
***Ruang Hampa Sang Peramal Suci***
Aku masih berada di dalam ruang hampa milik Peramal Suci, banyak pertanyaan yang ada di hati dan pikiran ku, untuk kelanjutan hidupku di Dunia Kedua yang di katakan sang Peramal Suci padaku, dan apa aku harus mempercayai semua yang Peramal Suci katakan padaku?
"apa yang kau pikirkan? apa kau tidak ingin kembali keluar dan membuktikan ucapanku yang tadi, apa kau ingin melihat banyak yang menjadi korban? baru kau bertindak?"
"sebenarnya apa tujuan mu dan tujuanku ada di dunia ini?"
"yang aku lihat dari masa depanmu adalah, kau bisa merasakan dan mengumpulkan ke 9 benda keramat serta memecahkan setiap petunjuk yang ada di buku bahasa asing, dengan usaha dan jalan yang penuh akan rintangan, dan untuk memusnahkan segala kegelapan yang di ciptakan oleh kerajaan Darkness World, semua perjalananmu untuk itu tidak akan mudah dan kau harus melakukannya dengan penuh ketulusan, kejujuran dan keteguhan hati."
"apa yang kau katakan? tidak mungkin aku bisa melakukan itu semua? apakah aku bisa mengumpulkan dan melewati rintangan serta harus melawan kerajaan Darkness World, yang bahkan banyak kerajaan takut akan kerajaan tersebut." ucapku tidak percaya akan ramalan yang di lihat oleh Peramal Suci.
"itu semua adalah yang aku lihat dari takdir masa depanmu untuk sementara waktu ini, dan selanjutnya masih terlihat buram, kau sangat tahu semua kehidupan itu penuh akan perjuangan dan tidak mudah di jalani, aku yakin kau akan bisa menjalaninya dengan perjuangan keteguhan, ketulusan dan kejujuran hatimu, yakinlah kau bisa untuk itu"
Aku diam melihat pada wanita cantik Peramal Suci yang melihatku dengan tatapan seriusnya padaku, aku masih belum yakin pada diriku apakah bisa aku menjalani takdir yang sangat berat dan besar ini? kehidupanku di Dunia Kedua ku ini lebih berat dari kehidupan ku yang sebelumnya.
Mau tidak mau dan bagaimana pun aku mencoba menghindarinya? takdir ini sudah di gariskan dan aku putuskan akan mencoba untuk menjalaninya, dengan apapun jalan yang akan aku lalui, akan aku jalani sampai batas kemampuan yang aku miliki, mati sekali tidak membuatku takut akan mati untuk kedua kalinya.
"baiklah…aku coba untuk menjalani takdir ini, bagaimana caranya aku keluar dari sini untuk memeberitahukan putra mahkota dan para pangeran tentang para iblis dan siluman yang akan menyerang istana?"
"kau hanya perlu memegang kunci ajaib itu dan memusatkan pikiran mu untuk keluar dari ruangan ini, begitupun bila kau ingin masuk ke dalam ruangan ini lagi, kau dan aku juga bisa saling berkomunikasi melalui telepati yang hanya kita berdua bisa melakukannya."
"bagaimana caranya…?"
"kau hanya perlu memanggil namaku, namaku Sophie Asteria, dan kau juga bisa memintaku keluar kapanpun kau mau bila butuh bantuan dariku, dengan catatan di luar sana kau tidak boleh memanggilku peramal suci, karena aku akan keluar dalam wujud tidak menggunakan kain penutup mata, apa kau bisa mengerti?"
"tentu saja, baiklah…aku keluar dulu, lain kali kita bicara lagi, atau sampai ketemu besok di dalam acara pertemuan rutinmu."
"kau akan hadir?"
"tentu saja aku ingin melihatmu sebagai Peramal Suci yang sangat di kagumi banyak orang." ucapku tersebut tipis.
"apa aku boleh menyapa mu?"
"terserah padamu, karena kau tahu harus berbuat apa?" ungkapku dengan segera keluar dari ruangan tersebut.
Saat aku membuka mataku dari silaunya cahaya dari kunci ajaib yang masih ada di tanganku, aku melihat putra mahkota dan para pangeran juga melakukan hal yang sama, dan aku sangat yakin kalau waktu di ruang hampa milik Peramal Suci adalah ruang dimensi yang berbeda waktu pada dunia luar.
"apa yang terjadi?"tanya Verdian melihat kami secara bergantian.
"hamba mendapat kabar melalui cahaya tadi." jawabku yang membuat semua mata melihat padaku.
"kabar apa?" tanya Verdian.
__ADS_1
"para iblis dan siluman datang menyerang di depan istana ingin memaksa masuk, dan sudah banyak yang menjadi korban mereka." balasku yang membuat mereka melihatku tidak percaya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan dari luar pintu ruangan tersebut, dan ternyata dari pengawalan pribadi sang putra mahkota yaitu Regio Misel.
"maaf yang mulia, ini hamba Regio." ucap Regio dari balik pintu.
"biar hamba yang membukanya yang mulia." ucapku karena aku sadar posisi ku yang paling rendah di antara kami berempat.
Perlahan aku menarik tanganku yang masih di genggam oleh Damian lalu melangkah ke arah pintu, segera aku membuka kedua pintu yang tertutup dan menampakkan wajah cemas dari Regio yang melihat ku di depan pintu.
Regio sempat terkejut melihat kunci ajaib yang masih ada di tangan ku, akupun mengerutkan keningku melihat Regio hanya diam terkejut melihatku.
"ada apa tuan…?" tanyaku menyadarkan Regio dari keterkejutannya.
Regio tidak menjawab ku, dengan angkuh dia berjalan melewati ku begitu saja dan mendekati putra mahkota dan para pangeran dengan langkah cepatnya.
"salam hamba yang mulia." ucap Regio membungkukkan sedikit badannya tanda hormat di hadapan ketiga pria tersebut.
Aku menarik dan menghembuskan nafasku kesal melihat tingkah laku Regio yang mengacuhkan ku. Aku malas beranjak dari tempatnku berdiri dan tidak ingin bergabung dengan ke empat pria tersebut, aku lebih memilih berdiri bersandar santai di daun pintu yang aku buka dengan memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana, sekaligus memasukkan kunci ajaib yang aku pegang ke dalam saku celanaku.
Tingkah lakunku tidak luput dari perhatian dari ke tiga pria yang berkuasa di kerajaan Holmes, tetapi aku hanya memandang mereka semua dengan wajah datar dan dingin dengan posisi tubuh masih berdiri santai.
"ada apa Regio…?" tanya putra mahkota beralih melihat Regio.
"maaf yang mulia, di depan istana ada penyerangan para iblis dan siluman yang ingin memaksa masuk ke dalam istana dan sudah mengalahkan beberapa pengawal dan penjaga." jawab Regio yang membuat pandangan putra mahkota dan para pangeran langsung melihat padaku.
"sudah hamba katakan bukan?" ucapku yang kini berdiri tegak.
"darimana kau tahu?" tanya putra mahkota.
"dari cahaya kunci ajaib ini." jawabku seraya memperlihatkan kunci ajaib yang ada di tanganku, dan tidak mungkin aku mengatakan semua yang di katakan oleh Peramal Suci.
"apa kita hanya diam saja dan tidak kesana membantu?" tanyaku karena melihat semua hanya diam tidak bergerak sama sekali dan tidak menjawab ku juga.
Saat aku ingin berbalik badan, terdengar Damian memanggilku.
"kau mau kemana?" tanya Damian.
"kemana lagi, hamba ingin melihat para iblis dan siluman itu, dan ingin tahu apa tujuan mereka datang yang nekat ingin masuk ke istana ini." balasku dengan berdiri menyamping melihat pada mereka.
"apa kau akan ikut melawan mereka?" tanya Verdian.
"tidak, hamba hanya akan melihat saja, karena hamba sadar kalau hamba tidak memiliki kekuatan magic apapun untuk melawan mereka."
__ADS_1
"jadi untuk apa kau akan menjadi beban dari kami bila tidak ikut melawan mereka." ucap putra mahkota melihat remeh padaku.
"hamba tidak akan menjadi beban anda yang mulia, hamba akan ikut menyerang bila itu di perlukan." jawabku menatap dingin pada putra mahkota.
"kalau begitu gunakan kedua pedang yang ada di dekatmu itu." balas putra mahkota yang membuat para pangeran dan Regio terkejut.
Karena pedang kembar yang di tunjuk oleh putra mahkota adalah pedang keramat, salah satu dari benda keramat yang harus aku temukan dan aku kumpukan, dan saat itu aku tidak tahu kalau pedang kembar keramat tersebut juga tidak bisa di sentuh oleh putra mahkota, sang pemilik dan pemegang buku bahasa asing yang datang bersama pedang kembar tersebut.
Aku yang tidak tahu apapun tentang kedua pedang kembar keramat itu hanya diam, melangkah tanpa tahu pedang kembar keramat tersebut tidak bisa di sentuh oleh putra mahkota, dengan santainya aku mengambil kedua pedang tersebut tanpa terjadi apapun pada diriku, yang malah membuat para pria yang ada di sana melihatku terkejut, terutama Verdian dan Regio.
"ada apa dengan kalian…?" tanyaku heran melihat ke empat pria yang diam terkejut.
"kau bisa juga menyentuh pedang kembar itu?" ucap Verdian seraya menunjuk ke arahku.
"memangnya kenapa?" tanyaku heran melihat ke arah kedua pedang kembar yang ada di kedua tanganku, dan ke empat pria yang ada di hadapanku secara bergantian.
"itu pedang kembar keramat milik putra mahkota yang datang bersama buku bahasa asing yang di miliki oleh putra mahkota, dan tidak ada yang bisa dan berhasil menyentuhnya, termasuk putra mahkota sekali pun." balas Verdian yang membuatku diam melihat kedua pedang kembar keramat yang ada di tanganku.
'apa benar aku sang pengendali? apa benar semua benda keramat yang datang bersama buku bahasa asing bisa aku sentuh?' gumam ku dalam hati masih melihat intens kedua pedang kembar tersebut.
"apa kau hanya akan diam saja." ucap putra mahkota yang sudah berdiri di depanku dan menyadarkan aku dari lamunanku.
"tentu saja tidak, kalau memang di izinkan hamba akan menggunakan kedua pedang ini." balasku melihat dingin pada putra mahkota.
"pedang kembar keramat ini sudah memilihmu menjadi pengendali dan pemiliknya, kau bisa memiliki dan menggunakannya." balas putra mahkota tidak kalah dingin.
"terima kasih yang mulia." balasku memundurkan kakiku selangkah karena posisi kami sangat dekat.
Putra mahkota hanya tersenyum tipis melihat ke arahku yang memundurkan langkahku, dengan segera putra mahkota melangkah keluar ruangan yang juga di ikuti oleh para pangeran dan juga Regio, Damian menyentuh bahuku karena aku hanya diam mematung.
"kenapa malah diam, ayo gunakan ikat pinggang ini, letakkan salah satu pedangmu, karena tidak mungkin kau mencabut kedua pedangmu bila kau masih memegang kedua pedang di tanganmu." ungkap Damian memberikan ikat pinggang yang bisa di pakai untuk menggantungkan salah satu pedang yang aku pegang.
Tanpa kesulitan juga aku menggunakan ikat pinggang tersebut karena dulu saat menjadi anggota mafia aku terbiasa menggunakannya, untuk menggantung katana dan pedang yang aku gunakan melumpuhkan musuh, dan aku juga terbiasa menggunakan dua pedang sekaligus atas ajaran dari master pedang yang menjadi guruku.
"seperti nya kau biasa menggunakannya?" ucap Damian melihat caraku yang dengan cepat menggunakan ikat pinggang dan menyelipkan salah satu pedang kembar keramat yang ada di tanganku.
Aku tidak menjawab perkataan Damian, aku hanya melihatnya datar dan dingin, dan Damian seperti tahu aku enggan menjawabnya, dia hanya melangkah lebih dulu seraya menarik tangan kiriku yang tidak memegang apapun, aku hanya mengikuti Damian tanpa protes sedikitpun dan hanya ikut melangkah ke mana dia menarik tanganku.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.