DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
75. Kecemasan Duke Emris Hubert.


__ADS_3

…Paviliun Carissa…


Duke Emris Hubert senang atas kunjungan dari pangeran kedua ke paviliun putrinya, apa lagi saat ini Damian berniat ikut sarapan pagi bersama mereka.


"tentu saja pangeran, suatu kehormatan bagi kami, pangeran berkenan untuk sarapan pagi bersama kami." balas Duke Emris terseyum ramah pada Damian.


"mari silahkan…!!" ajak Duke Emris mempersilahkan Damian menuju ke kursi yang masih kosong.


Damian senang bisa di terima oleh Duke Emris untuk sarapan bersama, pasalnya Carissa sangat sulit di temui akhir-akhir ini, apa lagi untuk sarapan pagi, makan siang ataupun makan malam bersama. Carissa selalu ada saja mempunyai alasan untuk menolak.


Kali ini Carissa tidak menolak dan berkata apapun, karena Duke Emris sendiri yang menyetujuinya. Mereka kembali duduk di meja makan, melanjutkan sarapan pagi mereka.


Feyrin dan dua pelayan pembantu yang ada di sana, dengan cepat dan hati-hati menyajikan makanan tambahan di atas meja.


Dengan sigap Carissa yang tahu diri sebagai calon istri atau tepatnya calon selir Damian, menyajikan sepotong roti yang sudah di olesi oleh butter dan madu di atas piring Damian. Damian terkejut dengan pelayanan Carissa padanya, lebih tepatnya lagi Damian terkejut kalau Carissa ternyata tahu menu sarapan pagi yang Damian sukai.


Dengan telaten pula Carissa menyajikan segelas susu madu hangat untuk Damian.


"silahkan yang mulia, semoga anda suka." ucap ramah Carissa dengan senyum tipisnya.


"terima kasih nona Carissa." balas ramah Damian tersenyum bahagia.


Ini untuk pertama kalinya dia sarapan bersama Carissa, dan untuk pertama kalinya dia di layani oleh Carissa, Damian sangat senang melihat sikap dan perhatian Carissa padanya. Damian merasa kalau dirinya dan Carissa sudahlah menjadi pasangan suami istri.


'Carissa…kau semakin membuatku ingin selalu mengenal dekat dirimu, kau selalu menarikku pada pesonamu, walupun aku tahu kau belum memiliki perasaan apapun padaku, tapi kau adalah takdirku, semoga kita bisa terus bersama.' gumam Damian dalam hatinya.


Mereka bertiga melanjutkan sarapan mereka dengan penuh kehangatan, Carissa hanya mengikuti alurnya saja. Sebenarnya Carissa hanya ingin sarapan bersama sang ayah, tapi terpaksa menerima Damian atas izin dari Duke Emris Hubert.


"Carissa…!!" panggil Duke Emris, yang membuat Carissa melihat pada sang ayah, begitu juga Damian.


"iya ayah…" balas Carissa sekenanya seraya mengelap mulutnya dengan nepkin yang sudah tersedia.


"apa kamu sudah yakin akan melawan putri Debora?" tanya Duke Emris dengan mimik wajah cemasnya.


"tentu ayah, apa Carissa ada pilihan yang lainnya?" tanya balik Carissa, dan itu memang benar.


"tapi kamu tahu sendiri kan, bagaimana kuat dan jeniusnya putri Debora?" ucap Duke Emris dengan rasa khawatir di dalam hatinya.


Carissa yang dapat merasakan kekhawatiran sang ayah, memberikan senyumnya agar sang ayah bisa sedikit tenang.

__ADS_1


"ayah jangan terlalu khawatir, aku akan hati-hati melawan putri Debora, karena tidak ada pilihan lain, Carissa tidak ingin mempermalukan nama keluarga bila harus menghindari ini." balas Carissa mencoba membuat tenang sang ayah.


"apa lebih baik kita bicarakan lagi baik-baik dengan putri Debora, untuk membatalkan pertarungan ini, dan kamu serahkan kunci ajaib itu, ayah tidak ingin kamu terluka sayang."


Carissa tersenyum dan sangat tahu bila ayahnya tidak ingin Carissa terluka, karena Duke Emris hanya tahu Carissa yang dulu, dan tidak tahu Carissa yang sekarang.


"ayah…saya bisa saja dan iklhas bila harus menyerahkan Kunci Ajaib tersebut pada putri Debora, yang terpenting putri Debora bisa menyentuh kunci ajaib itu. Carissa tidak ada masalah, siapapun yang mampu memiliki kunci ajaib tersebut?"


"benar Duke Emris…yang di katakan oleh nona Carissa benar, siapapun bisa memiliki Kunci Ajaib tersebut asal bisa menyentuhnya." kini giliran Damian yang buka suara.


"tapi pangeran…bagaimana bisa Carissa dengan mudah menyentuh kunci ajaib tersebut?" tanya Duke Emris ingin tahu lebih jelas, bagaimana caranya Carissa bisa dengan mudah menyentuh kunci ajaib tersebut?


"itu sudah takdir dari Carissa yang terpilih menjadi sang pengendali." balas Damian.


"tapi Carissa tidak bisa apapun? apa dia mampu melindungi kunci ajaib tersebut? menjadi sang pengendali adalah suatu kehormatan bagi siapa saja? tetapi juga menjadi bahaya untuk dirinya sendiri." ungkap Duke Emris, yang membuat Carissa dan Damian saling memandang sejenak.


"Carissa…apa kamu tahu, sang pengendali adalah musuh dari kerajaan Darkness World dan pengikutnya. Ayah tidak bisa melihatmu dalam bahaya sayang…Jadi lepaskan gelar itu dan jadilah Carissa Putri kecil ayah seperti dulu." ungkap Duke Emris sangat khawatir.


"Carissa tahu ayah, Carissa juga tidak ingin seperti ini, tapi Carissa tidak bisa menolaknya juga, semakin Carissa ingin menghindari takdir ini, semakin banyak halangan yang akan membuat Carissa mau tidak mau menerima takdir ini. Ayah… ini bukan masalah kehormatan menjadi sang pengendali, tetapi banyak nyawa yang tidak bersalah yang harus di lindungi, ayah pasti sangat tahu bagaimana kejamnya pengikut dari kerajaan Darkness World? pada semua manusia yang lemah, Apa ayah pernah mendengar kalau kaisar kerajaan Darkness World, ingin menguasai seluruh kerajaan yang ada di dunia ini?" ungkap dan tanya Carissa ingin menyakinkan sang ayah.


"iya ayah tahu itu, dan itu sudah menjadi berita yang sangat meresahkan bagi seluruh kerajaan yang ada di dunia ini."


"iya ayah tahu, hanya sang pengendali yang bisa dengan mudah memusnahkan semua para siluman, iblis dan penyihir golongan hitam yang tidak bisa di lawan oleh para kesatria. Sang pengendali yang bisa melawan kaisar dari kerajaan Darkness World, karena hanya sang pengendali yang bisa menyentuh semua benda keramat ajaib yang di gunakan melawan kerajaan Darkness World dan pengikutnya." ungkap Duke Emris yang memang tahu itu semua.


Selama ini semua kerajaan di dunia ini, takut akan kerajaan Darkness World dan pengikutnya. Semua juga berharap akan kemunculan sang pengendali, yang di ramalkan oleh sang peramal suci yang bisa membantu mereka melawan kerajaan Darkness World dan pengikutnya.


"tapi mengapa mesti kamu Carissa…?" tanya Duke Emris yang masih tidak terima takdir yang telah mengikat putri kecilnya.


"itu juga pertanyaan yang Carissa ingin jawabannya ayah…" balas Carissa dengan mimik datarnya.


Duke Emris dan juga Damian melihat pada Carissa, nampak jelas Carissa serius akan hal tersebut, Carissa juga tidak ingin menjadi sang pengendali, dia hanya ingin hidup tenang dan memiliki sebuah keluarga bahagia yang dari dulu dia inginkan.


"sayang…" ucap Duke Emris menggenggam lembut telapak tangan Carissa yang ada di atas meja.


"bila kamu tidak ingin dan sanggup, lepaskanlah…cukup jadilah Carissa Putri kecil ayah." ungkap Duke Emris ingin meyakinkan Carissa.


"tentu ayah…Carissa akan lepaskan itu semua, bila tidak ada lagi para iblis, siluman dan penyihir golongan hitam yang meresahkan manusia, sang pengendali tidak akan muncul bila semuanya sudah tenang dan hidup damai." balas Carissa apa adanya? dan itu yang ada di dalam hati Carissa selama ini.


Sang pengendali tidak akan muncul bila keadaan di dunia ini aman dan damai dari hal yang mencekam. Tapi itu akan sulit karena kerajaan Darkness World, masih ingin menguasai seluruh kerajaan di dunia ini.

__ADS_1


"Duke Emris…saya akan selalu ada untuk putri anda, saya akan selalu bersama nona Carissa dan membantunya melewati ini semua." kini Damian mencoba untuk meyakinkan Duke Emris dan membuatnya tenang.


Duke Emris dan juga Carissa melihat pada Damian, mereka berdua melihat ketulusan di mata Damian akan semua ucapannya.


"tapi pangeran… Carissa tidak bisa apapun? bagaimana dia bisa melawan para iblis, siluman dan penyihir golongan hitam, bahkan hamba takut Carissa tidak bisa melawan putri Debora Liberata." ungkap Duke Emris yang menjadi masalah kecemasannya.


"Duke Emris…ternyata anda belum tahu tentang nona Carissa saat ini, dia lebih kuat dari yang anda pikirkan. Saat nanti anda melihatnya, anda juga tidak akan percaya pada apa yang anda lihat, jadi cukup anda mendukung dan percaya pada putri anda serta yakin nona Carissa bisa melewati rintangan ini." ungkap Damian, mencoba memberikan pengertian pada Duke Emris yang sangat mencemaskan putrinya.


Duke Emris Hubert hanya diam mendengarkan ucapan Damian, dia melihat pada Carissa yang tersenyum padanya. Carissa ingin ayahnya sedikit tenang.


"baiklah…sebaiknya kita bersiap, karena sudah waktunya berkumpul di area latihan istana. Terima kasih atas sarapan pagi ini, selamat berjuang nona Carissa." ucap Damian sembari bangun dari duduknya, dan pamit pergi dari kamar Carissa.


"terima kasih atas kunjungan anda pangeran." balas Duke Emris sembari memberikan hormatnya pada Damian, begitu juga Carissa.


Damian pergi dengan hati yang bahagia, Duke Emris Hubert juga pamit karena harus bersiap juga. Begitu juga Carissa dan yang lainnya, semua yang ada di dalam istana sudah mulai bersiap-siap, untuk pertunjukan yang akan ada di area latihan istana.


...--------------------------------...


…Area Latihan Istana…


Semua sudah berkumpul di area latihan istana, begitu juga kedua gadis cantik yang akan bertarung, sudah siap dengan perlengkapan mereka, tetapi tidak dengan Carissa yang hanya membawa dirinya sendiri. Lain halnya putri Debora yang memegang sebuah pedang di tangan kanannya.


Carissa sangat tahu pertarungan kali ini bukanlah sesi latihan, ini pertarungan yang sebenarnya. Carissa hanya akan mengikuti peraturan yang ada, bila harus ada yang terluka? Carissa tidak peduli, sebab kalah dan menang sudah biasa di dalam setiap pertarungan.


Carissa duduk hanya di dampingi oleh sang ayah saja, pada kursi yang sudah di siapkan. Sedangkan putri Debora Liberata duduk di temani oleh teman-temannya, nona-nona muda dan beberapa putri kerajaan.


Carissa tidak peduli akan pandangan mata semua orang padanya, yang memandangnya tajam dan remeh, mereka hanya tahu Carissa yang tidak bisa apapun? pasti akan kalah melawan putri Debora Liberata yang terkenal kuat dan pintar dalam bertarung.


Carissa hanya diam duduk dengan wajah datar dan dinginnya, dia tidak peduli sama sekali akan ucapan dan pandangan semua orang padanya. Carissa hanya diam memandang ke depan sembari memusatkan pikirannya, karena ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan saat ini.


Atas bantuan cincin Pengikat yang ia gunakan di jari manis tangan kanannya, Carissa bisa merasakan dan melihat apa saja yang berhubungan dengan para iblis, siluman dan penyihir golongan hitam. Semua aura itu ada di sekitar area latihan istana. Carissa hanya akan diam, selama tidak ada perlawanan dari mereka.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2