
Perlahan mataku terbuka dan menyesuaikan mataku dengan cahaya yang ada, aku mengedarkan pandanganku pada sekeliling ruangan yang asing bagiku, perlahan aku bangkit dari tidurku untuk duduk.
Masih ku lihat dan mengenali tempat ku sekarang berada, aku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku, perlahan ingatan terakhir ku kembali, kejadian saat jatuh karena terkena tembakan pada dadaku, apa aku di rumah sakit?
Perlahan aku meraba dadaku yang tertembak, tetapi nihil tidak ada luka sama sekali, segera aku memeriksa dadaku kembali dengan melihat ke dalam bajuku, dan apa yang ku lihat? tidak ada luka sama sekali, sekali lagi aku memperhatikan nya, tetapi tidak ada luka sama sekali?
"kenapa tidak ada luka dan tidak terasa sakit sama sekali?" tanya ku heran seraya menekan-nekan dada yang sudah tertembak.
"tetapi ini tidak sakit sama sekali, apa aku sudah sembuh? sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?" gumamku bertanya pada diriku sendiri.
"ini bukan rumah sakit, tetapi ini sebuah kamar." ucapku melihat sekeliling ruangan.
Ruangan yang cukup besar dengan semua furniture mewah dan elegan, seperti kamar orang kaya, aku berusaha menurunkan kakiku untuk turun dari ranjang.
"apa ini rumah keluarga Yuandara?" tanyaku pada diri sendiri karena yang aku ingat terakhir kali, aku berada di dalam perselisihan kedua tuan muda Yuandara.
Saat aku ingin berdiri, terdengar seseorang berteriak memanggilku.
"nona…anda sudah siuman?" ucap seorang gadis masuk ke dalam dengan membawa nampan yang penuh dengan makanan, gadis itu Memakai baju pelayan dengan model gaun panjang mengembang, seperti model baju pada abad pertengahan di Kerajaan Prancis.
'Apa dia pelayan keluarga Yuandara, pelayan mereka pun memakai seragam gaun, benar-benar orang kaya.' gumamku dalam hati memperhatikan seragam pelayan tersebut.
"iya aku sudah siuman, dimana ini?" tanyaku langsung ingin tahu apa benar aku ada di rumah keluarga Yuandara.
'mengapa aku tidak di bawa ke rumah sakit?' gumamku lagi.
"di kamar anda nona, ini kamar anda, apa anda lupa? cobalah lihat dan perhatikan tidak ada yang berubah sama sekali." jawab gadis pelayan itu seraya menunjukkan seluruh ruangan tersebut.
Aku pun ikut untuk melihat sekali lagi, apa aku hanya berhalusinasi? apa aku benar ada di kamar apartemen ku? tetapi ini bukanlah apartemen ku, ini kamar baru yang pertama kali ini aku lihat.
"ini bukan kamar ku." jawabku terus melihat ke sekeliling dan gadis pelayan itu secara bergantian.
"apa maksud nona?" tanya si gadis pelayan dengan mengerutkan keningnya melihat ke arahku yang juga melihatnya heran.
"ini bukan kamar apartemen ku, ini rumah siapa?" tanyaku lagi seraya menggelengkan kepalaku.
"apartemen? ini bukan rumah nona, ini istana." ungkapnya menjawab yang membuat aku heran dengan jawabannya.
'istana? apa rumah keluarga Yuandara di sebut istana?' gumamku dalam hati.
"ooo jadi rumah keluarga Yuandara di sebut istana." ungkapku.
"keluarga Yuandara, siapa itu nona?" tanya gadis pelayan dengan mimik wajahnya yang bingung.
"keluarga Yuandara, pemilik rumah ini kan?" tanyaku ingin memperjelas.
"tidak nona, ini bukan rumah, ini istana dan keluarga Yuandara? siapa mereka?" jawab dan balas gadis pelayan itu dengan tegas.
Aku bertambah pusing dan bingung dengan jawaban dan pertanyaan yang di berikan oleh gadis pelayan tersebut, dia terus mengatakan kalau itu bukanlah rumah tetapi istana, dan dia tidak tahu siapa keluarga Yuandara?
'ada apa denganku? apa ada yang sudah aku lupakan?' gumamku seraya memijit pangkal kedua alisku dan terus mengingat kejadian terakhir yang aku alami, dan kembali lagi aku mengingat tembakan yang mengenai dadaku, kembali juga aku mengingat Antoni dan David yang menangis melihat kondisiku.
__ADS_1
Aku membuka mata dengan menggelengkan kepalaku, kenangan yang tidak ingin aku ingat kembali.
"ada apa nona? apa kepala anda pusing?" tanya gadis pelayan tersebut karena melihatku terus menggelengkan kepalaku.
"hanya sedikit, bisakah aku meminta air?" balasku, dan dengan cepat pula gadis pelayan tersebut memberikan aku segelas air.
"apa kepala anda sudah baikkan nona? apa perlu hamba panggilkan tabib?" tanya khawatir gadis pelayan tersebut melihat ku intens.
"tidak usah memanggil dokter."
"dokter, siapa lagi itu nona?"
Seketika aku melihat gadis pelayan tersebut karena tidak tahu dokter itu apa?
"jangan bercanda padaku, ini tidaklah lucu." ucapku dengan wajah yang datar karena tidak suka akan lelucon yang di buat oleh gadis pelayan tersebut.
"maaf nona, tetapi hamba tidak mengerti apa maksud nona." balasnya dengan menundukkan kepalanya karena takut melihatku.
"sudahlah…aku ingin ke toilet." ungkap ku karena ingin buang air kecil.
"toilet...apa itu nona?" tanya gadis pelayan tersebut yang membuat aku benar-benar kesal, karena dia bercanda tidak pada waktunya.
"jangan bercanda, tunjukkan di mana toiletnya?" jawabku sedikit emosi karena sudah tidak tahan menahan buang air kecil sedangkan yang di tanya bisanya bercanda saja.
"benar nona hamba tidak tahu apa itu toilet?"
"kau…!" tunjukku geram pada gadis pelayan tersebut, yang langsung memasang wajah takutnya melihatku menunjuknya geram.
"di sana nona, kenapa anda lupa?" balasnya seraya menunjuk ke arah sebuah pintu kayu berwarna coklat yang tertutup rapat.
Tanpa menjawab aku pun segera berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu yang di tunjuk oleh gadis pelayan tersebut, aku masuk dan terkejut melihat interior kamar mandinya model calasik kuno tetapi cukup mewah.
Aku tidak peduli karena panggilan alam ingin buang air kecil, setelah selesai aku melihat seluruh kamar mandi dengan model clasik kuno tersebut, tetapi tetap terkesan mewah.
Aku keluar dari toilet dan berjalan menuju ke jendela ingin melihat suasana luar, aku ingin tahu di luar bagaimana? apakah sama indahnya? karena di dalamnya saja sudah indah dan mewah.
Gadis pelayan tersebut terus melihat ku berjalan mendekati jendela, aku hanya cuek tidak ingin debat mulut lagi dengan gadis pelayan itu, buat kepalaku tambah pusing dan sakit saja dengan semua leluconnya yang tidak pada waktunya.
Pandanganku diam terpaku melihat apa yang di tangkap oleh mataku, pemandangan taman hijau dan asri, tetapi bukan itu yang membuat ku diam terpaku, pemandangan gedung istana yang indah dan aku dapat melihat banyak pengawal dengan pakaian zaman kerajaan Prancis kuno abad pertengahan.
Aku tidak percaya kalau ini bukanlah rumah atau mansion keluarga Yuandara, tetapi ini adalah istana keluarga Yuandara, mereka juga memiliki banyak pengawal, benar-benar seperti di dalam istana kerajaan.
"hai…coba kau kesini !!" panggil ku pada gadis pelayan tersebut.
"iya nona." balasnya seraya berjalan mendekatiku yang masih berdiri di depan jendela kamar.
"siapa namamu?" tanyaku untuk memudahkan ku memanggilnya.
"nama hamba Feyrin nona, kenapa anda lupa? hamba adalah pelayan pribadi anda nona." balasnya heran melihatku.
Aku tidak peduli dengan ucapannya dan aku tidak ingin debat dengannya lagi, yang aku inginkan adalah mencari tahu dimana aku sekarang?
__ADS_1
"Feyrin…jawab aku jujur, apa ini benar istana keluarga Yuandara?" tanyaku dengan wajah serius dan ku harap Feyrin bisa menjawabnya dengan jawaban yang aku harapkan, dan tidak main-main lagi.
"maafkan hamba nona…ini memang benar istana, tapi bukan istana keluarga Yuandara, tetapi ini adalah istana kerajaan Holmes." balas Feyrin dengan takut karena melihat mimik wajah serius ku.
"apa maksudmu?" tanyaku seraya memegang kedua pundak Feyrin, aku mulai kesal kembali karena jawaban yang ku harapkan bukanlah itu?
"maafkan hamba nona…ini istana kerajaan Holmes dan bukan istana keluarga Yuandara." balasnya dengan mengulang jawabannya kembali dengan menundukkan kepalanya takut melihatku marah.
"tatap mataku bila kau memang tidak berbohong."
Dengan perlahan Feyrin mengangkat kepalanya dan menatap mataku, dan aku pun terpaku sekali lagi karena tidak melihat kebohongan di sorot mata Feyrin, semua apa yang dia katakan? adalah kebenarannya.
aku pun melepaskan cengkraman tanganku dari pundaknya sekali lagi aku melihat ke luar jendela, dan aku berpikir.
'di mana aku sekarang? apa yang terjadi padaku? dan luka tembaknya pun tidak ada berbekas sama sekali.' gumamku pelan seraya melihat kembali ke dada di balik baju tidur yang aku kenakan, dan benar-benar tidak ada luka bahkan bekas luka sedikitpun tidak ada.
Aku kembali melihat penampilan Feyrin dengan pakaian pelayan gaun panjang yang mengembang di bagian bawahnya, dan kembali melihat pakaian dari para pengawal di luar, mereka sama-sama memakai pakaian layaknya pada era zaman kerajaan Prancis kuno abad pertengahan.
Aku menghela nafas seraya menggelengkan kepalaku, apa aku sedang bermimpi dan belum bangun? tetapi itu tidak terjadi…! kulitku sakit saat aku cubit, aku harus keluar untuk memastikannya.
Dengan segera dan cepat aku berlari menuju pintu untuk keluar kamar, mencari tahu di mana aku berada sekarang?
"nona anda mau kemana…?!" panggil Feyrin melihatku lari ke arah pintu.
Aku tidak memperdulikan panggilan dari Feyrin, yang ada dalam pikiranku adalah aku harus tahu aku ada di mana sekarang?
"nona jangan keluar kamar dengan hanya memakai baju tidur saja…" teriak Feyrin memperingatkan ku, tetapi tidak aku pedulikan.
Aku terus berlari di sekitar lorong, seketika aku menjadi pusat perhatian dari semua pelayan dan pengawal yang aku lewati, mereka melihatku heran dengan berbisik-bisik pada teman mereka, aku tidak peduli…aku terus berlari sampai aku terjatuh karena menabrak seseorang yang baru keluar dari sebuah ruangan yang aku lewati.
"aauuww…aduh sakitnya…" ucapku meringis seraya menggosok bokongku yang jatuh mencium lantai.
"nona…apa anda baik-baik saja?" tanya Feyrin dengan cepat menutupi tubuhku dengan sebuah jubah panjang dan besar, sehingga seluruh tubuhku yang hanya memakai baju tidur tertutup semua, Feyrin ikut duduk bersimpuh di hadapanku, tetapi bukan untuk ku? itu untuk seseorang yang aku tabrak tadi.
"maafkan hamba yang mulia…hamba tidak bisa mencegah nona Carissa yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar." ucap Feyrin yang tetap bersujud dan menundukkan kepalanya pada seseorang yang berdiri di depan kami.
Aku melihat perlahan seseorang yang di panggil yang mulia oleh Feyrin, dan yang aku lihat adalah pria yang selama ini aku kenal, pria yang beberapa bulan ini mengisi hari-hari ku, pria yang aku cintai dengan tulus.
"Antoni…!" panggilku dengan senyum yang langsung mengembang di bibir ku.
Aku senang sekaligus heran melihat Antoni ada di hadapanku, walaupun ku lihat penampilannya seperti seorang raja atau pangeran sebuah kerajaan, Antoni tetap gagah walaupun pakaian yang dia gunakan seperti pakaian pada zaman kerajaan Prancis kuno abad pertengahan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1