
***Kerajaan Darkness World***
Kesepakatan telah di tetapkan. Callysta yang memiliki jiwa Carissa di dampingi oleh Oceana, Tristan, dan Saira. Mereka memiliki misi untuk mendekati pangeran Naranja Oscuro.
Sedangkan Carissa yang memiliki jiwa Callysta, tengah bersiap bersama beberapa pasukan kesatria yang akan selalu siaga melindungi dan menjaganya.
Carissa Sang Pengendali melangkah lebih dulu menuju ke arah area pertarungan, sedangkan Callysta ada di barisan belakang bersama tiga kesatria yang di tugaskan untuk menjaganya.
Penampilan Callysta menggunakan pakaian wanita dengan celana ketat hitam yang membungkus indah kaki jenjangnya, yang terbalut bawahan kain panjang yang memiliki belahan tinggi hingga ke atas pinggangnya. Baju hem ketat berwarna putih tulang di lengkapi jubah panjang berwarna abu silver, semakin menambah kesan anggunnya.
Callysta tengah menutupi bagian mulut di wajahnya menggunakan masker wajah berwarna coklat senada dengan warna matanya yang coklat terang. Callysta tampil anggun sekaligus misterius dengan penampilannya saat ini. Callysta menutupi wajahnya yang sangat mirip dengan wajah Sang Pengendali, agar semua yang melihat tidak merasa heran ataupun terkejut akan hal tersebut.
Mereka melangkah beriringan memasuki area pertarungan. Semua orang yang hadir di area itu, memiliki tempatnya masing-masing.
Begitu juga Carissa dan semua pengikutnya. Callysta duduk tepat di belakang Carissa. Tatapan matanya melihat ke arah punggung Leonard yang duduk tepat di samping Carissa.
'Sejak dulu kau tidak pernah suka, peduli ataupun melihat ke arah ku. Mengapa…?' Gumam Callysta di dalam hatinya.
Gumaman yang dapat di dengar oleh Carissa Sang Pengendali yang ada di depannya. Carissa tahu arah perkataan Callysta saat ini.
'Apakah jika aku memiliki kemampuan seperti Sang Pengendali, kau akan melihat ke arahku?' Gumam Callysta kembali. Dia benar-benar sedih dan kecewa akan sosok Leonard yang tidak pernah melihat kehadirannya.
'Semua ini adalah bukti, seperti inilah takdirku. Dulu maupun sekarang, di manapun aku berada, takdirku tidak ada bersamamu. Apakah sekarang aku harus mulai belajar melupakanmu? dan tidak lagi mengharapkan mu untuk aku miliki. Sepertinya itu akan lebih baik untuk hatiku saat ini.' Gumamnya.
Carissa yang berada di dalam tubuh Callysta bertekad untuk belajar melupakan dan tidak mengharapkan Leonard lagi. Terlalu sakit di hatinya terus berharap kepada laki-laki yang tidak pernah melihat ke arahnya. Sedangkan Callysta yang ada di tubuh Carissa hanya diam saja mendengarkan semua curahan hati yang tadi ia dengarkan.
Mereka berdua akan berada pada takdir yang sudah di tentukan. Tidak melawan takdir yang sudah berjalan, dan berusaha menerima semuanya adalah jalan yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa saat kemudian, tanpa mereka sadari. Tiba-tiba saja kehadiran beberapa orang datang dengan begitu cepat ke tempat mereka berada.
Semua pasukan kesatria Sang Pengendali sontak bersiaga akan kedatangan beberapa orang ke tempat mereka. Kedatangan mereka tidak di harapkan dan tidak ada di perkiraan mereka semua.
Kaisar Hayden, Permaisuri Princella, Raja Azura dan Satu pria lain yang baru pertama kali mereka lihat. Namun pria itu memiliki aura yang sangat kuat di antara mereka yang hadir di sana.
"Salam kami yang mulia Kaisar dan permaisuri." Salam mereka tetap bersikap hormat kepada pemimpin kerajaan tersebut.
Namun mereka yang hadir tidak sama sekali peduli akan salam dan sikap hormat yang di lontarkan. Pandangan mata mereka tertuju pada satu orang, yaitu Callysta Angelina yang tetap duduk tenang pada tempatnya.
Walaupun dia sedikit takut akan aura ke empat orang yang hadir. Dia berusaha untuk terlihat tenang, dalam pikiran gadis itu tertanam untuk tidak akan takut lagi pada siapapun di dunia ini, karena apa yang akan terjadi pasti akan terjadi mengikuti garis takdir yang sudah di tentukan. Dia harus tetap tenang untuk menghadapi semua masalah yang datang mulai sekarang.
"Benar. Aura ini datang darinya…" Ungkap pria yang terlihat memiliki usia sekitar 40 tahunan dengan paras wajah yang cukup tampan dan tegas. Pakaian yang ia gunakan cukup mencerminkan seorang pemimpin. Rambut panjang hitamnya begitu gelap dan tergerai begitu saja. Matanya yang berwarna merah kehitaman terlihat tajam seperti tatapan mata burung elang.
"Ada apa yang mulia?" Tanya Wakiza masih terlihat tenang melihat ke arah Kaisar Hayden Pris.
"Kami merasakan aura Darah Kehidupan di tempat ini. Tubuh dan jiwa kami datang dengan sendirinya karena aura itu." Jawab jujur Hayden. Tatapan matanya terus mengarah kepada Callysta yang mulai bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Dia mengerti maksud kedatangan mereka, aura di dalam tubuhnya yang menarik kuat mereka untuk datang dengan sendirinya.
Callysta kini mengerti aura Darah Kehidupan yang dia miliki, seperti daya tarik yang sangat kuat bagi mereka yang dapat merasakannya. Semakin kuat kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki, semakin kuat mereka dapat merasakan aura Darah Kehidupan. Semakin kuat tubuh dan jiwa mereka untuk datang mendekat.
Bagaikan Lebah yang mencium manisnya madu. Seperti itulah mereka saat merasakan aura kuat yang Callysta miliki sekarang.
Permaisuri melangkah lebih dulu mendekati Callysta yang telah berdiri. Wanita cantik itu segera memberikan salam dan sikap hormatnya kepada Callysta. Cukup membuat semua yang melihat tercengang dan terkejut akan sikap seorang permaisuri kerajaan terhadap seseorang.
"Salam hormat hamba, putri Titisan." Salam permaisuri dengan sikap hormat anggunnya di hadapan Callysta.
"Salam hormat hamba, putri Titisan." Kini giliran Raja Azura yang memberikan salam dan sikap hormatnya di hadapan Callysta.
'Putri Titisan.' Gumam semua orang mendengarkan ucapan dua orang yang cukup memiliki kuasa di tempat itu.
Callysta terlihat diam dan tenang, walaupun dia bingung akan sikap dua orang yang terlihat jelas memiliki sebuah kuasa di wilayah itu.
"Siapa kalian?" Tanya Callysta terlontar begitu saja.
"Hamba Princella Odella, putri." Balas Permaisuri dengan sikap sopannya.
"Hamba Azura Rayman, putri." Balas Azura dengan sopan.
Callysta melihat keduanya secara bergantian, kemudian pandangan matanya melihat ke arah Carissa yang juga melihat ke arahnya.
Carissa hanya mengedipkan matanya sejenak, isyarat untuk Callysta melakukan apapun yang ingin ia lakukan.
"Tubuh dan jiwa hamba datang dengan sendirinya. Putri yang telah menarik hamba untuk datang ke tempat ini." Balas Azura mewakili mereka yang telah datang.
"Begitu juga hamba, putri. Tubuh dan jiwa hamba datang dengan sendirinya begitu merasakan aura Darah Kehidupan anda, putri Titisan." Balas Permaisuri dengan senyuman di wajahnya.
Dia bahagia dapat merasakan aura yang berasal dari khayangan dunia langit yang sudah lama tidak ia rasakan. Kini aura suci itu dapat ia rasakan dari dalam tubuh gadis yang tengah menutupi sebagian wajahnya.
"Bahkan penampilan anda tetap sama, begitu penuh akan warna yang mewakili semua dunia yang ada." Ucap Azura dengan senyuman di wajahnya.
Azura senang melihat penampilan Callysta yang memakai pakaian dengan nuansa warna hitam dan abu yang di miliki oleh Kerajaannya. Kerajaan Lembah Abu Hitam.
"Apa maksud mu?" Tanya Callysta tidak mengerti.
Mata coklatnya yang terang begitu berkilau saat menatap seseorang yang ada di hadapannya. Tanpa di sadari oleh mereka yang hadir, Callysta dapat melihat siapa sebenarnya mereka yang datang.
Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata merah kehitaman yang begitu tajam. Pria itu adalah Kaisar kegelapan. Kaisar Yuma Gruffin.
Callysta melangkah perlahan melewati permaisuri dan Raja Azura. Tatapan matanya intens ke arah Kaisar Yuma Gruffin yang berdiri menantang melihat ke arahnya.
Callysta menyentuh rambut panjangnya yang setengah tergerai. Mencabut tiga helai rambut panjangnya yang hitam, lalu menyerahkannya ke hadapan Kaisar Yuma Gruffin.
__ADS_1
"Ini akan membuktikan semua rasa penasaran mu selama ini, Kaisar Yuma Gruffin. wahai Dewa Neraka…!" Sebut Callysta sembari menyerahkan tiga helai rambutnya ke hadapan Kaisar Yuma.
Pria itu melihat ke arah mata coklat Callysta, kemudian beralih melihat ke arah tiga helai rambut yang ada di atas telapak tangan Callysta. Rambut hitam yang perlahan berubah menjadi putih silver yang terlihat berkilau.
Callysta tidak lagi fokus melihat ke arah Kaisar Yuma. Gadis itu mencabut tiga helai lagi rambutnya dan di serahkan ke arah Kaisar Hayden Pris. Pria itu segera mengambil rambut yang di serahkan oleh Callysta tanpa banyak bicara.
Sedangkan Kaisar Yuma Gruffin terlihat ragu meraih rambut silver tersebut. Begitu kedua pria itu menggenggam tiga helai rambut silver milik Callysta, begitu juga terlihat cahaya pada mata Callysta perlahan berubah menjadi silver kebiruan. Cahaya tubuhnya perlahan terlihat.
"Takdir yang sudah di tentukan, pasti akan terjadi. Sekuat apapun kau melawannya, tidak akan bisa kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Lepaskan semua beban dan kembalikan semuanya seperti sedia kala, hidupmu akan kembali dengan kedamaian." Ucap Callysta terlontar begitu saja tanpa dapat ia cegah.
Tubuh dan pikirannya seolah di kendalikan oleh seseorang di dalam tubuhnya.
"Dewa Neraka, kau terlahir oleh takdir penjaga alam bawah dasar Neraka. Menginginkan semua yang bukan hak dan kewajibanmu adalah kesalahan dan itu tidak akan mungkin terwujud seperti keinginan mu." Ucap Callysta menunjuk ke arah Kaisar Yuma.
"Lancang kau…!" Kaisar Yuma mulai murka oleh ucapan Callysta.
"Semua kesalahan yang telah kau perbuat akan memusnahkan dirimu sendiri." Ungkap Callysta dengan nada yang begitu tenang dan bergema.
Menambah emosi Kaisar Yuma semakin meningkat.
"Siapa kau berani mengancamku." Ucap keras Kaisar Yuma sembari melangkah mendekati Callysta dan menyerang gadis itu dengan beberapa gerakkan ilmu bela dirinya.
Callysta hanya dapat menghindar dan menangkis semua gerakkan sang Kaisar dengan gerakkan yang terlihat tenang, anggun dan terkendali.
Beberapa tinju dan tendangan yang Kaisar arahkan dapat Callysta hindari. Dengan beberapa kali memutarkan tubuhnya, menghindari serangan ke arah samping dan terbang ke atas kepala sang Kaisar, Callysta kini berada di belakang pria itu.
Semua yang ada di sana hanya diam tanpa dapat bergerak dan hanya bisa melihat pertarungan tersebut. Mereka berdiri pada tempat mereka masing-masing seolah terpaku oleh sesuatu hingga tidak dapat bergerak untuk membantu Callysta.
"Kau akan mati di tanganku sekarang juga." Ucap lantang Kaisar Yuma.
Pria itu memutar kedua tangannya membentuk lingkaran, beberapa detik kemudian beberapa jarum berbentuk bulu sayap hitam terbang ke arah Callysta.
Carissa yang melihatnya cukup terkejut dan ingin membantu Callysta, tetapi sayang tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali.
'Ada apa ini, tubuhku tidak dapat bergerak sama sekali.' Gumam Carissa merasa aneh pada tubuhnya yang diam mematung di tempatnya.
Carissa takut terjadi sesuatu pada Callysta. Dia tahu jarum jarum sayap itu sangat beracun, dan racunnya tidak akan mudah untuk di sembuhkan.
Apa yang akan terjadi pada Callysta, jika satupun dari mereka tidak dapat bergerak sama sekali untuk membantunya?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.