
***Kerajaan Darkness World***
Malam yang indah kini tengah di lewati oleh sang kaisar dan permaisurinya. Walaupun hanya tidur bersama dan berpelukan, tanpa melakukan hal lebih dari itu. Kaisar Hayden sudah puas dan bahagia akan penerimaan permaisuri akan niat kedatangannya.
Keduanya tidur sembari memeluk tubuh mereka untuk menghangatkan suasana malam yang terasa dingin. Hingga menanti pagi menjelang, tanpa ingin malam itu cepat berlalu, itulah pikiran sang kaisar kerajaan Darkness World.
...--------------------------------...
Di lain tempat, dua orang gadis yang sedang menyamar dengan menggunakan pakaian pria. Kini sedang berdiri di atas atap sebuah rumah di tengah-tengah pemukiman kerajaaan Darkness World. Beberapa saat yang lalu sebelum mereka tertidur, mereka berdua mendapatkan sebuah kilatan sebuah penglihatan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Dua gadis itu adalah Shopie dan Carissa. Sebelum keduanya keluar istana, mereka telah melakukan telepati untuk memberitahukan penglihatan yang mereka dapatkan.
"Apa yang kamu lihat, sama seperti yang aku lihat Carissa?" Tanya Shopie melihat ke arah Carissa yang ada di sampingnya.
"Iya. Pemukiman ini sedikit aneh. Ada kekuatan yang tersembunyi, dan aku melihat ada seorang wanita yang akan melahirkan seorang bayi. Aku melihat kita berdua ada di hadapan wanita itu." Balas Carissa menjelaskan apa yang ia lihat beberapa saat yang lalu.
"Kamu benar Carissa, pemukiman ini memiliki kekuatan yang tersembunyi. Dan wanita itu sebenarnya siapa?" Tanya Shopie membenarkan apa yang mereka lihat.
"Tolong…tolong…siapa saja tolong kami…!!" Sebuah suara entah dari mana dapat mereka dengar dengan jelas.
Carissa dan Shopie saling memandang, lalu mereka berusaha mencari sumber suara. Namun, hanya sepinya malam yang ada di hadapan mereka. Satupun manusia tidak ada di area pemukiman itu, lalu dari mana suara itu berasal?
"Tolong kami…siapa saja yang mendengar suaraku ini, aku mohon datang dan tolonglah kami. Tolong ibu dan adikku…" Kembali mereka mendengar suara seorang anak meminta bantuan.
"Apa kamu mendengarnya, Carissa?" Tanya Shopie masih melihat ke sekitar dan menajamkan pendengarannya.
"Iya, tapi di mana anak itu?" Balas Carissa mendengar juga apa yang di dengarkan oleh Shopie.
"Aku rasa ini sebuah suara hati seorang anak." Ucap Shopie mencurigai sesuatu.
Carissa mengerutkan keningnya melihat ke arah Shopie, ucapan Shopie mungkin saja benar.
"Lalu bagaimana kita bisa datang padanya?" Tanya Carissa.
Shopie menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.
"Apakah kau bisa merasakan aura jahat di sekitar kita?" Tanya Shopie.
Carissa tahu harus berbuat apa? Dia berusaha mengaktifkan kekuatan cincin pengikat. Berusaha mencari dan merasakan apakah ada aura jahat di sekitar tempat itu. Namun tidak ada aura jahat apapun di sekitar pemukiman itu.
"Tidak ada." Balas Carissa yakin bahwa tidak ada aura jahat di sekitar tempat itu.
"Apakah kau tidak bisa memakai cincin pengikat untuk mencari keberadaan anak itu?" Tanya Shopie.
"Aku tidak yakin." Balas Carissa ragu. Shopie melihat intens ke arah Carissa.
"Coba kita gabungkan kekuatan kita, mungkin saja kita bisa cepat menemukan anak itu dan tahu apa yang terjadi?" Usul Shopie, ada keyakinan itu di hatinya saat ini.
Carissa mengangguk setuju, merekapun saling bergandengan tanggan. Kedua gadis itu mengerahkan kekuatan mereka untuk mencari panggilan dan keberadaan anak yang tadi meminta bantuan. Shopie menggunakan kekuatan mata hatinya, dan Carissa memakai kekuatan cincin pengikat.
__ADS_1
Begitu mereka dapat melihat dan merasakan aura keberadaan anak itu. Tubuh mereka menghilang dan segera muncul di dalam sebuah gubuk tanah yang sudah reot, dan kapan saja bisa roboh.
Kedua gadis yang sedang menyamar menggunakan pakaian pria, kini berada di hadapan seorang anak kecil yang tengah duduk bersujud dan berdoa tepat di hadapan mereka. Sedangkan di belakang anak itu seorang ibu hamil sedang kesakitan dan tidur di sebuah ranjang bambu hanya beralaskan sebuah kain yang sudah usang serta robek.
Anak yang sedang bersujud di hadapan mereka, menatap polos mereka berdua. Mata polos anak itu sangat jernih, warna mata hijau kecoklatan matanya begitu indah dan menenangkan.
"Kalian datang karena mendengar semua doaku?" Tanya anak itu melihat Shopie dan Carissa yang berdiri di hadapannya.
Carissa dan Shopie memakai pakaian serba hitam dengan menutupi wajah mereka dengan sebuah kain hitam.
"Apa benar kau yang berdoa?" Tanya Shopie tidak percaya. Anak itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa? Bagaimana caramu melakukan itu?" Tanya Shopie kembali.
Anak itu tahu, jika Shopie dan Carissa tidak percaya padanya. Anak itu menatap lekat keduanya, lalu terdengar sebuah suara yang tadi mereka dengar.
"Aku yang berdoa dan meminta bantuan dari siapa saja yang mendengar suara hatiku ini." Ucap anak itu tanpa menggerakkan sedikitpun bibirnya yang tertutup rapat.
Carissa dan Shopie dapat melihat dan mendengar jelas apa yang sedang di buktikan oleh anak di hadapan mereka.
"Jadi kau bisa menggunakan telepati atau suara hati pada seseorang?" Tanya Shopie menggunakan suara hatinya yang juga dapat di dengar oleh Carissa.
"Iya." Jawab dan angguk anak itu tanpa menggerakkan bibirnya sama sekali.
Shopie dan Carissa kini saling memandang tidak percaya, seorang anak kecil berumur 7 tahun bisa menggunakan kekuatan telepati atau suara hatinya kepada seseorang.
Shopie ingin memastikannya lebih dalam lagi, apakah anak itu bisa melakukan telepati itu pada semua orang yang memiliki kekuatan telepati juga. Ataukah kekuatan telepati anak itu adalah kekuatan istimewa lainnya. Jadi Shopie akan berbicara dengan menggunakan kekuatan telepati kepada anak yang ada di hadapannya itu.
"Tidak. Suara hatiku hanya akan di dengar oleh mereka yang memang pantas untuk mendengarkannya?" Jawab anak itu melalui telepatinya.
"Apa maksudmu?" Tanya Shopie tidak mengerti.
"Sebelum aku menjelaskan itu, tolonglah ibu dan adikku. Mereka butuh pertolongan kalian, sebagai imbalannya aku akan memberikan sesuatu yang berharga yang aku miliki dan menjelaskan kekuatan ini pada kalian, aku mohon pada kalian, tolong ibu dan adikku.…" Ucapnya, kemudian melihat ke arah belakang di mana ibunya yang sedang hamil besar menahan rasa sakit yang akan segera melahirkan anaknya.
Carissa yang memang memiliki jiwa seorang dokter, tentu saja tidak bisa melihat orang yang sedang kesakitan di depannya. Tanpa menjawab apapun, Carissa maju dan mendekati ibu hamil itu.
Shopie yang tahu bagaimana jiwa Carissa, hanya bisa menghela nafasnya. Melihat semua pergerakan dan tindakan Carissa dengan segera dan teliti memeriksa kondisi terkini ibu hamil tersebut.
"Nyonya, apakah anda bisa mendengar suara saya?" Ucap sopan Carissa.
Wajah wanita di hadapannya sudah memucat, hingga bibirnya membiru.
"I…iya…!" Balas wanita itu di sela sela menahan rasa sakitnya.
"Sudah berapa lama ibumu sakit perut seperti ini?" Tanya Carissa melihat ke arah anak yang ada di hadapannya.
"Sejak pagi tadi." Balas anak itu melihat intens Carissa.
"Apakah ada keluhan lainnya selain sakit perut."
__ADS_1
"Tidak. Hanya ibu mengatakan dirinya tidak boleh banyak bergerak, karena ada cairan yang keluar dari bawah sana." Tunjuk anak itu pada bagian bawah ibunya.
Carissa mengerti, lalu menyikap cepat gaun bawah ibu tersebut. Benar sudah basah akan air ketuban, Carissa tahu itu adalah tanda-tanda akan segera melahirkan.
Carissa tahu sedikit mengenai persalinan berkat seorang teman yang adalah seorang dokter kandungan. Carissa pernah beberapa kali membantu temannya tersebut, dan ternyata keahlian itu bisa Carissa gunakan saat ini.
"Shopie, bisa kau bantu aku untuk mendudukkan dan topang tubuh ibu ini. Sepertinya dia akan segera melahirkan, tetapi ada sedikit masalah." Ucap Carissa melihat ke arah Shopie yang berdiri di belakang anak kecil itu.
"Iya tentu saja." Balas Shopie dengan senang hati. Ia senang membantu sebuah kelahiran seorang anak yang akan menjadi masa depan di dunia.
Shopie melakukan apa yang di perintah oleh Carissa padanya. Carissa melihat kembali ke arah anak kecil yang ada di depannya, lalu berkata.
"Apakah kamu memiliki kain lain yang bersih?" Tanya Carissa.
"Tidak, kami tidak memiliki kain lain, selain kain itu." Tunjuk anak itu ke arah kain usang yang menjadi alas ibunya tidur.
Carissa dan Shopie ikut melihat ke arah kain yang di tunjuk, lalu mereka saling memandang sejenak. Mereka tahu jika anak dan ibu itu adalah orang yang tidak mampu.
Carissa menghela nafasnya.
"Aku bisa mencarikan sekarang. Tapi aku tidak yakin untuk bisa mendapatkannya dengan cepat." Ucap anak itu lemah sembari menunduk sedih karena tidak bisa berbuat banyak.
Carissa dan Shopie kembali melihat ke arah anak itu. Carissa mengerti dan menghela nafasnya, lalu berkata setelah merendahkan tubuhnya untuk melihat wajah sedih si anak.
"Tidak perlu di cari, aku yang akan membawa semua keperluan untuk ibumu." Ucap Carissa memberikan sebuah harapan pada anak itu.
Anak itupun mengangkat wajahnya dan melihat ketulusan dari sorot mata Carissa, dan hanya mengangguk tanda mengerti.
Carissa segera memejamkan matanya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kehidupan dari dalam ruang dimensi miliknya. Carissa memasukkan tangannya ke dalam kotak itu, lalu mengeluarkan beberapa peralatan modern, obat dan beberapa cairan infus yang akan dia perlukan serta gunakan dalam persalinan nanti.
Beberapa kain bersih, pakaian, dan beberapa makanan yang dapat di santap oleh anak kecil yang terlihat sangat kelaparan.
"Kamu duduk istirahat dulu dan makan ini. Aku tahu kamu pasti sedang lapar, iya kan." Ucap Carissa dengan senyum yang hangat, walaupun senyum itu tidak terlihat karena tertutup oleh kain penutup.
"Iya, terima kasih." Balas anak itu menerima makanan yang di berikan oleh Carissa.
Makanan yang terlihat lezat di mata sang anak, karena untuk pertama kalinya ia bisa makan makanan layak, bersih dan terlihat lezat.
Anak itu duduk pada lantai di pojok ruangan, Carissa dan Shopie merasa kasihan melihat betapa rapuh, malang dan kumalnya anak itu.
Mereka tidak habis pikir, bagaimana bisa keluarga kerajaan yang hidup dengan bergelimang harta, makanan dan pakaian mewah. Hidup tenang dan nyaman di dalam istana Darkness World. Sedangkan rakyat mereka masih ada yang kelaparan karena miskin seperti itu.
Di mana keadilan untuk mereka yang tidak mampu dan lemah. Apakah mereka tidak layak hidup lebih baik dari pada ini? Carissa menahan rasa marah dan kesalnya pada mereka yang berkuasa namun tidak memiliki hati dan mata untuk melihat ke sekitar mereka.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.