
Ben sudah melajukan mobilnya menuju Hotel Blue dengan kecepatan tinggi. Pesan teks juga sudah di terima. mereka mendapatkan dimana posisi Divine saat ini.
Di kamar 555. Pria muda itu sudah menanggalkan pakaiannya, tersisa celana dalam yang melekat pada tubuh atletis itu.
Divine yang sejak tadi terus berlari untuk menghindari pria mesum di dalam kamar yang cukup luas itu mulai kelelahan, tenaganya sudah terkuras melawan Pria yang tak terkendali itu.
Berkali-kali Divine memukul Pria itu, namun tetap saja Pria itu tak sadarkan diri atau ambruk ke lantai, Dia yang terus mengejar Divine tak kehilangan tenaganya sedikit pun namun seolah semakin membuat pria itu menjadi jadi.
Divine sudah tak mampu lagi berlari ia bersandar di balik pintu, entah ini sudah kali ke berapa ia menghampiri pintu kamar itu untuk mencoba membukanya namun usahanya sia-sia.
Pria mesum itu sudah menyunggingkan senyumnya karena Divine sudah tak melawan lagi. Ia menyentuh pipi Divine seketika Divine menepisnya. Pria itu kembali menyentuh kedua pundak Divine dan menekannya ke daun pintu yang tertutup itu. Divine mengangkat tangannya lagi, ia menampar sangat keras Pria itu.
"Eza, ini aku Divi." ucap Divine dengan keras.
Pria muda yang hilang kendali bertubuh atletis itu ternyata Eza teman Gara. Sejak tadi Divine sudah berkali-kali mencoba menyadarkan Eza namun tidak berhasil, Divine berharap tamparannya kali ini bisa menyadarkan Eza.
"Divi, oh kamu sangat cantik," ucap Eza yang sudah ingin mencium Divine. Pandangan Eza benar-benar buram ia tidak bisa melihat dengan jelas.
Plak... Divine menampar Eza lagi. Eza terdiam menatap wajah Divine. Kesadarannya mulai kembali namun gairahnya masih memuncak tinggi.
"Divi kenapa kamu disini, tolong aku Divi" ucap Eza memohon pada Divine.
"Aku harus apa?" jawab Divine.
"Tolong aku Divi." lagi Eza memohon pada Divine, ia berdiri pasrah bersandar di balik pintu dan Divine berdiri di samping Eza memegang pundak Eza. Antena Eza sudah menegang sejak tadi celana dalamnya kini terasa semakin sesak.
Divine merasa iba melihat keadaan Eza saat ini, ia terlihat sangat menderita.
"Aku bisa mati Divi," seraya mengeluarkan antenanya dari dalam celana dan menarik tangan Divine untuk menyentuh antenanya.
__ADS_1
"Aahh.." terdengar suara Eza pelan dan panjang seperti merasakan kenikmatan luar biasa.
Namun Divine seketika berteriak dan menarik tangannya lalu mendorong Eza berjalan menuju kamar mandi.
Divine menjatuhkan tubuh Eza ke dalam bathtub dan membuka keran air hangat dengan sangat kuat agar cepat terisi, Divine pun pergi meninggalkan Eza sendiri di kamar mandi, Divine berjalan ke sebelah tempat tidur meraih gagang telpon.
"Bawakan apa saja, untuk menurunkan Gairah, oia jangan lupa cardlock, karena saya tidak bisa membukanya dari dalam." ucap Divine berbicara di telpon, lalu ia menutup sambungan telpon.
Tak lama terbukalah pintu kamar 555, seorang roomboy membawa banyak es batu.
"Es? untuk apa ini?" tanya Divine kebingungan.
"Iya berendam dengan air yang sangat dingin." jawab roomboy itu.
hah, apa yang sudah kulakukan, Eza apa kamu baik-baik saja. Divine berlari menuju kamar mandi mengingat ia mengisi bathtub itu dengan air hangat. Divine pun langsung membuang air hangat yang sudah terisi di dalam bathtub mematikan keran air hangat dan membuka keran air dingin.
Gara dan Ben pun tiba di hotel Blue, Ben langsung meminta cardlock untuk kamar 555.
Ben dan Gara sangat terkenal di kalangan wanita. Gara membuat semua gadis-gadis patah hati saat mendengar kabar pernikahan Gara. Resepsionis yang bisa melihat Gara secara langsung dan sedekat ini seperti terhipnotis ia langsung menuruti apa yang mereka minta.
Tanpa mengulur waktu, Gara dan Ben langsung masuk kedalam lift dan berhenti di lantai dimana kamar 555 itu berada. Sesaat keluar dari lift Ben memutar pandangannya mencari kamar 555 namun tidak pada Gara yang matanya sudah tertuju pada kamar 555 sejak pintu lift terbuka.
Benar-benar Gara bisa merasakan dimana keberadaan Divine. Gara sudah berlari menuju pintu kamar, Ben pun ikut berlari mengikuti bosnya itu barulah ia melihat kamar 555 sudah berada di depannya.
"Cepat Ben." ucap Gara yang sudah tidak sabar dan menguatkan hatinya untuk apa yang akan dia lihat nanti.
Pintu terbuka namun tempat tidur di depan mata mereka terlihat kosong.
"Divi......" teriak Gara seraya mendorong pintu kamar mandi.
__ADS_1
Gara terkejut melihat seorang wanita di atas tubuh Eza bersama di dalam bathtub, dengan pakaian yang sama dengan istrinya, body yang sama dengan cepat ia menarik pundak Divine untuk memastikan apakah wanita itu istrinya atau bukan.
Nyeesss..... sesaat Gara melihat wajah itu benar adalah istrinya. Betapa hancurnya Gara melihat istri yang ia cintai bersama pria lain dengan keadaan sadar.
Seketika Divine kembali berdiri dan menarik handuk yang ada di dalam kamar mandi ia sangat kedinginan terkena air bercampur es batu yang sangat banyak. Namun Gara tak menatapnya sedikitpun.
Gara terdiam, ia tak mampu berucap sedikitpun.
flashback. Ketika roomboy itu memasukkan es batu ke dalam bathtub beberapa butir es batu jatuh ke lantai dan mencair hingga lantai kamar mandi menjadi basah, saat Divine ingin keluar ia terpeleset dan jatuh ke dalam bathtub, Divine pun segera membalik badannya agar ia bisa bangun dan keluar dari bathtub, namun saat itulah Gara datang.
Ben pun masuk menghampiri Eza. "Apa yang kamu lakukan." ucap Ben seraya mendaratkan pukulan keras di wajah Eza, darah keluar dari hidung Eza, namun Ben tidak merasa iba sedikit pun pada temannya itu, Ben ingin memukulnya lagi namun Divine menghentikannya dengan menarik lengan Ben dari belakang.
Gara semakin terkejut melihat reaksi Divine.
Sejak kapan mereka bersama, sejak kapan? bukankah Divine selalu bersama ku, kenapa bisa seperti ini, begitu pikir Gara.
"Suamiku ini tidak seperti yang kamu lihat." Divine menghampiri suaminya itu.
"Ayo Ben, kita pulang saja." Gara beralih pada Ben, ia mengabaikan istrinya yang sedang mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Aku terlalu khawatir padanya, aku memikirkan hal yang tidak-tidak, aku memohon agar dia baik-baik saja, namun ternyata semua di luar kendali ku, begitu pikir Gara.
Gara berjalan keluar di susul oleh Divine dan juga diikuti oleh Ben di belakang mereka.
Divine menjatuhkan handuk yang ia kenakan tadi di lantai kamar sebelum ia keluar.
Ben melihat lengan baju Divine yang sobek, namun Gara tidak melihatnya, ia tidak memandang ke arah Divine sedikit pun setelah melihat apa yang terjadi di depan matanya.
Ben melepaskan jasnya dan memakaikan di pundak Divine. Sudah kewajiban Ben menjaga nama baik Bosnya, ia tidak ingin ada seorang yang meliput berita tak enak tentang kedua bosnya itu.
__ADS_1
Benar saja saat mereka keluar dari kamar itu, kilatan flash kamera menghampiri mereka bertubi-tubi.