
***Kerajaan Darkness World***
Carissa masih duduk dengan menopang keningnya, sesekali dirinya memijit pangkal hidungnya karena merasa pusing akan kedatangan tidak terduga dari orang orang yang tidak dia harapkan kehadirannya.
Bukannya tidak senang, namun Carissa merasa bebannya bertambah beberapa orang lagi. Baru saja Devano Liberata dia lepaskan dari jerat segel Darah Api milik sang kaisar, agar memudahkannya membawa kabur Devano dari kerajaan itu, tetapi kini bebannya malah bertambah.
Semua masih melihat apa reaksi Carissa? satupun tidak ada yang berani berbicara kepadanya, Bahkan sang peramal suci yang mengetahui kegundahan hati Carissa saat ini. Hanya bisa diam memandang teduh Carissa yang masih duduk dengan pikirannya sendiri.
Beberapa kali Carissa menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, seakan ingin meringankan beban di dalam hatinya.
Carissa belum bisa sepenuhnya percaya kepada permaisuri Princella Odella, walaupun terlihat ketulusan dan kejujuran dari sorot matanya. Permaisuri ingin mereka bekerjasama karena ada pada jalan yang sama dengannya untuk mengalahkan semua kegelapan yang menyelimuti dunia.
Semua orang di sana masih saling memandang satu sama lainnya, lalu beralih kembali memandang ke arah Carissa.
"anakku…!" panggil Duke Emris Hubert mendekati Carissa.
Semua diam menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Carissa mengangkat kepalanya dan memandang teduh sang ayah yang ada di hadapannya.
"anakku, jangan berpikir bahwa kami adalah beban bagimu, kami akan berjuang bersama walaupun nyawa kami taruhannya. Ayah tahu kamu memikirkan keselamatan kami semua. Tetapi itu salah anakku, kami bukan beban bagimu, kami tidak selemah itu, kami adalah rakyat yang memperjuangkan hidup masa depan yang lebih baik."ungkap sang ayah sebagai perwakilan dari beberapa orang yang ada di sana.
"lepaskan semua beban yang ada di dalam dirimu anakku, kami adalah teman seperjuangan yang pantas untuk mempertaruhkan nyawa kami demi masa depan yang lebih baik. Kami ingin berjuang bersamamu sampai titik terakhir kami. Jangan berpikir kamu akan berjuang seorang diri." ungkap sang ayah sembari mencakup wajah Carissa dengan kedua telapak tangannya.
"kami datang untuk berjuang bersamamu. Bukan menjadi beban di dalam hatimu." ucapnya tulus.
Kehangatan dari sentuhan seorang ayah menghangatkan hati Carissa. Carissa terharu akan ucapan Duke Emris Hubert, apa yang di katakan oleh ayahnya? adalah benar. Berjuang bersama lebih baik daripada berjuang sendiri. Lepaskan beban di dalam hati untuk meringankan langkah yang akan dia tempuh, lebih baik dari pada lelah memikirkannya.
Carissa menatap semua orang yang ikut datang untuk berjuang bersamanya satu persatu. Semua menatap dengan tatapan yang tulus, keberanian dan semangat mereka terlihat benar-benar ingin berjuang bersama dengannya.
"terima kasih." ucap Carissa tulus.
Dia sudah salah dalam berpikir, benar kata ayahnya. Mereka yang datang untuk berjuang bersama dengannya tidak selemah yang ia pikirkan. Mereka adalah orang orang yang kuat, dan tidak seharusnya Carissa pandang sebelah mata. Carissa terharu hingga matanya berkaca-kaca. Mereka bukan beban untuk Carissa, mereka datang sebagai teman seperjuangan.
Duke Emris Hubert memeluk tubuh sang putri untuk menenangkannya. Carissa terlena akan kehangatan yang di berikan oleh ayahnya, air mata harupun tidak dapat Carissa tahan lagi. Sekuat apapun dirinya? sedingin apapun dia? tetaplah putri kecil Duke Emris Hubert, seorang gadis yang juga memiliki hati rapuh dan lemah.
"maafkan aku ayah, maafkan aku." ucapnya tulus dengan nada yang gemetar. Pandangan harunya melihat ke arah semua orang yang datang untuknya. Carissa memandang mereka satu persatu.
Carissa melepaskan pelukannya, ia melangkah mendekat ke hadapan semua orang. Carissa lalu menundukkan kepalanya sembari memberikan rasa hormat dan terima kasihnya kepada semua yang sudah hadir dan datang untuknya. Mereka terkejut sekaligus senang, itu artinya Carissa dapat menerima kehadiran mereka.
Kaisar Wakiza Orchid senang akan sikap Carissa yang dapat menerima kehadiran mereka, kaisar segera tunduk hormat dengan satu kaki yang di tekuk di atas lantai. Tanda hormatnya kepada sang pengendali yang memang sangat dia hormati. Begitu juga yang lainnya, ikut memberikan tanda hormat mereka.
__ADS_1
"hormat hamba kepada sang pengendali." ucap kaisar Wakiza Orchid.
Carissa diam terpaku, begitu juga dengan sang permaisuri dan semua pasukannya. Seorang kaisar yang terkenal akan kekejamannya melawan kerajaan Darkness World, kini tunduk kepada Carissa Hubert sang pengendali yang baru pertama kali mereka lihat sosoknya.
Bahkan seorang putra mahkota dan pangeran dari kerajaan Holmes ikut tunduk kepadanya. Carissa tiba-tiba ikut bersujud di hadapan mereka dengan tatapan tidak sukanya. Carissa tidak suka akan sikap mereka, yang Carissa inginkan adalah seorang teman yang saling mendukung, menghargai dan menyayangi. Bukan seseorang yang harus tunduk hormat kepadanya.
"yang mulia." ucap kaisar Wakiza Orchid terkejut akan tindakan sujud Carissa.
"aku adalah teman kalian, bukan seseorang yang harus kalian berikan rasa hormat seperti ini. Aku tidak suka jika seperti ini." jawab Carissa dengan sorot mata yang terlihat tulus.
"jika kalian tidak bangun, aku akan tetap seperti ini." ucapnya kembali dengan menundukkan kepalanya.
Semua orang saling memandang dengan teman di samping mereka, heran akan tindakan dan ucapan Carissa. Seseorang yang memiliki kedudukan yang memang pantas untuk di hormati, justru tidak suka mendapatkan tindakan seperti itu dari seseorang yang sudah dia anggap sebagai seorang teman.
"baik yang mulia." balas kaisar Wakiza Orchid sembari bangkit dan segera berdiri, di ikuti oleh semua orang yang tunduk kepada Carissa.
Feyrin segera mendekati Carissa dan membantu junjungannya tersebut untuk bangkit dari sujudnya. Carissa menatap Feyrin dengan sorot mata penuh kerinduan, dia segera memeluk Feyrin dan melepaskan semua rasa rindunya kepada Feyrin, seorang gadis yang menjadi teman pertamanya di dunia keduanya ini.
"nona." panggil Feyrin dengan haru, sembari membalas memeluk nonanya yang ia rindukan juga. Feyrin bahagia jika nonanya selalu bersikap lembut dan baik kepadanya.
"aku merindukanmu Feyrin." ucap Carissa pelan yang masih dapat di dengar oleh semua orang.
"saya juga nona." balas Feyrin dengan air mata bahagianya. Nona yang sangat dia hormati dan sayangi tidak pernah melupakannya.
Carissa dengan cepat menyentuh kening Feyrin dengan jari telunjuk kanannya. Carissa menanamkan sebuah Segel Putih pada kening Feyrin di hadapan semua orang.
Segel Putih adalah sebuah segel pelindung yang berasal dari dunia langit, hanya mereka yang memiliki kekuatan spiritual dan energi Qi tinggi yang bisa memilikinya, Segel Putih adalah sebuah segel pelindung yang di tanamkan pada tubuh seseorang, yang bisa menetralkan dan menolak semua segel yang berusaha masuk ke dalam tubuh manusia.
Semua tahu Segel Putih tersebut, Carissa telah menguasai kekuatan itu yang artinya, Carissa memiliki kekuatan spiritual dan energi Qi yang sangat kuat dan anugerah dari para Dewa dan Dewi Khayangan Langit.
"aku akan menanamkan Segel Putih ini kepada kalian semua, setidaknya ini akan melindungi kalian dari Segel Darah Api milik kaisar Hayden Pris." ucap Carissa memandang ke arah permaisuri lalu beralih ke arah semua orang yang sudah datang untuknya.
Carissa melangkah mendekati kaisar Wakiza Orchid, dia memandang pria tampan yang terlihat sangat mengaguminya. Namun memasang wajah datarnya.
"apakah anda keberatan yang mulia kaisar." tanya Carissa dengan tatapan seriusnya.
"tidak sama sekali yang mulia, maafkan hamba jika lancang, bisakah anda tidak memanggil hamba dengan sebutan tadi." balas Wakiza Orchid.
"lalu apa yang harus aku panggil?" tanya balik Carissa.
"ini adalah kerajaan Darkness World yang mulia, kami di sini datang sebagai bawahan yang menyamar.…!" ucapnya terputus.
__ADS_1
"kamu benar, aku tidak tahu harus memanggilmu dengan panggilan apa?" ucap Carissa sembari berpikir.
"Kiza…aku akan panggil kamu dengan penggalan namamu saja, Kiza. Bagaimana?" tanya Carissa memberikan sebuah ide.
"baik yang mulia, hamba mengerti."
"cukup panggil aku putri atau nona. Agar mereka tidak curiga." ucap Carissa.
"baik putri." balas Wakiza setuju.
Carissa segera menempelkan jari telunjuknya ke arah kening Wakiza Orchid, untuk menanamkan Segel Putih kepada sang kaisar yang akan menyamar menjadi salah satu bawahannya.
"aku akan membantu kalian untuk menyamar dengan menggunakan wajah yang lainnya." ungkap permaisuri yang datang mendekat, mengalihkan pandangan mata semua orang kepadanya.
"setidaknya tidak akan ada yang mengenali kalian datang dari pihak musuh." ungkapnya yang membuat semua orang mengerti akan maksud dari permaisuri.
Mereka hanya mengangguk setuju, Carissa lalu melangkah ke arah samping. Memberikan tempat bagi sang permaisuri, permaisuri Princella segera memejamkan matanya dan mengeluarkan sebuah tongkat berwarna silver dengan bentuk lingkaran pada ujung tongkat, dan terdapat batu permata berwarna ungu di tengah lingkarannya.
Sebuah cahaya ungu keluar dari batu permata tersebut menyelimuti seluruh tubuh kaisar Wakiza Orchid, lalu meredup dengan bersamaan muncul seorang pria tampan yang memiliki wajah berbeda dari wajah kaisar Wakiza Orchid sebelumnya.
Permaisuri melakukannya juga kepada putra mahkota Leonard, pangeran Damian, pangeran Tristan, putri Saira, dan terakhir kepada Duke Emris Hubert. Sedangkan sang peramal suci dapat merubah dirinya sendiri, dengan wujud yang dia perlihatkan kepada Callysta jika mereka sedang berada di ruang dimensi hampanya.
Feyrin tidak di rubah karena tidak akan ada yang akan mengenalinya. Carissa melanjutkan tujuannya untuk menanamkan Segel Putih kepada mereka semua, di mulai dari Duke Emris Hubert, putri Saira, Shopie sang peramal suci, pangeran Tristan, lalu putra mahkota Leonard.
Tatapan mata mereka bertemu, Leonard menatap hangat dan teduh Carissa. Mereka tidak berbicara apapun? Carissa melakukannya dengan cepat lalu beralih kepada pangeran Damian yang menjadi orang terakhir yang akan di tanamkan Segel Putih.
Begitupun tatapan mata Damian menatap teduh penuh kerinduan kepada Carissa yang sudah lama tidak dia jumpai. Mereka diam seribu bahasa, namun sorot mata mereka dapat menyampaikan semua yang ingin mereka tanyakan.
Diam diam permaisuri Princella dapat melihat tatapan mata Leonardo dan Damian, berbeda dari yang lainnya saat melihat ke arah Carissa. Dua pria tampan bersaudara yang terlihat memiliki sebuah rasa kagum kepada Carissa. Tatapan mereka teduh dan hangat penuh akan cinta dan kasih sayang seorang pria kepada wanita yang ia sukai.
'apakah kedua pria ini yang menjadi pesaing cucuku Hayden Key?' gumam sang permaisuri melihat ke arah Leonard dan Damian secara bergantian.
'dua pria tampan yang cukup menjadi pesaing berat bagi Key. Aku ingin tahu siapa dari mereka bertiga yang akan menjadi takdir pasangan dari sang pengendali?' gumam permaisuri Princella Odella, seorang yang akan bersikap netral walaupun nanti cucunya akan kalah.
Permaisuri tidak bisa melawan takdir yang sudah di tentukan oleh Langit. Hanya bisa berusaha mengikutinya untuk mengimbangi hidup setiap manusia yang ada di dunia ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.