DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
180. Dua Gadis Yang Terlihat Sama.


__ADS_3

***Kerajaan Darkness World***


Callysta tumbang duduk bersujud setelah mode khayangan nya menghilang. Carissa duduk bersimpuh di hadapan Callysta, ia ingin tahu apa yang terjadi pada gadis itu?


"Ada apa Callysta?" Tanya Carissa terlihat khawatir melihat ke arah Callysta.


Callysta perlahan melihat ke arah Carissa yang ada di hadapannya. Tatapan mata mereka bertemu dan saling memberikan sebuah isyarat.


"Semuanya telah aku lakukan. Bertarunglah dengan tenang, dan menangkan pertarungan ini." Balas Callysta terlihat tenang, tetapi wajahnya terlihat pucat dan letih. Carissa tahu itu.


"Apa kamu baik baik saja?" Tanya Carissa masih terlihat khawatir.


Callysta melihat dalam mata silver itu, lalu tersenyum di balik maskernya.


"Aku baik. Hanya sedikit lelah. Aku akan kembali normal lagi setelah istirahat sejenak." Jawabnya untuk membuat Carissa tenang.


Carissa tahu, jika gadis di hadapannya itu cukup baik dalam mengendalikan diri dari situasi yang dia hadapi.


"Baiklah, aku percaya kepada mu. Ayo… aku bantu untuk berdiri, duduklah atau beristirahatlah ke kamar jika kamu mau."


"Tidak. Aku akan tetap di sini untuk melihat mu bertarung." Balas Callysta cepat sembari bangkit atas bantuan Carissa.


Kedua gadis itu berdiri beriringan di hadapan semua orang yang melihat mereka berdua. Walaupun Callysta sedang menutupi sebagian wajahnya, tetapi postur tubuh keduanya terlihat sama persis. Dua gadis yang terlihat sama.


"Apakah anda baik baik saja, putri?" Tanya Permaisuri datang mendekati mereka berdua.


Callysta dan Carissa melihat sang permaisuri yang ada di hadapannya.


"Aku baik." Balas singkat Callysta.


"Kami akan segera mempersiapkan tempat untuk anda, putri." Balas permaisuri dengan senyuman manis di wajah cantiknya.


"Tidak. Aku akan tetap di sini." Balasnya menatap serius sang permaisuri.


Permaisuri tersenyum melihat ke arah dua gadis yang terlihat sama, walaupun satu gadis sedang menutupi sebagian wajahnya.


"Baiklah." Jawab permaisuri patuh akan keinginan Callysta.


Callysta meraih beberapa helai rambutnya, kemudian di serahkan kepada permaisuri.


Wanita cantik nan anggun itu melihat ke arah rambut Callysta yang telah berubah warna menjadi putih silver, beberapa helai rambut yang ada di atas telapak tangan Callysta.


Perlahan permaisuri meraih rambut yang ada di atas telapak tangan Callysta. Menggenggamnya dengan erat, kemudian matanya melihat dalam ke arah sorot mata Callysta.


Hanya terjadi beberapa detik dan begitu cepat. Sebuah bayangan di perlihatkan oleh gadis itu, hingga mampu membuat langkah wanita cantik itu mundur akan pengelihatan tersebut.


Kaisar Hayden yang tepat berada di belakangnya, dengan cepat meraih tubuh permaisuri yang melangkah mundur.


"Ada apa?" Tanya kaisar Hayden saat pandangan mata mereka bertemu.


"Pastikan semuanya aman." Ucap Callysta begitu saja.


Permaisuri dan kaisar melihat dengan cepat ke arah Callysta yang berucap.


"Semua yang tidak bersalah harus tetap aman, dan itu semua tanggung jawab kita yang harus melindungi mereka." Ungkap Callysta kembali.


Permaisuri kini mengerti, tetapi tidak dengan kaisar Hayden. Pria kuat itu hanya melihat ke arah Callysta dan permaisuri secara bergantian.


"Apa anda mengerti?" Tanya Callysta ingin kepastian.


"Tentu saja, putri. Saya mengerti." Balas permaisuri dengan tegas.


"Gunakan itu sebagai perlindungan. Itu akan sangat membantu, lakukan seperti membuat sebuah segel perlindungan seperti yang biasanya anda buat."


"Saya mengerti, putri. Saya akan melakukan semuanya semampu yang saya bisa." Balasnya sembari membawa rambut putih silver yang ada di genggamannya ke atas kepalanya.


Rambut putih silver itu menjadi satu dengan rambut sang permaisuri. Beberapa bagian rambut panjang permaisuri kini memiliki warna putih silver lebih banyak dari Kaisar Hayden.


Callysta tiba-tiba terbatuk dan mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Tubuhnya yang sedikit limbung karena letih dapat di tangkap cepat oleh Carissa.

__ADS_1


"Callysta…!" Ucap Carissa terlihat khawatir.


"Aku tidak apa apa." Balas cepat Callysta tidak ingin membuat Carissa khawatir.


"Kamu batuk darah…!" Ucap Carissa melihat ada bercak darah dari sela sela masker penutup mulut Callysta.


Callysta yang mengerti melihat ke arah Carissa.


"Aku baik baik saja, tolong tutupi tubuhku. Aku harus membersihkan darah dan mengganti masker ini." Pintanya kepada Carissa.


Beberapa detik Carissa terdiam dan hanya melihat ke arah mata Callysta. Kemudian dia mengerti akan permintaan gadis di hadapannya itu.


Tanpa banyak bertanya, Carissa memeluk dan menutupi tubuh bagian atas Callysta dengan jubah yang dia gunakan.


Carissa dengan cepat membersihkan bercak darah yang ada di sekitar mulutnya, lalu mengganti masker wajahnya dengan masker baru yang di berikan oleh Carissa.


"Apa kamu yakin baik baik saja saat ini?" Bisik Carissa di sela sela pelukkan mereka.


"Tentu saja aku yakin, aku baik baik saja. Aku hanya lelah karena tenaga ku cukup banyak terkuras." Balasnya, setelah itu melerai pelukkan mereka berdua.


"Tubuh ini cukup kuat untuk ku, kamu tenang saja dan jangan terlalu khawatir padaku. Fokuslah pada pertarungan mu hari ini, menang dan kalahkan siluman rubah itu." Balas Callysta terlihat yakin.


Carissa tidak buta untuk melihat keyakinan di dalam sorot mata Callysta.


"Baiklah, aku percaya padamu."


Callysta tersenyum di balik maskernya mendengar jawaban Carissa.


"Fokusmu hanya bertarung hari ini. Apa pun yang terjadi, kau hanya akan fokus pada siluman rubah itu. Sisanya serahkan kepada kami di sini, kau mengerti…!" Ungkap Callysta.


Carissa Sang Pengendali tidak langsung menjawab. Tatapan matanya melihat keyakinan dan keteguhan di dalam sorot mata Callysta.


"Baiklah, aku mengerti." Balas Carissa pada akhirnya mengerti.


"Itu benar…!" Celetuk permaisuri menimpali. Dia tahu apa yang di maksudkan oleh Callysta.


Mereka melihat ke arah permaisuri.


Tentunya kaisar Hayden yang tidak mengerti hanya mengerutkan keningnya melihat permaisuri.


"Kami akan melindungi semuanya, seperti yang anda minta." Ucapnya lagi.


"Apa maksud mu…?" Tanya Kaisar Hayden terlihat curiga akan sesuatu.


Permaisuri dan yang lainnya melihat ke arah kaisar Hayden.


"Kita akan melindungi semuanya." Balas permaisuri.


"Melindungi semuanya…!!" Ulang kaisar masih tidak mengerti.


"Iya. Melindungi semuanya yang tidak bersalah dari sebuah kehancuran, seperti yang di perintahkan oleh putri Titisan." Jawab permaisuri begitu saja.


Kaisar Hayden mengerutkan keningnya melihat sang permaisuri.


"Mengikuti perintahnya…!" Tunjuk kaisar ke arah Callysta terlihat tidak suka.


"Iya." Balas permaisuri singkat.


"Apa kau yakin, jika aku akan mengikuti perintahnya?" Tanya kaisar Hayden terlihat mulai kesal.


Semuanya terdiam. Semua yang hadir di sana mengerti maksud kaisar. Tidak akan mungkin seorang kaisar Hayden Pris akan mengikuti perintah dari seseorang begitu saja, karena dialah yang paling berkuasa di dalam kerajaan tersebut.


"Apa kau sedang membuat sebuah lelucon?" Tanya kaisar mulai marah.


"Tidak. Apa salah seorang pemimpin sebuah kerajaan melindungi semua rakyatnya?" Balas permaisuri.


"Itu tidak salah. Yang salah adalah mengikuti perintahnya…!" Tunjuk kaisar Hayden ke arah Callysta.


"Apa kau lupa siapa aku di kerajaan ini…?" Kaisar Hayden terlihat benar benar mulai marah.

__ADS_1


"Tentu saja tidak."


"Kalau begitu, jangan pernah memberikan sebuah perintah untuk ku…kau mengerti…!" Tekannya pada kalimat terakhir sang kaisar.


"Jangan pernah melewati batasan kalian kepadaku…!" Ucapnya terlihat geram dengan tatapan matanya yang tajam.


Tatapan tajam membunuh terlihat jelas pada mata kaisar Hayden. Melihat ke arah permaisuri, Callysta dan Carissa secara bergantian. Begitu mencekam mata yang penuh akan aura kemarahan.


"Aku adalah kaisar kerajaan ini. Ingat itu dengan sangat jelas, dan tanamkan itu ke dalam otak kalian semua." Tekannya dengan sangat jelas.


Tidak ada yang berani menjawab sang kaisar yang sedang berada pada mode marahnya. Beberapa detik berlalu dengan keheningan, tanpa mengucapkan kata pamit kaisar Hayden menghilang begitu saja.


Suasana cukup mencekam dan terasa tidak nyaman bagi mereka.


"Kaisar yang sangat arogan." Celetuk Callysta begitu saja.


"Sepertinya, anda cukup sulit menghadapinya selama ini, permaisuri." Ucap Callysta melihat ke arah permaisuri.


Permaisuri tersenyum sebelum menjawab.


"Cukup sulit, sehingga lebih memilih diam, menghindar dan mengalah." Balas permaisuri dengan senyuman getirnya sembari mengingat bagaimana hidupnya selama ini bersama kaisar Hayden. Terasa hampa dan dingin.


Callysta hanya mengangguk- anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Anda memiliki kesabaran yang cukup luas, yang mulia."


"Tidak putri, jangan panggil saya dengan sebutan yang mulia. Saya tidak pantas untuk anda panggil seperti itu." Balas permaisuri merasa tidak nyaman akan panggil tersebut.


"Menurut saya itu masih pantas. Bagaimana juga, anda adalah permaisuri di kerajaan ini. Patut untuk saya hormati, itu sudah aturan alam."


"Tidak ada bantahan apapun. Sebaiknya anda cepat kembali dan susullah kaisar Hayden yang sedang kesal. Bujuk dia dengan cara anda. Saya yakin anda pasti bisa membujuknya." Ucap Callysta kembali.


"Baiklah, saya mengerti. Saya pamit putri." Ungkap permaisuri sembari memberikan sikap hormat dan anggunnya kepada Callysta, di balas dengan sikap yang sama oleh Callysta.


Bagaimana juga jiwa Carissa yang ada di dalam tubuh Callysta berasal dari dunia itu, jadi tahu cara bersikap dengan terhormat dan anggun.


Permaisuri segera menghilang dari tempat itu, setelah tidak ada lagi yang akan ia lakukan dan katakan.


"Sebaiknya, hamba juga kembali. Masih banyak waktu untuk hamba menghadap kepada anda, putri Titisan." Ucap Raja Azura setelah sekian lamanya diam dan hanya menyimak apa yang terjadi sejak awal kedatangannya.


Carissa dan Callysta melihat ke arah Raja Azura yang tersenyum ke arah mereka berdua.


"Sepertinya kau mendapatkan sebuah kekuatan yang istimewa saat ini." Ungkap Raja Azura melihat serius ke arah Carissa.


Carissa hanya diam dan tidak ingin menjawabnya.


Pria itu melangkah lebih dekat lagi di hadapan Carissa dan Callysta.


"Aura darah kehidupan ada di dalam tubuh mu. Semua kekuatan akan tunduk padamu mulai sekarang…!" Ucapnya dengan serius melihat ke arah Carissa sang Pengendali. Kemudian melihat sejenak ke arah Callysta.


"Itu jika kau dapat mengendalikannya dengan baik. Jika tidak…kekuatan itu akan balik menyerangmu…Berhati-hatilah mulai sekarang…!" Ungkap Raja Azura dengan raut wajahnya yang terlihat serius.


"Apa maksud mu…?" Tanya Callysta tidak mengerti. Bagaimana darah kehidupan bisa balik menyerang Carissa jika tidak dapat mengendalikannya dengan baik?


Raja Azura melihat ke arah Callysta. Pria itu tersenyum akan ketidak tahuan sang Putri Titisan.


"Semua kekuatan memiliki sifatnya masing-masing. Untuk mendapatkan sebuah kekuatan, tidak akan mudah untuk di dapatkan begitu saja. Harus ada perjuangan bahkan pengorbanan untuk menaklukkan dan menguasai kekuatan tersebut. Di dunia ini tidak ada yang mudah untuk di jalani seperti yang kita inginkan." Balasnya dengan bersikap tenang.


Callysta dan Carissa, bahkan semua yang hadir di sana mengerti dan tahu akan hal itu. Mereka hanya diam dan menyimak saja.


"Tetap berusahalah, dan yakin bahwa kamu bisa untuk menaklukkan kekuatan itu. Aku yakin kau akan berhasil, walaupun jalannya tidak akan mudah untuk kau lalui. Tetapi tetap yakin akan dirimu, adalah pilihan yang terbaik saat ini untuk mu." Ungkap Raja Azura.


"Tetap semangat, semoga kau berhasil." Ucap Raja Azura tersenyum ke arah Carissa. Lalu menghilang dari tempat itu, meninggalkan semua orang yang terdiam pada pikirannya masing-masing.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya.


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2