
Hari terus berlalu Inah telah nyaman dengan hidupnya kini. Enam bulan hidup sebagai menantu dikediaman suaminya. Walau dengan wajahnya yang juga tak kunjung bisa mengimbangi wajah ibu mertuanya yang bahkan tampak lebih muda darinya.
Permasalahan kulit wajah Inah benar-benar membuatnya tampak lebih tua dari usianya. Namun dia kini seperti orang yang berbeda dengan wanita asing yang masuk ke dalam rumah ini enam bulan lalu. Inah semakin mirip dengan ibu mertuanya. Dia kini tampak ceria dan lebih pandai. Masakan rumah ini pun hampir diambil alih olehnya setiap hari. Seluruh penghuni rumah menyukai masakannya sejak pertama kali ia memasak.
"Sayang apa kau melihat menantuku Inah?" tanya Divine yang baru saja menghampiri Gara di ruang tengah.
"Inah Inah terus, semenjak ada dia, rasanya kau lebih sering bersamanya dibanding bersamaku." keluh Gara menjawab pertanyaan wanita tersayangnya ini.
Divine mencubit bibir Gara yang celamitan. Dia tidak menjawabnya. Malas untuk berdebat dengan pria yang sudah 28 tahun hidup bersamanya ini. Dia tidak akan pernah menang. Ada saja alasan yang tidak masuk akal dari suaminya itu.
"Jam segini menantumu sedang membaca, jangan ganggu dia." tambah Gara setelah mencium pundak Divine. Rasanya hidup Gara benar-benar telah sampai di impiannya. Hidup sederhana bersama istrinya. Menghabiskan hari demi hari tanpa harus bekerja setiap hari. Tidak percuma kerja kerasnya selama ini untuk menghadirkan anak di rahim Divine. Anak-anaknya kini telah tumbuh besar dan mampu menjalankan perusahaan mereka dengan baik.
Disisi lain. Gio sedang bersama neneknya. Nenek satu-satunya yang Gio miliki. Soraya.
"Kenapa Nenek gak bilang Papa kalah mau datang?" tanya Gio. Dia baru saja keluar dari bandara.
"Gio tahulah, Papamu tidak menyukai nenek. Dia mungkin akan melarang kalau nenek bilang padanya." sahut wanita dengan rambut putih yang mulai mendominasi warna rambutnya.
Gio tersenyum mendengar jawaban neneknya itu. Bukan hal aneh jika Papanya tidak menyukai orang. Banyak orang yang tidak papanya sukai. Hanya ada segelintir orang yang bisa mendapatkan senyuman dari ayahnya itu. Bahkan ibunya sendiri juga tidak dia sukai. Malah perempuan asing yang tidak jelas darimana dia sukai. Aneh. Itu yang Gio pikir saat ini.
"Nenek ingin tinggal bersama kalian, sepi rasanya tinggal bersama pelayan saja."
__ADS_1
"Nenek sudah tidak punya pacar?"
Puk. Soraya mencatut bahu Gio dengan kipasnya.
"Gio bercanda." Terkekeh. Tidak banyak yang Gio ketahui. Namun ia mengetahui bahwa neneknya ini pernah berselingkuh.
"Nenek sudah berubah, jangan ingat-ingat lagi masa yang telah lalu." tutur Soraya.
Gio pun diam. Mobil yang mereka tumpangi sudah masuk ke halaman rumah. Gio dan Soraya pun turun. Soraya menyapu halaman depan dan bangunan rumah yang masih sama dan tampak sangat kokoh walau telah berpuluh tahun berlalu.
Gara dan Divine yang baru saja di beritahu oleh Anni tentang keberadaan Nyonya tua di halaman rumah mereka. Seketika saling pandang. Bertelepati. Mencaritahu jawaban dari apa yang mereka pikirkan.
Gara dan Divine berdiri. Gio dan Soraya menghampiri mereka yang masih tidak bergerak dari tempatnya.
"Kenapa tidak bilang mau datang?" tanya Gara tanpa basa-basi.
"Mungkin kau tidak akan mengizinkanku." sahut Soraya.
"Karena itu, harusnya kau bilang, hingga aku bisa menghentikanmu." ujar Gara. Dia lebih senang ibunya tidak bersamanya.
Divine mencubit pinggang Gara dengan melingkarkan tangannya terlebih dulu. Tak seorangpun mengetahui bahwa Divine telah mencubit anak dari mertuanya ini.
__ADS_1
"Ayo Ibu, pasti kau lelah." Divine menggandeng ibu mertuanya masuk menuju kamar yang pastinya sudah Anni siapkan.
Sementara Gara kembali berdebat dengan putranya. Menuduh Gio yang membawa Ibunya datang.
"Tidak, aku juga tidak tahu. Ibumu tiba-tiba menelpon bahwa dia sudah ada di bandara." sanggah Gio.
"Ibumu ibumu, dia nenekmu!" tak suka Gio berkata Soraya adalah ibunya. Padahal dia sendiri yang mengatakan pada Gio untuk tidak memakai kata "ku" pada kepemilikannya.
"Ya benerkan istrimu, ibumu." ujar Gio memperjelas. Matanya melihat kesana-kemari, mencari-cari keberadaan seseorang yang tidak tampak sejak kedatangannya.
Gio berlalu meninggalkan Gara disana. Berjalan menuju dapur.
"Inah gak ada di dapur." pekik Gara sembari tersenyum mengejek putra sulungnya itu.
Gio terus berjalan mengabaikan ucapan Gara. Menunjukkan perkataan Papanya itu tidak benar.
"Mbak, kemana Bian?" menanyakan keberadaan asistennya dengan suara keras agar ayahnya mendengar ucapannya.
"Bian di halaman belakang Den, menghampiri Non Inah." jawab Anni dan membuat Gara bersiul-siul mendengarnya. Mungkin dia sedang menyamakan Gio dan dirinya dulu.
Gio pun melangkah menghampiri Bian dari kejauhan sudah terdengar candatawa mereka.
__ADS_1
"Bian!" seru Gio. Mengabaikan keberadaan Inah disana. Seketikapun obrolan seru Bian dan Inah pun terhenti.
Bian menoleh ke arah Gio, sementara Inah langsung berdiri dan meninggalkan Gio yang baru saja tiba. Begitulah Inah setiap harinya. Terus menghindar dari Gio demi kedamaian dunia katanya.