DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
36. Kecurigaan Putra Mahkota.


__ADS_3

***Area Latihan Istana***


Carissa masih siaga terhadap serangan yang akan di lakukan oleh Damian selanjutnya, tetapi bukannya Damian menyerang malah memberikan keputusan yang berbanding terbalik dengan dugaan Carissa.


"aku puas dengan latihan ini, dan kau termasuk bisa melawan kekuatan magic ku dengan hanya menggunakan kekuatan fisikmu dan kau berhak mendapatkan hadiah dari ku." ungkap Damian yang segera melangkah mendekati Carissa.


"selamat kau berhasil dalam tantangan ini." ungkap Damian setelah ada di hadapan Carissa, Damian mengarahkan lengan Carissa pada lengannya untuk jalan bergandengan sampai ke depan putra mahkota.


Carissa yang masih heran karena Damian mengalah dari pertarungan mereka, hanya bisa mengikuti kemana Damian menuntunnya berjalan, Carissa merasa Damian bukanlah pria yang egois yang hanya menginginkan keingianannya selalu di ikuti, Carissa teringat akan sosok Antoni yang penuh perhatian dan hangat terhadapnya, walaupun di awal pertemuan mereka sempat berselisih paham.


"putra mahkota, hamba memutuskan Carissa berhak mendapatkan hadiah dari hamba." ungkap Damian di hadapan Leonard, yang melihatnya masih mengandeng lengan Carissa.


"baiklah…tanyakan apa yang nona Carissa inginkan darimu?" balas Leonard dengan pertanyaan.


"nona Carissa apa yang kau inginkan hadiah dariku?" tanya Damian melihat Carissa masih diam di sampingnya.


Carissa ikut melihat kemana pandangan mata Leonard, dan dia baru tersadar kalau lengannya masih bergandengan pada Damian, dengan cepat dan perlahan Carissa melepaskan gandengannya karena risih di lihat oleh semua orang yang ada di area lapangan.


Damian mengerutkan keningnya melihat Carissa melepaskan gandengan lengannya, tetapi hanya diam dan tidak bertanya.


"apa yang kau inginkan nona Carissa pada pangeran kedua?" tanya Leonard melihat Carissa.


"apa hamba juga boleh menundanya yang mulia?" balas Carissa yang tidak bisa mengucapkan apa yang dia inginkan dari Damian, karena keinginannya akan sangat tidak di sukai oleh Damian yang pernah membantunya agar tidak malu di saat pemilihan calon selir.


"tentu saja, kapanpun kau siap meminta hadiahmu, kau bisa memintanya padaku langsung." balas Damian tersenyum tipis pada Carissa.


"apa hamba boleh kembali yang mulia?" tanya Carissa yang benar-benar merasa lelah dan tubuhnya sakit karena telah memaksakan kondisi tubuh asli Carissa yang memang lemah dan gampang lelah.


Carissa merasa tiba-tiba tubuhnya sangat lemah seperti tidak bertenaga, tetapi dia menahannya.


"tentu saja, semua tantangan sudah kau lakukan dengan mendapatkan hadiah dari kami semua." balas putra mahkota.


"terima kasih yang mulia, hamba permisi." pamit Carissa memberikan hormat anggunnya pada Leonard, Damian dan juga Verdian yang ada di hadapannya.


Carissa benar-benar menahan rasa lemas di tubuhnya, dia tahu ini tubuh akan ambruk sebentar lagi, karena matanya sudah berkunang-kunang, Carissa dengan cepat berbalik badan dan melangkah untuk pergi, tetapi saat langkahnya sudah menjauh dari putra mahkota dan para pangeran, tubuh Carissa sudah tidak bisa bertahan dan akhirnya ambruk dan jatuh tidak sadarkan diri.


putra mahkota dan para pangeran yang melihatnya langsung berlari mendekati Carissa yang jatuh tidak sadarkan diri, Damian yang memiliki hak atas Carissa karena dia adalah calon selir Damian, dengan segera melihat dan memangku kepala Carissa di pangkuannya.


"nona Carissa…nona Carissa…"panggil Damian seraya menepuk-nepuk halus pipi Carissa berharap ada respon.


Tetapi Carissa tidak merespon apapun.


"mungkin dia tidak sadarkan diri karena kelelahan kak Damian." ungkap Verdian yang duduk bersimpuh di sampingnya, sedangkan putra mahkota hanya berdiri di hadapan mereka.

__ADS_1


"pengawal cepat panggilkan tabib istana dan bawa ke kamarku segera…." perintah Damian pada pengawal.


Dengan cepat Damian mengangkat tubuh Carissa dan membawanya ke dalam paviliunnya, Damian tidak menghiraukan mimik wajah semua orang yang terkejut mendengar perintah nya yang membawa Carissa masuk ke dalam kamar di paviliunnya, karena ini untuk pertama kalinya Damian membawa masuk seorang wanita ke dalam kamarnya.


Tidak ada yang berani ikut masuk ke dalam kamar paviliun Damian kecuali putra mahkota dan pangeran ketiga, perlahan Damian membaringkan tubuh Carissa di atas ranjangnya, dan segera dia memanggil pelayan wanita untuk membantu melepaskan sepatu dan melonggarkan ikat pinggang Carissa.


Beberapa menit kemudian tabib istana datang dan langsung memeriksa kondisi Carissa yang tidak sadarkan diri.


"bagaimana kondisinya tabib?" tanya khawatir Damian yang berdiri di samping ranjangnya.


"nona hanya kelelahan yang mulia, dia terlalu memaksakan kondisi tubuhnya yang belum cukup sehat atas kejadian bunuh dirinya beberapa hari yang lalu." balas tabib istana, tabib yang memeriksa Carissa saat dia mencoba bunuh diri.


Leonard dan Verdian hanya duduk santai di sofa dalam kamar Damian, mendengar penjelasan dari tabib istana tanpa ikut berkomentar apapun.


Tabib istana lalu keluar dari kamar dan meninggalkan mereka setelah menuliskan resep ramuan untuk Carissa minum, Damian hanya memandang wajah Carissa yang sedikit terlihat pucat, Damian membelai lembut pipi Carissa.


"kau terlalu memaksakan kondisi tubuh mu, hanya menginginkan hadiah dari kami." ungkap pelan Damian masih melihat wajah Carissa yang terlihat damai saat dia memejamkan matanya.


Damian lalu berjalan mendekati Leonard dan Verdian yang sudah duduk santai dengan gelas berisi minuman di tangan mereka masing-masing.


"kak Damian…kau sangat perhatian sekali padanya, apa kau menyukainya?" tanya Verdian melihat pada Damian yang duduk dan mengambil gelas minumannya, dan meneguknya perlahan.


Leonard juga melihat pada Damian dan menunggu jawaban Damian tentang pertanyaan Verdian padanya tentang Carissa.


"Oya kak Leon…apa kau sudah melihat permintaan nona Carissa yang di tulis pada kertas yang di berikan padamu?" tanya Verdian yang memang dari tadi sudah penasaran dengan apa yang di tulis oleh Carissa untuk Leonard.


"belum…paling dia malu meminta perhiasan berharga atau harta yang mungkin bisa membuat keluarganya kaya raya dengan hadiah yang dia akan minta padaku." balas santai Leonard yang masih menikmati minumannya.


"ayolah kak…aku penasaran apa yang dia minta padamu? bukalah dan bacakan padaku?" desak Verdian, sedangkan Leonard hanya melihat sang adik yang memang tidak bisa menahan rasa penasaran nya terhadap apapun.


Leonard menyerahkan secarik kertas yang di tulis oleh Carissa untuk nya pada Verdian.


"kau baca sendiri, agar rasa penasaran mu terjawab." ucap Leonard menyerahkan kertas tersebut yang langsung di sambar oleh Verdian dan langsung membuka untuk segera membacanya.


Mimik wajah Verdian seketika terkejut dan mulutnya menganga melihat ke arah Leonard dan Damian secara bergantian.


"Kak Leon…apa benar ini kertas yang di tulis oleh nona Carissa? apa kakak tidak salah memberikan kertas padaku?" tanya Verdian tidak percaya dengan apa yang dia lihat pada kertas tersebut.


"iya tentu saja itu kertas yang di tulis oleh nona Carissa, dan aku tidak ada membawa kertas apapun, ada apa? cepatlah baca apa tulisannya?" balas Leonard dengan santai.


"tapi kak…aku tidak bisa membacanya." ungkap Verdian yang melihat kertas di tangannya, Leonard dan Damian secara bergantian.


"apa maksudmu?" tanya Leonard mengerutkan keningnya, dan Damian hanya diam melihat perdebatan Verdian dan Leonard.

__ADS_1


"tulisan ini hanya kalian berdua yang bisa membaca dan mengerti artinya, aku tidak bisa sama sekali jadi apa yang bisa aku baca…!!" balas Verdian yang menyerahkan kembali kertas tersebut pada Leonard.


Leonard dengan santai mengambil kembali kertas tersebut dan ingin melihat tulisan yang di tulis oleh Carissa untuknya, Leonard seketika terkejut dan langsung melihat pada Damian, Damian yang melihat mimik wajah Leonard pun ikut dengan cepat merampas kertas tersebut dan ingin melihat apa isi tulisannya.


"kak ini…?" tanya mengambang Damian setelah terkejut juga melihat isi tulisan pada kertas tersebut.


Leonard berdiri dan melangkah mendekati ranjang dimana Carissa masih tidak sadarkan diri, Leonard menatap tajam pada wajah Carissa yang terlihat damai saat mata tajam indahnya tertutup.


"siapa kau sebenarnya, apa kau memang tahu apa yang sudah kau tulis di kertas tersebut, atau hanya pemberitahuan oleh seseorang?" ungkapnya melihat wajah Carissa tajam.


Damian dan Verdian ikut berdiri di samping ranjang berjejer dengan Leonard, dan melihat ke arah Carissa serta mendengar apa yang semua Leonard katakan?


"apa kalian percaya kalau dia bukanlah Carissa yang kita kenal dulu? dia seperti orang lain yang banyak kejutan untuk kita?" tanya Leonard pada kedua adiknya yang juga tahu siapa Carissa Hubert, putri salah satu bangsawan kerajaan Jericho yang tidak memiliki kemampuan apapun.


"iya…aku rasa juga begitu…?!?" balas Verdian, sedangkan Damian hanya diam tidak berkomentar apapun padahal dia juga penasaran dengan sosok Carissa saat ini.


Saat mereka bertiga berdiri di samping ranjang dan melihat Carissa, terlihat wajah Carissa gelisah seperti sedang bermimpi jelek, tiba-tiba Carissa bangun dengan nafasnya yang terengah-engah kelelahan dan pandangannya lurus kedepan.


"apa kau sudah sadar?" tanya tiba-tiba Leonard pada Carissa yang baru bangun.


"aaaaaaa………!!!" teriak tiba-tiba Carissa karena terkejut mendengar suara di sampingnya dan melihat tiga pria tampan sekaligus berdiri di samping ranjang.


"hai nona…sadar…kenapa kau berteriak di depan kami?" tanya Verdian yang juga sempat terkejut akan teriakkan dari Carissa.


"sedang apa kalian di sini…?" tanya Carissa yang menggunakan kata-kata tidak formal dan sedikit keras pada volume suaranya.


"hai nona…apa kau tidak ingat kalau kau jatuh tidak sadarkan diri di tanah Area Latihan Istana?" tanya Verdian mengingatkan Carissa.


"lalu kenapa kalian ada di kamarku?" tanya Carissa menatap tajam mereka bertiga dan belum sadar kalau itu bukanlah kamarnya.


"hai nona…coba kau lihat kembali, kamar siapa ini?" tanya Verdian lagi, sedangkan Leonard dan Damian hanya diam saja melihat Carissa.


Carissa pun mengedarkan pandangannya melihat ke sekitar ruangan kamar tersebut, dia berharap itu adalah kamarnya, tetapi nihil…itu bukanlah kamar yang biasa dia tempati, dari penataan ruangan, furniture dan warna cat kamarnya berbeda dari kamar pribadinya.


Carissa melihat kembali pada ketiga pria yang sedang berdiri dan menatapnya tajam, Carissa sedikit merasa ngeri melihat tatapan tajam mata ketiga pria tampan tersebut padanya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2