DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
80. Usaha, Niat Dan Harapan Carissa.


__ADS_3

***Area Latihan Istana Holmes***


Putri Debora masih tidak sadarkan diri, Carissa merasakan denyut nadi putri Debora semakin melemah. Tubuh putri Debora tidak kuat menahan racun di dalam tubuhnya, Carissa tidak tahu harus berbuat apa lagi?


Carissa menatap intens wajah putri Debora, lalu dia ingat pada Shopie sang peramal suci. Carissa menutup segel di tangannya, karena dia ingin bertelepati bertanya pada Shopie, agar Damian dan Leonard tidak bisa mendengar pembicaraan yang akan mereka lakukan.


"Shopie…apa kau mendengarkan aku…?" tanya telepati Carissa pada Sophie.


"aku mendengarkan mu Callysta, aku tahu apa yang ingin kau tanyakan? Racun yang ada pada tubuh putri Debora belum ada penawarnya Callysta." jawab Shopie pada telepatinya.


"tapi kondisi putri Debora semakin melemah Shopie, apa kau tidak ada cara lain untuk menolongnya?"


Shopie terdiam sejenak sebelum melanjutkan bicaranya.


"sebenarnya ada Callysta, tapi itu sangat beresiko tinggi."


"apa itu Shopie…?"


"bola cahaya inti sari dari golongan hitam yang bisa mengeluarkan racun."


"bola cahaya inti sari dari golongan hitam yang bisa mengeluarkan racun." tanya beo Carissa.


"iya Callysta…!!" jawab Shopie membenarkan, lalu melanjutkan lagi bicaranya.


"bola cahaya biru inti sari siluman ular yang ada padamu, bola cahaya inti sari itu bisa membantu menyerap semua racun apapun? bahkan jenis racun dari golongan hitam sekalipun, tetapi akan beresiko pada yang memegangnya Callysta.…"


"maksud mu Shopie…?" tanya bingung Carissa.


"bola cahaya inti sari tersebut hanya sebagai sarana penghubung Callysta, dan saat bola cahaya inti sari itu di gunakan untuk menyerap racun, racunnya akan berpindah pada tubuh si pemegang bola cahaya, dan racunnya akan keluar melalui gumpalan darah yang di muntahkan dari si pemegang bola cahaya inti sari tersebut. Satu yang harus kau tahu Callysta, tidak sembarang orang yang akan bisa memegang bola cahaya inti sari dari siluman ular tersebut Callysta."


"maksudmu…?" tanya Carissa yang masih memandang intens wajah putri Debora.


"hanya kamu yang bisa memegangnya tanpa penolakan sama sekali dari bola cahaya tersebut, karena tubuhmu pernah terkena langsung darah dari siluman ular yang kau bunuh. Jadi bola cahaya inti sari itu merasakan kaulah tuannya, hanya istimewanya kau tidak perlu untuk menelannya, seperti bola cahaya inti sari lainnya."


"baiklah…aku mengerti."


"tapi Callysta…saat racun itu masuk ke dalam tubuhmu, kau akan merasakan sakit yang luar biasa. Bila kau sampai kehilangan kesadaran mu saat menyerap racunnya, racun itu akan bersarang di tubuhmu, dan tidak bisa keluar lagi. Racun itu akan ada di dalam tubuhmu, sampai kau menemukan seseorang, yang mampu menerima bola cahaya inti sari siluman ular tersebut, dan membantumu untuk mengeluarkan racunnya. Apa masih kau akan melakukannya…?" tanya Shopie ingin tahu apa tindakan Carissa kali ini.


"Tapi tidak ada cara lain, penawar racunku hanya bisa mengurangi sedikit efek racunnya, di tambah lagi kondisi tubuh putri Debora tidak kuat menahan racun dalam tubuhnya, jadi putri Debora tidak bisa menahannya lebih lama lagi."

__ADS_1


"Callysta…lepaskan putri Debora…itu sudah takdirnya, lagi pula untuk apa kau menolongnya? dia sudah banyak menyulitkanmu dan membuatmu menderita selama ini, maaf Callysta…bukannya aku tidak ingin kau membantu putri Debora, tapi sudah cukup sampai di sini kau membantunya. Biarkan dia dan takdir yang berjuang saat ini." ungkap Shopie ingin meringankan beban Carissa.


"tidak bisa Shopie, aku tidak bisa diam saja, di saat ada yang butuh pertolongan dariku. Kau tahu sendiri kan Shopie…aku seorang dokter, dan menyelamatkan nyawa manusia adalah kewajiban bagiku. Selama masih ada cara dan jalan untuk aku bisa menyelamatkan putri Debora, akan aku lakukan sebisa dan sekuat yang aku bisa lakukan."


"aku tahu itu Callysta, kau sudah berusaha semampumu menyelamatkan putri Debora, kau juga terkena racun Callysta. Pikiran dirimu juga, lebih baik kau hilangkan racun dalam tubuhmu dulu. Sebelum tindakan yang beresiko akan kau ambil dan semua hanya akan sia-sia saja." ungkap Shopie ingin menyadarkan Carissa akan tindakannya.


Carissa diam memandang intens wajah putri Debora yang sudah sangat pucat, putri Debora saat ini sangat kritis. Wajah sedih raja Diaro menatap sang putri yang tidak sadarkan diri. Carissa ada pada pilihan yang sangat sulit, memilih di antara dua pilihan adalah suatu hal yang sangat di benci oleh Carissa selama ini.


"apa yang terjadi pada putriku? mengapa dia belum sadar juga?" tanya raja Diaro menatap pada Carissa yang ada di hadapannya.


Carissa menghela nafasnya, sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"maaf yang mulia…putri Debora terkena racun dari penyihir lendir hitam. Penawar racun yang hamba berikan hanya mengurangi sedikit efek racunnya, dan tubuh putri Debora sangatlah lemah untuk melawan racun tersebut." jawab Carissa jujur, dia tidak ingin menyembunyikan apapun mengenai kondisi putri Debora?


Raja Diaro terkejut dengan apa yang Carissa ucapkan, Raja Diaro menatap lekat wajah sang putri yang masih menutup rapat matanya. Lalu beralih kembali menatap ke arah Carissa.


"apa tidak ada yang bisa kita lakukan? tabib…panggil kan tabib istana…" ucap raja Diaro, memandang ke sekelilingnya.


"percuma memanggil tabib, karena tabib juga tidak bisa apapun? racun ini belum ada penawarnya sama sekali, racun penyihir golongan hitam hanya bisa di sembuhkan dengan bola cahaya inti sari yang mengandung racun dari golongan hitam juga. Jadi belum ada satu tabibpun yang bisa membuat penawarnya saat ini." balas Carissa, dan itulah kenyataannya.


"bola cahaya inti sari dari golongan hitam, di mana kita bisa mendapatkan bola cahaya inti sari golongan hitam tersebut…?" ungkap raja Diaro, tersirat keputusasaan dari nada bicaranya.


"hamba sebenarnya punya satu yang mulia." ungkap Carissa yang membuat lega raja Diaro melihat padanya.


"benarkah nona Carissa…!!" ungkap raja Diaro dengan mimik kelegaan di wajahnya. Raja Diaro merasa kalau masih ada harapan untuk putrinya sembuh dari racun tersebut.


"iya yang mulia." angguk Carissa.


"nona Carissa…tolonglah putriku sekali lagi, aku mohon padamu sebagai seorang ayah." ucap raja Diaro mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


Raja Diaro memohon pada Carissa demi putrinya, tatapan mata raja Diaro sangat jujur dan penuh akan rasa takut kehilangan. Seketika Carissa teringat akan Duke Emris, yang juga sangat menyayangi ketiga putrinya. Duke Emris pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh raja Diaro saat ini. Seorang ayah memohon demi nyawa putrinya.


Carissa diam sejenak memandang mata sedih raja Diaro. Perlahan Carissa menyentuh tangan raja Diaro yang memohon padanya, sembari menggelengkan kepalanya ke arah raja Diaro.


"tidak yang mulia…jangan memohon seperti itu pada hamba, anda adalah raja kerajaan Jericho. Hamba akan menolong putri Debora semampu yang hamba bisa… yang mulia." balas Carissa ingin menenangkan hati seorang ayah yang mencemaskan kondisi putrinya.


"terima kasih nona Carissa, aku hanya bisa berharap padamu saat ini untuk kesembuhan putriku." balas lega dan harap raja Diaro.


Semua orang tahu siapa penyihir lendir hitam? penyihir golongan hitam yang sangat meresahkan bagi seluruh manusia di dunia ini, penyihir lendir hitam walaupun dia termasuk jenis penyihir rendah, tetapi dia cukup bagus bila di jadikan senjata mematikan oleh kerajaan Darkness World. Seluruh tubuhnya yang mengandung racun sangat mematikan bagi yang menyentuhnya, dan belum ada yang bisa membuat penawarnya sama sekali.

__ADS_1


Ditambah lendir hitamnya yang beracun sangat panas bila terkena kulit, racun lendir hitam cepat mengalir masuk melalui kulit, bahkan racun lendir hitam bisa di gunakan sebagai senjata bagi sang penyihir, senjata peledak yang sangat kuat, sama seperti bom peledak di zaman modern, dunia asal Callysta Angelina.


'aku tahu ini akan beresiko padaku, tapi tidak ada cara lain lagi, aku harus melakukannya. Aku tidak ingin menyesal seumur hidupku bila tidak bisa menyelamatkan nyawa putri Debora tanpa usaha apapun. Lagi pula aku masih bisa membuat penawar racunnya, bila saja racunnya harus bersarang pada tubuhku, dan mengobati racunnya secara perlahan.' gumam Carissa dalam hati, yang tentu saja bisa Shopie dengar dengan mudah.


"Callysta apa kau yakin akan melakukannya? apa kau mampu menahan rasa sakit akibat racun dalam tubuhmu setiap hari?" tanya Shopie yang masih ingin membujuk Carissa.


"iya aku yakin Shopie, kondisi putri Debora sudah sangat kritis, dan aku masih bisa membuat penawarnya dan mengobatinya secara perlahan, aku tidak ingin menyesal di kemudian hari bila tidak bisa menyelamatkan nyawa putri Debora, tanpa usaha apapun?"


"tapi Callysta…"


"tidak Shopie…ini sudah keputusan ku."


Shopie hanya bisa diam, dia sudah berusaha untuk membujuk Carissa. Tapi itu hanyalah sia-sia saja, Carissa masih kokoh pada pendiriannya untuk menyelamatkan putri Debora, dengan resiko tubuhnya tersakiti dan teracuni.


Shopie tidak tahu harus berbicara apa lagi pada Carissa? semua usaha bujukkannya sudah Shopie lakukan, tapi Carissa tidak menghiraukannya.


Shopie hanya berharap, Carissa dapat melewati masalah ini yang menjadi salah satu rintangan Carissa, dalam menjalani hidupnya sebagai sang pengendali di dunia keduanya. Seharusnya Carissa bisa saja tidak menyelamatkan nyawa putri Debora, kalau mengingat bagaimana sombong, angkuh, dan semena-menanya putri Debora selama ini? pada Carissa yang dulu dan juga yang sekarang.


Bahkan dari dulu putri Debora tidak pernah baik pada siapa pun? apalagi bila orang tersebut lebih rendah dan lemah darinya? putri Debora yang merasa putri kesayangan raja Diaro Liberata, menjadi selalu harus di hormati, dihargai dan selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan?


Sikap putri Debora sama sekali tidak pernah mencerminkan seorang putri raja. Dia bertindak dengan semaunya, dan tidak pernah suka di saingi oleh siapapun? Dia harus selalu menang dan unggul dalam segala hal.


Entah mengapa Carissa mau menyelamatkan nyawa putri Debora? apakah jiwa seorang dokter memang begitu? tidak bisa sekalipun melihat seorang yang sekarat, ataukah sudah sifat Carissa yang memang suka menolong orang? hanya Carissa yang tahu, hanya sang pengendali yang tahu akan jawaban dan tindakannya tersebut.


"baiklah Callysta…bila itu sudah keputusanmu, aku hanya bisa mendukungmu saja, aku akan siap membantumu sebisaku." ucap Shopie mengalah.


"terima kasih Shopie." balas Carissa senang Shopie mau mendukungnya, dia adalah teman Carissa satu-satunya yang tahu siapa Callysta Angelina.


Carissa masih diam memandang wajah putri Debora, 'seburuk apapun sikap dan sifat mu, aku harap kau bisa berubah lebih baik lagi saat kau sudah pulih nanti, jadilah putri kerajaan Jericho yang selalu mencintai dan melindungi rakyatnya. Aku harap usahaku tidak akan kau sia-siakan.' gumam harapan Carissa dalam hatinya melihat pada wajah putri Debora, yang pucat dan sedikit memar akibat pertempuran mereka.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2