
***Istana Kerajaan Holmes***
Saira masih berpikir tentang apa yang di katakan oleh Carissa? mengenai sepatu boot modifikasi yang kini ada di tangan Carissa. Saira masih belum percaya bila sepatu boot itu bisa di gunakan untuk memanjat apapun? kalau memberikan magic Electrik Flow ke dalamnya.
"sebaiknya kita mencobanya terlebih dahulu, agar anda percaya nona Saira." ucap Carissa sembari melangkah ingin mendekati putra mahkota Leonard.
"anda ingin kemana nona Carissa?" tanya Saira.
"saya ingin meminta bantuan yang mulia putra mahkota, untuk memasukkan magic Electrik Flow nya ke dalam sepatu ini." jawab Carissa melihat ke arah Saira.
"tidak perlu, saya bisa memasukkan magic Electrik Flow ke dalam sepatu itu, karena saya juga punya kekuatan magic Electrik Flow, walaupun tidak sekuat kekuatan magic yang mulia putra mahkota, tetapi saya rasa saya masih bisa melakukannya." ungkap Saira, dia merasa tidak nyaman dan tidak sopan kalau sepatu yang pernah dia gunakan, di sentuh oleh putra mahkota kerajaan Holmes.
Carissa hanya mengikuti saja, dia sudah tidak sabar lagi untuk membuktikan sepatu boot itu berfungsi atau tidak.
"baiklah…silahkan di coba. Masukkan perlahan melalui kedua lubang ini." jawab Carissa sembari menunjuk dua buah lubang tempat memasukkan kepala pengisian daya.
Saira yang mengerti, perlahan mulai memasukkan magic Electrik Flow ke dalam lubang pengisian daya yang Carissa tunjukkan. Beberapa detik kemudian, terlihat cahaya kecil yang berwarna merah menyala di sebelah lubang pengisian daya.
Terlihat senyum pada bibir Carissa, semua dapat melihat wajah puas Carissa yang bahagia melihat ke arah sepatu tersebut.
"Ternyata di dalam ini sudah ada sebuah baterai tanam yang mungkin anda tidak tahu nona Saira." ungkap Carissa melihat Saira dengan wajah bahagianya.
"baterai tanam, apa itu?" tanya Saira yang memang tidak tahu baterai tanam itu apa?
Karena pada zaman ini belum mengenal yang namanya baterai. Tidak heran bila Saira tidak tahu dan tidak mengerti, walaupun dia yang membuat sepatu modifikasi tersebut. Mungkin kebanyakan dari nama bahan-bahan membuat alat tersebut Saira juga tidak tahu.
"sebuah benda atau bahan yang ada di dalam sepatu ini, yang berguna untuk menyimpan energi listrik sebagai daya, untuk menghidupkan atau mengaktifkan mesin dari sepatu boot modifikasi ini. Biasanya baterai itu berbentuk bulat kecil, berbentuk tabung kecil atau kotak persegi yang sedikit berat." jelas Carissa.
Saira nampak masih berpikir, diapun teringat akan salah satu bahan alat, sama persis seperti ciri-ciri yang di maksudkan oleh Carissa.
"iya…saya ingat ada bahan alat yang seperti itu, berada di alas penutup bagian dalam sepatu." jawab Saira membenarkan apa yang Carissa maksudkan?
Carissa tersenyum ke arah Saira, senyum yang sangat cantik bagi yang melihatnya, Carissa senang bisa mengenal seseorang yang sama seperti dirinya, mampu merakit alat serbaguna. Hobi dan keahlian yang sama dengannya.
Carissa dan Saira bekerjasama dalam mengaktifkan mesin dari sepatu boot tersebut. Beberapa menit kemudian, lima lampu kecil yang ada pada sepatu telah menyala, yang artinya pengisian daya sudah selesai, dan sepatu boot tersebut siap untuk di pakai.
"apakah saya bisa mencoba sepatu ini?" tanya Carissa pada Saira dengan wajah memohon.
Carissa sangat senang bisa menggunakan sepatu modifikasi itu, sudah sangat lama sekali Carissa yang dulu menjadi Callysta Angelina, si mafia wanita tidak menggunakan sepatu modifikasi tersebut.
__ADS_1
"tentu saja." jawab pasrah Saira karena melihat mimik wajah memohon Carissa.
Carissa dengan repleks memeluk Saira, karena bahagia dia mendapatkan izin dari sang pemilik sepatu. Tanpa menunggu lama Carissa dengan cekatan memakai sepatu tersebut, dan bagusnya lagi ukuran kaki Carissa dan Saira sama. Dengan senyum manis yang dapat menghipnotis semua mata yang memandangnya, Carissa melihat ke arah kaisar yang masih setia duduk pada kursinya.
"maaf yang mulia kaisar Louis, apakah saya boleh melakukan percobaan untuk sepatu ini?" tanya izin Carissa pada sang kaisar.
"tentu saja, silahkan…!" jawab kaisar Louis yang terpesona akan senyum manis Carissa.
Carissa meraih alat tembak tali baja yang ada di atas meja, Carissa membawa alat itu sebagai alat cadangan bila sepatu modifikasinya tidak bekerja seperti harapan Carissa, agar dia tidak terjatuh saat mencoba berjalan pada dinding.
Carissa yang memang menggunakan gaun sederhana, memudahkannya untuk bergerak secara leluasa. Sebelumnya Carissa sudah mengaktifkan mode on pada tombol yang ada pada sepatu tersebut.
Semua mata yang hadir di dalam ruang rapat istana melihat pada Carissa, yang berdiri di depan sebuah tembok membelakangi mereka semua. Perlahan Carissa menempelkan alas sepatunya pada dinding, Carissa mengetes kekuatan kaki gurita yang sudah menempel pada dinding tembok, dengan cara menggerakkan kakinya dan memastikan apakah tempelannya kuat apa tidak?
Saat Carissa merasa kaki gurita sepatu tersebut sudah menempel kuat, Carissa mengarahkan alat tembak tali bajanya ke arah dinding atas, tembakkan tali baja Carissa tepat sasaran pada dinding yang di inginkan. Carissa lalu menaikkan kaki yang satunya lagi pada dinding yang sudah dia pijak oleh satu kakinya tadi.
Perlahan Carissa terus melangkah naik berjalan pada dinding, saat dia merasakan kakinya kuat menopang berat badannya, Carissa berusaha menyeimbangkan berat tubuhnya, dengan memusatkan tekanan pada telapak kakinya.
Carissa menarik kembali tali baja yang sudah tertanam pada dinding. Dengan terus bergerak jalan pada dinding, Carissa melangkah sampai ke atas lalu berbalik badan menghadap pada semua orang yang melihat tidak percaya padanya, Carissa berjalan santai pada dinding.
Dengan gerakan mulai sedikit berlari, Carissa berlari pada dinding mengelilingi tembok ruang rapat tersebut, dengan cepat dia menembakkan tali baja pada ujung atas pilar besar yang ada di dalam ruang rapat tak jauh darinya berada, dengan gerakan cepat Carissa bergelantungan pada tali baja, lalu terbang perpindah berdiri pada dinding pilar.
Sama halnya bergerak dengan bantuan menggunakan kekuatan magic Activator, tanpa kekuatan magic Activator Carissa dengan mudah berlari dan berpindah tempat pada dinding tembok yang ada di dalam ruangan tersebut.
Dengan bantuan alat tembak tali baja, Carissa sesekali bergelantungan untuk berpindah posisi pada jarak yang lebih jauh. Hingga puas dalam uji coba 2 alat tersebut, dengan gerakan gemulai Carissa salto dan mendarat tepat pada lantai dasar. Senyum kepuasan mengembang pada bibirnya, menambah aura cantik Carissa.
"wah…nona Saira, alat ini lebih kuat dan bagus dari pada alat yang pernah saya buat." ungkap Carissa senang sembari melangkah mendekati Saira, yang nampak heran akan perkataan Carissa.
"anda bisa membuat alat seperti ini juga?" tanya heran Saira.
'mati aku…kenapa malah kelolosan bicara.' gumam Carissa dalam hatinya, yang membuat Shopie tersenyum tipis.
"iya dulu, tapi tidak sekuat dan sebagus alat anda ini, hanya mencoba-coba dari pikiran liar saya saja " ucap Carissa mencari alasan yang masuk akal.
"mencoba-coba dari pikiran liar anda saja? pikiran liar anda sangat bagus sekali nona Carissa, sehingga bisa mempunyai ide ingin membuat alat di luar nalar pikiran manusia lainnya." balas Saira nampak masih tidak percaya.
"itu karena dulu saya tidak memiliki kemampuan apapun? saya tidak ingin terus menjadi bahan ejekan dan beban dari keluarga, sehingga saya mencoba untuk berkreasi membuat sebuah alat yang mungkin bisa bermanfaat membantu saya yang tidak bisa apapun? terkadang saya juga mulai berlatih secara diam-diam, untuk menjadi kuat dan bisa melindungi diri sendiri." ungkap Carissa yang pura-pura memasang wajah sedihnya.
Carissa hanya bisa bersandiwara dan sedikit berbohong demi kebaikan.
__ADS_1
'maafkan hamba ya Tuhan, karena sudah berbohong.' gumam Carissa dalam hatinya, yang membuat Shopie tambah tersenyum karena lucu akan ucapan dan kelakuan yang di lakukan Carissa saat ini.
Semuanya termakan dan percaya akan ucapan sedih Carissa, tetapi tidak dengan Saira dan juga Shopie, mereka berdua tidak percaya akan tampang sedih dan ucapan Carissa saat ini.
Carissa tahu kalau Saira tidak akan mudah percaya pada ucapan dan mimik wajah sandiwaranya. Dengan cepat dia ingin mengalihkan pembicaraan mereka.
"nona Saira…bagaimana kalau di lain waktu anda bisa mengajarkan saya membuat alat-alat rakitan lainnya, saya ingin belajar lebih baik lagi pada anda." ucap senyum Carissa ingin mengalihkan pembicaraan mereka.
"iya nona Saira…aku juga mau ikut belajar membuat alat-alat rakitan yang anda buat ini." celetuk pangeran ketiga Verdian.
"waah…dua alat ini sangat menarik dan bagus, apa pagi alat tembak tali baja ini…ini sangat menakjubkan." ucap Verdian lagi, sembari mengambil alih alat tembak tali baja dari tangan Carissa.
Verdian yang memang terkenal pangeran nakal, sangat menyukai hal-hal yang menarik perhatiannya dan unik. Carissa merasa aman dan lega karena Verdian menyelamatkannya dengan ikut bicara, yang jelas bisa mengalihkan perhatian Saira.
"bagaimana nona Saira, apa aku bisa ikut juga belajar bersama kalian?" ucap Verdian bertanya sembari melihat Saira yang hanya diam, lalu beralih pada Carissa yang juga melihat Verdian, lalu berpura-pura mendukung ucapan Verdian dengan menganggukkan kepalanya cepat.
Saira masih diam, dia menghembuskan nafasnya perlahan sebelum menjawab perkataan Carissa dan juga Verdian.
"baiklah yang mulia, tentu saja…tetapi ada suatu hal yang membuat kita belum bisa membuat alat-alat rakitan seperti ini." jawab Saira memandang Carissa dan Verdian secara bergantian.
"apa itu nona Saira…?" tanya Verdian cepat mendahului Carissa yang juga ingin bertanya, pertanyaan yang sama dengan yang di ucapkan oleh Verdian.
"hamba sudah lama tidak bermimpi bertemu dengan wanita yang selalu muncul di dalam mimpi hamba yang mulia, jadi kalau belum bermimpi bertemu wanita itu, hamba juga tidak akan mendapatkan bahan-bahan untuk membuat alat-alat rakitannya." balas Saira menjelaskan.
"apa bahan-bahannya tidak bisa dengan mudah kita dapatkan di sekitar kerajaan ini? mungkin saja ada yang menjualnya." jawab Verdian antusias, sedangkan Carissa hanya diam.
"tidak ada yang menjual semua bahan itu yang mulia, saya dan semua anak buah Black Rose sudah pernah menjelajahi ke 3 kerajaan, untuk mencari semua bahan alat rakitan tersebut, tapi semua usaha kami nihil tanpa hasil sedikitpun." jawab Saira menggelengkan kepalanya, dengan mimik wajah sedihnya.
Carissa diam dan sangat tahu apa yang di ucapkan oleh Saira adalah benar, itu sangat mustahil. Semua bahan alat rakitan itu bukan berasal dari dunia kedua Callysta pada zaman ini, karena semua bahan tersebut berasal dari dunia Callysta yang dulu, atau dari zaman dunia masa depan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1