
Gara melepaskan ciumannya, dia merasa sudah hampir lepas kendali.
"ini hukuman mu" ucap Gara sambil mengelap sudut bibir nya yang basah karena sesuatu yang baru saja terjadi.
"hukuman, memang aku salah apa?" Divine yang masih terpojok di dinding bahkan tangan nya belum di lepaskan oleh Gara.
Gara mendekatkan wajah nya lagi ke depan wajah Divine lalu berbisik di telinga Divine "kau pikir saja sendiri istriku sayang".
wajah Divine semakin memerah dan terdiam, ia merasa ngeri mendengar kata sayang dari suaminya.
Tok tok tok.... terdengar suara ketukan pintu kamar mereka. Gara melepaskan tangan Divine, "cepat pakai pakaian mu, kita makan bersama" ucap Gara, lalu ia keluar dari ruang pakaian dan pergi membuka pintu, terlihat Ben berdiri di depan pintu kamar mereka.
"lama banget, ngapain kamu" Ben melihat ke arah tempat tidur dan menaik turun kan alisnya pada Gara dengan senyum mengejek.
"heh, apa yang kamu cari, ayo turun" Gara mendorong Ben dan Gara pun keluar sambil menutup pintu.
"mana Diviku?"
__ADS_1
"Ben, kau cari masalah dengan ku"
"apa, kamu sendiri yang katakan, aku boleh mendekatinya"
"sekarang aku ayah nya, aku tidak mau anak ku di dekati orang seperti mu"
Gara tertawa dalam hatinya "ada gunanya juga apa yang aku ucap sembarangan ke Divi tadi"
Ben semakin tak mengerti, alisnya mengkerut, otak nya tak bisa mencerna apa yang sedang bos nya ini pikirkan.
"apa apaan sih Gara, aku gak ngerti, kemaren kamu suaminya, bolehin aku dekatin Divi, sekarang kamu bilang kamu ayahnya, dan aku ga boleh deketin Divi gimana sih? aahhh aku bingung" Ben mengacak-ngacak rambutnya.
"*huaaa apa sih yang di pikirkan orang ini, sebenarnya dia ga mau aku dekatin istrinya kan, pakai bawa-bawa ayah Divine segala,
Gara ini terlalu gengsi ngakuin perasaan nya di depan ku, setelah yang terjadi selama ini siapa yang buta tidak bisa melihat,
biarin, selama dia tidak mengaku, aku terusin aja, egh tapi bagaimana dengan ayah Divine, sepertinya Gara sedang bermain Drama, aku mana berani sama ayah Divine*" Ben berprolong sendiri di dalam hatinya,
__ADS_1
"aku mau menangis rasanya hanya karena mengingat ayah Divine" ucap Ben. lalu celingukan ia kini sendirian berdiri di samping sofa, tak terlihat Gara ada disana.
"heh Ben, sampai kapan kamu disitu ayo makan"
Gara sudah berjalan menuju meja makan, pelayan pelayan menengok, karena baru kali ini suara Gara tampak berbeda tidak seperti biasanya penuh ketegangan, malam ini keheningan rumah ini seperti pecah.
Divine baru saja turun tidak mendengar suara suaminya tadi.
"ayo Ben makan, makan malam pasti sudah siap" Divine mengajak Ben yang masih terdiam itu.
"ahh iya Divi " Ben berjalan bersama Divine.
Gara melihat mereka berjalan bersama nampak tak suka. "Ben sini cepat" Gara memanggil Asisten nya itu agar cepat menghampirinya, Ben pun meninggalkan Divine.
"ada apa, ada sesuatu yang penting?"
"duduk, kamu lupa apa yang ayah Divine bilang tadi"
__ADS_1
"huaaa dasar Gara, sesuatu miliknya hanya miliknya jalan bersampingan pun tidak boleh"
Ben bergumam kesal di dalam hatinya.