
Episode sebelumnya…
"Aku ingin menyuntikkan obat ini kepada anda tuan, obat ini bisa membantu dengan cepat menyembuhkan luka tembak dan pasca operasi anda." Jawabku pada tulisan dan dengan cepat tuan muda membacanya.
"Apa kau yakin? Mengapa obat kita bisa sama? Bukannya sakit kita berbeda? Jangan jangan kau ingin memcelakaiku?" Tanya tuan muda menatapku curiga.
Aku benar-benar geram di buatnya, dia menuduhku ingin mencelakainya, kalau memang benar seperti itu? Untuk apa aku menolongnya dari dua penjahat yang menodongnya sampai aku terluka seperti sekarang ini?
Aku tersenyum mengejek, kepalan kuat tanganku sampai buku buku jariku memutih untuk meredam amarahku akan tuduhannya, dengan kasar aku meraih kertas yang di pegang oleh tuan muda dan menulis sesuatu kembali untuknya. Aku benar-benar kesal dibuatnya.
"Ini obat untuk semua jenis luka dan sangat ampuh untuk mengobati. Percayalah padaku, tapi kalau memang tuan tidak mau ya tidak apa apa?!" Tulisku dan menyerahkan padanya untuk di baca.
Tuan muda melihatku intens dan berkata.
"Jika obat ini tidak bekerja atau memcelakaiku, kau akan ku hukum." Ucapnya menatapku tajam, aku hanya mengedipkan mata dua kali untuk mengatakan iya, karena aku yakin obat ajaibku memang ampuh.
Aku segera menyuntikkan obat dan memberikan sebutir pil yang sama seperti yang aku minum tadi. Setelah itu, aku segera mengambil beberapa obat ajaib ku untuk dua hari kedepan dan beberapa keperluanku. Kami pun kembali ke dalam kamar.
......................
Aku berusaha membujuk tuan muda Antoni dan juga mencoba untuk berbicara dengan kepala rumah sakit, agar mau memberikan aku kamar perawatan yang lain. Sangat risih satu kamar bersama tuan muda yang baru beberapa hari aku kenal, apalagi kami tidak pernah akur. Ruang gerak ku terbatas dan aku tidak bisa melakukan semua kegiatanku dengan bebas.
Dokter kepala pun tidak bisa banyak membantu, dia hanya mengikuti apa yang di perintahkan atau di katakan oleh tuan muda Antoni? Aku hanya bisa pasrah serta berharap secepatnya untuk sembuh dan bebas kembali. Aku hanya bisa berharap obat ajaibku bisa cepat mengobati luka ini.
Aku mengalihkan perhatian pada pekerjaan di laptop ku, agar tidak semakin kesal yang terus melihat tuan muda Antoni.
Tuan muda yang melihat ku sibuk duduk di atas ranjang dengan laptop di pangkuan. Ingin berbincang denganku.
"Hai...apa yang kau lakukan?" Tanyanya padaku dan aku hanya diam.
Terdengar tuan muda menghembuskan nafasnya karena aku tidak menjawab pertanyaannya, dia pun bangun dari duduknya dan melangkah mendekati.
"Aku bertanya apa yang kau lakukan?" Tanyanya lagi.
Aku terus saja mengetik dan tidak menjawab pertanyaan tuan muda.
'Dia ini benar-benar bodoh, lupa atau sengaja? Dia tahu aku tidak bisa berbicara untuk sementara waktu, malah terus bertanya padaku.'
Gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Hai...aku tanya, kau sedang apa?" Tanyanya lagi yang mendorong pelan bahu ku.
Aku segera mengetik sesuatu pada layar laptop, segera aku tunjukkan padanya.
"Saya sedang bekerja." Jawaban pada ketikkan ku seraya melihat tajam padanya, sebab aku masih kesal karena dia tidak membiarkan ku di kamar yang lain.
"Kau kan masih sakit, seharusnya kau istirahat bukannya bekerja?!" Ucapnya sembari duduk di kursi samping ranjang.
Tuan muda duduk dengan kaki yang di tumpuk dan kedua tangan yang di silangkan di depan dadanya, dia duduk dengan angkuhnya tetapi terlihat anggun bagaikan seorang raja.
Aku semakin kesal melihatnya dan mengetik lagi untuk menjawab pertanyaannya.
"Saya sudah cukup istirahat, sedangkan anda sendiri juga masih sakit kenapa malah bekerja bukannya istirahat?" Ketik ku lalu memperlihatkan kepadanya.
"Kondisi ku sudah sehat dan cukup beristirahat, jadi tidak masalah aku bekerja. Kau yang seharusnya Banyak istirahat karena baru saja siuman setelah dua hari tidak sadarkan diri." Jawabnya dengan tatapan angkuhnya.
"Tuan, kalau anda memang tidak suka saya di sini kenapa malah menahan saya lebih lama? Setahu saya anda anti di pegang, di sentuh dan berdekatan dengan seorang wanita, kenapa malah sekarang menahan saya di sini?" Ketik ku lagi.
Terlihat dia tersenyum tipis membaca apa yang aku ketik? Akupun mengerutkan kening heran melihatnya.
"Itu memang benar, aku tidak suka di sentuh dan berdekatan dengan seorang wanita, tetapi khusus untukmu berbeda. Aku nyaman bersamamu." Balasnya gamblang yang membuatku terkejut melotot mendengar jawabannya.
"Saya rasa yang tertembak dada anda, kenapa malah kepala anda yang lupa ingatan?" Ketik ku.
Tuan muda Antoni tertawa setelah membaca tulisan yang aku ketik, aku semakin heran padanya.
"Kenapa malah tertawa?" Ketik ku lagi.
"Kau lucu..." Ucapnya seraya tersenyum padaku.
'Ya ampun Tuhan...senyumnya membuat jantungku berdebar...' Gumamku dalam hati melihat senyum yang menawan di wajah tampan tuan muda Antoni.
'Senyumnya membuat wajahnya semakin tampan...tunggu dulu....kenapa malah aku memujinya...? Sadar Callysta, dia itu cowok arogan dan mau seenaknya sendiri.' Gumamku kembali di dalam hati, untung aku biasa memasang wajah datar dan tidak mudah tersenyum pada seseorang.
"Lucu kenapa?" Ketik ku untuk bertanya padanya.
"Kau lucu karena menganggap aku lupa ingatan." Jawabnya.
"Memang benarkan apa yang saya katakan? Anda paling tidak suka untuk di sentuh dan tidak mau saya periksa, bahkan saya harus berdiri cukup jauh dari anda, kenapa malah sekarang berbeda?" Ketik ku menjawab.
__ADS_1
Dia tersenyum dan menatapku lembut, tidak seperti pertama kali kami bertemu. Tatapan matanya yang dulu melihatku sangat garang dan tajam seakan sangat membenciku, tetapi sekarang malah lembut bahkan tersenyum padaku.
Tuan muda bangun dari duduknya, mendekat dan duduk di atas ranjang tepat di sampingku. Dia masih menatapku lembut dan tersenyum ke arahku.
Aku mulai waspada? Apa yang ingin di lakukannya padaku?
'Hati-hati Callysta....dia mau apa?' Gumamku yang segera bergeser ke samping, tetapi malah lenganku di cekalnya dengan lembut.
"Kau mau ke mana? Diam di sini!" Perintahnya dengan tatapan yang masih lembut padaku.
Aku diam dan mengerutkan kening melihat tatapan lembutnya kepadaku, dia mengulurkan tangannya ingin menyentuh luka di leherku. Aku mencegahnya dan memegang pergelangan tangannya, tetapi malah dia memegang balik pergelangan tanganku yang memegang pergelangan tangannya.
"Diam...aku tidak akan berbuat apa-apa padamu..!" Ucapnya tegas dan masih menatap ku lembut.
Aku hanya bisa diam menurunkan tanganku, terus tetap waspada dengan apa yang ingin di lakukannya kepadaku?
Terasa belaian lembut di sekitar luka leherku, yang membuatku bukannya merasakan sakit tetapi malah aku merinding di buatnya. Repleks aku memegang tangannya dan menggeleng melihat ke arahnya.
Tatapan mata tuan muda Antoni masih lembut melihatku, lalu dia mendekatkan wajahnya ke arah telingaku. Aku ingin menghindar tetapi di cegah olenya.
"Aku nyaman menyentuhmu, aku suka menyentuhmu, aku ingin selalu dekat dan bersama denganmu." Bisiknya lembut di telingaku yang membuat aku merinding di buatnya.
"Tidak akan ku biarkan kau jauh dari ku, kau adalah milik ku." Bisiknya pelan dan halus, bisa aku merasakan halus nafasnya di telingaku.
Tiba-tiba dia mengecup pipiku, yang membuat ku terkejut dan langsung memalingkan wajahku ke arahnya yang malah sial untukku. Mulut kami malah bertemu dan saling menempel, aku terkejut dan mataku melotot.
Aku segera sadar dan mendorong keras dadanya agar ada jarak di antara kami.
'Sialan, ciuman pertama ku...' Gumamku kesal dalam hati seraya menutup mulutku yang tersentuh oleh mulutnya. Aku menatapnya kesal dan marah, rasa nyeri pada luka leher yang aku paksakan menoleh melihat tuan Antoni. Tidak aku hiraukan.
Tuan muda tersenyum senang dan menatapku bahagia. Sedangkan aku merasa kesal, marah dan menatapnya tajam. Benar-benar sial, ciuman pertamaku di ambil olehnya dengan cara yang kurang romantis. Dalam hati aku merasa kesal sekaligus menangis dengan apa yang aku alami hari ini?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.