
Carissa sudah berada di dalam kamarnya dan sudah selesai membersihkan dirinya yang seharian ini berada di balai pengobatan istana, seluruh tubuhnya memiliki aroma bahan obat-obatan yang dia sentuh, Feyrin yang juga sudah selesai membersihkan dirinya, membantu Carissa untuk menyemprotkan cairan herbal yang dia buat pada luka lengannya.
Setelah selesai Feyrin pun di beri obat ajaib yang Carissa buat agar luka lebam di wajah Feyrin cepat sembuh dan tidak terasa sakit. Carissa sangat terlihat sedih melihat kondisi Feyrin saat ini, dan dia memerintahkan Feyrin kembali ke kamarnya untuk istirahat lebih awal.
Kini Carissa duduk di atas ranjang dan memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Carissa benar-benar tidak bisa percaya pada satupun orang yang ada di dalam istana ini, semua tidak ada yang menunjukkan ketulusan mereka padanya.
Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri seperti dulu, saat Carissa menjadi Callysta di dunia lamanya, tetapi setidaknya Carissa di dunia keduanya ini memiliki Feyrin yang selalu ada setia dan mengerti setiap kondisinya.
Saat Carissa asyik berpikir, terdengar pintu kamarnya di ketuk seseorang, dan dia pikir pasti Feyrin kembali karena tidak tega meninggalkannya sendiri, dengan pelan Carissa melangkah mendekati pintu kamar, dan membukanya tanpa ragu.
Carissa heran melihat siapa yang datang? putra mahkota Leonard Theodore datang malam-malam berkunjung ke kamarnya saat ini.
"selamat malam nona Carissa!!" sapa Leonard ramah dengan senyum tipisnya.
"selamat malam yang mulia." balas Carissa sopan dengan membungkukkan tubuhnya anggun, memberi hormat secara putri bangsawan.
Leonard menatap Carissa yang saat ini terlihat cantik alami dengan gaun tidur putihnya yang polos tetapi membungkus indah lekuk tubuh Carissa.
"ada yang bisa hamba bantu yang mulai…?" tanya Carissa karena Leonard hanya diam saja melihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.
"apa aku boleh masuk sebentar, ada yang ingin aku bicarakan padamu?" tanya pelan Leonard, dia sebenarnya ingin menunggu sampai besok pagi untuk menemui Carissa, tetapi hatinya terus resah dan memikirkan Carissa terus menerus.
"maaf yang mulia, bukannya hamba tidak sopan, tetapi apa ini sudah tidak terlalu malam untuk berkunjung?" tanya Carissa yang sedang malas menerima tamu, apalagi saat ini sudah malam.
Tubuh Carissa terasa lelah sekali karena seharian ini dia membuat berbagai obat, dan dia ingin istirahat agar besok bisa segar untuk kembali ke balai pengobatan istana Holmes.
"maafkan aku bila aku berkunjung malam-malam, tetapi aku terus kepikiran seharian ini."
"maksud anda…?"
"apa boleh aku masuk dulu, sebentar saja."
Carissa menghembuskan nafasnya secara perlahan, Carissa berpikir percuma menolak keinginan sang putra mahkota, itu tidak ada gunanya, dan terpaksa Carissa mengizinkan Leonard untuk masuk ke dalam kamarnya.
'mau apa lagi laki-laki ini?' gumam Carissa dalam hati seraya melihat pada Leonard yang masuk ke dalam kamarnya dan melangkah menuju ke sofa yang ada di dalam kamarnya.
Mereka berdua kini telah duduk berhadapan, setelah Carissa membuatkan minuman teh hangat untuk mereka berdua, kebetulan sebelum Feyrin kembali ke kamarnya, dia sudah membawakan teh hangat yang biasa Carissa suka minum sebelum tidur.
"silahkan di minum yang mulia, maaf hanya ini yang hamba punya di dalam kamar." ucap Carissa masih sopan dan duduk anggun di sofa berhadapan pada Leonard.
"terima kasih, ini sudah lebih dari cukup." balas Leonard seraya mengangkat cangkir minuman hangat yang di suguhkan oleh Carissa.
__ADS_1
"ada yang bisa hamba bantu yang mulia…?"tanya Carissa yang sudah tidak ingin berlama-lama bersama Leonard.
"aku datang hanya ingin membantumu, untuk menyembuhkan luka pada lenganmu dengan ini." jawab Leonard seraya mengeluarkan bola cahaya milik siluman wanita Rapel dari balik kotak yang dia bawa, dan Carissa baru tahu kalau Leonard membawa sebuah kotak di tangannya.
"bukankah Anda meragukan keikhlasan hamba yang mulia?"
"maafkan aku soal yang tadi, aku hanya ingin tahu kau iklhas apa tidak memberikan ini padaku." ucap Leonard menatap Carissa dengan wajah menyesal dan bersalahnya.
"lalu menurut anda…?"
"kau iklhas memberikan ini padaku, dan aku juga iklhas ingin membantumu untuk sembuh."
Carissa masih mengerutkan keningnya melihat ke arah Leonard, dia masih heran dan curiga mengapa Leonard tiba-tiba berubah pikiran?
"apa kau masih mau aku bantu untuk menyembuhkan lukamu?"
"sebenarnya sudah tidak perlu lagi yang mulia, karena hamba sudah memiliki obatnya, dan akan sembuh secara perlahan." jawab Carissa berusaha menolak, karena dia masih tidak percaya kalau Leonard tulus dan ikhlas membantunya.
Sedangkan Leonard sangat kecewa mendengar penolakkan dari Carissa, dia benar-benar menyesal dan kali ini iklhas ingin membantu Carissa.
"aku akan tetap membantumu walaupun kau menolaknya."
"tapi yang mulia…" ucap Carissa terpotong karena melihat Leonard yang dengan cepat langsung menelan bola cahaya inti sari tersebut.
"Callysta bantu putra mahkota untuk menahan rasa sakit di tubuhnya, karena bola cahaya inti sari tersebut mengendalikan dua kekuatan sekaligus, aku takut tubuh putra mahkota tidak kuat untuk menerima rasa sakit di sekujur tubuhnya." ucap Sophie yang tiba-tiba berbicara melalui telepatinya pada Carissa.
"mengapa seperti itu?" tanya bingung Carissa seraya masih melihat Leonard yang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang mengeluarkan cahaya merah, terlihat Leonard mengerang tertahan dan meremas kuat kain sofa dengan kedua tangannya.
"karena biasanya yang bisa masuk dengan mudah pada tubuh manusia adalah, bola cahaya inti sari dengan satu kekuatan saja, sedangkan bola cahaya inti sari milik siluman wanita Rapel, memiliki dua kekuatan sekaligus, semburan api dan juga senjata cambukkan pada rambutnya, jadi agak sedikit susah dan akan sakit pada sekujur tubuhnya."
"jadi apa yang bisa aku lakukan sekarang? terlihat putra mahkota sangat kesakitan, dan cahaya yang keluar dari tubuhnya tidak menghilang juga."
"berikan nafas bantuan agar kekuatan dari bola cahaya inti sari cepat menyatu ke dalam tubuh putra mahkota."
"maksudmu?" tanya Carissa terkejut dengan cara yang di sarankan oleh Sophie.
"berikan nafas bantuan dari mulutmu ke mulutnya."
"apa tidak ada cara lain?" tanya Carissa yang masih tidak setuju dengan cara yang di sarankan oleh Sophie, karena secara tidak langsung bibir mereka berdua kan bersentuhan selayaknya orang berciuman.
"tidak ada cara lain Callysta, dan coba kau perhatikan tubuh putra mahkota membengkak seperti akan meledak, cepat Callysta…" teriak Sophie memeberitahukan, dan apa yang di katakan oleh Sophie tentang tubuh putra mahkota yang membengkak adalah benar.
__ADS_1
"sialan kau sohpie, kalau tahu begini jadinya aku tidak ingin mengikuti saran mu, untuk memberikan bola cahaya inti sari tersebut pada putra mahkota." ucap Carissa yang kesal pada Sophie, kini dirinya yang di repotkan oleh ulah Sophie.
"Callysta anggap saja putra mahkota adalah pasien yang harus kau bantu dengan nafas buatan dari bibir mu langsung."
"aaahhh sialan kau sohpie, kau mengerjai ku."
"cepat Callysta, tubuh putra mahkota tambah membengkak, takutnya nanti meledak, cepat Callysta…"teriak perintah Sophie padanya.
"aaaa…sialan kau Sophie, diam dan jangan pernah memberikan aku saran yang akan merepotkan ku lagi." ucap Carissa kesal akan saran dan ulah Sophie yang membuatnya harus saling bersentuhan bibir dengan sang putra mahkota, sedangkan Sophie terseyum senang karena ulah dan sarannya pada Carissa berhasil membuat Carissa kesal padanya.
Terpaksa Carissa dengan cepat mendekat pada putra mahkota, terasa hawa panas yang keluar dari tubuh Leonard, terlihat tubuh Leonard yang membengkak dan cengkraman tangannya pada kain sofa sangat kuat, sangat terlihat Leonard kesakitan sekali.
"yang mulia lihat hamba…?" panggil Carissa pada Leonard yang memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit.
Leonard tidak bisa menjawab panggilan Carissa, dia hanya bisa melihat pada Carissa yang tiba-tiba sudah ada sangat dekat di hadapannya.
"yang mulia hamba akan membantu anda untuk mengurangi rasa sakitnya, apa anda bersedia?" tanya Carissa melihat pada Leonard yang masih menahan rasa sakit nya, dan tidak bisa menjawab sama sekali, Leonard hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Carissa yang sudah mendapatkan izin dari Leonard pun menarik dan menghembuskan nafasnya yang berat, dengan berat hati Carissa menyentuh kedua pipi panas Leonard yang sudah memerah, sedangkan Leonard hanya diam melihat apa yang akan Carissa lakukan padanya, Leonard masih diam menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Perlahan Carissa mendekatkan wajahnya pada Leonard, dan Leonard masih diam tidak bergerak sama sekali, Carissa menyentuhkan bibirnya pada bibir Leonard yang membuat Leonard melototkan kedua matanya terkejut akan tindakan intim dari Carissa.
Perlahan Carissa membantu Leonard membuka mulutnya dengan cara menekan kedua pipi Leonard yang dia pegang, saat mulut Leonard sudah sedikit terbuka, Carissa menekan sedikit bibir yang telah menempel dan meniupkan perlahan nafasnya kedalam mulut Leonard, Carissa memberikan nafasnya agar masuk secara perlahan dan tidak membuat Leonard tersedak.
Leonard yang tahu maksud Carissa, yang ingin memberikan dan memasukkan nafas Carissa pada mulutnya, dengan repleks Leonard membuka mulutnya dan memperdalam sentuhan bibir mereka, agar Carissa tidak kesulitan memberikan nafas bantuan padanya.
Leonard memejamkan matanya, dan saat nafas bantuan dari Carissa sudah masuk ke dalam rongga mulutnya, Leonard mendapatkan banyak bayangan ingatan seseorang yang sangat jelas dia lihat, seperti bayangan dirinya dan seorang gadis yang saling mencintai, Leonard seketika membuka matanya melihat kembali ke wajah Carissa, masih bisa Leonard rasakan kehangatan dan kelembutan bibir Carissa pada bibirnya.
Leonard seakan merasakan kerinduan pada sentuhan bibir Carissa pada bibirnya, Leonard seakan merasakan kedekatan yang sangat pada Carissa, merasakan kerinduan yang sangat pada sentuhan tangan Carissa dan merasa tidak ingin lagi kehilangan Carissa dalam hidupnya.
Perlahan tapi pasti tubuh panas Leonard mereda dan cahaya pada tubuhnya pun mereda, Leonard dan Carissa dengan sadar kalau bibir mereka masih menempel, dengan terengah-engah Carissa melepaskan bibirnya dari bibir Leonard karena kehabisan udara untuk bernafas, sebab jeda untuk mengambil udara untuk nafasnya terlalu lama, Carissa terengah-engah kehabisan udara untuk bernafas.
Carissa dan Leonard saling menatap dengan nafas mereka yang terengah-engah, Leonard masih menatap lembut penuh kerinduan pada Carissa, dia masih bisa merasakan bibir lembut Carissa yang terasa manis di bibirnya, Leonard menatap intens Carissa yang seakan sangat di rindukannya, rindu yang di rasakan oleh hatinya yang paling dalam, Leonard pun tidak mengerti akan perasaan hatinya saat ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.