
Kejadian semalam biarlah rahasia :D
Pagi sekali Inah sudah terbangun. Bahkan mentari belum keluar dari sarangnya.
Inah mandi dan keluar dari kamarnya setelah rapi. Menggunakan Longdress dengan lengan pendek.
"Selamat pagi Non." sapa Mbak Anni dengan heran, memandang Inah yang baru saja sampai di dapur, kelihatan seperti terkejut dengan pandangan ke arah jendela.
Pohon dan tanah tengah basah, seperti habis hujan.
"Pagi Mbak, semalam hujan mbak?" Inah tidak mendengar hujan semalam dan jadi sangat heran karena pemandangan yang ia lihat.
"Iya Non, nggak lama dari Non Inah kembali ke kamar."
"Oh nggak deras ya Mbak, soalnya aku gak dengar." Inah tersenyum malu.
Kalau tidak lebat wajar saja Inah tidak mendengar saat berada di kamarnya.
"Hujannya deras Non dan cukup lama hampir 2 jam-an, setelah itu hujan rintik sampai pagi, ini baru saja berhenti." tutur Anni menjelaskan.
Mata Inah terbuka lebar. Kaget dia tidak merasa turunnya hujan bahkan dalam waktu yang lama. "Sepertinya aku tidur sangat nyenyak Mbak." Inah kembali malu.
Tidak biasanya dia bisa tidur seperti mati sampai tidak mendengar suara hujan turun.
__ADS_1
Anni mengangguk. Tidak masalah untuknya Inah mendengar hujan atau tidak. Tapi tidak dengan pikiran Inah. Dia mengingat - ingat semua yang bisa Inah ingat saat malam tadi.
Tapi ingatannya hanya sampai saat Inah masuk ke dalam kamar, tersambar dinginnya AC dan langsung masuk ke dalam selimut, Inah pun tidak menyadari keberadaan Gio semalam, sudah tidur atau tidak ada saat ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Dirinya begitu dikuasai oleh kantuk.
Inah menyiapkan sarapan sementara Bibi yang biasa memasak sedang membuat beberapa masakan yang akan di masukkan ke dalam kotak bekal.
Inah pun menyajikan sarapan buatannya lalu kembali ke kamar. Jangan berpikir untuk membangunkan Gio, karena itu tidak mungkin Inah lakukan.
Inah kembali turun dengan pakaian yang sudah berganti. Celana jeans dan kemeja putih dan rambut yang dibiarkan tergerai, make up tipis hanya untuk menutupi bekas jerawat di wajahnya. Dia sangat senang hari ini. Dua Minggu sudah jerawat tidak muncul di wajahnya hingga wajahnya terbebas dari bukit - bukit kecil yang bisa membuat hasil make upnya tidak mulus. Padahal dia hanya memakai cushion. Tetap saja itu tampak lebih baik daripada wajah polosan menurutnya.
Sedikit lama dari itu, pasangan tua rumah ini baru terlihat. Entah apa yang membuat mereka terlambat bangun hari ini. Wajah segar terlihat di kedua wajah mereka, menuruni tangga bergandengan. Gara merangkul pinggang Divine.
"Sini aja kenapa?" protes Gara saat Divine hendak melepas tangannya dari pinggang Divine.
"Ckk." Divine berdecak malas. "Ada banyak kursi loh sayang." bantah Divine yang tidak ingin duduk di pangkuan Gara.
"Terus anak - anak nanti duduk dimana?"
"Suruh aja mereka bawa sendiri."
"Ih.."
"Ya dikembalikan seperti semula, lagian gitu aja pake nanya."
__ADS_1
"Loh kok jadi marah sih." Divine gemes.
"Siapa yang marah?"
"Itu!" menunjuk bibir Gara.
"Makanya sini aja ya." Gara memeluk Divine erat, meletakkan kepalanya di pundak Divine.
"Yaudah iya," seketika wajah Divine memerah melihat Gio putranya tiba. Malu dengan apa yang sedang ia lakukan.
"Wajah Mama merah tuh Pah." Gio bersuara. Setelah pertengkarannya hari itu, ini kali pertama Gio berbicara duluan. Duduk dengan tenang, matanya melirik ke arah lain.
"Sepertinya Gio sudah gak marah sama kita." Divine berbisik. Sembari melepas pelan pelukan Gara. Gara hanya mengangkat alisnya.
"Dimana istri Gio, jam segini harusnya sudah bangunkan!" celetuk buruk dari Soraya yang baru saja tiba dan tidak melihat kehadiran Inah di meja makan.
Gio diam saja, diapun ingin tahu dimana istrinya, sejak tadi tidak terlihat.
"Iya Bu, Inah sudah bangun sejak tadi, sarapan ini pun dia yang memasaknya." jelas Divine pada mertuanya. Lalu beralih melihat Gio. "Oia sayang, Inah mengunjungi orang tuanya hari ini, dan dia sudah berangkat setelah menyiapkan sarapan ini."
Gio mengangguk saja, tapi merasa tidak nyaman. Mamanya tidak memberi informasi dengan jelas.
"Dia pergi sendiri Ma? bukannya Gio peduli ya, Gio hanya ingin tahu aja." Gio menekankan bahwa dia bertanya bukan karena peduli.
__ADS_1
"Gak sayang, gak bakal Mama ijinin, jadi Papa minta Bian untuk mengantarnya."
Gio menelan kasar sarapannya saat nama Bian terdengar.