
Carissa masih menatap ke arah ketiga pria tampan yang ada di hadapannya, dia tidak tahu dan ingat apapun yang terjadi padanya, dia hanya mengingat setelah menyelesaikan tantangannya, Carissa tidak sadarkan diri karena merasa badannya yang lelah dan lemas.
"maafkan hamba yang mulia, hamba ada di kamar siapa ini?" tanyanya halus karena sudah sadar kalau itu bukanlah kamar pribadinya.
"ini kamar ku." Damian yang menjawab dan seketika Carissa melihat pada Damian yang berdiri di samping Leonard.
"maafkan hamba… kalau hamba sudah lancang yang mulia." ungkap Carissa seraya perlahan menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang.
"mau kemana kau?" tanya Verdian, dan Carissa melihat padanya.
"hamba akan turun dari ranjang ini dan pindah ke kamar hamba yang mulia." jawab Carissa yang sudah berhasil berdiri di sisi ranjang berseberangan dari ketiga pria tersebut.
Carissa berdiri menghadap mereka yang juga melihat tajam padanya.
'mengapa tatapan mata mereka tajam ke arahku? apa aku ada salah? masa iya gara-gara aku tidur di ranjang ini sih? tapikan bukan aku yang mau?' gumam Carissa dalam hatinya seraya masih melihat tatapan ketiga pria tampan yang ada di hadapannya.
"maafkan hamba yang mulia bila hamba lancang telah tidur di ranjang anda." ungkap Carissa menundukkan sedikit badannya, untuk meminta maaf karena tidak ingin mendapatkan masalah dengan ketiga pria tersebut.
"hamba permisi yang mulia." ungkap Carissa kembali karena tidak ada yang menjawabnya sama sekali.
Baru saja Carissa ingin melangkahkan kakinya, Leonard menghentikannya.
"tunggu…mau kemana kau…urusan kita belum selesai." ucap Leonard menghentikan langkah Carissa.
'ada urusan apa lagi sih yang belum selesai? aduh…tubuhku masih lemas sekali, mana bisa melawan mereka lagi.' gumam Carissa di dalam hatinya dengan menahan sekuat tenaga badannya yang masih terasa lemas.
"maaf yang mulia ! kalau boleh hamba tahu urusan yang mana ya…?" tanya halus Carissa dengan menahan lemas badannya.
Leonard tidak menjawab pertanyaan Carissa, dia hanya mengangkat tangan kanannya yang memegang secarik kertas.
"aku ingin kau membaca tulisan di kertas ini." perintahnya seraya menunjukkan secarik kertas yang Carissa tahu, itu adalah kertas yang dia tulis untuk Leonard.
Carissa mengerutkan keningnya melihat heran pada Leonard, mengapa harus Carissa yang membacanya? Carissa hanya menurut saja agar tidak mendapatkan masalah, karena perintah putra mahkota adalah titah mutlak yang tidak bisa di bantah lagi, Carissa perlahan melangkah mendekati mereka, dengan segera meraih secarik kertas tersebut, membuka dan membaca apa yang sudah dia tulis.
"I want to see a book from this language." 'yang artinya saya mau lihat buku bahasa ini.' baca Carissa dengan perlahan dan tenang.
"coba ulangi sekali lagi?" ucap Leonard masih menatap Carissa tajam, Carissa yang tidak ingin mendapatkan masalah hanya mengikuti apa saja yang di perintahkan Leonard padanya?
"I want to see a book from this language." baca Carissa sekali lagi, setelah itu menatap ketiga pria yang ada di depannya.
"kau tahu apa arti dari tulisan itu?" tanya Leonard lagi yang membuat Carissa tambah bingung apa maksud dari Leonard?
"iya yang mulia…ini artinya, saya mau lihat buku bahasa ini." jawab santai Carissa.
"hanya itu yang bisa kau tulis dan baca?"
"maksud anda yang mulia?" tanya Carissa tambah bingung.
"apa ada tulisan dan bacaan yang seperti ini yang kau tahu?" tanya Leonard yang mulai bisa di mengerti oleh Carissa, apa maksud dari Leonard?
Carissa langsung mengingat perkataan dari Feyrin, kalau di kerajaan ini hanya tiga orang yang bisa membaca dan mengerti tulisan asing ini, Carissa pun mengingat apa tujuan dan permintaannya pada Leonard, dia hanya ingin mengetahui apakah bahasa asing itu adalah bahasa yang hanya bisa di baca oleh seorang yang jenius? dan bahasa yang di gunakan untuk bahasa mengucapkan mantra berbagai magic dan ada teka-teki di balik bacaan asing tersebut.
__ADS_1
"tentu yang mulia, kalau anda bisa memperlihatkan bukunya pada hamba, mungkin hamba bisa membacanya, apakah permintaan hamba untuk hadiah dari anda bisa anda berikan sekarang?" tanya Carissa balik bertanya pada Leonard.
"apa kau yakin bisa membaca buku bahasa asing itu?" tanya Leonard belum percaya.
"kalau belum mencobanya bagaimana bisa kita tahu yang mulia." balas Carissa lemah yang tiba-tiba tubuhnya sempoyongan ingin jatuh, dengan cepat Damian yang ada paling dekat dengannya menahan tubuh Carissa.
"kau tidak apa-apa?" tanya Damian melihat khawatir Carissa yang terlihat pucat.
"maafkan hamba…tubuh hamba lemas sekali yang mulia, bisakah hamba duduk?" ucap Carissa pelan.
"tentu saja ayo kita duduk di sofa saja." balas Damian yang langsung memapah Carissa berjalan menuju sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
Mereka mau tidak mau pun ikut untuk duduk, karena masih penasaran akan apa yang dikatakan oleh Carissa yang bisa membaca dan mengerti bahasa asing, bahasa ajaib mereka di zaman ini.
"Damian ambil bukumu, berikan padanya?" perintah Leonard pada Damian, Damian hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja.
Damian masuk ke ruang kerja pribadinya yang ada di dalam kamar tersebut, dan keluar membawa sebuah buku tebal di tangannya.
Damian menyerahkan buku tersebut pada Carissa, terlihat tulisan di sampul buku tersebut yang tertulis 'A Miracle'.
"a miracle…" baca Carissa seraya menyentuh tulisan tersebut.
"kau tahu artinya?" tanya Verdian yang dari tadi juga penasaran dengan Carissa.
"sebuah keajaiban." balas Carissa melihat Verdian.
Verdian melihat ke arah Damian dan Leonard yang terlihat sedikit terkejut untuk beberapa saat, yang langsung berusaha bersikap biasa dan Verdian tahu apa arti sikap mimik wajah mereka berdua.
(author langsung pakai bahasa Indonesia untuk bahasa Inggris ya…karena author mengerti bahasa Inggris nya sedikit. terima kasih 🙏🙏 atas pengertian nya.)
Damian dan Leonard seketika saling memandang mendengar pertanyaan Carissa yang sangat biasa dan lancar mengucapkan bahasa asing tersebut, sedangkan Verdian yang tidak mengerti, apa yang di katakan oleh Carissa? hanya bisa diam dan melihat kedua kakak laki-lakinya yang sedang saling memandang.
"tentu saja silahkan…" balas Leonard menggunakan bahasa asing juga.
Carissa yang memang sangat penasaran dengan buku tersebut dengan segera membuka bab pertama nya, dia membaca dan dapat mengerti apa yang tertulis di buku tersebut.
Bahasa asing yang di katakan oleh Feyrin benar-benar bahasa Inggris, bahasa yang memang Carissa mengerti karena bahasa yang biasa di gunakan olehnya saat berbicara dengan orang dari luar negaranya, dan bahasa dunia pada masa di zamannya.
Carissa membaca dengan serius sesekali melihat ke arah Damian dan Leonard, dia hanya dapat membaca tujuan bahasa asing itu berada di zaman ini, zaman ini belum mengerti bahasa Inggris, bahasa yang akan mendunia.
Carissa terus membaca buku tersebut tetapi dengan melewati banyak halaman, karena dia mencari judul bacaan yang bisa memberikannya petunjuk, buku tersebut terlalu tebal untuk dia baca secara perlahan, akhirnya dia membaca langsung dari arah belakang, untuk mencari rangkuman dari bacaan buku tersebut, tetapi nihil ternyata buku tersebut bersambung sampai di sana, dan masih ada kelanjutannya.
"di mana kelanjutan bukunya?" tanya Carissa dengan bahasa biasa dan memandang ke arah Leonard dan Damian secara bergantian.
"kau tahu buku itu memiliki kelanjutannya?" tanya Damian tidak percaya.
Carissa melihat ada tulisan angka satu dengan tulisan angka abjad di sampul buku, dan terdapat tulisan 'baca pada buku ke 2' pada akhir halaman buku.
"tentu saja…disini terdapat petunjuk 'baca pada buku ke 2', apa anda tidak tahu?" tanya Carissa ingin tahu apa Damian pura-pura atau hanya mengetes Carissa saja.
"kami hanya tahu beberapa bahasa dan tulisan dari buku tersebut, dan kami masih mempelajari bahasa dan tulisan lainnya, dan untuk membaca menunjukkan angka kami tidak tahu cara menyebut dan membaca bagaimana bentuknya." jelas Damian yang membuat Carissa mengerutkan keningnya heran.
__ADS_1
"maksud anda…?"
"kami tidak tahu tulisan angka dari buku itu." jawab Damian yang membuat Carissa menganga kan mulutnya terkejut tidak percaya kalau mereka tidak tahu bentuk tulisan angka abjad pada zamannya.
"jadi anda tidak tahu petunjuk yang menunjuk kan anda harus membaca sambungan buku ini pada buku ke 2?"tanya Carissa tidak percaya.
"tidak…"jawab singkat Damian seraya menggelengkan kepalanya.
Carissa menatap Damian dan Leonard secara bergantian, lalu terlintas mimpi yang baru saja dia alami, di dalam mimpi tersebut dia bertemu dengan seorang wanita cantik dengan warna rambut dan mata mirip dengannya, dan wanita tersebut tersenyum dan mengatakan padanya, selamat datang pada Dunia Kedua, dunia yang akan membawa Carissa kepada takdir di mana seharusnya dia berada.
Dan wanita itu menunjukkan kepada Carissa Dunia Kedua yang di penuhi oleh aura hitam yang harus segera di bersihkan, Carissa harus berusaha menemukan dan memecahkan semua petunjuk dengan sembilan (9) benda keramat yang sudah terpecah.
Carissa menggelengkan kepalanya dan memejamkan sejenak matanya untuk mengusir mimpi buruk yang membuatnya takut.
"tidak mungkin, mimpi itu petunjuk" gumam Carissa pelan yang masih bisa di dengar oleh Leonard, Damian dan Verdian.
"apa maksudmu?" tanya Leonard.
"ada berapa buku seperti ini, di kerajaan Holmes?" tanya Carissa seraya menunjukkan buku yang dia pegang.
"hanya ada dua, punyaku dan punya putra mahkota" jawab Damian.
"apa bisa hamba melihat punya anda yang mulia?" tanya Carissa melihat putra mahkota yang memasang wajah datar dan dinginnya.
"untuk apa? bukankan buku itu sudah cukup dan aku rasa kedua buku itu sama saja." balas Leonard dengan wajah dinginnya.
Carissa memiliki kecurigaan kalau kedua buku tersebut saling berhubungan, dengan kata lain buku tersebut berseri dan buku-buku tersebut memiliki petunjuknya masing-masing, Carissa menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.
"yang mulia, apa tulisan pada sampul buku anda sama seperti buku ini?" tanya halus Carissa seraya menunjukkan tulisan pada sampul buku yang dia pegang, buku dengan angka 1 dan judul A Miracle.
"tidak …berbeda." jawab singkat Leonard yang membuat Carissa semakin penasaran.
"ada apa…?" tanya Damian ikut penasaran dengan mimik wajah serius Carissa.
"yang mulia ini buku ke 1 dan buku anda, buku keberapa?" tanya halus Carissa, dalam hati sudah sangat tidak sabar karena rasa penasarannya.
"dari mana kau tahu buku itu, buku ke 1…?" tanya Leonard memicingkan matanya melihat ke arah Carissa.
Carissa lagi-lagi menghembuskan nafasnya.
"yang mulia ini tulisan angka, yang artinya angka satu 1, dan ini tulisan angka selanjutnya yang artinya angka 2." tunjuk Carissa pada tulisan angka 1 pada sampul buku, dan tulisan angka 2 pada halaman belakang buku.
Damian dan Leonard saling memandang heran tidak percaya, Carissa bisa membaca tulisan angka yang mereka tidak tahu sama sekali, karena yang mereka tahu tulisan angka di sana di tulis menggunakan huruf abjad dan bukan tulisan angka abjad.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.