DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
52. Amarah Dan Amukan Carissa.


__ADS_3

Carissa menahan amarahnya dengan kepalan kuat pada tangan kanannya sampai buku-buku jarinya memutih, Carissa marah melihat wajah Feyrin yang sudah babak belur karena hukuman pukul, hanya karena Feyrin tidak tahu akan keberadaannya, yang berarti Feyrin telah lalai untuk menjaganya.


Dengan cepat dan rasa amarah yang memuncak di hatinya Carissa berlari menuju ke arah pangeran ketiga yang sedang menghajar semua penjaga dan pengawal yang tidak bersalah, dengan gerakan cepat Carissa tiba dengan tendangan keras pada pinggang kanan pangeran ketiga yang akan memberikan tinjunya pada salah satu pengawal yang ada di hadapannya.


Semua yang ada di sana terkejut dengan kedatangan Carissa yang tiba-tiba langsung menyerang pangeran ketiga.


"brengsek kau…" ucap Carissa dengan tatapan marah pada pengeran ketiga yang terjatuh akibat tendangannya.


Carissa memaksa pangeran ketiga untuk berdiri dan memukulnya secara bertubi-tubi, dia tidak menghiraukan panggilan dari putra mahkota dan pangeran kedua.


Carissa terus memukul wajah dan perut pangeran ketiga secara bertubi-tubi, dan pangeran ketiga hanya menghindar tanpa melawan sama sekali, dia membiarkan Carissa memukul dan menendang dirinya.


"lawan aku brengsek…jangan bisa kau hajar orang yang tidak bersalah." teriak Carissa dengan nafasnya yang terengah-engah karena gerakkan dan amarahnya yang memuncak.


Carissa tidak memperdulikan panggilan dari putra mahkota dan pangeran kedua, dan luka pada lengannya yang sudah berdarah akibat gerakan keras yang di lakukan oleh Carissa untuk menghajar pangeran ketiga.


"tunggu dulu nona Carissa, bisa aku jelaskan…!" ucap pangeran ketiga yang sudah kesakitan di seluruh tubuhnya akibat pukulan dan tendangan bertubi-tubi yang di lakukan oleh Carissa.


"jelaskan apa lagi…kau menghajar semua pengawal dan penjaga serta pelayan pribadi ku karena tidak bisa menemukan keberadaan ku?!" teriak Carissa seraya melihat wajah Feyrin yang babak belur dan air mata yang mengalir di pipi Feyrin yang membengkak.


Carissa semakin terpacu amarahnya dengan tangisan Feyrin yang membuat hatinya sakit melihat penderitaan Feyrin.


"akan aku bunuh kauuu…" teriak murka Carissa menyerang pangeran ketiga dengan tendangan kaki kanannya yang bisa di tahan oleh pangeran ketiga, dengan cepat pula Carissa balas dengan tendangan kaki kirinya, yang di susul oleh kaki kanannya dengan cepat menendang perut Verdian yang langsung jatuh tersungkur.


Carissa mendudukkan tubuhnya di atas tubuh Verdian dan memukul wajah Verdian secara bertubi-tubi tanpa ampun, Verdian hanya bisa menahan sesekali, dan pukulan tangan Carissa terhenti saat tangannya di genggam oleh pangeran kedua.


Carissa menatap tajam pangeran kedua yang menahan tangannya, Carissa bangkit dari duduknya, sebagai gantinya Carissa giliran menyerang pangeran kedua secara bertubi-tubi, Carissa melompatkan kedua kakinya ke leher Damian, dengan gerakkan cepat dan keras Carissa membelit leher Damian dengan kedua kakinya, dengan cepat Carissa membanting keras tubuh Damian hingga jatuh terbental ke tanah, bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh di atas tubuh Damian.


Carissa terus memukul Damian bertubi-tubi tanpa ampun, kemarahan Carissa telah memuncak. Putra mahkota mencoba menarik tubuh Carissa dari atas tubuh Damian, sebagai gantinya Carissa memukul keras perut Leonard yang ada di belakang tubuh Carissa dengan sikunya, begitu pegangan Leonard terlepas dengan gerakan cepat Carissa melakukan tendangan memutar ke arah wajah Leonard, hingga Leonard tumbang.


"bangun kalian…lawan aku." teriak Carissa yang semakin marah melihat ketiga pria yang berkuasa di istana Holmes tersebut.


"tunggu dulu…kau kenapa?" tanya Leonard seraya menahan sakit pada perut dan wajahnya.


Semua penjaga dan pengawal hanya bisa melihat ketiga pria yang berkuasa di kerajaan Holmes tersebut tumbang oleh Carissa, mereka tidak ada yang berani melawan satu pun, mereka tidak berani melawan sang pengendali.


Carissa melihat tajam Leonard dengan tatapan marah dan devilnya, tanpa menjawab Carissa melangkah ke arah salah satu pengawal untuk mencabut pedang yang ada di pinggang sang pengawal.


"kau yang sudah memerintahkan anak buahmu memukul Feyrin sampai seperti itu." tunjuk Carissa dengan pedang yang ada di tangannya, mata Carissa memerah akan amarahnya.


"bangun kau…kalau kau tidak melawanku, kau akan mati di tanganku…" ucap keras Carissa menekan setiap kata-kata nya, dan menodongkan ujung pedang yang dia genggam dengan kuat ke arah dada Leonard.


Semua orang terkejut melihat keberanian Carissa mengancam Leonard dengan sebuah pedang yang Carissa pegang.


"tenang nona Carissa, turunkan pedangmu…" ucap Damian memelas.

__ADS_1


"diam kau…" bentak Carissa menatap marah pada Damian.


Dalam hati Carissa sudah sangat marah dan tidak percaya lagi pada mereka semua yang ada di dalam istana Holmes ini. Permaisuri yang baru tiba sangat terkejut melihat Carissa yang menodongkan sebuah pedang ke arah dada Leonard.


"nona Carissa…tolong turunkan pedangmu…" ucap permaisuri yang datang dan mencoba membujuk Carissa untuk menurunkan pedangnya.


Carissa menatap tajam permaisuri yang sudah takut melihat Leonard di todong pedang oleh Carissa, tetapi dia tidak peduli. Amarah Carissa tidak reda sama sekali, dengan mata yang sudah memerah karena marah Carissa mengayunkan pedangnya ingin menebas Leonard, tetapi terhalang oleh teriakkan dari Feyrin yang memeluknya dari arah samping.


"nona…jangan nona…" ucap Feyrin memeluk erat tubuh Carissa dari samping, yang menghentikan ayunan tangan Carissa.


"jangan nona…aku mohon turunkan pedangmu, aku tidak apa-apa…" ucap memelas Feyrin melihat kemarahan Carissa.


Carissa menatap wajah memelas dan memohon Feyrin padanya.


"jangan nona…putra mahkota tidak bersalah…dia hanya cemas mencari anda nona." ucap Feyrin dengan wajah memelasnya.


"tapi dia yang sudah memerintahkan para pengawalnya untuk menyiksamu…karena kau tidak bisa mengatakan keberadaan ku dimana seharian ini." balas Carissa yang masih belum reda dari amarahnya.


"putra mahkota dan para pangeran tidak bersalah nona…hamba hanya mendapatkan hukuman pukul karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari seorang pengawal yang bertanya tentang keberadaan anda nona." balas Feyrin masih memohon.


"semua tindakan dari pengawal padamu, atas perintah darinya." tunjuk geram Carissa menunjuk ke arah Leonard yang mulai bangkit berdiri di bantu oleh Damian dan permaisuri.


"tidak nona…pengawal tersebut hanya takut pada putra mahkota karena tidak bisa mendapatkan jawaban dari hamba, dan pengawal tersebut tidak ada mendapatkan perintah dari siapapun untuk menghukum hamba dengan pukulan, itu inisiatif sendiri dari pangawal tersebut, nona…"


"kau membelanya Feyrin?"


"apa kau tidak berbohong Feyrin?" tanya selidik Carissa melihat pada Feyrin.


"tidak nona…hamba berani sumpah, bila putra mahkota dan para pangeran tidak datang melihat hamba, mungkin hamba sudah mati nona di tangan pengawal itu." tunjuk Feyrin pada salah satu pengawal yang sudah tewas dengan luka tusukan di perutnya.


Carissa melihat pada mayat pengawal yang sudah tewas, Carissa bisa melihat sorot kejujuran di mata Feyrin, dan dia melihat pada Leonard, Verdian dan Damian secara bergantian, terlihat wajah mereka yang juga sedikit memar dan mengeluarkan darah pada ujung bibir mereka.


Carissa mengingat jelas saat dia menyerang mereka bertiga, tidak ada yang membalas dan menyerang balik dirinya, mereka bertiga hanya menghindari serangan Carissa dan berusaha mencegah Carissa lebih brutal lagi.


"percayalah padaku nona…" ucap Feyrin yang masih berusaha meredakan amarah Carissa.


Carissa melihat Feyrin, perlahan Carissa menarik dan menghembuskan nafasnya lalu melempar jauh pedang yang dia genggam kuat. Carissa menghadap dan melihat intens Feyrin, ingin melihat kondisi sang pelayan setia yang sudah Carissa anggap seperti adik sendiri.


"apa kau baik-baik saja Feyrin?" tanya Carissa dengan memegang kedua pipi Feyrin.


Amarah Carissa sudah mereda karena bujukkan dan penjelasan dari Feyrin yang bisa dia terima.


"hamba baik-baik saja nona…" balas Feyrin yang juga memegang kedua tangan sang nona yang sangat terlihat khawatir melihat kondisinya.


Hati Feyrin menghangat atas perhatian dan pembelaan Carissa padanya.

__ADS_1


"aku tidak bisa melihatmu menderita Feyrin, karena hanya kau yang aku punya di dunia ini, hanya kau yang peduli padaku, jadi apapun bisa aku lakukan bila ada yang menyakitimu, bahkan membunuh mereka sekalipun." ucap Carissa menatap tajam semua yang ada di sana.


"terima kasih nona…" ucap Feyrin seraya menitikkan air matanya terharu atas perhatian dan pembelaan yang sangat besar dari sang nona padanya.


"jangan menangis Feyrin." ucap Carissa segera memeluk Feyrin dan membelai lembut punggung Feyrin.


Carissa sudah menganggap Feyrin adiknya sendiri, saudara satu-satunya yang dia miliki di dunia kedua nya ini, seorang yang selalu setia, peduli dan mengerti akan setiap kondisinya, Carissa sangat sayang pada Feyrin sehingga, Carissa akan sedih dan marah bila melihat Feyrin menderita, seperti sekarang ini.


"terima kasih nona…anda selalu baik pada hamba." ucap Feyrin di sela-sela isak tangisnya.


"kau bukan saja pelayan setiaku Feyrin, kau keluargaku, kau adikku." balas Carissa untuk menenangkan Feyrin.


"terima kasih nona…terima kasih…"


"sudah jangan menangis, nanti matamu tambah membengkak." balas Carissa menghapus lembut air mata yang ada di pipi lebam Feyrin.


Carissa lalu melihat pada ketiga pria yang menjadi sasaran amukkannya, Carissa melangkah mendekat dan menatap datar mereka bertiga.


"maafkan hamba yang mulia…karena sudah bertindak lancang dan kasar pada kalian bertiga." ucap Carissa menundukkan kepalanya untuk meminta maaf karena tindakannya yang brutal.


"tidak apa-apa, tapi lenganmu berdarah lagi." balas Leonard khawatir melihat semua kain putih yang membelit lengan Carissa yang terluka, penuh akan bercak darah.


"tidak apa-apa, hamba masih bisa tahan yang mulia." balas Carissa dengan mimik wajahnya yang masih datar dan dingin.


"kau dari mana saja? mengapa menghilang seharian? kami semua cemas mencarimu, kau pergi kemana saja?" tanya Leonard ingin tahu.


"hamba hanya mencari suasana baru, untuk menenangkan diri yang mulia." balas Carissa apa adanya, karena saat berada di balai pengobatan istana Carissa merasa ada suasana baru yang membuatnya tenang dan bahagia.


"baiklah…sekarang kau istirahat lah…pelayan bawa nona Carissa masuk ke dalam kamarnya." perintah Leonard pada Feyrin yang di jawab anggukkan kepala oleh Feyrin.


"pengawal cepat panggilkan tabib istana." perintahnya lagi pada salah satu pengawal yang ada di sana.


"tidak perlu memanggil tabib istana yang mulia, hamba sudah membawa obat hamba sendiri, dan luka-luka ini tidak baik untuk di bungkus terus menerus." balas Carissa cepat, karena dia sudah tidak memerlukan tabib istana lagi.


"apa kau yakin?" tanya Leonard ingin memastikan, dan Carissa hanya menganggukkan kepalanya.


"baiklah yang mulia hamba mohon diri…sekali lagi hamba mohon maaf atas tindakan hamba pada kalian bertiga, permaisuri hamba mohon diri…!" pamit Carissa dengan membungkukkan tubuhnya memberi hormat dan meminta maaf pada ketiga pria yang telah menjadi sasaran amukkannya.


Dengan segera Carissa mengajak Feyrin berlalu dari sana, meninggalkan semua orang yang hanya diam melihatnya berlalu bersama Feyrin.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2