
Setelah Gara memilih Dr. SpOG yang ia katakan itu adalah pilihannya bukan pilihan Ben. Padahal itu adalah pilihan yang sama.
Dr. Stella tiba di rumah putih. Pak Ann yang menyambutnya di depan rumah dan mempersilahkan untuk masuk dan menunggu sebentar.
“Tuan, Dr. Stella sudah disini.” ucap pak Ann sesaat tiba di meja makan.
Aku segera berdiri mendengar ucapan pak Ann. Rasanya aku sudah sangat menunggu. Tidak sabar.
“Sayang apa kau sudah kenyang?” ucap suamiku, matanya melihat ke piring ku yang masih ada sisa makanan.
“Ya, sudah rasanya perut ku penuh.” ucap ku mendekat pada suamiku. Aku ingin dia segera membawa ku menemui Dokter itu.
Seakan Gara mengerti keinginan ku, ia langsung meletakkan sendok dan garpunya, berdiri dan mengajak ku menemui dokter Stella.
Begitu juga dengan Ben, saat bosnya itu berdiri ia pun langsung ikut berdiri dan menyapa dr. Stella terlebih dahulu.
Aku mengulurkan tangan ku ke pada dr. Stella untuk berkenalan. Ternyata dr. Stella adalah orang yang enak di ajak berbicara ia tidak terlalu kaku.
Aku melepaskan tangan ku yang tadinya melingkar di lengan suamiku kini berpindah di tangan dr. Stella.
Gara hanya bisa mengerutkan keningnya saat aku melepas tangannya. Ia harus bisa menjaga emosinya di depan ku di saat-daat seperti ini, jika ia tidak ingin menghancurkan mood ku. Kini aku sudah dapat merasakan ada perbedaan yang terjadi pada diriku.
Sampai di ruang USG yang Gara buat khusus untuk aku. Gara dan Ben juga ikut bersama ku dan dr. Stella.
Dr. Stella langsung ku persilahkan duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Ia mengeluarkan buku berwarna pink dari dalam tasnya. Menulis nama ku disana. Ku lihat Gara memperhatikan dr. Stella saat menulis nama ku, ia membaca sampul buku itu dalam keadaan terbalik.
“Maaf dr. Stella, apa kau bisa memberitahu itu buku apa, ya sepertinya ada yang sangat ingin tahu namun sulit membuka mulutnya?” ucap Ben dengan ujung mata melirik Gara, suamiku.
Sikutan Gara mendarat di lutut Ben. Gara tau Ben sedang menyindirnya.
“Ah iya, saya akan menjelaskannya. Sebenarnya kami para dr. tidak memiliki buku seperti ini, ini hanya tersedia pada bidan, klinik dan rumah sakit. Tapi karena Tuan-tuan dan Nona Divine hanya ingin saya sebagai tempat konsultasi dan melakukan pemeriksaan dengan saya, ini secara khusus saya sediakan. Gunanya adalah merekam atau mencatat tumbuh kembang janin sejak dini. Di dalamnya juga ada tentang masalah kehamilan dan cara merawat bayi baru lahir.” dr. Stella menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
Pikirku hanya aku yang sangat bersemangat dengan buku itu, namun saat ku lihat pria yang sedang duduk di sebelah ku, matanya tidak kalah bersinar dari ku begitu pun pria yang sedang berdiri di sebelahnya.
“Ayo kita mulai.” lanjut dr. Stella yang sudah berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur yang nyaman di ruangan ini, sangat berbeda dengan ruang klinik atau rumah sakit.
Aku merebahkan diri ku. Ku lihat suamiku sedang mengusir Ben untuk keluar dari ruangan ini. Ia tau dr. Stella akan menyingkap baju ku seperti pemeriksaan bayi ku yang tidak sempat ku lihat walau hanya di dalam layar monitor USG.
Setelah Ben keluar, Gara langsung mendekat pada ku, duduk di samping ku, memegang tangan ku dan senyum ke arah ku lalu melihat layar monitor.
“Ahh ini pasti sudah lebih dari 1 bulan.” ucap dr. Stella.
Aku tersenyum mendengar kalimat pertama yang keluar dari dr. Stella. seolah ada yang sedang menari di dalam hati ku.
Ku lihat di layar sesuatu membentuk seperti hurup C.
“Ini suara jantungnya.” lanjut dr. Stella.
Terdengar suara berisik dari monitor itu yang ia katakan adalah suara jantung bayi yang sedang aku kandung namun aku hanya mendengar itu seperti suara derasnya hujan.
Namun semakin lama suara itu mulai seperti sebuah ketukan stabil di antara suara hujan. Mata ku berkaca-kaca saat mendapatkan suara itu.
“Semuanya baik, dan benar Nona sedang hamil dan kini sudah berusia 6 minggu.” ucap dr. Stella dengan senyum ramahnya.
“Selamat ya Nona, kau akan segera menjadi ibu.” tambahnya lagi seraya membersihkan cairan USG di perut ku.
Mereka kembali duduk di sofa.
Kini Gara mulai berbicara ia menanyakan cara mengatasi mual muntah ku dan keinginanku yang aneh-aneh.
Namun jawaban yang ia dapat bukanlah cara mengatasi tapi adalah permintaan untuk dia lebih bersabar menghadapi istrinya dan memberi tahu mual muntah itu akan berhenti dengan sendirinya seiring usia kehamilan.
Rasanya senang sekali bertemu dr. Stella seakan ia adalah teman ku. Ia sangat tau apa yang di rasakan oleh ibu hamil.
__ADS_1
Dr. Stella menulis semua catatan janin ku di buku pink itu dan memberikannya pada ku namun Gara menyambar lebih cepat dari ku.
Dr. Stella pun pamit pergi setelah memberikan obat yang harus aku konsumsi selama hamil. Lagi-lagi ia sengaja membawanya khusus untuk ku.
Gara memeluk ku setelah dr. itu keluar dari ruang ini. Menciumi seluruh wajahku dan menunduk di depan ku, berbicara di depan perut ku, dengan seseorang di dalam sana yang tidak bisa mendengarnya laku menciumnya lembut.
“Apa kau senang sayang?” tanyanya pada ku.
“Sangat, aku sangat senang aku tidak tau harus seperti apa meluapkannya.” jawab ku.
“Caranya adalah menurut dengan ku !” ucapnya tegas.
Setelah keluar dari ruangan. Gara langsung meminta Pak Ann untuk mempersiapkan 1 kamar utama di lantai bawah.
Gara tak mengijinkan ku untuk naik turun tangga lagi, memasak, bahkan jika tidak begitu penting sebaiknya tetap istirahat saja di dalam kamar. Bertambah lagi peraturannya untukku.
Hari libur yang sangat menyenangkan, kabar yang membuat semua orang bahagia akhirnya masuk ke rumah putih ini.
Beberapa saat berlalu, Aku tidak melihat suami ku. Aku pun bergegas mencarinya.
Ku lihat Ben sedang berbincang dengan pak Ann. Ku sapu lagi seluruh ruangan dengan mata ku tapi tetap tidak menemukannya.
Ku lihat tangga menuju ke atas tapi aku tidak berani. Seketika buku kuduk ku merinding. Takut. kaki ku bergetar mengingat kejadian terakhir kali saat tidak mendengarkan perintah Gara.
Aku pun meminta pelayan yang baru saja lewat di samping ku, untuk memeriksa ruangan atas. Namun pelayan itu kembali dan mengatakan Tuan Gara tidak ada di atas.
Aku melangkah menuju ruangan yang tertutup tidak jauh dari tempat ku berdiri.
Ternyata ia sedang duduk membaca buku pink milikku di dalam ruang USG membelakangi pintu. Sepertinya ia sangat tertarik dengan buku itu hingga tidak menyadari kehadiran ku.
“Sayang untuk apa mengendap?” seketika ia berbicara tanpa menoleh ke arah ku.
__ADS_1
“Ehh, bagaimana kau tahu?” tanyaku dan duduk di sampingnya.
“Mudah. Bahkan aku tau suara napas mu.” jawabnya santai, tangannya menyusup di belakang ku untuk memelukku dengan satu tangannya.