
***Istana Kerajaan Holmes***
…Paviliun Carissa Hubert…
Semalam setelah jamuan makan malam, Duke Emris Hubert ingin segera menemui sang putri Carissa Hubert, tetapi sayang sang raja Diaro Liberata menghalanginya.
Dengan alasan bahwa sang raja, ingin di temani minum malam itu oleh Duke Emris Hubert sebagai penasehat kerajaan. Dengan terpaksa Duke Emris menyetujuinya, hingga lewat tengah malam. Duke Emris tidak ada kesempatan untuk mengunjungi Carissa karena sudah malam.
Ke esokan paginya, Duke Emris Hubert mendapatkan kabar dari pelayan yang dia utus pergi ke kamar Carissa, untuk menyampaikan pesan Duke Emris Hubert bahwa dia ingin sarapan pagi bersama sang putri. Carissa menyetujuinya, dan mereka sepakat untuk sarapan pagi bersama di dalam kamar Carissa.
"selamat pagi ayah !!" sapa Carissa memberikan hormat anggunnya pada sang ayah, yang baru saja tiba di dalam kamar Carissa.
"pagi sayang.!!" sapa balik Duke Emris Hubert, dengan pelukkan hangatnya pada Carissa.
Mereka berdua saling memeluk hangat, mencurahkan kerinduan yang ada di dalam hati mereka masing-masing. Carissa yang sangat merindukan sosok ayah dalam hidupnya, berusaha sekuat tenaga menahan air matanya, agar tidak jatuh ke atas pipinya.
"ayah merindukan mu sayang." ucap Duke Emris sembari melepas pelukannya, dan memadang teduh wajah Carissa.
"Carissa juga merindukan ayah." balas Carissa dengan senyum yang manis, Carissa sangat nyaman dengan tatapan teduh Duke Emris padanya. Penuh akan kasih sayang dan kerinduan, yang tidak pernah Callysta lihat dan dapatkan dari ayah angkatnya Jimmy Choo, pada dunia di zaman asalnya dulu.
Setelah mereka selesai melepas rindu, mereka berdua sarapan pagi bersama di meja makan kecil yang sudah tersedia di kamar tamu paviliun Carissa. Semua hidangan untuk mereka berdua sudah di siapkan oleh Feyrin, pelayan pribadi Carissa.
Sarapan pertama Callysta bersama ayah Carissa, yang kini sudah menjadi ayahnya saat ini. Carissa merasakan kehangatan seorang keluarga yang tidak pernah ia rasakan.
"ayah…bagaimana kabar ibu dan kedua kakak?" tanya Carissa di sela-sela makannya.
"ibu baik dan sehat, ibu juga sangat merindukan mu, dia ingin ikut tetapi tidak bisa. Kedua kakakmu juga sehat dan baik bersama keluarganya masing-masing." balas Duke Emris.
Kedua kakak perempuan Carissa memang sudah berkeluarga, sehingga pada saat adanya pemilihan calon istri dan selir putra mahkota dan para pangeran kerajaan Holmes, hanya Carissa lah satu-satunya putri yang tidak memiliki pasangan dari keluarga Duke Emris Hubert.
"kenapa ayah? kenapa ibu tidak boleh ikut datang ke sini?" tanya Carissa heran.
"karena saat ini adalah kunjungan resmi dari pihak kerajaan untuk para pejabat dan bangsawan." balas Duke Emris melihat pada Carissa, sedangkan Carissa menatap intens wajah sang ayah.
"jadi tidak di perkenankan membawa anggota keluarga." ucap Duke Emris menambahkan kembali.
Carissa tidak banyak bicara, karena dia sudah sangat mengerti maksud sang ayah. Duke Emris Hubert hanya bisa melihat wajah Carissa yang diam dengan mimik yang tidak biasa.
"apa akhir-akhir ini ayah dan ibu baik-baik saja? dan tidak ada yang terjadi?" tanya Carissa yang masih bisa merasakan aura gelap yang menyelimuti tubuh sang ayah.
Dari pertama bertemu, Carissa bisa merasakan dan melihat adanya aura Kegelapan yang menyelimuti tubuh Duke Emris Hubert. Carissa akan hati-hati mencari tahu apa yang sudah terjadi? sehingga sang ayah sampai bisa memiliki aura gelap tersebut.
"ayah dan ibu baik sayang, bahkan sangat baik." balas Duke Emris terseyum, dia merasa senang akan perhatian Carissa.
__ADS_1
"ayah...jangan pernah menyembunyikan apapun dari Carissa?"
"ayah tahu Carissa, ayah tidak ada dan bahkan tidak bisa menyembunyikan apapun darimu dari dulu? kamu adalah satu-satunya putri ayah yang memiliki hati lembut dan bahkan sangat sensitif, sehingga dengan mudah akan cepat tahu bila ayah, ibu dan kakak-kakak mu mengalami kesulitan, bahkan menyembunyikan sesuatu."
Carissa terdiam mendengar dan mencerna sejenak ucapan sang ayah.
'Carissa yang dulu berhati lembut dan sensitif, sehingga dengan mudah bisa tahu dan merasakan bila keluarganya ada masalah dan menyembunyikan sesuatu?' gumam Carissa dalam hati memandang intens wajah Duke Emris yang masih tersenyum melihatnya.
"maksud ayah?" tanya Carissa ragu-ragu, dia takut Duke Emris Hubert mencurigainya.
Duke Emris melihat intens Carissa, dia tidak mengerti akan pertanyaan sang putri?
"apa maksudmu sayang?" tanya bingung Duke Emris, karena dia tidk mengerti akan maksud dari perkataan Carissa.
Carissa tahu, kalau Duke Emris tidak mengerti akan pertanyaannya?
"maksud Carissa, kenapa ayah bilang kalau Carissa adalah satu-satunya putri ayah yang berhati lembut dan sangat sensitif? bila kak Cleo dan kak Janet mendengarnya, mereka pasti akan sedikit kecewa, dan akan mengejek Carissa. Si kecil yang manja dan selalu memiliki dunianya sendiri." ungkap Carissa, dan untung Feyrin sedikit menceritakan tentang Carissa yang dulu.
Duke Emris Hubert tertawa ringan sembari meminum susu hangatnya.
"ternyata kamu masih suka merajuk, si putri kecil kami yang manja selalu baik hati dan memiliki dunianya sendiri." ungkap Duke Emris terseyum senang melihat Carissa.
"putri kecil yang dulu selalu ada untuk kami di saat saat kami dalam masalah, dan selalu membantu kami menyelesaikan semua masalah yang kami miliki, sekarang kamu akan menjadi seorang istri." ucap Duke Emris dengan mimik wajah yang tiba-tiba sedih.
Perlahan Carissa menyentuh dan menggenggam lembut telapak tangan Duke Emris yang ada di atas meja. Memberikan kehangatan untuk sedikit menghibur perasaan Duke Emris yang sedih.
"ayah…Carissa tetaplah putri kecil ayah dan ibu. Terima kasih sudah menjadikan Carissa putri kalian. Sampai kapanpun Carissa tetaplah putri kalian dan akan selalu ada untuk kalian." ungkap Callysta tulus dan bahagia bisa merasakan sebuah kasih sayang dari seorang ayah, walaupun baru saja bertemu. Callysta sangat beruntung bisa berada di posisi Carissa saat ini.
Callysta berpikir apakah mungkin kedua orang tua dan keluarga Carissa bisa menerima Callysta? bila tahu yang berada di dunia saat ini adalah Callysta Angelina dan bukanlah Carissa Hubert, Putri dari keluarga Duke Emris Hubert.
Callysta hanya berharap dia dapat di terima, bila suatu hari nanti mereka tahu siapa sebenarnya Carissa yang sekarang? jiwa Carissa yang sudah tiada dan di gantikan oleh jiwa Callysta dari dunia lain, saat ini yang mereka lihat hanyalah raga dari Carissa Hubert.
Apakah mungkin mereka bisa menerima Callysta Angelina yang menggantikan Carissa Hubert? hanya sang waktu dan Tuhan yang tahu jawabannya.
"sayang kami juga bahagia kamu sudah menjadi putri kecil kami, terima kasih sudah menjadi putri kecil kami yang selalu baik hati dan mengerti setiap kesulitan kami. Terima kasih telah lahir menjadi putri kecil kami yang cantik dan selalu baik hati. Semua menyayangi dan mencintai mu nak…" ungkap tulus Duke Emris Hubert, dan tidk ada kebohongan yang Carissa lihat dari sorot matanya.
Carissa tersenyum senang dan bahagia bisa merasakan ketulusan hati seorang ayah pada putrinya.
'terima kasih Carissa, terima kasih kau sudah memberikan aku kesempatan untuk menggantikan posisimu, aku berjanji akan menjaga kedua orang tuamu sebisaku, dan akan menjadikan mu Carissa Hubert yang tidak akan di remehkan dan di hina lagi oleh orang lain.' gumam Carissa dalam hati karena merasa beruntung dan berhutang budi pada Carissa yang telah memberikannya posisi ini, di kehidupan keduanya, di dunia keduanya ini.
"terima kasih ayah…" balas Carissa yang sudah tidak bisa menahan haru dan air matanya.
"ooo…sayangku…putri kecil ku…" ungkap Duke Emris Hubert sembari bangkit dari duduknya dan memeluk sayang tubuh Carissa.
__ADS_1
Carissa tenggelam dalam pelukan hangat Duke Emris Hubert, yang kini sudah menjadi ayahnya. Carissa sangat meresapi setiap belaian lembut tangan Duke Emris yang mengelus punggung Carissa, agar perasaannya menjadi lebih baik.
Seorang Putri dan ayah yang saling menyayangi, tenggelam dalam perasaan sayang mereka, hingga tidak menyadari kedatangan seseorang yang melihat mereka berdua.
Seorang pria tampan berdiri tegap tidak jauh di hadapan mereka. Tersenyum melihat kasih sayang seorang putri dan ayah tersebut. Hanya Feyrin yang tepat berdiri di belakang Carissa, menyadari dan memberikan hormat nya pada pangeran kedua, pangeran Damian yang tiba-tiba datang berkunjung.
"hormat hamba yang mulia." sapa Feyrin memberikan salam dan menundukkan badannya untuk memberi hormat pada pangeran kedua, calon suami dari nonanya.
Carissa dan Duke Emris sadar segera melepaskan pelukan mereka, karena mendengar salam dan hormat Feyrin untuk Damian. Carissa dan Duke Emris Hubert langsung berdiri dan memberikan hormat mereka setelah melihat kedatangan Damian.
"Salam yang mulia." ucap Carissa dan Duke Emris secara bersamaan, serta membungkukkan badan mereka tanda hormat pada pangeran kedua kerajaan Holmes tersebut.
"selamat pagi, apa aku mengganggu acara keluarga kalian?" balas Damian ramah dengan senyumnya. Damian melihat Carissa yang memalingkan wajahnya ke samping seraya menghapus air mata yang ada di pipinya.
Damian tahu Carissa saat ini, sedih bercampur bahagia karena sangat merindukan semua keluarganya. Dan air mata kebahagiaan lah yang saat ini sedang Carissa hapus di pipi mulusnya.
"selamat pagi yang mulia, tentu saja tidak. Suatu kehormatan bagi kami atas kunjungan anda pagi ini." balas Duke Emris yang senang melihat kedatangan calon menantunya.
"apakah kalian sedang sarapan bersama?" tanya Damian yang melihat jelas sarapan di atas meja masih banyak.
"maafkan kami yang mulia, kami sarapan di dalam kamar." balas Duke Emris membungkukkan badannya karena merasa takut tidak sopan pada pihak kerajaan.
Carissa melihat sang ayah dan tahu perasaan yang dirasakan sang ayah saat ini, Carissa segera menggenggam tangan sang ayah. Itupun tidak luput dari pengelihatan Damian, Damian dapat mengerti Carissa tidak suka melihat Duke Emris merasa takut pada pangeran kedua.
"tidak apa-apa Duke Emris, apakah saya bisa ikut sarapan bersama kalian di sini?" tanya Damian sopan ingin mencairkan suasana.
Damian berbicara sangat sopan pada Duke Emris Hubert, walaupun dia seorang pangeran kerajaan Holmes yang di segani dan di hormati, dan bisa saja berbicara sesuka hatinya, tetapi Damian merasa wajar berbicara sopan pada Duke Emris Hubert, bagaimana juga Duke Emris Hubert adalah calon ayah mertuanya?
Dalam hatinya Carissa merasa senang mendengar cara bicara Damian yang sopan pada sang ayah, sehingga terukir senyum tipis di bibirnya yang hampir tidak terlihat oleh siapapun. Tetapi tidak untuk Damian yang bisa dengan jelas melihat senyum tipis Carissa.
'cantik, sangat cantik dan manis.' gumam Damian dalam hatinya, senang bisa melihat senyum tipis Carissa pagi ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
Maaf ya para pembaca setiaku, karena baru bisa up sekarang, author baru pulih dari sakit dan baru bisa tulis menulis kembali. Semoga author bisa up Double untuk menggantikan hari-hari yang kemarin tertinggal. Mohon dukungannya terus ya, terima kasih 🙏🙏🙏.
__ADS_1