Istri Pajangan

Istri Pajangan
Eps. 46


__ADS_3

Divine terkejut seseorang menepuk pundaknya. Eza sudah berdiri di sampingnya.


"Sedang apa Disini Div?"


"Eh Eza, hm aku mau menjenguk temanku ternyata dia sudah pulang."


Kenapa Eza disini? aku tidak mungkin bertanya ke administrasi sekarang, itu akan tampak, aku tidak percaya pada suamiku.


"Kenapa kamu disini, apa tangan mu masih sakit?" tambah Divine.


"Hehe tidak, sebenarnya aku mengikuti mu, aku takut tejadi apa-apa padamu." Eza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Haha, aku sudah besar Za, kamu memperlakukanku seperti anak kecil."


"Bukan begitu Div, katamu, kamu mengantuk aku terkejut melihatmu menyetir sendiri, jika tadi kamu bersama supir mungkin aku tidak perlu khawatir."


Pantas saja dia bisa jadi playboy, kata-kata dan juga sikapnya sangat manis, semua wanita yang berada di dekatnya akan mudah jatuh cinta.


Eza dan Divine pun berjalan bersama di koridor rumah sakit, dengan terpaksa Divine harus menunda mencari informasi tentang suaminya.


Setelah sampai di parkiran Eza dan Divine berpisah berjalan menuju mobil mereka masing-masing. Divine pun mengendarai mobilnya sendiri belum jauh ia berjalan, masih di sekitar depan rumah sakit, Divine berhenti dan turun dari mobilnya karena melihat kakek tua yang sedang berjualan air mineral. Namun tiba-tiba seseorang merampas tas yang di bawa oleh Divine dan membawa tas Divine pergi. Eza yang melihat adegan ini langsung mengejar dengan mobilnya, tak butuh waktu lama ia sudah mendapatkan perampok itu tak jauh dari posisi Divine berdiri.


Perkelahian pun terjadi, namun Eza yang berbadan Atletis dengan mudah mengalahkan perampok itu lalu mengambil tas milik Divine sepertinya Eza pernah belajar bela diri gerakannya sangat tepat ia tak terkena satu pukulan pun dari perampok itu.


Divine Berlari menuju Eza yang sudah menjatuhkan perampok itu hingga tidak bisa berdiri lagi.


"Za, apa kamu baik-baik saja?" tanya Divine, ia merasa khawatir.


"Kamu bisa lihat sendiri." Eza dengan bangganya menunjukkan dirinya yang baik-baik saja.


"Seharusnya kamu biarkan saja dia, aku bisa mengurus semua yang hilang nanti." ucap Divine.


"Ayolah Divine, ini sebuah kejahatan tidak boleh di biarkan, Jika ayahmu masih ada dan tau anaknya menjadi korban perampokan, mungkin tidak akan adalagi profesi Polisi di Negara ini."

__ADS_1


"Haha kau berlebihan Za." Divine menerima tasnya dari tangan Eza. Sementara itu Eza menelpon polisi untuk membawa perampok itu.


Divine pun kembali menghampiri kakek pedagang air mineral dan membeli dua botol air mineral sengaja ia memakai uang pecahan terbesar dan tidak mengambil kembaliannya.


Divine kembali masuk ke dalam mobilnya dan berjalan pelan menuju Eza yang kini sudah tampak bersama Polisi. Divine pun turun dari mobilnya dan memberikan air mineral kepada Eza.


"Terimakasih Div." ucap Eza.


Polisi itu sudah di ceritakan oleh Eza bahwa Divine adalah korban perampok itu. Semua orang tau siapa itu yang bernama Divine walau tak mengetahui wajahnya.


"Maafkan saya Nona kejadian seperti ini sampai terjadi pada Nona." ucap seorang Polisi, dimana pengawal-pengawal yang selalu bersama Nona ini hingga kejadian seperti ini bisa terjadi begitu pikirnya.


"Iya Pak tidak apa-apa." jawab Divine.


Polisi itu pun pergi membawa perampok itu setelah berterimakasih pada Eza dan pamit pada Eza dan Divine.


Semasa Ayah Divine masih hidup Divine memang bisa pergi sendiri namun selalu ada empat orang pengawal yang tidak jauh dari dimana Divine berada.


Setelah Ayahnya tiada ia hanya meminta pengawalnya di rumah saja dan datang ketika Divine memintanya.


"Itu hanya kebetulan, kalau tidak percaya ayo bertemu lagi besok!" ucap Eza sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Heh sudahlah, Terimakasih sudah menolongku ya. Aku pulang dulu bye Za." Divine menepuk pundak Eza dan masuk kedalam mobilnya. Ponselnya berbunyi menandakan ada sebuah pesan Divine pun membukanya terlebih dahulu terlihat sebuah pesan dari Gara "sayang kamu dimana,kenapa tidak ada di kantor?" begitu isi pesannya.


Hmm baru sekarang mencariku.


Divine pun mengemudikan mobilnya tanpa membalas pesan dari suaminya itu.


Gara yang sedang menanti jawaban dari pesannya memutar-mutar ponselnya kini ia sudah berada di Andava grup di dalam ruangannya.


"Divine ini ! ini sudah kali keberapa aku mengirim pesan padanya, dan tidak pernah di jawab, apa dia tidak tau caranya mengetik pesan." gerutu Gara.


"Terakhir kali aku kirim pesan padanya untuk tidak pulang saat menjaga Vely, ia juga hanya membaca pesan itu dan tidak menjawabnya." tambah Gara yang kesal dan juga gemes dengan sifat Divine.

__ADS_1


Gara akhirnya memutuskan untuk menelpon Divine. Terdengar suara terhubung di ponsel Gara namun Divine belum mengangkatnya.


Divine melihat sebuah telpon masuk dari Gara setelah lama ia pandangi akhirnya ia menyentuh layar ponselnya dan mengaktifkan speaker.


"Halo Tuan Putri." terdengar suara Gara di balik telpon ia sedang gemes dengan istrinya itu, merasa kesal setiap kali kirim pesan tidak pernah di jawab.


"Ya, Aku sedang menyetir, cepat katakan." Divine malas berbicara dengan suaminya itu.


"Ada apa denganmu, kenapa jadi seperti istri yang galak sekarang?"


"Ya, ada apa sayang." Divine merubah nada suaranya.


mungkin aku bisa dapat sedikit informasi.


"Begitu dong, baru istriku, kamu sedang mau kemana?"


Sangat mencurigakan, biasanya juga ga pernah bilang begitu.


"Aku mau pulang ke rumah, oh ya sayang apa semua pekerjaanmu sudah kamu pindahkan ke Andava?" Divine ingin mengetahui apa jawaban Gara.


"Iya, Ben sudah memindahkan semuanya tanpa tersisa." tak sadar Gara menjawab pertanyaan istrinya itu dengan begitu santai.


"Oh begitu, lalu pekerjaan apa yang tadi kamu kerjakan hingga tidak ikut makan siang dan kembali ke Andava bersamaku?"


Gara gelagapan bingung ingin menjawab apa, ia terjebak dalam pertanyaan Divine.


"Adalah sayang tidak begitu penting." Gara menjawab sekenanya.


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, aku tutup dulu." tambah Gara ia ingin cepat-cepat menutup telponnya itu. Divine pun mengiyakan. Sambungan telpon pun terputus.


"Ah sampai kapan aku mau berbohong begini?" Gara bertanya pada dirinya sendiri.


Ia kembali menghadap ke meja kerjanya mengambil salah satu dokumen yang akan ia baca lalu menandatanganinya. Baru beberapa dokumen yang ia baca dan ia tandatangani pikirannya kembali pada Vely yang ingin berteman dengan Divine. "Apakah ku biarkan saja, tapi bagaimana nanti?" Gara terus berpikir.

__ADS_1


"Jika nanti Divine tau kebenarannya apakah dia akan tetap memilih bersamaku atau merelakan ku bersama orang lain dengan sifat Divine yang seperti ini, aku takut ia akan melepas ku sedangkan aku tak ingin berpisah dengannya."


__ADS_2