
***Istana Kerajaan Holmes***
Tubuhku sudah terasa lelah sekali akibat terus bertarung, dan tubuh asli Carissa benar-benar lemah dan tidak sekuat tubuhku saat menjadi Callysta, saat ini aku menjadi teringat akan vitamin penambah stamina yang pernah ku buat di dunia pada zamanku, seandainya vitamin itu ada tenagaku pasti mudah pulih dengan cepat.
Dengan napas yang terengah-engah aku berusaha berlari menuju dimana dua siluman yang masih terlihat melawan Phoenix Gold, saat siluman ular ada dalam cengkraman kaki sang burung Phoenix dengan cepat aku ingin memotong ujung ekornya, tetapi sayang tubuhku terhempas karena tamparan kuat dari ujung ekor siluman ular tersebut.
Tubuhku berguling-guling dan terbentur keras ketanah, terlihat pelipisku mengeluarkan darah segar akibat benturan keras di kepalaku pada permukaan tanah, tertatih aku berusaha bangun dengan menahan sakit pada sekujur tubuhku, tetapi karena tubuhku yang memang mulai lelah aku terjatuh kembali, akupun tidak mudah putus asa dan berusaha bangkit kembali dengan susah payah.
"apa kau masih kuat Carissa…!" ucap Damian datang membantuku untuk bangkit.
Aku melihat pada Damian dengan tatapan mata yang memang sudah lelah sekali.
"aku akan membantumu…katakan apa yang harus aku lakukan?" ucap Damian berusaha membantuku bangkit.
"aku akan membantu juga, apa yang bisa aku lakukan…?" ucap Leonard juga datang mendekat pada kami.
"aku juga akan membantu." ucap Verdian yang juga datang.
"kami juga akan membantu nona…!!" ungkap semua kesatria yang datang mendekat.
Aku melihat mereka secara bergantian dengan nafas yang masih terengah-engah, sembari menahan lelah dan rasa sakit tubuhku, tetapi di dalam hatiku senang karena masih ada yang mau membantuku.
"titik inti sari siluman ular itu ada pada ujung kepala dan ekornya, sedangkan siluman wanita Rapel, titik inti sarinya ada pada punggung di balik rambutnya." ucapku sembari menunjuk.
"apa yang bisa kami lakukan?" tanya Leonard.
"apa kalian semua bisa magic Activator?" tanyaku karena aku mempunyai ide.
"kami semua di sini bisa magic Activator." balas Leonard dan di angguki kepala oleh semua yang ingin membantunya.
"bisa kalian menahan gerakkan ekor siluman ular dan tubuh dari siluman wanita Rapel?"
"bisa…"jawab serempak semuanya.
"pangeran kedua dan putra mahkota, apa anda bisa menggunakan The Hot magic dan Electrik Flow Magic kalian di gabungkan dan arahkan pada Rapel saat dia menyemburkan api dari mulutnya, dan anda Pangeran ketiga dan beberapa orang ahli pedang bisa anda membantu hamba memotong rambut siluman wanita Rapel bila memanjang, dan yang lainnya arahkan magic Activator kalian menahan kedua tubuh siluman itu, agar aku bisa menusuk titik inti sari nya." ucapku memberikan ide yang ada di kepalaku.
__ADS_1
Dan mereka mengerti apa yang aku ucapkan.
"Dragon White bantu aku naik keatas mu dan terbangkan aku di atas mereka." perintah ku pada Dragon White.
"baik My Lord."
"Phoenix Gold tetap tahan tubuh siluman ular itu." perintah ku kembali pada Phoenix Gold.
"baik My Lord."
"biar aku bantu kau naik ke atas naga itu." ucap Damian.
Akupun melihat Damian dan mengangguk setuju, dengan magic Activatornya Damian membantu tubuhku melayang naik ke atas punggung Dragon White, dengan cepat Dragon White terbang ke atas, karena aku berniat meluncur dari atas menusuk titik inti sari siluman ular yang terletak di ujung kepala dan ekornya.
Karena dalam pikiranku kepala siluman ular harus di jinakkan dulu baru bisa menebas ekornya, dan akupun berteriak memberi aba-aba pada mereka agar melakukan apa yang aku rencanakan dan katakan pada mereka.
Semua bersama-sama mengarahkan kekuatan magic Activator nya pada kedua siluman agar tidak bisa bergerak sama sekali, ekor siluman ular tidak bergerak sama sekali, tetapi tidak dengan semburan api dan rambut memanjang yang di miliki siluman wanita Rapel.
Meskipun tubuh Rapel tidak bergerak tetapi mulutnya masih bisa menyemburkan api, dan rambutnya yang bisa memanjang masih bisa melakukan cambukkan pada musuhnya, Damian dan Leonard mengeluarkan The Hot magic dan Electrik Flow Magic nya secara bersamaan untuk melawan semburan api Rapel, dan itu berhasil magic mereka berdua bisa seimbang melawan semburan api Rapel.
Sedangkan Verdian dan beberapa kesatria ahli pedang terus berusaha melawan dan memotong rambut Rapel yang terus memanjang, ingin mencambuk para kesatria yang menahannya dengan magic avigator mereka, dan mereka juga seimbang bisa melawan cambukkan rambut Rapel.
Saat aku rasa tepat di bawah ujung kepala sang ular, aku segera melompat ke arah kepala ular dan saat lidah ularnya menjulur ke arahku, dengan cepat aku tebas lidah ular tersebut dengan kedua pedangku secara bertubi-tubi sampai menjadi pendek, dan aku mendarat tepat di ujung kepala sang ular.
Segera aku memutar arah pegangan pedangku dan menancapkan keras ujung pedangku pada titik inti sari yang berkilau, dengan kuat aku memperdalam tusukkanku Sampai pangkal pedangku masuk semua, saat kurasa cukup dengan kuat pula aku menarik kembali pedangku, dengan bersamaan keluar menyemburnya darah dari kepala siluman ular tersebut yang mengenai sebagian tubuhku.
Aku masukkan satu pedang ke dalam sarungnya, kemudian aku berlari cepat di atas tubuh sang ular menuju ke ujung ekornya, dengan gerakkan cepat aku melompat dan menancapkan ujung pedangku sedalam mungkin pada titik inti sari yang berkilau, siluman ular tersebut tewas dan melebur menjadi debu tertiup angin
Tanpa membuang waktu aku berlari ke arah belakang Rapel yang terus berusaha menyemburkan api dari mulutnya pada Damian dan Leonard, Dengan gerakan cepat dari kedua pedangku aku memotong rambut-rambutnya yang terus memanjang dan melawan.
Saat aku mendapatkan celah dari Verdian yang membantuku, dengan cepat aku tusukkan kedua pedangku secara bergantian ke punggung Rapel yang tertutup oleh rambut panjangnya, dengan resiko kedua lenganku sakit akibat belitan dari rambut Rapel, tapi aku menahan rasa sakitnya dan menekan kedua pedangku lebih dalam lagi, dengan menahan rasa sakit yang luar biasa dan sisa tenaga yang aku punya aku terus menekan pedangku, sampai akhirnya aku rasakan belitan pada lenganku melemah yang menandakan Rapel tewas dan melebur menjadi debu tertiup angin sama seperti semua teman-temannya.
Aku berdiri dengan kedua pedang yang masih ku genggam dan nafas yang terengah-engah karena lelah dan menahan sakit di sekujur tubuhku, aku memerintahkan Dragon White dan Phoenix Gold untuk kembali masuk ke dalam pedang kembar keramat, setelah mereka masuk aku segera memasukkan kedua pedangku ke dalam sarungnya.
Perlahan pertahanan tubuhku luluh dan aku tidak kuat lagi menahan tubuhku yang benar-benar melemah, Dengan cepat Damian berlari menghampiri tubuhku yang ingin rebah, Damian dengan cepat memeluk tubuhku agar tidak jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Carissa…" panggil Damian yang sudah memeluk tubuhku.
"yang mulia tubuh hamba kotor." jawabku lemah di sela-sela mataku yang sudah tertutup.
"bertahan lah Carissa…!" ucap Damian yang langsung mengangkat tubuhku dan menggendong tubuhku ala bridal.
Di sisa kesadaran ku aku merasakan tubuhku yang di gendong oleh Damian di bawa berlari, samar aku mendengar panggilan Damian yang terus mengatakan, "bertahanlah Carissa…!!". Tubuh lemahku masih bisa merasakan kehangatan tubuh Damian dan hatiku menghangat akan perhatian Damian.
Aku merasa memiliki seseorang yang peduli akan diriku, dulu di saat aku terluka melakukan misi mafiaku, aku harus menolong dan mengobati diriku sendiri, karena tidak ada yang peduli sama sekali apalagi Jimmy Choo, walaupun aku mati Jimmy Choo tidak akan peduli padaku, tapi saat ini…!! di saat aku terluka dan merasa sendiri di Dunia Kedua ku, ada Damian yang selalu ada di saat aku lemah.
...----------------...
Carissa di bawa ke dalam kamar tamu terdekat yang ada di sana agar cepat mendapatkan pengobatan, Damian dengan perlahan membaringkan tubuh lemah Carissa yang sudah tidak sadarkan diri ke atas ranjang, dan memerintahkan segera tabib istana yang sudah siaga di area pertempuran untuk memeriksa kondisi Carissa.
Damian benar-benar cemas melihat kondisi Carissa yang mengenaskan, tubuhnya penuh luka dan sekujur tubuhnya penuh akan darah dirinya dan darah dari para iblis dan siluman yang dia bunuh, untuk pertama kalinya Damian melihat wanita sekuat dan setangguh Carissa berperang melawan iblis dan siluman dengan seluruh tenaganya, apalagi Carissa tidak menggunakan kekuatan magic sama sekali, hanya keahlian pedang dan beladirinya saja, Carissa bisa bertahan.
Damian melihat intens dan cemas pada wajah Carissa yang penuh akan noda darah.
"bertahanlah Carissa…" gumam pelan Damian.
Leonard dan Verdian yang bisa mendengar gumaman dari Damian, berdiri di samping dan juga melihat cemas pada Carissa, mereka benar-benar takjub melihat perjuangan Carissa melawan semua iblis dan siluman tanpa kata menyerah, dan tanpa kekuatan magic apapun yang dia miliki, hanya keahlian pedang dan beladirinya saja yang dia gunakan.
Mereka melihat cara Carissa berperang seperti sudah terbiasa Carissa melakukan adegan kekerasan seperti itu, mereka benar-benar kagum melihat seorang wanita seperti Carissa yang sangat kuat dan tangguh, apalagi Leonard yang merasa ketertarikannya pada Carissa bertambah kuat ingin memilikinya.
Tabib sudah selesai memeriksa dan mengobati seluruh luka Carissa, para pelayan pun di perintahkan membersihkan tubuh Carissa dan mengganti bajunya dengan baju yang lebih nyaman untuk Carissa pakai, agar Carissa bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.
Tabib mengatakan luka-luka Carissa belum boleh terkena air, apalagi luka di kedua lengannya akibat cambukkan rambut Rapel yang sangat parah, Carissa juga di anjurkan tidak banyak bergerak agar kain pembalut pada kedua lengannya, tidak banyak bergeser yang akan mengakibatkan luka kulitnya terkikis kain.
Damian, Leonard dan Verdian mengerti akan penjelasan tabib istana yang mereka dengar, di dalam hati mereka masing-masing berkata dan berjanji untuk merawat Carissa dengan baik dan penuh perhatian, terutama Damian yang merasa kalau Carissa adalah tanggung jawabnya sebagai calon suami dari Carissa Hubert.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.