena ini bukanlah jalan ke area latihan istana, ini adalah jalan ke aula pertemuan dan ruang kerja istana. Carissa berusaha menyembunyikannya.


"karena hamba ingin mencari pangeran kedua yang mulia." jawabku yang masuk akal, karena wajar kalau calon selir mencari calon suaminya.


Damian seketika melihat padaku, aku segera tersenyum tipis yang aku paksakan, dan Damian pasti tahu itu. Leonard melihat pada Damian yang ada di sampingnya.


"kau mencariku? ada apa?" tanya Damian dengan nada dan wajah datarnya.


Aku sangat tahu sekali, kalau Damian saat ini sedang marah padaku.


Damian dan Leonard melihat Carissa dengan alis yang mengerut.


"bukannya kau bisa dengan bagus dan lancar untuk membaca buku-buku ini?" tanya Damian melihat dingin padaku.


'dia benar-benar marah, dan dingin sekali padaku.' gumamku dalam hati.


"maaf yang mulia bila hamba telah mengganggu." ungkapku dengan mimik wajahku yang dingin dan segera mengambil buku-buku tersebut dari tangan Damian.


Terlihat jelas Damian ingin menjaga jarak dariku, dan terlihat dingin seperti saat pertama aku bertemu dengannya.


Leonard dapat menangkap sikap kami yang sama-sama dingin, terlihat jelas kami sedang ada masalah.


"hamba permisi yang mulia." pamitku dengan memberikan hormat anggunku pada mereka.


"tunggu nona Carissa." cegah Damian yang membuatku langsung diam dan melihatnya.


"ikutlah dengan kami, di sana ada ayahmu datang, dan semua putri sedang di beritahukan kedatangan ayah mereka." ungkap Damian yang membuat aku terkejut.


"ayahku…" ucapku sedikit keras dengan segera aku menutup mulutku, karena terlihat tidak sopan berteriak di hadapan putra mahkota dan para pangeran.


"ada apa?" tanya Damian.


"mungkin kakak ipar terlalu senang, ayahnya datang. Bukankah kakak ipar bilang rindu pada keluarganya." ungkap Verdian yang menjawab.


Akupun melihat padanya, Verdian adalah penyelamatku, dan aku hanya mengangguk pasrah tanda setuju ucapan Verdian.


'aduuuhhh bagaimana ini, aku sama sekali tidak tahu bagaimana wajah ayah Carissa, gawat ini…!!!" gumamku dalam hati ingin menangis.

__ADS_1


'feyrin kemana ya, hanya dia penyelamatku saat ini, dia bisa membantumu menunjukkan yang mana ayah Carissa.' gumamku lagi benar-benar bingung, dan takut ketahuan bahwa aku bukanlah Carissa yang asli.


"kenapa diam saja, ayo mereka sudah menunggu." ajak Leonard dengan isyarat matanya ke arah kerumunan para pejabat tinggi, yang sedang berdiri di depan ruang kerja istana.


"maaf yang mulia, pakaian hamba tidak sopan, bisakah hamba menggantinya terlebih dahulu." ucapku mencari alasan, agar bisa mencari dan mengajak Feyrin ke sini.


"tidak apa-apa, pakaian mu terlihat masih sopan, ayo mereka sudah menunggu lama." ajak Damian yang membuatku tidak bisa berkata apapun, apakah ada yang bisa membantuku?


Tanpa pikir panjang Damian segera menggenggam tanganku, yang membuatku tidak bisa berkutik lagi. Aku hanya bisa ikut dengan pasrah.


"Sophie tolong aku." ucapku dalam hati, karena sudah tidak tahu harus meminta tolong pada siapa?


"Callysta apa kau memakai cincin yang aku berikan?" balas Sophie melalui ruang hampanya.


"iya, kenapa Sophie?"


"kau sudah tahu apa kegunaan cincin itu?"


"yang aku tahu dari buku, cincin itu memiliki ruang dimensi sendiri, dan bisa aku gunakan berteleportasi kemanapun wilayah yang bisa atau pernah aku jangkau dan datangi."


"itu benar, cincin Pengikat juga bisa di sebut cincin kebenaran, bisa membantumu tahu orang yang ada di sekitar mu jahat ataupun baik, dan cincin itu juga bisa menunjukkan apa yang ingin kau lihat secara jelas, seperti orang yang belum pernah kau kenal, para iblis, siluman dan penyihir yang sedang menyamar."


"Oya.…tapi aku belum membaca sampai di situ Sophie, bagaimana cara menggunakannya?"


"kau hanya tinggal memusatkan pikiran mu pada satu fokus, yang ingin kau lihat. Pejamkan matamu sejenak dan kau akan bisa melihat apa yang ingin kau lihat."


"Hanya itu saja?"


"iya Callysta, ini waktunya kau mencoba kekuatan dari cincin Pengikat itu."


" baiklah…terima kasih Sophie."


"sama sama kawan…semoga berhasil."


Kini aku tenang dan masih mengikuti langkah Damian yang membawaku sampai di depan kerumunan pejabat tinggi. Aku melakukan apa yang Sophie katakan, lalu setelah memejamkan mata sejenak, aku melihat semua wajah pejabat tinggi yang ada di sana terlihat samar, dan satu wajah pria paruh baya yang bisa aku lihat dengan jelas, berarti itu adalah ayah Carissa.


"apa kau gugup?" tanya bisik Damian padaku.


"iya yang mulia." hanya itu jawaban yang bisa aku berikan agar terlihat natural, karena aku yang tidak tahu sama sekali wajah ayah Carissa.


Damian mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku, dan aku bisa merasakan Damian menyalurkan kehangatan agar aku bisa tenang, dan gugup ku bisa hilang.


"itu biasa, karena kau sudah lama tidak bertemu dengan beliau, tapi maaf nanti aku tidak bisa menemanimu untuk bertemu ayahmu, karena aku harus menemani putri ke dua dari kerajaan Themes, Putri Lilyana Natsire. Untuk bertemu raja Themes yang juga datang." ungkapnya, yang membuatku melihat padanya.


Dalam hatiku merasa sedikit tidak nyaman, mendengar Damian akan bersama menemani putri Lilyana Natsire, dan membuatku sendiri. Dan itu sudah biasa...! aku akan terus sendiri.


Aku hanya mengangguk pasrah dan mengalihkan kembali pandanganku ke depan, semua para pejabat tinggi istana memberikan hormat mereka pada putra mahkota dan para pangeran yang baru saja tiba.


Aku hanya bisa memandang teduh seorang pria paruh baya yang tersenyum padaku, dan aku sudah mengenali wajah pria itu. Itulah ayah dari Carissa, yang sekarang menjadi ayahku. Aku tersenyum melihat padanya, terlihat jelas kerinduan di matanya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2