DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
25. Kehidupan Terakhir.


__ADS_3

Antoni dan David masih saling menatap tajam, mereka masih dengan pikiran mereka masing-masing yang tidak akan mau mengalah dengan apa yang mereka inginkan, tanpa mereka sadari ada yang sedang memperhatikan mereka berdua.


"bila kau sudah tahu, kenapa tidak kau mundur dan lupakan Callysta karena semua orang tahu dia adalah tunangan ku." jawab David mulai tidak suka pada Antoni pasti akan terus menghalangi jalannya untuk mendapatkan Callysta.


"kau pikir dengan semudah itu untuk aku akan mengalah dan menyerahkan Callysta pada orang seperti mu?" balas Antoni dengan tatapan tajamnya dan mimik wajahnya yang dingin.


"ku peringatkan, jangan pernah menghalangi jalanku." ancam David menunjuk kearah Antoni tajam.


"kau pikir aku akan takut akan ancamanmu? kau sudah tahu Callysta adalah kekasihku, masih juga kau mendekatinya, apa tujuanmu yang sebenarnya?" tanya Antoni yang melihat tajam pada David.


"aku menyukainya dan aku mencintainya, asal kau tahu…aku yang lebih dulu bertemu dan mengenal Callysta, dan kau tiba-tiba datang untuk merebutnya dariku." ucap sengit David tidak mau mengalah.


"lagi pula apa yang bisa kau lakukan bila kedua orang tuamu tahu bila Callysta adalah seorang mafia dan pembunuh bayaran? mafia adalah musuh dari keluargamu? apa yang bisa kau lakukan?" ungkap David tersenyum mengejek karena tahu macam apa kedua orang tua Antoni?


Kedua orang tua Antoni hanya menginginkan wanita terhormat untuk menjadi menantu mereka, dan itu sangat lah jauh dari Callysta yang hanya seorang mafia dan pembunuh bayaran.


Antoni yang sadar apa yang di katakan David adalah kebenaran yang sedang dia perjuangkan? agar kedua orang tuanya bisa menerima Callysta dengan apa kondisi dan siapa Callysta sebenarnya?


Antoni mengepalkan tangannya yang ada di dalam saku celananya menahan rasa kesal yang sudah mulai di pancing oleh David.


"itu bukan urusanmu, yang harus kau lakukan adalah, menjauhlah dari Callysta." perintahnya dengan menekan setiap kata-katanya.


"bila kau ingin melihatku menjauhinya, langkahi dulu mayatku." tantang David pada Antoni.


"hahaha…" Antoni tertawa ringan.


"kau pikir aku takut untuk membunuhmu?" ungkap Antoni yang menerima tantangan David dan dia sama sekali tidak ingin mangalah sedikit pun dengan David.


"coba kau buktikan kalau kau berani, kita lihat pada akhirnya siapa yang akan mendapatkan Callysta, kau atau aku?" ungkap tantangan David lagi dengan memicingkan sebelah matanya meremehkan Antoni.


Antoni sudah mulai tidak bisa menahan amarahnya pada saudara sepupunya tersebut, dengan perlahan dan pasti dia mendekati David, tubuh mereka sudah tidak ada jarak sama sekali.


"jangan pernah menghalangi jalanku, apapun bisa aku lakukan." ucapnya dengan menekan dada bidang David dengan jari telunjuk kanannya seraya tersenyum devil tetapi tatapan matanya masih tajam.


"kau jangan coba melawanku, bila tidak ingin hancur di tanganku." balasnya sengit seraya menyingkirkan jari telunjuk Antoni dari dadanya.


"jadi kau tidak bisa di perlakukan dengan baik rupanya?"


"apa kau pikir aku akan rela melepaskan Callysta yang akan mendapat penolakkan dari kedua orang tuamu?" ancam David yang membuat Antoni langsung mencengkram kerah jas David.


"jaga ucapanmu…?" ancam Antoni dengan amarah yang sudah memuncak.

__ADS_1


"apa perkataan ku salah? apa kau bisa menjamin orang tuamu dapat menerima Callysta?" balas David dengan menggenggam kuat kedua pergelangan tangan Antoni.


"brengsek kau…" ucap Antoni seraya melepaskan tinjunya ke pipi David dengan cepat.


David yang tidak siaga karena mengira Antoni tidak akan berani memukulnya pun, terhuyung ke belakang karena tubuhnya yang tidak seimbang dengan pukulan Antoni yang keras, sudut bibirnya pun sampai berdarah.


Dengan cepat pula David membalas pukulan Antoni, tetapi Antoni bisa menangkisnya, dengan marah David memukul Antoni bertubi-tubi sehingga beberapa pukulan dan tendangan darinya mengenai tubuh Antoni, begitupun Antoni yang juga tidak mau mengalah sama sekali pada David.


Mereka masih saling baku hantam dan tidak ada yang mau mengalah, sampai keributan itupun di lihat oleh seorang tamu yang akan pergi ke toilet dan tamu tersebut berlari cepat ingin meminta bantuan untuk melerai Antoni dan David.


Beberapa menit kemudian Callysta datang karena mendengar keributan yang terjadi di luar toilet, dia pun berniat menjadikan ini pengalih perhatian agar dia bisa kabur dari tempat ini.


Tetapi saat Callysta sekilas melihat ke arah keributan tersebut, Callysta sangat mengenal kedua pria yang sedang baku hantam dan menjadi tontonan dari para tamu yang keluar dari dalam toilet.


Callysta dengan segera mendekati mereka, dengan cepat Callysta menarik tangan David yang ingin memukul Antoni dan menahan dada Antoni agar mereka memiliki jarak.


"apa yang kalian lakukan?" tanya Callysta berdiri di tengah-tengah Antoni dan David dan menatap tidak senang dengan apa yang mereka lakukan.


Callysta menjadi lebih kesal karena gara-gara keributan mereka yang tidak bisa Callysta hindari, membuatnya tidak bisa kabur dari tempat tersebut.


Baik Antoni maupun David tidak ada yang menjawab pertanyaan Callysta, mereka sibuk mengelap darah yang ada di sudut bibir mereka masing-masing dan merapikan jas mereka yang sudah kusut.


"apa yang kalian ributkan? apa kalian tidak malu menjadi tontonan dari para tamu?" ungkap Callysta seraya melihat sekelilingnya.


Dua tuan muda Yuandara sekaligus dua ahli waris kekayaan keluarga Yuandara, mereka penasaran dengan apa yang menjadi perdebatan kedua tuan muda tampan yang sama-sama sukses dengan bisnis dan karier nya masing-masing.


Tanpa menjawab David yang berada lebih dekat dengan Callysta pun dengan cepat menarik lengan Callysta agar berdiri dekan di sampingnya, Callysta dengan repleks mendekat pada David karena tarikkan tangannya.


Antoni tidak terima akan perlakuan David pada Callysta, Antoni pun ikut menarik tangan Callysta yang satunya lagi dan ingin menarik Callysta agar mendekat padanya, tetapi David tidak mau mengalah dan terjadilah aksi tarik menarik denagn Callysta yang menjadi perebutan mereka.


Callysta yang merasa risih jadi tontonan dan kedua tangannya sakit akibat tarikan dari mereka berdua pun, berusaha dengan sekuat tenaga menghempaskan kedua lengannya agar pegangan Antoni dan David terlepas dari tangannya.


"apa-apa kalian…" ucapnya sedikit keras seraya mengelus kedua pergelangan tangannya yang sakit karena tarikkan dan hempasan kuat yang dia lakukan, pergelangan tangannya sedikit keseleo karena terasa sakit sekali, tetapi di tahan sekuat tenaga oleh Callysta.


Bisik-bisik dari para tamu semakin riuh, tetapi dengan cepat mereka di hentikan oleh beberapa anak buah yang di miliki keluarga Yuandara, tepatnya anak buah dari Mario Yuandara dan Johan Yuandara yang datang ke lokasi karena mendapatkan informasi perkelahian tersebut dari seorang tamu.


Dengan cepat pula lorong sekitar toilet di sterilkan dan mulai sepi dari para tamu, Antoni, David dan Callysta mendapatkan tatapan tajam oleh Mario dan Johan Yuandara.


"apa yang kalian ributkan?" tanya Johan mengambil alih suasana tersebut.


Tidak ada yang menjawab sama sekali, Antoni dan David hanya saling menatap sekilas dan jatuh melihat pada Callysta yang berdiri di depan mereka.

__ADS_1


"apa karena gadis ini?" ucap Johan yang membuat Antoni dan David terkejut kalau sang kakek dengan cepat mengetahui alasan keributan mereka berdua, tetapi mereka dengan cepat mengembalikan ekspresi wajah mereka menjadi datar dan dingin.


Sedangkan Callysta tidak terlalu terkejut akan tebakkan Johan Yuandara pada alasan keributan Antoni dan David, Callysta hanya bersikap biasa saja, dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya? dia akan mengikuti aliran yang mengalir.


Mereka masih saja diam tidak menjawab pertanyaan Johan, tetapi Johan yang tahu segalanya tidak akan tinggal diam karena ini sudah menyangkut kedua cucu kesayangannya.


"kalau kalian masih diam saja, dan terus berseteru seperti ini, sepertinya kakek yang harus ambil keputusan, dan dari sekarang gadis ini kakek yang punya urusan." ungkap Johan karena sudah tidak ingin berbasa basi lagi.


Dengan sekali lirikkan mata saja, dua anak buahnya mengerti dan langsung mencekal kedua lengan Callysta yang sudah sakit, Callysta pun merasakan sakit yang luar biasa pada kedua pergelangan tangannya yang keseleo, tetapi dapat di tahan oleh Callysta walaupun dia sempat meringis kesakitan.


Antoni dan David yang tahu akan ringisan Callysta, karena Callysta terlihat kesakitan saat pergelangan tangannya di pegang oleh kedua anak buah sang kakek, langsung merespon dengan bersamaan.


"Callysta tidak salah kakek."ucap Antoni dan David bersamaan.


Johan pun menatap tajam pada kedua cucunya yang ingin membela Callysta.


"jangan ikut campur, ini urusan kakek." balas Johan pada kedua cucunya yang sedang khawatir pada Callysta.


Callysta hanya diam karena menahan rasa sakit di pergelangan tangannya yang di genggam kuat oleh dua anak buah Johan Yuandara, Callysta hanya bisa menatap Antoni dan David secara bergantian.


"bawa dia…" perintah Johan pada kedua anak buahnya yang menahan Callysta.


Kedua anak buah Johan dengan cepat menarik tangan Callysta, dengan menahan rasa sakit pada pergelangan tangannya dia hanya bisa mengikuti kemana dia akan di bawa, dia sudah pasrah karena inilah resiko yang harus dia hadapi, Callysta sudah tidak bisa memilih apapun lagi, saat dia melangkah beberapa langkah sesuatu terjadi dengan begitu cepat.


'dadaku kenapa terasa sakit? dadaku terasa sesak, ada apa ini?' gumam Callysta seketika berhenti dari langkahnya dan jatuh bersujud ke lantai dengan menahan sakit pada dadanya.


pendengaran Callysta hanya bisa mendengar suara yang memanggil namanya, dan tangan yang tadinya sakit mulai tidak merasakan apapun, pandangannya mulai kabur, sebuah tangan mengangkat tubuh Callysta pada pangkuannya, sekilas dia dapat melihat dua pria yang memanggil namanya, menepuk pipinya pelan dengan wajah cemas dan hampir menangis, tidak dua pria yang Callysta kenal menangis.


Aku bergumam dalam hati dan menggambarkan apa yang aku pikirkan saat ini, karena bibir ku tidak bisa berbicara sama sekali akan rasa sakit yang aku rasakan.


'Samar ku lihat air mata pada pipi kedua pria tersebut yang terus memanggil namaku, seakan-akan mereka sangat mengkhawatirkan aku, apa yang terjadi? mengapa pendengaranku semakin menurun? mengapa dadaku tiba-tiba sakit? perlahan aku mengangkat tanganku yang masih bisa aku rasakan memegang dadaku yang sakit, kurasakan ada cairan di sana, perlahan ku lihat telapak tangan yang menyentuh cairan tadi, merah…berwarna merah, itu darah…dadaku berdarah…apa yang terjadi padaku?'


Setelah melihat darah pada telapak tangannya, perlahan Callysta melihat Antoni dan David secara bergantian dan tersenyum pada mereka, Callysta tahu dadanya tertembak dan entah tembakkan dari siapa? dan dari mana? yang bisa Callysta harapkan adalah semoga ini jalan yang terbaik untuknya, semua akan berakhir begitu dia menutup matanya, inilah kehidupan terakhirnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.a


__ADS_2