DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
76. Pertarungan Dua Gadis Cantik.


__ADS_3

***Area Latihan Istana Holmes***


Duke Emris Hubert menggenggam lembut telapak tangan Carissa, memberikan dukungan dan ketenangan untuk putri kecilnya, apapun yang terjadi dia akan tetap mendukung Carissa?


"sayang…apa kamu baik-baik saja?" tanya cemas Duke Emris yang melihat Carissa hanya diam memandang ke depan, dan sesekali memejamkan matanya.


"tentu saja ayah." balas Carissa mengelus lembut punggung tangan sang ayah


"Carissa…kamu masih ingat apa pesan ayah?"


"tentu saja ayah." balas Carissa.


Sebelum datang ke area latihan istana, Duke Emris memberikan nasehat dan pesan buat Carissa, bila Carissa mampu menghadapi putri Debora, Carissa tidak boleh sekalipun membuat putri Debora Liberata menjadi terluka parah. Bagaimana juga putri Debora Liberata adalah putri kerajaan Jericho, putri ketiga dari raja Diaro Liberata, dan calon putri mahkota kerajaan Holmes.


Bagaimana juga semua para bangsawan dan seluruh keluarganya? harus tetap melindung keluarga kerajaan. Karena itu sudah menjadi suatu kewajiban untuk para pejabat kerajaan.


Duke Emris Hubert sebenarnya tahu, nasehatnya adalah beban untuk Carissa, tetapi dia yang memang sudah setia menjadi penasehat kerajaan Jericho, tidak bisa sekalipun mengabaikan putri Debora Liberata.


"maafkan ayah bila sudah memberikan beban untuk mu." ucap Duke Emris dengan mimik wajah menyesalnya, dan Carissa tahu itu.


"tidak ayah…Carissa akan hati-hati, Carissa hanya akan mengikuti permainannya. Anggaplah ini untuk latihan Carissa, agar menjadi lebih kuat lagi, apapun yang ayah ucapkan akan Carissa ikuti, dan bukan beban buat Carissa." balas Carissa mencoba memberikan ketenangan bagi Duke Emris.


'tapi maaf ayah bila putri Debora bertindak di luar kendali, aku tidak bisa hanya diam dan mengalah mati sia-sia di tangannya, karena Carissa tahu putri Debora mempunyai niat untuk menyingkirkanku.' gumam Carissa dalam hatinya.


"terima kasih sayang." balas Duke Emris tersenyum teduh untuk Carissa.


Beberapa saat kemudian, kaisar dan semua keluarga kerajaan Holmes tiba di area latihan istana, semua yang ada di sana memberikan hormat mereka kepada kaisar dan keluarga kerajaan yang hadir.


"salam hormat untuk yang mulia kaisar, semoga yang mulia kaisar panjang umur." salam serempak mereka memberikan salamnya.


Kaisar Louis Theodore hanya menganggukkan kepalanya tanda menerima hormat mereka semua.


"kita mulai saja pertarungannya, di sini aku sudah membawa seorang yang akan menjadi penengah dari kedua putri yang akan bertarung." ungkap kaisar Louis, sembari menunjuk seorang pria tampan yang terlihat kuat dengan wajah tenangnya.


Semua terpesona sekaligus terkejut melihat pria tampan yang ada di depan mereka, ketampanannya setara dengan putra mahkota dan para pangeran, bahkan lebih terlihat dewasa.


Carissa yang memang baru pertama kali melihat pria tersebut, hanya bisa diam melihat saja tanpa ekspresi, tidak seperti putri dan nona lainnya, yang tersenyum kagum melihat pria yang ada di hadapan mereka.


"untuk mempersingkat waktu, kita mulai saja. Putri Debora Liberata dan nona Carissa Hubert, silahkan maju ke tengah lapangan." ucap kaisar memberikan perintahnya, kemudian kaisar, permaisuri, putra mahkota dan para pangeran duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Putri Debora Liberata dengan senyum yang mengembang di bibirnya, maju lebih dulu ke tengah lapangan. Putri Debora melangkah pasti dengan bangga sembari menggenggam erat pedang yang dia pegang.


Carissa masih diam duduk melihat ke depan dengan wajah datar dan dinginnya, tidak ada yang bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Carissa saat ini. Semua mata memandang ke arah Carissa yang hanya masih diam duduk melihat putri Debora Liberata.

__ADS_1


Sehingga banyak terdengar bisik-bisik yang membicarakan Carissa, namun Carissa hanya masih tenang dan tidak peduli akan bisikkan semua yang membicarakannya, karena Carissa bisa mendengar semua bisikkan mereka, yang tidak menyukainya.


Dengan tenang Carissa bangkit dari duduknya, melangkah maju ke tengah lapangan dengan pandangan mata semua orang padanya. Carissa tidak membawa senjata apapun, karena yang dia punya hanya dua pedang kembar keramat yang tidak ingin Carissa keluarkan, dan di pakai sembarangan. Carissa juga tidak bisa mengeluarkan senjata api Desert Eagle nya.


Jadi terpaksa Carissa hanya akan memakai kekuatan kunci ajaib untuk membantunya dari serangan magic yang akan di gunakan oleh putri Debora Liberata, hanya itu strategi Carissa saat ini. Tetapi tiba-tiba saja pengawal pribadi dari Damian mendekati dan menghalangi jalannya.


"maaf nona, ini pedang dari pangeran kedua, yang mulia ingin anda memakai ini." ucap pengawal pribadi Damian menyerahkan sebuah pedang yang terlihat polos tetapi terlihat kuat.


Tanpa pikir panjang Carissa mengambilnya. "terima kasih." ucap Carissa mengambilnya, bersamaan dengan tanda hormat dari pengawal pribadi tersebut pada Carissa.


Carissa melanjutkan jalannya sampai ke tengah lapangan, dimana sudah ada putri Debora Liberata dan pria yang akan menjadi penengah mereka. Dengan wajah datar dan dinginnya Carissa menatap pada putri Debora yang menatapnya tajam serta meremehkan.


"apa kalian sudah siap?" tanya pria tersebut.


"tidak ada aturan apapun dalam pertarungan ini, apapun bisa kalian lakukan? karena hanya akan menentukan kalah dan menang saja, kalian hanya harus menyatakan menyerah ketika kalian sudah tidak sanggup melanjutkan pertarung ini, kalian mengerti." tanya pria tersebut dengan wajah datar dan tenangnya melihat Carissa dan putri Debora secara bergantian.


"sangat mengerti." balas putri Debora terseyum remeh ke arah Carissa.


'sikapnya percaya diri sekali dan sangat memandang remeh lawan.' gumam pria tersebut melihat putri Debora


"mengerti." balas singkat Carissa datar dan tenang.


'sikapnya cukup tenang, lawan yang tidak bisa terbaca.' gumam pria tersebut melihat Carissa.


Pria tersebut sebenarnya adalah saudara sepupu dari putra mahkota dan para pangeran kerajaan Holmes, pangeran pertama dari adik kaisar Louis Theodore, Pria tersebut bernama pangeran Tristan Theodore, pangeran sekaligus jendral perang dari dua kerajaan, yaitu kerajaan Holmes dan kerajaan Pancho. Jendral yang sangat kuat dan tangguh melebihi dari putra mahkota dan para pangeran kerajaan Holmes.


"baiklah silahkan mulai." ucap pria tersebut sembari melangkah menjauh mundur.


Putri Debora sudah siap dengan posisinya yang sudah menarik pedang dari sarungnya, Carissa masih diam mengamati pergerakan dari putri Debora. Dengan tenang Carissa terpaksa menarik pedangnya juga, dan menunggu pergerakan dari putri Debora.


Putri Debora lebih dulu menyerang dengan mengayun pedangnya ke arah wajah Carissa, dengan cepat pula Carissa bisa menangkisnya dengan pedang yang dia pegang, dengan cepat Carissa menendang perut putri Debora, sehingga putri Debora mundur dan menahan perutnya yang sakit.


Putri Debora yang tidak terima, dengan brutal menyerang Carissa terus menerus, tidak hanya dengan pedangnya saja, bela diri yang Putri Debora miliki pun di kerahkan, tetapi tidak satupun bisa mengenai Carissa.


Carissa dengan lincah dapat menghindari semua serangan putri Debora, dengan cepat pula putri Debora menggunakan kekuatan magic Activatornya untuk membuat Carissa tidak bisa bergerak, kini Carissa tersudut dan berusaha untuk bergerak, tetapi itu hanya sia-sia saja Carissa tidak bisa bergerak sama sekali.


"inilah ajalmu bila tidak ingin mengaku kalah." ucap putri Debora sembari maju mendekat dan masih menahan pergerakan Carissa.


Semua yang melihat kagum pada strategi bertarung yang di pakai oleh putri Debora, karena dapat dengan cepat bisa mengalahkan Carissa yang di buat tidak bisa bergerak sama sekali, Carissa di buat tersudut.


Carissa tidak takut akan ancaman putri Debora, Carissa malah tersenyum tipis melihat putri Debora yang maju mendekatinya. Dengan ujung pedangnya yang mengarah pada leher Carissa, terlihat jelas putri Debora lah pemenangnya.


"apa hanya ini kekuatan sang pengendali?" tanya putri Debora meremehkan sembari menekan ujung pedangnya sehingga melukai leher Carissa yang langsung mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


Carissa masih tersenyum tipis melihat putri Debora yang melukai lehernya.


"apa hanya ini saja kekuatan anda putri Debora?" tanya balik Carissa dengan wajah tenangnya.


"kau terlalu sombong walupun sudah tersudut. Bahkan tidak ingin meminta pengampunan dariku?"


"maaf putri bila hamba mengecewakan anda."


"banyak bicara kau…mati kau…!" teriak putri Debora dengan tusukkan pedangnya kearah perut Carissa.


Duke Emris Hubert dan semua yang mendukung Carissa bangkit dari duduknya dan terkejut, akan tindakan putri Debora yang mengarahkan ujung pedangnya ke perut Carissa.


Tetapi mereka lebih terkejut lagi saat ini melihat pemandangan yang ada di tengah lapangan, posisi mereka kini terbalik, Carissa lah yang menyudutkan putri Debora.


Mereka yang melihat tidak percaya, entah bagaimana cara Carissa bisa membalik posisi mereka? kini Carissa ada di posisi belakang putri Debora, dengan lengan kiri membelit leher putri Debora, dan tangan kanan Carissa mengarahkan pedangnya ke perut putri Debora.


Gerakan yang begitu cepat, mereka tidak tahu kalau Carissa bisa berteleportasi kemana saja, magic Activator tidak berlaku lagi bila Carissa menggunakan teleportasinya.


Pangeran Tristan yang ada di dekat mereka pun terkejut melihat posisi mereka yang berubah dengan cepat.


"bagaimana caranya kau bisa bergerak?" tanya putri Debora yang sudah merasa tersudut.


"itu rahasia." bisik pelan Carissa pada telinga putri Debora.


Putri Debora tahu, bergerak sedikit saja pedang Carissa pasti menusuk perutnya. Tetapi dia tidak mau kalah dari Carissa, dia pun berusaha dengan cepat, menahan tangan kanan Carissa yang memegang pedang dan menggunakan magic Activatornya membuat Carissa tidak bergerak lagi.


Ketika Carissa tidak bergerak lagi, dengan cepat putri Debora menangkis keras pedang Carissa hingga terlepas dan melepaskan dirinya dari belitan lengan kiri Carissa. Kini giliran putri Debora yang mengarahkan pedangnya pada Carissa lagi.


Carissa tersenyum kembali, dia salut dengan taktik cepat putri Debora.


"apa anda suka mengulang kesalahan dua kali putri Debora?" tanya Carissa masih dengan senyum tipisnya.


"diam kau, kali ini kau akan mati dengan cepat…hiyaaa…" ungkap putri Debora menusuk kembali perut Carissa.


Tetapi lagi-lagi gagal, Carissa dengan cepat berteleportasi ke arah dimana pedangnya jatuh, dan mengambil pedangnya dengan santai. Putri Debora terkejut begitu juga dengan semua orang yang melihatnya, Carissa bisa menghilang dan muncul lagi di tempat yang lain dengan begitu cepat, tanpa bisa di lihat pergerakannya sama sekali oleh mata mereka.


Putri Debora sangat murka dan marah akan magic permainan Carissa yang membuatnya gagal dua kali, dan dia tidak ingin bermain terlalu lama lagi. Dalam hati putri Debora akan menggunakan dua magic yang dia kuasai untuk melumpuhkan Carissa, dan memenangkan pertandingan ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2