Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Cari Jodoh


__ADS_3

Di tengah malam. Baby Gio menangis kencang.


“Sayang ibu di sini.” Divine mengelus pelan dada baby Gio namun tidak menghentikan tangisan baby Gio.


“Gio... Giodava ini susu." Divine menyodorkan dadanya. Ingin menyusui baby Gio. Namun baby Gio menolak dan terus menangis.


Divine bangun dan berdiri menggendong baby Gio. Tetap saja baby Gio menangis. Suaranya melengking.


“Nak, ada apa? kenapa menangis?” bola mata Divine sudah tampak berkaca-kaca sembari menimang-nimang baby Gio.


Wajah Gio merah padam karena menangis.


Divine membuka pintu dan keluar untuk mencari keberadaan suaminya.


Baru saja ia ingin membuka pintu kamar Ben, Gara keluar terlebih dahulu karena mendengar tangisan baby Gio.


“Ada apa sayang? kenapa Gio menangis kencang seperti itu?” tanya Gara dengan rambut berantakan tak sempat ia rapikan. Ia langsung melompat ketika mendengar suara tangis baby Gio.


Divine menggelengkan kepalanya menunjukkan ia juga tidak tahu, air bening menetes di pipinya.


“Sayang anak ayah.” pelan suara Gara mengelus dada baby Gio. Lalu mengambil baby Gio dari gendongan sang ibu.


Suara tangis baby Gio berangsur pelan dan berhenti menangis saat Gara mendekapnya.


Divine mengusap air matanya, melihat baby Gio yang seketika berhenti menangis.


“Hah, ini kamu berdosa sama suami mu.”


Divine diam saja. Berpikir mungkin ucapan Gara benar.


Sementara Gara menyembunyikan senyumnya. Merasa senang bahwa kali ini baby Gio mendukungnya.


Divine menyandarkan kepala di pundak Gara, melingkarkan tangan di pinggang ayah baby Gio menuntunnya berjalan ke arah kamar mereka.


Gara kegirangan. Ia mendapatkan istrinya kembali.


“Ingat untuk menangis saat tidak ada ayah di malam hari." Gara membisikkan kalimat di telinga baby Gio.


Baby Gio yang masih belum tidur membesarkan matanya dengan wajah serius. Baby Gio tidak setuju.

__ADS_1


“Terserah apa tanggapan mu, tapi malam ini kamu berada di pihak ku.” bisik Gara lagi.


Baby Gio buang muka. Mungkin ia menyesal karena berhenti menangis saat Gara mendekapnya.


Divine pun tertidur saat memperhatikan Baby Gio yang masih terjaga setelah menyu**.


Sedangkan Gara menemani baby Gio yang berbaring di antara dia dan Divine.


Pagi hari.


Ben dan Divine sudah berada di meja makan. Divine sudah menyelesaikan sarapannya. Ia segera bergegas kembali ke kamar untuk bergantian dengan Gara menemani baby Gio.


Gara baru saja bangun terlihat bawah matanya menghitam akibat terlalu sering terjaga saat malam menemani baby Gio. Tak terasa baby Gio sudah berusia 4 bulan.


“Ahh anak ibu sudah bangun.” sapa Divine setelah masuk ke dalam kamar dan melihat baby Gio dengan mata terbuka. Mendaratkan banyak ciumannya kepada baby Gio. Hingga membuat baby Gio merasa geli.


Bibir Gara mengerucut. Melihat Divine langsung menyapa baby Gio tidak menyapa dirinya terlebih ciuman Divine yang tidak ia dapatkan.


Sementara baby Gio yang sudah bisa tersenyum memperlihatkan gusi mungil pada ibunya.


Bahagia. Namun rasanya air mata Divine ingin menetes karena haru melihat baby Gio yang terus tumbuh.


“Mau sampai kapan mengabaikan ku?” ucap Gara di pagi hari yang bisa saja menyulut emosi.


“Ayolah sayang, baby Gio anak mu.” tutur Divine.


“Tapi kan bisa perlakukan kami dengan adil.” jawab Gara.


Divine tersenyum lagi-lagi untuk berdamai dengan Gara. “Baiklah, kemari.” pinta Divine Agar Gara mendekat padanya. Ingin memberikan ciuman pagi hari juga pada ayah baby Gio.


“Sudah lah, aku sudah tidak ingin.” Gara beranjak meninggalkan Divine di tempat tidur menuju kamar mandi.


“Gio-nya ibu besar nanti tidak perlu menjadi seperti ayah ya. Kita siapin pakaian ayah dulu terus Gio mandi.” ucap Divine sembari menggendong baby Gio.


Baby Gio terus saja tersenyum kepada sang ibu. Tak terasa awan gelap sudah berlalu. Rasanya baru saja Divine melewati proses persalinannya yang tidak mudah.


Divine membawa baby Gio ke kamar bernuansa biru untuk memandikan Gio disana.


“Apa kamu sangat senang sayang? hari ini kakek dan nenek akan mengunjungi mu.”

__ADS_1


Orang tua Gara telah menyusun rencana untuk ke indonesia sejak lama agar mereka bisa berlama-lama bersama cucunya.


Baby Gio hanya tersenyum. Ia sangat senang saat mandi. Tak pernah menangis saat dia sedang di mandikan oleh om Ben sekalipun.


Sejak kejadian Baby Gio pup saat Gara memandikannya. Gara sudah tidak pernah lagi ikut andil dalam urusan berhubungan dengan popok.


Gara dan Baby Gio selesai mandi di saat yang sama. Mereka menuruni tangga bertiga dengan baby Gio yang sudah ganteng dalam gendongan Divine.


“Anak ibu di sini dulu ya. Ibu mau melayani ayah mu yang rada sensitif akhir-akhir ini.” Divine berbisik pada Gio sebelum meletakkan Gio ke dalam box ayun.



Baby Gio pun bilang oke dengan mengangkat 1 kakinya.


“Pintar anak ibu." Divine mencium baby Gio lagi. Terus dan terus. Tidak ada rasa bosan untuk menghujani baby Gio dengan ciumannya.


“Sayangnya kakak Ben. Kita jalan-jalan yuk.” Ben menghampiri baby Gio. Baby Gio pun sangat senang. Tersenyum lebar. Ia terus menggerakkan kakinya dan mengangkat belakangnya tak sabar ingin di ambil oleh Om Ben-nya yang mengaku-ngaku sebagai kakak.


Sementara Divine melayani Gara dan menemani Gara sarapan. Ben dan Gio berjalan-jalan di halaman belakang. Biasanya Ben membawanya untuk berjemur di balkon kamarnya saat matahari cerah.


Ben melihat seorang gadis sedang berbincang dengan Pak Ann di pintu samping.


Ben yang merasa sudah saatnya untuk menikah tak malu untuk mencari perhatian dari Pak Ann dan gadis yang terlihat baru berusia 20 tahunan itu. Ia menunduk membuka tali sepatunya. Setelah terbuka Ben berjalan mendekati pak Ann yang sedang mengobrol.


“Pak Ann, Maaf bisa tolong gendong baby Gio, tali sepatu ku terbuka.” ucap Ben sembari melihat ke arah sepatu yang talinya terurai.


Gadis muda itu mendekat ke arah Ben untuk mengambil baby Gio.


Ben mundur, seakan menolak pertolongan gadis itu. “Kau siapa?” tanya Ben menjauhkan Baby Gio dari gadis dengan rambut terikat di depannya.


“Oh ini anak saya Tuan. Perkenalkan dirimu.” ucap pak Ann dan beralih kepada anaknya meminta untuk memperkenalkan diri kepada Ben.


Ben dan anak pak Ann pun berjabat tangan.


“Saya Indana Tuan.” ucap gadis itu dengan membendung rasa malunya.


Ben pun menyebutkan namanya. Lalu memberikan baby Gio kepada Indana.


Nyatanya itulah keinginan Ben. Ia sadar pak Ann sedang menjinjing 2 kresek besar di tangannya yang tak memungkinkan menggendong baby Gio.

__ADS_1


Sepertinya Ben sudah siap memulai hubungan. Padahal sudah sejak lama Syasa sekertaris di Andava memperhatikannya. Sayang sekali Ben tidak pernah menyadarinya.


Ben pun kembali berdiri setelah mengikat tali sepatunya. Mencoba mengobrol dengan Indana. Namun Indana yang pemalu tak pandai merespon pembicaraan Ben hingga menjawab dengan iya dan tidak saja membuat Ben berusaha keras memutar otaknya.


__ADS_2