
Gara memegang tangan Divine agar Divine melihat ke arahnya.
"Kenapa tidak menebak bahwa itu aku?" tanya Gara.
"Ah tidak mungkin, kau saja tidak mempunyai hadiah untuk ku?" jawab Divine.
"Kau terlalu sibuk, ayo ke kamar!" jawab Gara dengan mengajak Divine ke kamar.
"Hei jangan sekarang, temen-temen kita pun masih di sini." jawab Divine.
"Apa yang kau pikirkan sayang." Gara menyentil dahi Divine yang mulai berpikiran liar.
"Tunggu Div, aku pulang duluan yaa, ini sudah larut, aku masih harus istirahat, dan itu hadiah ku untuk mu." ucap Viona dengan menunjuk kue besar berwarna hijau pastel di sudut meja.
"Sedari tadi aku bertanya-tanya, kenapa ada kue besar itu dan darimana datangnya, ternyata kamu, terimakasih ya Vio." Divine tersenyum dan memeluk sahabatnya itu.
Viona pun bergegas pulang dan meninggalkan pesta kecil itu.
"Hati-hati di jalan." sambung Divine melihat Viona sudah berjalan keluar dengan melambaikan tangannya.
Gara pun membawa Divine untuk melihat hadiah darinya.
Sesampainya di kamar, Divine terkejut dengan kotak besar yang ada di dalam kamarnya.
"Apa itu, apa kamu memberiku patung replika dirimu?" karena kotak itu setinggi Gara.
"Bukalah, jika kamu ingin tau." jawab Gara.
"Bagaimana bisa, kotaknya sangat tinggi."
"Kau tarik saja pitanya sayang, lalu aku akan membantu mu." jawab Gara.
Divine pun menarik sumbu pita hingga kotak itu terbuka penuh, merekah seperti kelopak bunga yang sedang mekar. Bahkan 1 sisi hampir mengenai Divine jika Gara tidak memegangnya.
Divine mundur dan membiarkan Gara melepas sisi kotak itu, dan terlihatlah susunan kotak di dalam kotak.
"Kotak lagi?" ucap Divine.
Gara mengambil kotak teratas dan memberikannya pada Divine. Divine pun membuka kotak yang Gara berikan.
"Apa ini ?" ucap Divine saat melihat piyama tidur tipis sangat sexy, di dalam kotak itu. sangat berbeda dengan pakaian tidur Divine selama ini.
__ADS_1
"Kau terlihat luar biasa saat mengenakannya seperti pagi tadi, sangat-sangat menggoda, dan aku sangat suka." jawab Gara
Wajah Divine memerah, mengingat tingkah mesum Gara pagi tadi, tak menyangka Gara malah memberikan piyama tidur yang seperti itu.
Gara pun memberikan kotak selanjutnya, Divine pun membukanya, dan lagi-lagi isi yang sama, piyama tidur yang sangat sexy.
Divine tak ingin memperlambatnya, Divine mengambil semua kotak dan membuka setiap kotak, namun semua isinya sama, piyama tidur sexy hanya berbeda warna saja dengan total 18 piyama tidur dari 18 kotak.
"Ini juga untuk mu," Gara memberikan sebuah kotak lagi.
Karena Divine kesal dengan Gara semua hadiah untuknya adalah piyama tidur sexy, dengan cepat Divine mengambil kotak yang ada di tangan Gara lalu membukanya, ternyata sebuah gelang kecil yang sangat lucu.
"Bagaimana bisa kamu tau, aku suka gelang dan suka yang kecil seperti ini." tanya Divine.
Gara mengambil gelang itu dari tempatnya dan memasangkan di tangan Divine.
"Bukankah aku pernah bilang, aku memperhatikan semua tentang mu." jawab Gara.
"Terimakasih, aku akan memakainya terus." ucap Divine dengan senyum khas miliknya.
"Ada lagi, ini yang terakhir dan ini yang terpenting yang harus selalu kamu pakai." Gara memberikan 1 kotak terakhir.
"Ayo cepat buka." Gara tak sabar ingin Divine membukanya.
Divine pun membukanya, dan terlihat dua buah softcase ponsel dengan gambar dirinya dan Gara, saat Gara memasangkan mahkota di kepala Divine di desa Murni.
Apa-apaan ini, bukankah ini terlihat berlebihan, sedikit tidak sesuai dengan seseorang sepertinya.
Gumam Divine di dalam hati, benar-benar suaminya ini sepertinya sangat berbeda dari tampilan luarnya.
Gara pun mengambil ponsel di saku baju dan memasang 1 softcase itu pada ponselnya.
"Dimana ponsel mu?" tanya Gara, ia sangat bersemangat untuk memakai softcase itu bersama Divine.
"Ah ada di tas ku." jawab Divine seadanya.
Gara pun langsung menarik Divine keluar untuk mencari ponsel Divine, meninggalkan kamar mereka yang masih di penuhi kotak terbuka berisi piyama tidur sexy berhamhur dimana-mana.
Divine dan Gara pun berjalan ke arah meja tempat Divine meletakkan tasnya.
"Gara, kemari." panggil Ben dengan sangat keras.
__ADS_1
"Sayang, cepatlah temukan ponsel mu, aku akan menemui Ben sebentar." Gara meninggalkan Divine karena melihat Ben dari kejauhan seperti seorang yang sedang mabuk.
Saat Divine mengambil ponsel dari dalam tasnya, tanpa sengaja amplop coklat yang di berikan oleh Jerry terikut hingga isi dalam amplop berjatuhan ke lantai.
Divine terkejut melihat apa yang terjatuh ke lantai, Divine menyadari bahwa itu adalah lembaran foto, Divine pun memungut semua lembaran-lembaran foto yang terburai di lantai, Divine memandangi setiap foto lembar demi lembar, wajahnya merah padam.
Plak... Divine menampar Vely, sesaat ia tiba di depan Vely. Divine melemparkan semua lembaran foto pada wajah Vely.
"Sayang, ada apa?" tanya Gara, ia sangat terkejut melihat Divine yang tiba-tiba sangat marah, begitu pun Eza dan Ben yang juga sangat terkejut.
"Jangan menyentuh ku." Divine melepaskan tangan Gara dari pundaknya.
Eza dan Ben pun memungut foto yang berhamburan di lantai, setelah Ben melihatnya, Gara pun menarik foto di tangan Ben.
Gara melihat dan mengetahui foto itu adalah saat ia berada di bar bersama Vely dan Shena.
"Ah ini, saat kami berada di Bar." ucap Vely saat melihat foto yang di lemparkan ke wajahnya, berkata dengan sangat santai, karena Vely dalam pengaruh alkohol.
"Ah dia mabuk Nona Div, dia pasti melantur." ucap Shena sembari menghentikan Vely yang terus berbicara dengan menutup mulut Vely.
Divine sangat geram melihat kedua wanita di depannya ini.
Namun Vely terus meronta dan melepaskan tangan Shena.
"Shena mengatakan pada ku, Gara diam-diam memandangi foto ku, ah aku yakin Gara mencintai ku." Vely menyentuh dagu Gara dengan gaya sedikit mabuk.
Ben dan Eza sangat terkejut mendengar pernyataan Vely, mereka sungguh mengira Gara benar mencintai Vely.
Gara terdiam mendengar ucapan Vely, ia menatap tajam pada Shena.
Sementara Divine semakin tidak tahan lagi dengan apa yang ia lihat dan ia dengar saat ini.
"Shena, katakan sesuatu!" ucap Gara tegas pada Shena dengan tatapan penuh rasa kecewa.
Divine tidak ingin mendengar apa pun lagi, ia bergerak untuk meninggalkan tempat itu, ia sangat kecewa merasa selama ini Gara telah di bohonginya.
"Tunggu disini dan dengar!" Gara memegang tangan Divine, ia tidak mengijinkan Divine meninggalkan tempat itu.
Sementara Vely sudah tidak sadarkan diri terbaring di sofa.
"Hei kau!" bentak Eza pada Shena yang masih saja diam. Jika Shena lelaki, sudah sejak tadi Eza memukul wajahnya hingga tidak bisa bicara sungguhan.
__ADS_1