
***Kerajaan Holmes***
…Kamar Pribadi Carissa…
Mereka bertiga hanya bisa melihat pada Carissa, yang tidak ada perubahan sama sekali, Carissa saat ini sedang berusaha memanggil kunci ajaibnya. Itu atas perintah sang peramal suci, yang ikut membantu Carissa.
Sesaat kemudian, kunci ajaib yang di panggil oleh Carissa muncul. Dengan segera Carissa menggenggam erat kunci ajaibnya.
"Carissa, kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang?" tanya Peramal Suci.
Carissa hanya menganggukkan kepalanya, dengan pelan Carissa merasakan kalau kunci ajaib yang ia genggam, menyerap suhu panas tubuhnya. Ada sedikit perubahan pada warna kulit merah Carissa, yang berangsur memudar. Perlahan Carissa bisa membuka matanya, dan bisa merasakan kembali tubuhnya.
Carissa kini bisa menguasai tubuhnya, walaupun masih terasa panas. Dengan perlahan Carissa bangkit dari duduknya untuk berdiri. Sesaat Damian dan Leonard ingin membantunya, tetapi di cegah oleh Carissa.
"jangan ada yang menyentuhku." ungkap Carissa setengah berdiri, sembari mencegah gerakan Damian dan Leonard yang ingin membantunya.
Damian dan Leonard hanya diam melihat Carissa, dengan susah payah bangun untuk berdiri, dia berjalan dengan perlahan dan sedikit oleng menuju ke kamar mandi. Saat ini Carissa butuh untuk berendam air dingin agar suhu tubuhnya bisa di netralisir.
Damian dan Leonard hanya bisa duduk menunggu Carissa, di sofa ruang tengah kamar Carissa. Sang peramal suci, mengikuti Carissa dari belakang dan ingin membantu Carissa di dalam kamar mandi. Carissa butuh air yang sedingin es, tetapi saat ini bukanlah musim dingin ataupun musim salju, jadi susah mendapatkan sebongkah es ataupun air sedingin es.
Carissa mengisi bak mandinya dengan air, dengan segera Carissa membuka semua baju yang menempel pada tubuhnya, lalu masuk ke dalam bak mandi. Sang peramal suci yang memiliki sedikit magic special, membantu Carissa untuk membuat air bak mandi Carissa menjadi dingin dan memiliki serpihan es.
Carissa hanya melihat, apa yang sohpie sang peramal suci lakukan pada air mandinya? tanpa mau komentar apapun? Carissa sangat tahu Sophie bisa melakukan apa saja? Jadi dia tidaklah terlalu terkejut, dengan magic yang saat ini sohpie perlihatkan padanya.
"apa kau merasa baikan…?" tanya Sophie melihat cemas Carissa.
"iya terima kasih." balas Carissa melihat pada Sophie.
"mengapa kau menjadi gegabah begitu Carissa?" tanya Sophie melihat pada Carissa.
"apa maksudmu?" tanya Carissa tidak mengerti.
"kau tahu kekuatan dari penyihir tersebut, dan kau tahu pula seluruh kulit tubuh penyihir itu beracun, masih juga kau sentuh."
"aku pikir semua perkiraan aura yang aku rasakan salah dan tidak semua benar, sehingga aku berpikir kalau penyihir itu hanya memiliki kekuatan racun lendir hitam saja, dan tidak percaya kalau seluruh kulitnya juga mengandung racun. Jadi aku hanya repleks saja menahan tubuhnya agar tidak bisa kabur." ungkap Carissa menatap lurus ke ujung bak mandi, dengan tarikan dan hembusan nafasnya yang berat.
"semua aura kekuatan yang kau rasakan tidak akan pernah salah Carissa. Jadi aku harap, kau lebih berhati-hati dan memakai strategi untuk menyerang, semua penyihir itu licik serta tidak tanggung-tanggung akan menyakiti semua orang yang ada di sekitar mu."
"aku tahu, dan apa yang kau katakan beberapa minggu yang lalu? adalah benar, tidak seharusnya aku masih ada di istana ini, karena semua penyihir, siluman dan iblis mulai berdatangan untuk membunuhku, bahkan berani ingin menyakiti orang-orang yang ada di istana ini." ungkap Carissa melihat pada Sophie.
"apa selain dua penyihir itu, kau merasakan aura kekuatan yang lain?"
"iya, bahkan banyak…" ungkap Carissa pada Sophie yang melihatnya intens.
__ADS_1
"yang lebih sulit bagiku saat ini, kehadiran ayah Carissa yang datang bersama bayang-bayang dari golongan hitam." ungkap Carissa melihat pada mata Sophie, Carissa bisa melihat Sophie tidak terkejut sama sekali.
"rupanya kau sudah tahu, kau tahu semua ini akan terjadi padaku kan…?" ungkap Carissa melihat Sophie yang tidak nampak terkejut sama sekali. Carissa lalu memalingkan wajah ke arah tangan kanannya yang sedang memegang kunci ajaib.
"apa kau juga tahu apa yang aku pikirkan saat ini? aku bisa dengan mudah membunuh siapa saja, tetapi mereka memakai titik kelemahan dariku, agar aku tidak bisa menyentuh mereka?" ungkap Carissa melihat kembali pada Sophie, yang melihatnya dengan tatapan sedih akan masalah yang Carissa hadapi saat ini.
"kau tidak perlu membunuh mereka Carissa, kau bisa mencoba menaklukkan mereka, agar mereka bisa menjadi sekutumu, dan berada di pihak mu."
"apa kau tahu caranya?" tanya antusias Carissa, sedangkan Sophie hanya menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya sejenak.
"lalu bagaimana caranya aku bisa menaklukkan mereka?"
"dengan caramu sebagai sang pengendali."
"maksudmu…?" tanya Carissa tidak mengerti, dengan alisnya yang merengut melihat pada Sophie.
"mereka semua menginginkan sang pengendali, ingin kau tunduk pada mereka, untuk melawan kaisar dari kerajaan Darkness World, agar mereka bisa menjadi pemimpin dari kerajaan Darkness World, bila sang pengendali ada di pihak mereka."
"dengan kata lain, mereka bersaing untuk mendapatkan dan menundukkan sang pengendali sebagai pengikut mereka?" tanya Carissa membuat kesimpulan.
"iya, setidaknya untuk saat ini, seperti itu yang aku lihat."
"hahahaha…!!!" tawa ringan Carissa. Yang membuat Sophie melihat heran padanya.
"kau pikir aku akan mau tunduk dan menjadi pengikut mereka?" tanya balik Carissa melihat Sophie dengan senyum tipisnya.
"lalu apa yang akan kau lakukan?"
"kau tahu apa yang aku tidak suka, dan kau tahu apa tujuanku ada di sini? jadi untuk mewujudkan apa yang aku inginkan, aku harus berjuang dengan kemampuanku sendiri, dan aku tidak ingin apa yang aku tidak suka? mengikatku di dunia ini seperti dulu. Apapun semua akan aku lakukan? selama aku ada di jalan yang benar menurut ku, aku tidak akan segan-segan menghabisi mereka, sekalipun mereka memakai keluarga Carissa sebagai tameng mereka." ungkap Carissa dengan tatapan tajam dan dinginnya melihat sohpie.
"Callysta sang Queen mafia terlahir kembali, aku harap kau masih bisa memakai kebaikan hatimu di dunia ini, kalau tidak semua akan sia-sia saja dan kau pasti akan menyesal di kemudian hari." balas Sophie dengan senyum tipisnya melihat ke arah Carissa.
"kau meragukanku…? kau tahu apa yang akan aku lakukan bila batas kemampuan ku sudah habis? aku akan melakukan hal yang sama saat aku datang ke dunia ini, jadi semua penderitaan ku tidak akan aku lihat lagi, semua akan hilang bersamaan dengan hilangnya jiwa dan raga ku."
"apa kau pikir, kau akan semudah itu untuk menghilang dari dunia ini?" tanya Sophie dengan senyum yang mencurigakan.
"apa maksudmu?"
"kau tahu kenapa aku bisa hidup kekal abadi? apa kau pikir aku tidak pernah mempunyai pikiran dan berbuat nekad seperti kau sekarang ini?" tanya Sophie yang membuat Carissa melihat pada Sophie.
"apa maksudmu…? jangan bilang kau pernah…?" tebak Carissa, di dalam pikirannya saat ini.
Carissa berpikir kalau Sophie pernah mencoba mengakhiri dirinya, agar terlepas dari penderitaan yang tiada henti, dan terlepas dari takdir yang tidak Sophie inginkan. Tetapi dia tidak bisa terbunuh oleh senjata apapun? dan tidak bisa terbunuh dengan cara apapun di dunia kedua ini? bukan kematian yang Sophie dapatkan, tapi kelahiran kembali, dan kembali menjadi kekal abadi, sampai sang pengganti datang menggantikannya.
__ADS_1
"iya Carissa, aku sama seperti dirimu saat ini, aku putus asa, aku belum siap menerima takdir yang tidak masuk akal bagiku, beberapa kali aku mencoba untuk berakhir secara tragis, beberapa kali juga aku akan terlahir kembali di dunia yang sama, di jiwa dan raga yang sama. Sampai pada akhirnya aku lelah dan pasrah menerima takdir ku saat ini." ungkap Sophie yang membuat Carissa menatapnya datar tanpa ekspresi sama sekali di wajahnya.
"apa kau coba membohongiku dan membodohiku?" tanya Carissa masih tidak percaya.
"kenapa kau tidak mencobanya sekarang?" tantang Sophie. Carissa hanya diam melihat Sophie yang menantangnya.
"apa perlu aku bantu?" ungkap Sophie dengan menunjukkan belati di tangan kanannya, yang tiba-tiba muncul entah dari mana?
Carissa hanya melihat wajah Sophie dan belati yang Sophie pegang dan mainkan, di tangannya secara bergantian.
"kau ingin coba membunuhku hanya dengan belati ini." tanya Carissa melihat intens Sophie.
"apa kau takut?"
"tidak…coba saja kalau kau bisa untuk membunuhku." tantang balik Carissa.
"baik, sekalian kau berlatih bersamaku, sampai mana seorang mafia bisa mempertahankan dirinya, aku tidak akan bersikap lembut padamu." ungkap Sophie dengan cepat mengarahkan ujung belatinya pada dada Carissa.
Bukan dada Carissa yang Sophie tikam, tetapi bak mandi kayu tempat Carissa bersandar tadi. Carissa berhasil berteleportasi ke arah belakang Sophie dengan cepat, kekuatan Carissa mulai pulih walaupun masih merasakan panas di tubuhnya, berkat vitamin yang Carissa buat, tubuhnya cepat pulih kembali.
Kini Carissa sudah memakai jubah mandinya, dan ingin memukul tengkuk belakang Sophie. Sophie dengan mudah menghindar dengan menundukkan kepalanya. Sophie balik ingin menyerang kaki Carissa dengan sayatan belatinya, tetapi Carissa dengan mudah menendang tangan kanan Sophie, hingga belati yang Sophie pegang terlepas.
Carissa dan Sophie kini berdiri saling berhadapan, dengan memasang kuda-kuda bela dirinya masing-masing.
"ternyata kau bisa bela diri juga." ucap Carissa terseyum tipis pada Sophie.
"kau pikir aku hanyalah sang peramal suci yang tidak bisa apa-apa?" balas Sophie tak kalah mengejek.
"baiklah…itu lebih bagus, kita lihat sampai mana kemampuan kita masing-masing." ungkap Carissa dengan pukulan yang bisa di tangkis oleh Sophie.
Pukulan dan tendangan terus mereka kerahkan untuk saling menyerang, hingga perkelahian tersebut terdengar oleh Damian dan juga Leonard. Carissa dan Sophie seimbang, mereka berdua sama-sama kuat dan pandai menghindari serangan lawan. Sophie hanya menggunakan ilmu bela dirinya saja, tanpa kekuatan magic sama sekali. Karena Carissa juga sama, sehingga Sophie mau mereka bertarung sama-sama dengan cara yang alami, hanya menggunakan kekuatan fisik saja.
Tetapi sayang Carissa yang belum pulih sama sekali, cepat merasa lelah. Di tambah hawa panas yang masih Carissa rasakan di tubuhnya, membuat dirinya bisa lengah dari tendangan keras Sophie, sehingga Carissa terbentur keras ke arah pintu hingga pintu menjadi rusak, dan tubuh Carissa terbental keluar kamar mandi dengan menahan rasa sakit pada bagian dadanya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1