
Gara menarik Divine ke dalam pelukannya. Kening Divine menempel pada bagian samping bibir Gara.
"Kenapa panas?" Divine keluar dari pelukan Gara. Menangkup pipi Gara, berpindah menempelkan punggung tangannya pada kening Gara.
"Kamu demam?" meraih tangan Gara lagi memastikan perasaanya tadi saat menggenggam tangan Gara tidak panas.
"Tapi tangan mu normal cenderung dingin." ucap Divine lalu melepas tangan Gara. Berdiri berjalan kearah nakas kecil membuka laci.
Gara menyentuh keningnya. Memperhatikan Divine yang sedang mengambil alat kecil yang tidak pernah lepas dari Divine sejak kehadiran Gio.
"Gio tidak demam sayang, untuk apa itu?" tanyanya sembari meraba kening Gio dan menurutnya Gio baik-baik saja.
Divine berputar ke sisi lain tempat tidur dengan thermometer di tangannya.
"Berbaring disini! aku akan mengukur suhu tubuh mu terlebih dulu." ucap Divine sembari menepuk bantal.
Gara mengkerutkan keningnya. Namun tetap mengikuti perintah Divine.
"Buka mulut!" titah Divine lagi.
"Apa kamu mau memperlakukan aku seperti Gio saat masih bayi?" bingung Gara. Dirinya rasanya tidak ingat pernah sakit. Tuntutannya untuk hidup lebih baik membuatnya tak pernah merasakan tubuh yang tidak sehat alias memaksakan diri.
Hep.. Thermometer terpasang di mulut Gara saat ia hendak berbicara lagi. Divine menarik selimut menutupi tubuh Gara yang tidak memakai pakaian.
"Pakai ini." Divine menyodorkan bajunya di depan Gara lalu menarik thermometer yang sudah selesai melakukan tugasnya.
"Panggil sayang." ucap Gara mengerucutkan bibirnya. Rasanya kupingnya gatal kata-kata yang masuk sejak tadi tidak ada yang memanjakan telinganya. Divine memutar bola matanya. Jengah. Dengan suhu tubuh 38 derajat celcius Gara masih bisa menggoda Divine.
"Hmmm sayang pakai ini, kamu pasti merasa dingin sekarang? apa kau tiba-tiba sakit karena mengeluarkan semua yang kau pendam?" tanya Divine sembari menunjukkan hasil thermometer.
Gara kembali bangun dan memakai daster Divine. "Astaga baju apa ini?" melihat setengah tubuhnya yang terbalut daster dengan motif macan.
"Sudahlah hanya aku yang melihatnya. lagian baju itu tipis dan sangat baik untuk menyerap keringat." tutur Divine mendorong Gara untuk merebahkan dirinya kembali. Gara hanya bisa menghembuskan napas menerima apa yang istrinya itu katakan.
"Mau kemana?" Gara menarik tangan istrinya. Divine hendak beranjak.
"Tunggu sebentar, aku mau mengambil sesuatu?" Divine melepaskan tangan Gara dari tangannya. Tak lama kemudian Divine kembali membawa sebuah wadah dan handuk kecil. Lalu mengompres kening Gara.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Divine melihat Gara yang tak tampak seperti orang sakit.
"Karena kau bersama ku, aku boleh sakit sekarang." jawab Gara menatap Divine yang duduk di tepi ranjang di dekatnya. Menariknya. Hingga Divine terbaring di lengan Gara.
"Ada banyak hal yang terjadi." Gara ingin bercerita lagi. Pandangannya teralih kearah Gio yang baru saja bergerak memiringkan tubuhnya,
"Tapi bagaimana kamu melewatinya selama ini?" Gara mengalihkan pertanyaannya. Tersadar Divine belum menceritakan banyak hal padanya.
Divine berdehem. Ia tidak tahu mau menceritakan apa. Semuanya sudah berlalu itu saja yang ada di pikiran Divine.
__ADS_1
"Apa semuanya berjalan mudah?" tanya Gara lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari istrinya.
Pakk... Divine memukul pelan perut Gara. Mengulum bibirnya tersadar ia ternyata bukan mengenai perut Gara.
"Mudah darimana, rasanya Gio hampir setiap malam terus-terusan menangis." pura-pura tidak tahu bahwa ia sudah mengenai sesuatu yang bisa bereaksi.
"Tapi jangan pukul yang itu dong sayang, kalau bangun mau tanggung jawab kah?" goda Gara pada Divine. Namun Divine diam saja. Melanjutkan kepura-puraannya.
"Mungkin dia merindukan dirimu atau Ben, hemm bagaiman kabar Ben, dan apa Jerry belum kembali juga?"
"Baik, dia sudah memiliki kekasih sekarang dan Jerry baru saja kembali beberapa hari lalu."
"Sudahlah, aku ingin mendengar ceritamu sekarang." tambah Gara lagi. Menarik tangan Divine untuk memeluknya yang sedang terlentang.
Divine pun menceritakan hal-hal yang ia lewati selama ini.
"Gio terus menangis menyebut papa malam itu hingga tertidur di dalam gendongan ku, saat terbangun pun ia kembali memanggil mu."
"Bahkan kau tidak membawanya kembali, saat ia menangis memanggil papanya?"
Divine hanya ikut menangis kala itu, dia tidak bisa kembali.
"Pernah di siang hari, dia memanggil papa sepertinya tidak sengaja, karena setelah itu dia merubah ucapannya."
"Aku masih sangat ingat saat pertama kali Gio berjalan ke arah ku. Air mata ku menetes hari itu. Lalu malamnya aku cemburu karena dia menempel sangat lama dengan mu." Gara tersenyum sinis. Mengingat kebodohannya yang kecemburuannya memang benar ia rasakan.
Divine hanya menarik air sedikit kental di hidungnya. Terisak.
"Dia terjatuh saat belajar mengayuh sepeda?"
"Apa dia terluka ?"
Divine mengangguk. Gara menggeretakkan giginya. "Besok akan ku ajari dia bersepeda dan memastikannya untuk tidak terjatuh."
"Sekarang dia sudah sangat lihai." putus Divine bangun hendak mengganti kompres Gara.
"Sudah sayang, aku tidak apa-apa, hati ku jauh lebih sakit karena telah melewatkan tumbuh kembang Gio begitu saja, karena ulah mu dan juga siapa pria kemarin yang masuk ke rumah ini?" Gara menyentil kening Divine setelah menariknya kembali duduk di sampingnya.
Bola mata Divine bergerak ke kiri dan ke kanan mencerna apa yang suaminya itu tanyakan.
"Tidak ada pria yang kesini." jawab Divine. Tidak ingat ada mamang tv kabel yang baru beberapa hari lalu datang.
"Wah-wah aku harus memeriksa mu kalau begitu?"
"Sepertinya aku pernah mendengar kata ini?" berpikir sejenak.
"Tidak Gara, tidak bisa Gio sedang tidur bersama kita." ucap Divine setelah mengingat apa yang di maksud oleh Gara.
__ADS_1
Disisi lain.
Dora tengah menelpon. "Baik Ma, aku akan mengikuti saran mu." ucapnya lalu melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
"Entah dimana dia selarut ini belum pulang ke rumah, lihat saja aku tidak akan membiarkannya memperlakukan ku seenaknya." menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
______
Pagi hari. Dora sudah berada di depan apartemen Ben. Tempat yang selalu di kunjungi oleh Gara. Memperbaiki lipstik merah yang menempel di bibirnya. Touch up.
"Ahh itu dia." Dora dengan cepat mengesampingkan peralatan make-upnya dan melajukan mobilnya mengikuti arah jalannya mobil Ben.
Di rumah Divine. Gara tengah membantu Divine merapikan rumah. Menyapu seluruh ruangan.
"Pa, apa kau bisa?" tanya Gio.
"Bisa, kau terlalu meremehkan papa." Gara menunjukkan cara menyapu ala Gara. Merogoh bagian bawah kursi dan meja. Gio mengangguk. Sedikit puas melihat cara menyapu sang ayah. Walau itu bukan yang terbaik
"Gio ini sapunya." Gara memberikan sapu di tangannya pada Gio. Mendengar suara kucuran air dari arah belakang. Berjalan cepat meninggalkan Gio.
"Oh kau sedang di situ?" Gara berpikir Divine sedang mandi. Lama sudah ia tidak mandi bersama Divine. Bukan lama lagi tapi lama sekali.
"Hmm.. kenapa kau ingin membantu ku?"
Gara menggelengkan kepalanya.
"Sayang ayo mandi bersama!" blak-blakan Gara mengajak istrinya itu.
"Aku sudah mandi."
"Kan tidak masalah kalau mandi lagi, tidak ada larangan."
Kayaknya Gara sudah ga sabar banget dah. Dari semalam ngajak mulu.
"Pa... Ma.. ada tamu." teriak Gio dari depan.
Gara dan Divine pun langsung keluar melihat siapa yang datang ke rumahnya.
Senyum pun langsung terukir di semua wajah yang saling bertatapan.
"Kalian mengganggu saja." celetuk Gara setelah menyembunyikan senyumnya lagi.
"Ayo masuk, maaf rumahnya tak senyaman rumah kalian." tutur Divine dengan senyum ramahnya.
"Ben, apa itu pacar mu, kenapa tidak mengajaknya masuk?" Divine memanggil wanita yang baru saja turun dari mobil.
Ben celingukan tidak mengerti ucapan Divine. Kembali berdiri dan melihat siapa yang sedang di panggil oleh Divine.
__ADS_1
Mulut terbuka. Mata membesar. Melihat wanita di depan sana adalah Dora. Ben dan Gara menganga.