Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 100


__ADS_3

Shena menatap Gara dengan rasa sangat terpojok.


"Ya ! siapa dia tiba-tiba masuk ke dalam hidup mu." ucap Shena keras menunjuk Divine dengan jari telunjuknya.


Plak... Jerry yang baru saja kembali dari mengantar Tuan Amo langsung menampar Shena saat mendengar ucapan Shena.


"Aku tidak peduli kau wanita." ucap Jerry, tidak ada perbedaan wanita dan pria di mata Jerry, ia sangat marah mendengar ucapan Shena, ia sangat membenci seseorang yang memanfaatkan orang lain di tambah ucapan Shena seolah Divine wanita yang tidak pantas hadir di kehidupan seseorang.


Beruntunglah Gara karena tidak memanfaatkan Divine selama Jerry mengenalnya, jika Gara sedikit saja memanfaatkan Divine untuk kepentingan pribadinya, sudah lama Jerry tidak akan membiarkannya bisa tenang berada pada posisinya saat ini, kematian akan selalu membayanginya.


"Jangan pernah muncul lagi di depan ku." ucap Gara lalu pergi dari hadapan Shena.


Gara sangat membenci orang-orang yang ia kasihi malah berkhianat padanya.


Ben yang mendengar ucapan Gara sangat terkejut, entah sudah berapa tahun berlalu ucapan itu tidak pernah keluar lagi dari mulut Gara, kehidupan orang-orang itu tidak lagi akan mudah.


Sedangkan Divine berlari keluar lagi-lagi ia merasa sudah merusak hidup orang lain, bukan hanya Vely kali ini namun juga Shena, entah ada beberapa banyak wanita yang sudah ia buat menderita karena menikah dengan Gara, begitu pikir Divine.


Divine tidak sanggup jika harus menyakiti orang lain, kelembutan hatinya sungguh mampu membuat ia memilih untuk tersiksa seorang diri.


Divine terus berlari hingga keluar dari halaman rumahnya. Gara mengejar Divine dengan terus memanggil nama Divine, namun Divine tidak menghiraukannya.


Di kehidupan selanjutnya, aku tidak akan mau menikah dengan caraku di kehidupan ini.


Divine terus berlari tanpa melihat sekitarnya, sedangkan tidak jauh darinya terdapat mobil ambulance tengah melaju dengan cepat, Gara yang melihat mobil itu sangat terkejut hingga kakinya berlari sangat cepat.


"Diviiiiiiiiiiiiine....." teriak Gara dengan berlari sekuat tenaganya.


Brak....... Gara tidak sempat menggapai Divine, karena mobil itu sudah terlalu dekat sehingga tidak dapat terelakkan lagi, Divine pun tergeletak tak berdarah di jalan.


Jerry, Ben dan juga Eza yang baru saja keluar dari rumah karena mendengar teriakan Gara, tidak dapat bertindak apapun, semuanya telah terlambat, seolah ia keluar dari rumah itu hanya untuk menyaksikan mobil ambulance menyapa Divine dengan keras.


Gara membenci dirinya yang sangat tidak berguna, ia berlari ke arah Divine dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya, mengguncang tubuh Divine meminta Divine untuk bangun berkali-kali namun Divine tidak mendengarkannya.

__ADS_1


"Diviiiiiiine......." teriak Gara dengan sangat keras, seolah seluruh dunia mendengar suaranya.


Ben dengan cepat menyadarkan Gara, tidak ada waktu untuk meratapi yang telah terjadi.


Tak ada dari mereka yang berani menyentuh atau memeriksa denyut nadi Divine yang mereka pikirkan hanyalah Divine masih hidup. Ini begitu tiba-tiba, pesta kecil yang Divine siapkan untuk merayakan berkumpulnya kembali orang-orang yang ia sayangi menjadi sebuah pesta perpisahan.


Mereka pun membawa Divine masuk ke dalam ambulance yang menabrak Divine.


Mobil ambulance yang membawa 1 orang pasien untuk melahirkan melanjutkan perjalanannya dengan membawa Divine juga yang berbaring di atas pangkuan Gara, Ben,Jerry dan juga Eza, seluruh peralatan di dalam mobil ambulan yang sedang seorang ibu akan melahirkan itu kenakan, ia berikan kepada Divine.


Ibu itu sendiri yang melepas selang oxygen dan ia berikan pada Gara untuk memakaikannya pada Divine.


Perawat yang berada di dalam mobil itu hanya bisa terdiam, semua mata menghentikannya seakan pisau menghujani dirinya saat ia ingin memeriksa denyut nadi Divine.


Namun ibu yang hendak melahirkan itu tak mampu menahan rasa sakit ketika kontraksi itu datang ia terus merintih kesakitan sehingga sesekali mata para pria yang berada di sana melihat ke arahnya dan menambah rasa ngeri yang sedang mereka derita.


Sesampainya di rumah sakit, semua pasien masuk ke dalam IGD namun Divine berlanjut dengan pada CT scan untuk melihat keadaan tubuh Divine secara keseluruhan dan berlanjut pada ruang Operasi.


Divine mengalami tulang retak di tangan dan kaki kirinya dan juga tidak sadarkan diri karena adanya pendarahan pada otak Divine. Beruntunglah ia masih hidup walau sedang dalam keadaan Koma.


"Sampai kapan ia akan tidur seperti ini dokter?" tanya Gara sesaat Divine telah masuk di dalam ruang perawatan.


"Tidak ada yang tau, dan trauma adalah sebagian besar penyebab ia koma." jawab dokter itu.


"Apa yang harus saya lakukan, agar dapat membuatnya segera bangun?"


"Tunggulah, ia harus sembuh dari pendarahan otaknya terlebih dahulu, kami akan selalu memantau keadaan istri tuan dan memberikan informasi terbaru pada Tuan." jawab Dokter itu lalu pamit meninggalkan Gara.


Setelah 1 Minggu pendarahan otak pada Divine terus membaik hingga kini dokter telah menyatakan sudah tidak ada pendarahan lagi pada otaknya, tulang kaki dan tangan Divine pun telah kembali seperti sedia kala.


Beberapa perawat berbisik tentang Divine karena bisa kembali seperti bayi mendapatkan penyembuhan tulang dengan sendirinya.


"Ia pasti makan dengan baik selama ini, dan obat yang masuk ke tubuhnya adalah obat terbaik, ini adalah kali pertama aku melihat penyembuhan secepat ini." ucap salah 1 perawat yang merawat Divine, perawat lain pun mengangguk setuju dengan ucapan perawat itu.

__ADS_1


Obat-obatan yang masuk ke tubuh Divine adalah obat-obatan terbaik hasil dari pekerjaan ikatan Dokter terbaik di dunia sehingga Divine dengan cepat kembali pada keadaan normal.


"Sayang bangunlah! sudah 1 Minggu kau tidak berbicara pada ku." ucap Gara duduk di samping Divine dengan memegang tangan Divine.


Selama 1 Minggu juga Gara tidak pernah keluar dari ruang perawatan intensif itu. Makan dan pakaian semua di urus oleh Ben. Gara pun tidur di ranjang yang sama dengan Divine. Gara memeluknya sepanjang malam. Sudah cukup Divine merasa seorang diri saat terakhir kali ia di rawat di rumah sakit, kali ini Gara tidak akan membiarkannya lagi, ia ingin Divine tau bahwa suaminya itu selalu berada di sampingnya.


"Permisi tuan, kamar baru untuk Nona Divine sudah siap." ucap seorang perawat yang baru saja datang.


Divine pun di pindahkan ke ruang perawatan yang tidak seketat ruangan sebelumnya.


Ternyata semua orang telah menunggu Divine disana sebuah ruangan besar nyaman seperti rumah telah di persiapkan khusus untuk Divine.


Viona, Tuan Amo, Eza, Jerry, Ben dan juga ibu mertua Divine berada di ruangan ini. Ramai namun terasa sangat sepi.


Semua mendekat pada Divine melihat ke adaan Divine, sudah 1 Minggu mereka tertahan tidak dapat melihat Divine di dalam ruang perawatan intensif sebelumnya.


Gara menarik tangan ibunya sesaat ibunya ingin melihat Divine.


"Sejak kapan kau disini Bu?" tanya Gara.


"Sehari setelah Div mengalami kecelakaan." jawab ibu Gara lalu memeluk anak semata wayangnya itu.


"Dimana ibu tinggal, mengapa tidak memberi tahu ku." ucap Gara setelah melepas pelukan ibunya.


"Ben menceritakan, kau tidak ingin mendengar apa pun dari luar, karena itu ibu diam dan menunggu saja."


Gara melupakan semua hal, ia tidak ingin mendengar apa pun termasuk kondisi perusahaannya ia hanya fokus pada kesembuhan Divine, selalu berada di samping Divine untuk menebus kesalahannya yang tidak mampu menjaganya dengan baik.


Segala kemungkinan bisa saja terjadi di saat seperti ini.


Gara hanya bisa berharap istrinya itu akan segera bangun dan melanjutkan hidup bersamanya.


Terimakasih yang sudah membaca karya ini.

__ADS_1


karya ini akan segera tamat.


jangan lupa like, koment dan vote ya....


__ADS_2