DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
77. Hasil Dari Pertarungan.


__ADS_3

***Area Latihan Istana Holmes***


Carissa dengan santai dan tenang mengambil pedangnya di atas tanah, Carissa memandang ke arah putri Debora dengan pandangan dinginnya, dengan cepat Carissa menancapkan pedangnya ke atas tanah.


Carissa mengulurkan tangan kanannya ke depan sembari merapalkan mantra dari mulutnya, dengan segera kunci ajaib keramat muncul di atas telapak tangannya, dengan segera Carissa memakai kunci ajaib yang sudah tergantung di sebuah rantai kalung yang di berikan oleh Shopie. Agar Kunci Ajaib tersebut bisa menyerap semua magic yang mengarah padanya, itu pesan dari Sophie.


"apa yang ingin kau lakukan…? tidak pada waktunya kau memakai perhiasan di sini." ungkap putri Debora dengan tatapan tajam dan membunuhnya ke arah Carissa.


"kali ini kita akan serius." ucap Carissa menatap tajam dan dingin ke arah putri Debora.


"terlalu banyak bicara kau…hiyaaaa…" ucap teriak putri Debora menyerang Carissa dengan magic semburan apinya.


Dengan cepat Carissa mengaktifkan segel kunci ajaib pada telapak tangannya, dan mengarahkan telapak tangannya ke depan, dengan mudah Carissa menyerap magic semburan api putri Debora tanpa bergerak sama sekali.


Putri Debora yang tidak puas menancapkan pedangnya ke atas tanah, dia merendahkan tubuhnya dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke atas tanah, untuk memakai magic earth power yang dia punya, putri Debora membentuk tanah menjadi runcing sebagai senjata untuk menyerang Carissa.


Carissa menggunakan teleportasinya untuk menghilang dan muncul secara cepat dan kuat menendang wajah putri Debora yang masih dalam posisi berjongkok di tanah, putri Debora yang tidak tahu pun jatuh berguling-guling akibat tendangan keras Carissa, ujung mulut putri Debora terluka dan mengeluarkan darah segar.


Dengan cepat Carissa berlari dan menyerang Putri Debora dengan pukulan yang bisa di tahan oleh putri Debora, Carissa tidak habis akal untuk menyerang dengan tendangan ke arah perut putri Debora, yang membuatnya mundur menahan perutnya yang sakit.


Carissa terus menyerang dengan pukulan dan tendangan secara bertubi-tubi, Putri Debora kewalahan menahan serangan Carissa, sembari menyerang Carissa dengan magic semburan apinya, yang tentunya dengan mudah Carissa serap melalui segel kunci ajaib yang ada pada telapak tangannya.


Sophie memberikan Carissa sebuah rantai kalung untuk menggantung kunci ajaib keramat nya, dan saat kunci ajaib keramat tersebut menempel pada tubuh Carissa dengan bersamaan terbukanya segel di telapak tangan Carissa, itu secara otomatis akan terhubung.


Putri Debora nampak terengah-engah kehabisan tenaga, sedangkan Carissa masih mempunyai tenaga yang cukup banyak. Putri Debora dengan cepat menggunakan magic earth powernya, untuk menyerang dan menghimpit Carissa dengan membentuk beberapa balok tinggi dan tebal. Tetapi itu hanya sia-sia saja karena Carissa lagi-lagi menggunakan teleportasinya, dan menyerang putri Debora dengan brutal.


Putri Debora yang mendapat beberapa pukulan serta tendangan dari Carissa, terkapal di atas tanah mencoba untuk bangkit. Carissa perlahan melangkah mendekati putri Debora. Carissa berdiri di samping putri Debora, perlahan dia melepaskan kalung kunci ajaibnya, sembari merendahkan tubuhnya di samping putri Debora.


Dari kejauhan sang raja Diaro Liberata bangkit dari duduknya, dia geram sekaligus tidak tega melihat putrinya yang terkapas tak berdaya, dan melihat siaga pada apa yang ingin di lakukan oleh Carissa?


"ini yang anda inginkan bukan." ucap Carissa menunjukan kalung kunci ajaib keramatnya di hadapan putri Debora.


Putri Debora hanya diam terkapar sembari menahan sakit di sekujur tubuhnya yang sudah kehabisan tenaga, karena dia terlalu banyak menggunakan kekuatan dalam tubuhnya untuk dua magic yang dia gunakan.


"akan aku berikan ini dengan senang hati padamu putri, asalkan anda bisa mengendalikannya." ucap Carissa yang langsung mengalungkan kunci ajaib keramat tersebut di leher putri Debora.


Putri Debora sangat takut sekaligus terkejut, dia takut akan tersengat. Carissa hanya tersenyum tipis melihat mimik terkejut dan takut putri Debora. Tetapi nyatanya tidak ada apapun yang terjadi pada putri Debora?


Carissa bangkit dan berdiri dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya, tersirat sesuatu yang mencurigakan. Itu yang di tangkap oleh pangeran Tristan saat berada di dekat Carissa dan putri Debora.


"bagaimana, apa pertarungan ini masih bisa di lanjutkan lagi?" tanya pangeran Tristan pada putri Debora yang terlihat sudah kalah.


"tidak…Carissa yang mengaku kalah…" ungkap angkuh putri Debora yang sudah bangkit dan berdiri.

__ADS_1


Carissa menatap putri Debora datar dan dingin, sudah terkapar lemah masih bisa berucap sombong, mengucapkan Carissa lah yang mengaku kalah.


"ini buktinya, aku bisa dengan mudah menyentuh kunci ajaibnya tanpa terjadi apapun padaku, jadi Carissa lah yang kalah." ucap kembali putri Debora dengan kepercayaan dirinya, sembari memegang kunci ajaib yang sudah terkalung di lehernya.


Semua terkejut melihat putri Debora, dengan mudahnya memegang kunci ajaib keramat yang susah untuk di sentuh oleh siapapun?


"selamat putri anda telah berhasil." ungkap Carissa memberikan selamatnya.


Pangeran Tristan yang sudah tahu tentang cerita kunci ajaib keramat tersebut, ikut terkejut tidak percaya bahwa putri Debora berhasil menggenggam kunci ajaib itu.


Pangeran Tristan melihat pada Carissa yang masih memasang mimik wajah datar dan dinginnya, yang melihat pada putri Debora.


"jadi benar anda yang mengalah kalah nona Carissa?" tanya pangeran Tristan pada Carissa.


Carissa melihat pada pangeran Tristan.


"tentu saja tidak, apa anda buta? anda sebagai penengah tidak tahu siapa yang kalah dan menang di sini?" tanya Carissa dengan tatapan dinginnya pada pangeran Tristan.


Pangeran Tristan menatap tajam pada Carissa, dia merasakan adanya aura yang sangat kuat di dalam tubuh Carissa. Pangeran Tristan sangat tahu Carissa meminta keadilan dalam pertarungan ini.


"anda memang sudah unggul dalam pertandingan ini nona Carissa, tetapi anda sudah lupa apa yang menjadi sebab dari pertandingan kalian berdua ini?" tanya balik pangeran Tristan.


"kunci ajaib itu." tunjuk pangeran Tristan pada kunci ajaib yang ada di genggaman putri Debora.


"hahahaha…apa anda yakin…? putri Debora telah berhasil tanpa bantuan dariku?" tanya balik Carissa yang membuat pangeran Tristan dan putri Debora mengerutkan alisnya bingung melihat pada Carissa.


"aku menyentuhnya sendiri tanpa bantuan dari mu, jadi kau lah yang sudah kalah, karena aku sudah berhasil menyentuh kunci ajaib ini, semua orang yang ada di sini juga melihatnya. Jadi kaulah yang sudah kalah." tunjuk putri Debora pada Carissa.


"kau yang kalah putri…dan aku akan yakinkan itu…" tunjuk balik Carissa.


"begini saja, coba buktikan dengan ucapan anda nona Carissa, kalau benar anda yang membantu putri Debora sehingga dia bisa menyentuh kunci ajaib itu." ucap pangeran Tristan menengahi.


"tentu saja, aku ingin semua orang melihatnya dari dekat. Untuk anda putri Debora…anda harus berada dekat bersama raja Diaro Liberata, agar bisa membantu anda untuk sadar diri dan tidak sombong serta angkuh lagi pada orang lain." ungkap Carissa yang segera berbalik badan dan melangkah mendekati semua orang.


"baik siapa takut." balas putri Debora yang segera berlari mendekati raja Diaro Liberata, meninggalkan Carissa dan pangeran Tristan yang masih berjalan santai di belakangnya.


Putri Debora tersenyum bahagia dan bangga karena sudah berhasil mendapatkan kunci ajaib itu, semua orang tidak percaya pada apa yang mereka lihat? putri Debora yang sudah terlihat terkapar karena kalah melawan Carissa, berhasil menyentuh bahkan menggenggam erat kunci ajaib keramat tersebut.


"ayah lihat…aku berhasil." ungkap putri Debora dengan bangga menunjukkan kunci ajaib itu.


"aku menang ayah." ucapnya lagi.


Semua orang mendekati putri Debora ingin melihatnya dari dekat. Dan benar saja kunci ajaib itu benar-benar terkalung pada leher putri Debora. Semua kagum melihat keberhasilan putri Debora, begitu juga sang raja Jericho.

__ADS_1


Carissa yang sudah berada pada kursinya, dengan santai duduk anggun. Kaisar, permaisuri, putra mahkota dan para pangeran melihat Carissa intens, wajah Carissa tetap datar dan dingin memandang ke depan.


"sayang apa kamu baik-baik saja?" tanya Duke Emris cemas melihat wajah tenang Carissa.


"Carissa baik ayah." jawab Carissa dengan tenang.


"ternyata dia bukanlah sang pengendali." ucap salah satu bangsawan dari Jericho menunjuk ke arah Carissa.


"kau hanya penipu saja." ungkap tunjuk salah satu bangsawan dari kerajaan Themes.


"maaf yang mulia kaisar, ini sudah jelas bahwa nona Carissa hanya menipu kita semua." ungkap raja Diaro Liberata menatap tajam dan sinis ke arah Carissa.


Yang di tatap oleh semua orang hanya masih diam dan setia pada pandangannya lurus ke depan, Duke Emris menggenggam erat dan lembut telapak tangan Carissa, untuk memberikan dukungan dan kekuatan hati buat Carissa.


Kaisar, putra mahkota, dan para pangeran melihat pada Carissa dan raja Diaro Liberata secara bergantian. Mereka juga tidak percaya pada apa yang mereka lihat saat ini? putri Debora dengan mudah menggenggam kunci ajaib tersebut, sedangkan Carissa hanya diam membisu terlihat sangat tenang.


"nona Carissa sudah berani membohongi kita semua, dia juga berani membohongi kaisar dan tiga kerajaan, jadi dia pantas untuk di hukum." ungkap raja Diaro Liberata, ingin memberikan pelajaran pada Carissa yang sudah berani melukai putrinya.


Duke Emris Hubert sangat terkejut atas titah sang raja, dia segera bangkit dari duduknya dan segera bersujud pada sang raja, ingin meminta pengampunan dari sang raja.


"hamba mohon yang mulia, ampunilah putri hamba." mohon sujud Duke Emris, yang malah membuat Carissa terkejut dan marah.


Carissa mengepalkan tangannya kuat karena menahan amarahnya, Carissa tidak suka melihat sang ayah bersujud dan memohon pada apa yang bukan kesalahannya.


"ayah bangun." ucap Carissa di samping ayahnya.


"tidak Carissa, nak…memohonlah pengampunan." balas Duke Emris meyakinkan Carissa.


"ayah maupun Carissa tidak ada yang salah, jadi tidak ada yang harus memohon ampunan di sini." balas Carissa dengan menatap sang ayah.


"lancang sekali kau menentang titah raja." bentak salah satu bangsawan yang menjadi perdana menteri kerajaan Jericho, Duke Edward Lison.


Carissa menatap tajam pada sang perdana menteri yang membentaknya, Carissa berpikir semua orang yang ada di kerajaan ini hanyalah orang-orang yang tidak tahu diri, sombong, angkuh dan terlalu merasa besar kepala akan jabatan mereka, Carissa tidak suka akan hal tersebut. Carissa sangat senang bisa melihat kebenaran tentang mereka. Carissa bersumpah akan membuat mereka menyesal, itulah sumpah Carissa saat ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2