
***Istana Kerajaan Holmes***
Peperangan melawan para iblis dan siluman yang datang ke istana Holmes, telah selesai dan di menangkan oleh pihak istana dengan bantuan Carissa Hubert sang Pengendali.
Berita tersebut dengan cepat tersebar di dalam istana sampai keluar Kerajaan Holmes, nama Carissa Hubert sang Pengendali yang berhasil memusnahkan para iblis dan siluman menjadi terkenal dan perbincangan terhangat di seluruh kerajaan Holmes, banyak yang percaya dan ada juga yang tidak percaya apalagi yang tidak menyukai Carissa Hubert.
Dua haripun telah berlalu, Carissa yang sudah sadar sehari setelah perperangan selesai masih dalam kondisi yang memprihatinkan, luka pada lengannya masih basah dan tidak boleh banyak di gerakkan, hingga untuk makan dan membersihkan diri saja harus di bantu oleh para pelayan yang di tugaskan oleh Damian.
Tetapi Carissa menolak semua pelayan tersebut, dia lebih nyaman di layani oleh Feyrin sang pelayan pribadinya, seperti saat ini Carissa merasa bosan hanya duduk dan rebahan di atas ranjang, dia memutuskan untuk keluar kamar dan duduk di bangku taman bunga yang ada di depan kamar yang dia tempati sekarang.
Carissa duduk sendiri dengan tatapan mata lurus ke depan melihat bunga mawar dan beberapa bunga lainnya, saat Carissa melihat bunga mawar dia teringat akan sosok Antoni Yuandara, yang selalu rajin memberikannya bunga mawar pada saat dirinya terluka dulu dan saat kebersamaan mereka.
Hati Carissa merasa rindu akan perhatian hangat Antoni yang selalu membuat dirinya memiliki seseorang yang peduli dan membuatnya nyaman, Carissa yang dulu menjadi Callysta sangat mencintai Antoni, pria pertama yang ada di dalam hatinya.
Perlahan air mata Carissa jatuh ke pipinya karena rindu akan pria yang sangat dia cintai, Carissa tidak tahu apakah dia bisa bertemu dengan Antoni kembali apa tidak? Carissa ingin pulang dan memeluk Antoni, terisak Carissa menahan tangisnya agar tidak pecah dan menahan rasa rindu yang sangat besar dan menyesakkan hatinya.
Tubuh Carissa bergetar karena menahan tangisnya yang terisak, rindu yang sangat besar pada Antoni sangat menyiksa hatinya, apalagi dia merasa sendiri di Dunia Kedua ini, dalam hati Carissa bertanya? mengapa baru saja dia bisa mencintai dan merasa nyaman akan kehadiran seseorang dalam hidupnya? dia harus kehilangan dan tidak akan pernah melihatnya lagi, dan merasakan cinta serta kasih sayangnya.
Tubuh Carissa masih bergetar dan terisak, kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan air matanya, sampai seseorang datang menghampirinya dan bertanya.
"kenapa menangis? apakah ada yang sakit…?" tanya suara pria yang suaranya sangat Carissa kenal.
Carissa tidak menjawab, dia hanya mengangkat kepalanya dan melihat pria yang ada di hadapannya, pria yang beberapa hari ini selalu perhatian padanya, pria pertama yang peduli dan mengerti dirinya di Dunia Kedua ini.
Tatapan mata sedih Carissa sangat menyayat hati Damian saat mata mereka bertemu, Damian melihat air mata Carissa dan isak tangis yang terdengar sangat sedih yang membuat Damian ikut merasakan sedih di dalam hatinya, Carissa terlihat sangat rapuh.
Damian duduk bersimpuh di hadapan Carissa dan menggenggam kedua telapak tangan Carissa yang ada di pangkuannya, Damian menggenggam lembut kedua tangan Carissa dan menyalurkan kehangatan pada Carissa.
Carissa bisa merasakan lembut dan hangatnya genggaman tangan Damian padanya, Carissa masih terisak karena tidak bisa menghentikan tangisan yang sangat menyesakkan dadanya.
"jangan menangis…!!" ucap Damian sembari memeluk Carissa dan membelai lembut punggung Carissa.
Carissa hanya diam dan masih terisak di dalam pelukkan Damian, Carissa merasakan pelukkan hangat Damian seperti pelukkan yang Antoni sering lakukan dan berikan, saat Carissa membutuhkan tempat untuk bersandar dari semua kesedihannya.
Seketika tangis Carissa yang di tahannya pun pecah karena merasakan kerinduan yang teramat sangat pada Antoni, Carissa menangis sejadi-jadinya agar dadanya merasa lega, pelukkan dan belaian lembut Damian membuat hangat hati Carissa dan rasa rindu pada Antoni perlahan terobati.
"menangislah sepuas yang kau mau…agar beban dan sakit yang kau rasakan berkurang." ungkap lembut Damian yang masih memeluk hangat dan membelai lembut punggung Carissa.
Carissa tidak membalas ataupun menjawab apa yang Damian katakan, dia hanya diam dan meresapi pelukkan hangat Damian yang sangat nyaman dia rasakan, Isak tangis Carissa berangsur-angsur berkurang, dan perlahan Carissa menarik tubuhnya lepas dari pelukkan Damian.
"terima kasih yang mulia, maaf pakaian anda menjadi kotor dan basah." ucap Carissa di sela-sela tangisnya yang mulai mereda.
"tidak apa-apa, apa kau sudah merasa baikan dan lega?" tanya Damian dengan tatapan dan nada suaranya yang lembut.
"sudah yang mulia, terima kasih." ucap Carissa malu-malu.
__ADS_1
Baru dia sadari dan meruntuki dirinya, karena bisa-bisanya dia menangis dan terlihat rapuh di hadapan Damian.
"sama-sama, aku senang kau mau membagi kesedihan mu padaku." ucap Damian masih dengan tatapan mata lembutnya, Damian perlahan menghapus air mata yang ada di kedua pipi Carissa dengan sapuan yang lembut.
Carissa hanya melihat Damian dengan tatapan lembutnya, di dalam hati Carissa bersyukur dan berterima kasih pada Damian, yang mau memeluk dan meminjamkan pundaknya untuk tempat Carissa bersandar dan menangis.
"apa aku boleh tahu…kenapa kau menangis dan merasa sedih?" tanya Damian karena Carissa hanya diam saja.
Carissa masih diam menatap mata Damian.
"kalau kau tidak ingin cerita juga tidak apa-apa." ucap Damian lagi karena Carissa hanya diam saja.
"maaf yang mulia…hamba hanya merasa rindu rumah di saat merasakan sakit seperti ini." balas Carissa berbohong karena tidak mungkin Carissa jujur mengatakan kalau dia rindu pada pria yang dia cintai.
Tetapi jawaban Carissa tidak sepenuhnya bohong, karena dia juga rindu untuk pulang kerumah atau apartemen yang bisa membuatnya nyaman, di kala dirinya sakit atau terluka di saat selesai melakukan misi mafianya, seperti saat ini dia terluka di saat selesai berperang.
"apa kau rindu pada kedua orang tuamu?" tanya Damian yang masih duduk bersimpuh di hadapannya, dengan kedua tangan Damian bertumpu mengapit tubuh Carissa pada bangku yang Carissa duduki.
'rindu pada kedua orang tuaku?' gumam Carissa yang aneh mendengar kata-kata kedua orang tua.
"iya yang mulia." balas Carissa sembari menganggukkan kepalanya.
Carissa hanya mengikuti alurnya saja walaupun dia belum terbiasa akan kehidupan dari Carissa yang asli.
"apa kau ingin bertemu mereka? aku bisa mengutus seseorang untuk menjemput mereka." ucap Damian terseyum ramah padanya.
"kenapa…?" tanya heran Damian.
"hamba tidak mau membuat mereka khawatir akan kondisi hamba saat ini, karena mereka pasti akan sangat terkejut dan sedih melihat kondisi tubuh hamba yang penuh luka seperti ini." ungkap Carissa sembari mengangkat kedua lengannya yang penuh terbalut kain putih.
Damian masih melihat heran akan penolakan Carissa yang tidak ingin kedua orang tuanya datang melihatnya.
"hamba mohon yang mulia." ucap Carissa memohon.
"aaahhhh…" Carissa meringis saat berusaha mencakupkan kedua tangannya ingin memohon, tetapi tidak bisa karena terhalang oleh kain yang membuat kaku kedua lengannya.
"jangan di paksakan, ingat kata tabib lenganmu tidak boleh banyak bergerak." balas Damian yang membantu Carissa meluruskan kembali kedua lengannya.
Carissa hanya diam dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Damian.
"hamba mohon yang mulia…jangan biarkan orang tua hamba datang ke sini." ucap Carissa masih memohon dengan wajah memelasnya, yang terlihat menggemaskan di mata Damian.
"baiklah…baik, aku tidak akan memberitahukan kepada kedua orang tua mu dan menyuruh mereka datang." balas Damian terseyum melihat wajah memelas Carissa, yang membuat Damian repleks mencubit lembut hidung Carissa karena gemas melihat mimik wajah memelas Carissa.
Carissa hanya diam Damian mencubit hidungnya lembut, dia merasa Damian sangat ramah dan dekat dengannya
__ADS_1
"yang mulia…duduklah di atas, jangan seperti ini, hamba merasa tidak sopan." ucap Carissa kikuk karena baru menyadari posisi mereka.
"kenapa…? aku nyaman seperti ini, aku bisa melihat wajahmu dengan jelas." balasnya dengan senyum manisnya.
"tapi yang mulia… hamba terlihat tidak sopan pada anda."
"kau merasa tidak sopan atau kau yang merasa tidak nyaman?" tanya Damian dengan tatapan mesranya melihat Carissa, sembari mendekatkan tubuh dan lengannya untuk mengunci pergerakan posisi dari Carissa.
Carissa terkejut akan pergerakan Damian yang mengunci posisi duduknya dan posisi mereka yang terlalu dekat.
"yang mulia…jangan begini…?apa yang anda lakukan…?" ucap Carissa kikuk.
"kenapa…?apa yang aku lakukan…?aku tidak melakukan apapun?"
"tapi yang mulia, hamba tidak bisa bergerak."
"kau memang tidak boleh banyak bergerak, jadi aku hanya membantumu saja."
"tapi yang mulia, anda terlalu dekat dan hamba merasa terhimpit." ucap Carissa yang mulai benar-benar tidak nyaman akan kedekatan tubuh mereka.
"terhimpit bagaimana?" tanya Damian yang sengaja menoleh kiri kanan dan mendekatkan posisi wajah mereka.
Repleks Carissa menjauhkan mundur wajahnya, karena kalau tidak wajah mereka pasti akan dekat dan bersentuhan, sedangkan Damian tidak suka dan kecewa karena Carissa menjauhkan wajahnya.
"yang mulia…menjauhlah sedikit…pinggang dan punggung hamba sakit dengan posisi ini." ucap Carissa tertahan karena menahan posisi tubuhnya yang miring ke belakang.
"luruskan posisi punggungmu, supaya tidak sakit." senyum Damian menggoda Carissa, yang membuat Carissa mengerutkan keningnya melihat heran Damian.
"kalau di luruskan, wajah kita akan bersentuhan yang mulia."
"memangnya kenapa kalau wajah kita bersentuhan?" tanya Damian masih dengan senyum menggodanya.
Carissa masih diam dan menahan tubuhnya yang miring ke belakang.
"tidak ada masalah bagiku kalau wajah kita bersentuhan, karena tadi kita juga sudah berpelukan." ungkap gamblang Damian yang membuat Carissa terkejut dan malu bukan main.
Carissa malu mendengar Damian menyebutkan kata-kata keintiman yang tadi terjadi pada mereka, saat Damian memeluk tubuh rapuh Carissa yang sedang menangis sedih, wajah Carissa terasa panas dan memerah akan rasa malu yang dia rasakan mendengar kata-kata intim Damian.
wajah Carissa benar-benar memerah karena malu, yang membuat Damian tersenyum senang karena Carissa ternyata mengingat jelas saat mereka tadi berpelukan, dan Damian menyukai wajah merah Carissa yang merasa malu, membuatnya semakin suka menggoda Carissa, terlihat cantik dan menggemaskan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya..