DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
18. Bertemu Dengan Mr.X.


__ADS_3

Hari-hari terus berjalan dan dua minggu sudah berlalu setelah Callysta menerima lamaran dari Antoni, mereka menjalankan hari hari dengan aktivitas mereka masing-masing.


Antoni sangat bahagia dengan perkembangan hubungan asmaranya dengan Callysta, berbanding terbalik dengan Callysta yang merasa setiap hari hidupnya sangat menderita dengan masalah yang dia hadapi.


Jimmy Choo bahkan setiap hari menghubunginya untuk memeberitahukan dan mengingatkan Callysta akan lamaran Mr.X padanya, Callysta benar-benar menderita dengan keadaannya sekarang, senyum dibibirnya hanya untuk menyembunyikan luka hati yang tidak terlihat oleh siapapun.


Callysta benar-benar lelah akan hidupnya, dia bagaikan manusia yang memiliki kepribadian ganda, hatinya sakit dan terluka tetapi wajahnya harus tetap ceria dan bibirnya tetap tersenyum manis saat bertemu orang apalagi bertemu dengan Antoni.


Callysta ingin sekali memiliki hidup yang dia atur sendiri, walaupun hanya satu kali kesempatan hidup itu lebih dari cukup,tapi kenyataannya tidak seperti itu.


setiap malam saat sendiri di dalam kamar dan berbaring tidur di atas ranjangnya, Callysta selalu menangisi hidupnya yang tidak bahagia dan tidak tenang, lamaran Antoni tidak sama sekali membuat Callysta bahagia, Callysta selalu di hantui oleh lamaran dari Mr.X yang tidak bisa dia hindari.


Callysta berpikir mengapa harus dirinya yang di pilih oleh Mr.X dari sekian banyak wanita? baik itu dari golongan wanita biasa atupun wanita dari golongan mafia pasti banyak yang ingin berdampingan dengan Mr.X, tapi mengapa harus dirinya? Hampir satiap malam Callysta menangisi nasib takdir hidupnya.


Callysta sudah tidak bisa menghindari lagi pertemuannya dengan Mr.X yang sudah membuat janji bertemu melalui Jimmy Choo, Callysta sampai harus mengambil cuti libur selama dua hari atas permintaan Mr.X yang ingin bertemu dengannya dan bersamanya selama dua hari.


Callysta sudah pasrah saat di jemput oleh Jimmy Choo untuk menemui Mr.X di kediamannya, Callysta hanya mengikuti apa saja yang di perintahkan oleh Jimmy Choo, dengan memakai setelan pakaian santai serba hitam celana jeans hitam, kaos hitam dan jaket kulit hitam, Callysta merasa diri berkabung atas hidup kacau dan tidak bahagianya.


Raut wajahnya datar tanpa senyum sama sekali, Callysta duduk di samping Jimmy Choo di kursi belakang mobil yang mereka tumpangi, dan mobil mewah yang mereka tumpangi adalah mobil kiriman dari Mr.X untuk menjemput dirinya.


Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara Jimmy Choo dan Callysta, mereka berdua diam seribu bahasa, sampai di kediaman mansion Mr.X yang sangat mewah, megah dan elegan dengan desain Eropa clasik.


Callysta dan Jimmy Choo keluar dari mobil dengan di sambut oleh puluhan para pelayan dan pengawal yang berdiri berderet di depan pintu masuk mansion, semua menunduk hormat pada Callysta dan Jimmy Choo.


"Selamat datang nona muda dan tuan Jimmy Choo, saya kepala pelayan tuan memberi hormat pada anda." sapa kepala pelayan yang kira-kira berumur 45 tahunan.


Callysta hanya diam tidak menjawab dengan wajah datarnya, Jimmy Choo yang melihat Callysta tidak ada respon sama sekali memegang lengan Callysta yang langsung mendapat tatapan dingin dari Callysta.


Jimmy Choo memeberikan isyarat untuk Callysta mengatakan sesuatu pada kepala pelayan tersebut yang masih diam melihatnya.


Callysta menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, tidak ada gunanya melawan.

__ADS_1


"tunjukkan jalan." perintah Callysta tegas bagaikan nyonya rumah.


"baik nona." balas kepala pelayan menundukkan kepalanya sekilas lalu menuntun Callysta untuk masuk.


Callysta masuk ke dalam mansion yang benar-benar mewah, megah dan besar, banyak barang-barang berharga yang terdapat di dalam ruang tamu mansion yang besar tersebut, Callysta di persilahkan duduk di sofa, dan setelah itu dengan cepat pelayan menyuguhkan minuman susu coklat hangat kesukaannya dan aneka kue manis yang sangat di sukai oleh Callysta.


Callysta hanya memandang nanar meja kaca yang banyak menyuguhkan aneka kue manis dan susu coklat hangat kesukaannya, Callysta tidak memiliki selera untuk memakannya sama sekali.


"silahkan di nikmati nona, bila ada yang anda inginkan silahkan perintahkan pada kami." ucap kepala pelayan sopan .


"di mana tuanmu?" balas Callysta tanpa melihat kepala pelayan.


"tuan masih di dalam kamarnya, sebentar lagi akan turun." balas kepala pelayan.


"bisa tinggalkan aku sendiri." perintah Callysta masih dengan tatapan nanar melihat ke arah meja kaca yang penuh dengan aneka kue manis.


Semua pelayan yang ada di sana langsung pergi meninggalkan ruang tamu dan masih tersisa kepala pelayan dan Jimmy Choo, Callysta yang tahu pun menatap tajam kepala pelayan dan Jimmy Choo secara bergantian.


"apa kalian tidak dengar, aku ingin sendiri." ucap Callysta tegas sedikit meninggikan nada suaranya.


Callysta pun beralih memandang ke arah Jimmy Choo yang masih santai duduk di hadapannya.


"apa kau ingin mendengar pembicaraanku dengan Mr.X, papa…?" tanya tajam Callysta pada Jimmy Choo.


"hahahaha......kau sudah berani menatapku tajam?" tawa mengejek Jimmy Choo melihat Callysta menatapnya tajam.


"apapun bisa aku lakukan untuk sekarang papa, bahkan membunuh sekalipun…" ancam Callysta pada Jimmy Choo.


"hahahaha… kau memang benar anak ku Cally sayang …" balas Jimmy Choo tersenyum menanggapi perkataan Callysta.


Callysta menatap tajam Jimmy Choo, "bila kau tidak mau pergi, aku yang pergi." ancam Callysta seraya bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"jangan coba-coba mengancamku dan berhenti bersikap kau lebih kuat dari pada aku" bentak Jimmy Choo seraya menodongkan pistol yang dia ambil dari saku belakang celananya.


Callysta tidak takut sama sekali dengan todongan pistol dari Jimmy Choo, dia berpikir Jimmy Choo ataupun dirinya yang mati sama saja, tidak ada yang dirugikan ataupun di untungkan, Callysta lebih baik mati daripada harus terus menjalani hidup bagaikan boneka yang hanya bisa di atur oleh Jimmy Choo.


"apa yang kau tunggu papa… tembak aku…!" perintah Callysta dengan nada suaranya yang tetap tenang dan masih menatap tajam pada Jimmy Choo.


Jimmy Choo semakin menatap horor pada sikap arogan Callysta yang sudah berani membantahnya, sedangkan Callysta semakin melangkah maju untuk mendekatkan dadanya pada pistol yang Jimmy Choo pegang.


"apa yang kau tunggu papa…?apa perlu bantuanku untuk menembak?" tanya Callysta tenang dengan tatapan yang datar dan dingin.


Callysta benar-benar pasrah dan tidak ada rasa takut sama sekali menantang Jimmy Choo, papa angkatnya yang merawatnya dari umur 10 tahun sampai dia tumbuh dewasa, tetapi bukan merawat sebagai anak angkat sungguhan, Callysta hanyalah boneka pembunuh yang bisa diatur olehnya dan hanya sebuah alat penghasil uang untuk Jimmy Choo.


Callysta menggenggam tangan Jimmy Choo yang memegang pistol untuk menodongnya, Callysta membantu Jimmy Choo mengarahkan lebih dekat pistol tersebut ke dadanya, dan saat Callysta membantu Jimmy Choo untuk menarik pelatuk pistolnya, tiba-tiba ada tangan besar yang menghentikan gerakkan tangan Callysta.


Callysta melihat tangan besar yang ada di atas tangannya, perlahan Callysta melihat ke arah pemilik tangan besar yang menggenggam tangannya, seorang pria tampan menatapnya tajam dengan rahang yang tegas, hidung mancung bibir yang sensual, berkulit putih, memiliki postur tubuh kekar dan tinggi, pria tampan yang sangat berkharisma.


Jimmy Choo malah terkejut melihat siapa pemilik dari tangan tersebut, dengan segera dia menarik tangannya yang menodong Callysta.


"Mr.X maafkan bila anda terganggu dengan sedikit keributan kami di rumah anda." ucap Jimmy Choo sedikit kaku melihat kehadiran Mr.X.


"tidak sama sekali, aku malah senang melihat pertunjukkan ini dari calon istriku." jawab Mr.X dengan senyum tipis melihat ke arah Callysta yang memasang wajah datar dan dinginnya pada Mr.X.


Callysta yang sadar tangannya masih di genggam Mr.X pun segera menarik kasar tangannya dan melangkah mundur sedikit menjauh dari Mr.X.


Mr.X menatap geli akan tingkah laku dan tatapan tajam Callysta padanya, 'kucing manis yang sedikit liar' gumam Mr.X dalam hati seraya masih menatap Callysta, tetapi kali ini tatapan mata Mr.X seperti mengagumi sosok Callysta.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2