
Viona berjalan menuju box bayi setelah memeluk Divine sahabat rasa saudara.
“Wah baby, kamu cantik sekali tapi kamu lelaki.” Viona melihat hidung mancung bulu mata yang sudah terlihat serta bibir kecil yang ada pada baby Gio.
“Siapa namanya Div?” tambah Viona.
“Giodava, ayahnya yang memberikannya.” sahut Divine.
Ben tercengang mendengar ucapan Divine. Teringat saat kemarin ia duduk di mejanya mencoret-coret membuat sebuah nama untuk bayi Divine dengan memadukan nama ayah dan ibunya serta perusahaan yang akan jadi miliknya nanti. Namun “Giodava” tidak sempat tertulis di kertasnya. Baby itu tiba-tiba menangis hingga Ben langsung meletakkan penanya.
“Apa itu perpaduan antara namamu, Gara dan perusahaan?” tanya Viona lagi.
“Ahh apa iya? aku tidak tahu.” cakap Divine yang masih duduk di ranjangnya.
“Sepertinya begitu Vio?” sela Ben yang mendekat ke arah box bayi setelah meletakkan semua barang-barang di tangannya.
“Hemmm..” sahut Gara. Kini ia sudah berdiri di samping Divine memainkan rambut Divine entah apa lagi yang kini dalam pikirannya.
“Dimana Nilo Za? apa kau juga akan menjadi seorang ayah, sudah sangat lama tidak mendengar kabar mu?” tanya Divine pada Eza yang ikut berdiri di samping box bayi bersama Ben dan Viona melihat bayi yang sedang tertidur itu.
“Sebenarnya kami sudah bercerai.” lirih suara Eza.
Gara dan Divine terdiam dengan mulut terbuka.
“Kau serius?” Divine melihat Eza dengan membesarkan matanya. Masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Seorang playboy memang tidak cocok menikah.” timpal Gara.
Eza hanya menelan ucapan Gara yang sedikit menusuk hati.
“Tuanbos lebih baik diam saja.” Ben menimpali ucapan Gara yang tau seperti apa ceritanya.
“Iya nih, Ayah Gio kamu memang lebih bagus diam saja.” tambah Divine.
“Apa lagi itu "ayah Gio", aku tidak mau, tetap "sayang" !” titah Gara.
Pikir Gara sejak kelahiran anaknya semuanya teralih padanya, bahkan nama panggilan pun kini juga terhubung dengan bayi kecil itu.
Divine hanya bisa menarik ujung bibirnya karena suaminya kini benar-benar menyebalkan.
Dasar Gara semakin ia bicara semakin ada-ada saja kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Ben, apa Eza serius dengan ucapannya?” Divine beralih pada Ben yang langsung di angguki oleh Ben.
__ADS_1
“Oh astaga Za, apa yang sudah terjadi? semoga kau segera bertemu jodoh mu.” ucap Divine ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada pernikahan Eza.
“Dia pasti mengkhianati istrinya!” ketus Gara.
“Tidak begitu Tuan Gara,” sanggah Viona namun langsung di hentikan oleh Eza untuk tidak berbicara tentang mantan istrinya lagi.
Entah apa yang Viona tau tentang pernikahan Nilo dan Eza, hingga ia mau menyanggah ucapan Gara.
“Div, segera pulih dan selamat untuk mu.” cakap Eza sebagai kata terakhirnya. Ia akan pulang.
“Terimakasih Za.” Divine tersenyum tidak enak pada Eza.
Sesaat setelah Eza keluar.
Tangan Divine menempel di perut Gara mencubit sedikit lemak yang ada di perutnya.
“Aauww, apa sih? kicau Gara.
“Jangan bicara lagi, sebelum Viona juga ikut pergi.” seru Divine. Suaminya kini benar-benar menyebalkan.
“Ini bau rambut mu kenapa tidak enak begini?” bisik Gara yang menciumi rambut istrinya sejak tadi.
“Bau gimana?” Divine meraih dan membaui rambutnya.
Gara menepis rambut di tangan Divine.
Gara sudah mendekatkan kepalanya di depan wajah Divine. Saat Divine ingin membaui rambutnya , Gara langsung memutar kepalanya hingga bibir Divine menabrak bibirnya.
“Rambut ku sayang, bukan bibir ku.” cakap Gara. Lalu menempelkan rambutnya di hidung Divine.
“Bagaimana tidak seperti bau rambut mu kan!” tambah Gara.
Dasar Gara, mau cium istri sendiri saja banyak alasan.
Divine penasaran, ia pun membaui rambutnya. “Apaan ini masih wangi yang sama dengan rambut mu.”
Padahal itu hanya akal-akalan Gara saja. Mana mungkin rambut mereka berbeda aroma, sejak jatuh cinta dengan Divine, semua perlengkapan mandinya berubah memakai semua perlengkapan Divine.
Sudah seperti orang susah saja. Perlengkapan mandi di pakai bersama. Untungnya tidak pakai isi ulang dicampur dengan air saat kehabisan.
Ben dan Viona asik dengan baby yang ternyata sudah membuka matanya karena ulah Ben menguyel-menguyel pipinya agar terdapat lesung pipit katanya.
“Wah Ben, kalau dia punya lesung pipit aku tungguin dia aja deh baru nikah.” Viona membayangkan baby Gio besar nanti akan mirip dengan Lee Minho aktor favoritnya.
__ADS_1
“Ya Gak bisa, mana mungkin adik ku mau dengan nenek-nenek.” jawab Ben.
“Adik, baby Gio adik mu?” Vio tergelak mendengar ucapan Ben.
“Iya, namanya saja hasil rumusan ku.” bisik Ben tak ingin Gara mendengarnya bisa-bisa ia akan mengganti namanya jika tahu Ben yang terlebih dulu mendapatkan nama Giodava. Meletakkan jari telunjuk pada bibirnya.
Viona yang menatap Ben sedang mendapatkan sisi lucu Ben.
“Kalau begitu sama kakaknya aja udah.” canda Viona.
“Ehh maksud mu aku?” sahut Ben yang tidak mudah terbawa perasaan.
Viona pun mengangguk-angguk dengan senyum di wajahnya.
“Ahh jangan, takutnya nasib mu akan seperti Nilo.” tutur Ben yang juga bercanda.
Mereka pun terus bersenda gurau bersama. Hingga baby Gio menangis karena gelak tawa mereka mengejutkan baby kecil itu.
Baby Gio kembali tidur saat Ben berhenti menguyel pipinya dan kembali terbangun karena ulah Ben lagi.
Seketika Ben langsung menggendongnya.
“Kenapa Ben, mungkin dia lapar?” suara Divine seketika mendengar Baby Gio menangis.
“Sepertinya tidak Div, ia sedikit terkejut.” Ben menusuk pelan area pipi Gio.
Perawat memberi tahunya, bayi akan mengikuti arah sentuhan saat ia lapar. mungkin pikirnya itu put*ng sang ibu.
Ben menggendong baby Gio rapat pada dadanya sembari mengelus lembut belakang baby Gio.
Baby Gio pun berhenti menangis. Lagi-lagi Viona memandangi Ben. Ia terpesona pada Ben yang mengerti perasaan bayi.
“Letakkan dia disini Ben?” Divine menepuk sisi tempat tidurnya.
Divine pun dengan pelan mau merebahkan tubuhnya. Gara secepat kilat langsung menopang bahu Divine untuk membantu Divine berbaring kembali di tempat tidur.
“Karena inilah aku mau melahirkan dengan normal sayang. Sakit pasca operasi itu sangat tidak menyenangkan." cakap Divine setelah berhasil merebahkan tubuhnya.
Gara diam saja. Ia sedang memikirkan meminta obat yang bisa membuat rasa sakit itu langsung tidak terasa lagi.
Setelah melihat Divine sudah siap. Ben meletakkan Baby Gio di samping ibunya di ranjang yang sama.
Gara yang melihat Baby Gio di baringkan di sebelah ibunya terlihat mengerutkan alisnya. Entah apalagi yang ia pikirkan. tunggu saja saat ia membuka mulutnya.
__ADS_1
“Lalu aku dimana?” tanya Gara santai. Sisi tempat baby Gio di baringkan adalah tempatnya.
Benar saja kata Divine. Lebih baik suaminya itu diam saja. Saat ia membuka mulutnya membuat orang lain ingin segera menghilang dari hadapannya.