DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
35. Melawan Magic Pangeran kedua.


__ADS_3

***Area Latihan Istana***


Carissa dan Leonard masih saling menatap dengan mimik wajah yang sama-sama datar dan dingin, mereka masih dengan perasaan hati dan pikiran mereka masing-masing.


"baiklah yang mulia…tapi apakah bisa hamba menulis hadiah hamba pada secarik kertas, agar hanya yang mulia yang membacanya?!" ungkap Carissa pelan dan ragu, dia takut kalau cara permintaan nya kali di tolak juga.


"tentu, pengawal beri nona Carissa pena dan kertas." jawab Leonard dan perintahnya langsung pada pengawal istana.


Pengawal istana dengan cepat memberikan kertas dan pena tersebut pada Carissa, Carissa nampak ragu untuk menulis apa yang dia inginkan yang mungkin saja tidak akan di setujui oleh sang putra mahkota, karena keinginannya mungkin akan membuat putra mahkota sangat marah padanya, Carissa tidak tahu sama sekali bagaimana sifat sang putra mahkota.


Tetapi apapun jawabannya, Carissa harus mencobanya dari pada tidak sama sekali, Carissa pun menulis sesuatu di secarik kertas, lalu melipat kertas tersebut, Carissa nampak ragu untuk menyerahkan nya pada putra mahkota, dia masih memandang kertas yang ada di tangannya


Perlahan Carissa menyerahkan kertas yang sudah di lipat, lalu berkata.


"ini yang mulia, dan hamba berharap yang mulia mau membacanya di saat hamba sudah pergi dari hadapan yang mulia." ungkap Carissa yang membuat putra mahkota mengerutkan keningnya melihat Carissa.


"baiklah…dan sekarang kau boleh memiliki salah satu dari senjata yang aku janjikan, silahkan ambil yang kau inginkan." balas Leonard seraya melihat Carissa dan senjata api yang ada di atas nampan secara bergantian.


Tanpa banyak berpikir Carissa langsung mengambil Desert Eagle sebagai hadiahnya, karena senjata paling gampang di bawa dan di sembunyikan di mana saja, dan Carissa berpikir dia akan memerlukannya suatu hari nanti.


"terima kasih yang mulia, hamba akan memilih hadiah senjata api yang ini." balas Carissa seraya menunjukkan Desert Eagle yang dia genggam di tangannya.


Leonard hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab.


"apa hamba sudah boleh undur diri yang mulia?"


"silahkan…tapi tunggu…apa kau tidak ingin mendapatkan hadiah dari pengeran kedua juga?" tanya Leonard seraya melihat ke arah pengeran kedua yang berdiri di sampingnya.


Carissa melihat ke arah pengeran kedua yang melihatnya juga.


"apa pangeran juga mau mengetes hamba juga, sama seperti yang di lakukan oleh pangeran ketiga dan yang mulia putra mahkota?" ungkapnya melihat ke arah pangeran kedua.


"aku ingin juga latih tanding denganmu, tetapi aku lihat tubuhmu sangat kelelahan, mungkin lain kali saja, sayang kau tidak mendapatkan hadiah dari ku." ungkap Damian dengan sengaja karena ingin melihat reaksi dari Carissa.


Damian ingin sekali melihat ke ahlian Carissa yang lainnya, tetapi dia tidak tahu harus berlatih tanding apa? karena memanah, bela diri, berpedang, dan menembak sudah di lakukan oleh Carissa, apa ada kemampuan Carissa yang lainnya lagi?


"apa yang pangeran ingin hamba lakukan, dan apa hadiah yang bisa hamba dapatkan?" tanya langsung Carissa ingin tahu, bila menguntungkannya dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"aku tidak tahu apa lagi kemampuanmu? dan untuk hadiah kau bisa meminta apa saja padaku?" ungkapnya mencoba peruntungan apakah Carissa tertarik berlatih tanding dengannya.


"kalau tidak di sebutkan? hamba juga tidak tahu, tetapi hanya satu yang hamba tidak bisa?" ucapnya menggantung melihat pada pangeran kedua.


"apa itu?"


"magic…hamba sama sekali tidak bisa atau tidak memiliki kekuatan magic sama sekali." balasnya apa adanya.

__ADS_1


"apakah benar kau tidak berbohong?" jangan-jangan kau hanya merendah diri?"


"hamba jujur yang mulia, kalau tidak percaya coba saja."


"baik lah aku ingin membuktikan apakah benar-benar kau tidak memiliki kekuatan magic sama sekali."


"silahkan yang mulia, hamba akan coba melawan magic anda." ungkapnya langsung berbalik badan dan melangkah ke tengah-tengah lapangan berlatih.


Carissa ingin tahu bagaimana kekuatan magic itu? Carissa ingin membuktikan ucapan Feyrin tentang setiap orang di zaman ini di lahirkan dengan satu magic dasar yaitu magic penggerak.


Pangeran kedua yang melihat Carissa berjalan ke tengah-tengah lapangan, yang artinya Carissa menerima tantangan darinya pun ikut untuk menyusul Carissa ke tengah lapangan.


"apa kau yakin tidak memiliki magic apapun? dan mau melawanku?" tanya pangeran kedua meyakinkan Carissa.


"tentu yang mulia, hamba benar-benar tidak memiliki kekuatan magic apapun, dan hamba akan mencoba melawan, karena hamba juga ingin tahu kekuatan magic itu seperti apa?"


"baiklah…kalau itu yang kau mau, aku akan menggunakan kekuatan magic dasar, magic avigator."


"silahkan yang mulia."


"kau boleh menggunakan pedang kayu untuk melawanku."


"baik yang mulia." ungkap Carissa yang berjalan mendekati tempat di mana pedang kayu dan peralatan senjata untuk latihan.


Saat dia ingin mengambil pedang kayu dia melihat ada senjata nanchaku atau Double Stick, senjata yang biasa di pakai oleh pemain film Bruce Lee, dulu dia pernah sedikit berlatih senjata tersebut, dan dia ingin menggunakan senjata tersebut untuk membela dan melindungi dirinya saat ini.


"baiklah…apa kau sudah siap?"


"tentu yang mulia…"


Pangeran kedua mengangkat telapak tangannya mengarah ke arah Carissa, dengan cepat dia mengambil alih pedang kayu yang Carissa pegang langsung terbang berpindah ke tangan Damian, Carissa terbelalak kaget karena dia tidak melihat aba-aba magic dari pangeran kedua, terlihat pangeran kedua tersenyum tipis melihat Carissa terkejut.


Tanpa aba-aba lagi Damian mengarahkan pedang kayunya ke arah Carissa, Carissa berjalan mundur untuk menghindar seraya mengambil nanchaku dari ikat pinggang sampingnya, begitu dia siap dengan nanchakunya Carissa diam dan menunggu pergerakan Padang kayu tersebut.


Pedang kayunya meluncur cepat ke arahnya, dengan sigap Carissa menangkis pedang kayu tersebut dengan mengayunkan nanchaku nya, tetapi pedang kayu itu terus menyerangnya dengan pergerakan kekuatan magic dari Damian.


Carissa mencoba melawan dengan menendang dan terus menangkis pedang kayu tersebut, tetapi lagi-lagi Damian dari jarak yang cukup jauh mengendalikan pedang kayu nya seperti main game action.


Carissa terus berpikir bagaimana cara melumpuhkan pedang kayu terbang itu, satu cara yang ingin dia coba yaitu dia harus menyerang dari dekat Damian si pengendali pedang kayu terbang tersebut.


Carissa mencoba berlari mendekati Damian dengan di kejar oleh pedang kayu di belakangnya, Carissa harus mencoba sesuatu yang ekstrim sedikit untuk melihat apa yang akan di lakukan oleh Damian.


Dengan cepat Carissa mengambil pisau lipat dari saku celananya yang dia dapatkan di laci meja riasnya, saat sudah mendekat beberapa langkah dengan Damian, Carissa melempar pisau tersebut dengan cepat dan dengan cepat pula Damian menahan pisau lipat yang sudah mengarah padanya, dengan gerakkan cepat Carissa menendang perut Damian seraya mengambil pisau lipatnya yang masih mengambang di udara.


Damian yang terkejut dengan lemparan pisau lipat dari Carissa, hanya fokus untuk menghentikan pisau lipatnya, dan dia tidak membaca gerakan dari Carissa padanya, Damian tersungkur ke belakang akibat tendangan keras dari Carissa, Carissa dengan cepat merebahkan tubuhnya di atas tubuh Damian untuk menahan tubuh Damian agar tidak bergerak, dan mengarahkan pisau lipatnya ke arah leher Damian.

__ADS_1


Tatapan mereka bertemu karena posisi wajah mereka sangat dekat, tangan Carissa yang memegang pisau di tahan oleh tangan Damian agar pisaunya tidak mendekati leher Damian, Carissa dengan mimik wajah dinginnya terus menekan tangan Damian yang menahan tangannya, Carissa terus mengarahkan ujung pisau ke leher Damian.


"apa kau ingin membunuhku dengan pisau ini?" tanya Damian di sela-sela menahan tekanan kuat tangan Carissa.


"bila anda tidak menghindar dan melawan hamba atau menyerah, hamba akan tetap seperti ini."


Damian terlihat tersenyum tipis mendengar ucapan Carissa, dengan gerakan cepat Damian melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Carissa dan membalik posisi badan mereka, kini tubuh Carissa yang ada di bawah tubuh Damian dengan masih posisi ujung pisau mengarah pada Damian.


Tubuh Carissa yang tidak terkunci karena posisi Damian menekuk kedua lututnya di antara tubuh Carissa, dengan mudah kaki kanan Carissa mengayun keras ke arah punggung Damian, Damian yang merasakan sakit di punggungnya langsung merenggangkan pegangan tangannya pada tangan Carissa, dengan cepat dan kuat Carissa mendorong tubuh Damian agar menyingkir dari atas tubuhnya.


Carissa segera berdiri dengan pisau masih di tangannya dan hanya melihat Damian yang mulai bangkit, Damian mengarahkan telapak tangannya ke arah Carissa.


Carissa mulai waspada, tetapi malah tubuhnya yang bergerak sendiri mendekat ke arah Damian, Carissa berusaha menahan tubuhnya dan berpikir cepat apa yang harus dia lakukan?


Carissa tanpa berpikir panjang melepaskan tubuhnya agar mendekat pada Damian dengan cepat dan kuat Carissa mengangkat tubuhnya agar kedua kakinya dapat menendang tubuh Damian, dan itu berhasil dengan resiko tubuh Carissa juga terjatuh di atas tanah.


Tubuh mereka berdua sama-sama tergeletak di atas tanah, Carissa menahan sakit tubuhnya yang terjatuh cukup keras, sedangkan Damian menahan sakit pada dadanya yang terkena tendangan kedua kaki Carissa, mereka berusaha bangkit dan berdiri, terlihat keduanya terengah-engah dan meringis kesakitan.


"apa kau masih kuat?" tanya Damian yang terlihat khawatir melihat tubuh Carissa jatuh terhempas cukup keras.


"apa hamba ada pilihan yang mulia?" tanya balik Carissa dengan napas tersengal-sengal dan meringis menahan sakit di tubuhnya.


Rasa sakit saat perkelahian sudah cukup lama tidak di rasakan oleh Carissa, karena dulu saat menjadi anggota mafia Callysta atau Carissa sering harus membela diri dengan cara adu jotos dengan musuhnya, bila saat perang mereka kehabisan peluru, saling adu jotos dan bela diri sering mereka lakukan untuk mempertahankan diri masing-masing.


"apa kau sangat berharap mendapatkan hadiah dariku?" tanya Damian dengan wajah seriusnya karena mendengar pertanyaan dari Carissa.


"sangat…siapa yang tidak ingin mendapatkan hadiah?" balas Carissa dengan mimik wajah dinginnya melihat Damian.


"apa kau akan sanggup melawan kekuatan magicku hanya dengan cara kekuatan fisikmu?"


"setidaknya, hamba bisa menghindar dari serangan anda beberapa kali."


"kau memang cepat tanggap dan berpikir cepat untuk mematahkan serangan magicku."


"kalau ini pertarungan yang sesungguhnya, pasti hamba sudah mati sia-sia."


Damian terlihat menatap tajam pada Carissa karena tidak suka mendengar kata-kata mati dari Carissa, sedangkan Carissa masih menatap dingin Damian dengan kewaspadaan tingkat tinggi atas serangan yang akan di lakukan Damian selanjutnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2