
Sejak itu Gara semakin jarang pergi ke kantor. Dia hanya menemani Divine di rumah, memastikan semua obat-obatan masuk ke dalam tubuh Divine tepat waktu.
Dari banyaknya pelayan yang ada di rumah. Dia memilih untuk merawat istrinya itu sendiri. Hingga Ben sudah tidak pernah terlihat, Ia bergelut di kantor hingga larut malam mengemban semua pekerjaan Gara.
“Sayang, aku tak mengapa kau pergi lah bekerja.” Divine meraih tangan Gara meletakkan di atas perutnya.
Gara menyembunyikan prihal pre-eklampsia dari Divine. Ia sudah tau apa yang akan Divine pilih jika ia mengetahui keadaanya sekarang.
“Kenapa selalu mengusir ku?” decak Gara menunjukkan ekspresi tak suka pada Divine. Cemberut.
Namun di hatinya seakan setiap kata yang keluar dari mulut istrinya itu adalah kata terakhir yang bisa ia dengar. Sakit yang tak bisa gara lukiskan.
“Aku tak mau, bocah pintar ini nanti akan hidup sudah karena ayahnya malas.” Divine menganggap Gara mulai bermalas-malasan dengan alasan menemaninya sepanjang hari. Tangan Divine mengelus perutnya.
“Tidak akan ku biarkan, kita semua akan hidup bahagia selamanya.” 'Hampir jatuh sudah air mata Gara tapi dengan cepat dia berdiri berbalik membelakangi istrinya.
“Kalau begitu pergi lah, kasian juga Ben, kau harus menaikkan gajinya 3x lipat.”
“Aku sudah menaikkan gajinya, apa sekarang aku boleh disini? sudah waktunya memotong kuku kaki mu.” Gara mengambil potongan kuku di dalam laci dan menyingkap selimut yang menutupi kaki Divine.
Bahkan kaki mu saja akan sulit ku lupakan, bagaimana dirimu.
Hari-hari terus berlalu walau sudah mengikuti semua arahan dokter Divine tetap merasa kelelahan, kaki tangan semakin bengkak, pandangan yang mulai mengabur dan berat badan yang terus naik hingga melewati batas normal.
Pagi hari, Gara menggemparkan seisi rumah yang tiba-tiba menggendong istrinya keluar dari kamar dengan teriakan siapkan mobil. Terlihat Divine menengadah di dalam gendongan Gara.
Supir membawa mereka ke rumah sakit. Gara tetap menggendong Divine di dalam mobil.
Sementara rumah sakit yang di tuju kalang kabut mendengar kabar Gara dan Divine akan ke rumah sakit ini. Ranjang rumah sakit sudah tersedia di ambang pintu menunggu kedatangan mereka.
Nona hamil dan ada masalah pada kesehatannya. Berita itu yang menyebar di rumah sakit, dr. Stella beserta kepala rumah sakit sudah menunggu di ambang pintu bersiap untuk 2 orang yang akan datang.
Tak lama Ben tiba terlebih dulu di rumah sakit.
Di dalam mobil.
__ADS_1
“Sayang, kau pasti tahu sesuatu? Jika kehamilan ku beresiko, selamatkan lah bayi ini.”
Air mata Gara sudah sejak tadi mengalir. Akhirnya ia mendengar ucapan itu keluar dari mulut Divine.
Akankah Gara memilih penerusnya? hanya gara yang tahu. Dia menyeka air matanya saat mobil terhenti. Turun dengan menggendong Divine di dadanya melihat semua mata terpukau namun tak berani bersuara hingga Gara meletakkan Divine di atas ranjang yang segera di dorong menuju ruang observasi.
Ben menepuk pundak Gara untuk menguatkannya. Tangan Gara mengepal. duduk membeku seakan seluruh tubuhnya mengeras. Beragam macam protes timbul di pikirannya.
Kenapa harus istriku?
Gara protes, Kenapa harus istrinya. Kenapa harus masalah seperti ini. Kenapa bukan masalah perusahaan saja. Bahkan Gara tidak peduli dengan perusahaannya saat masalah menimpa keluarganya.
Walau memiliki ambisi. Gara selalu memilih keluarga di banding apa yang sudah ia lakukan selama bertahun-tahun untuk bisnisnya. Dia pun mudah menangis jika istrinya tengah sakit atau kesakitan. Walau dia tidak pernah menunjukkan di depan orang lain.
Di dalam ruang observasi.
Divine terus mengungkapkan keinginannya. Tolong anakku tolong anakku. Tanpa bertanya pada dokter yang menanganinya Divine terus saja mengutarakan keinginannya.
Begitulah insting seorang ibu, Dia merasakan apa yang sedang terjadi. Dia tidak bertanya apapun pada Gara, selama Gara selalu menemaninya di rumah.
Setelah dr. Stella memberikan tindakan pertolongan pertama. Dia menemui Gara yang sedang menunggu di depan ruangan.
Memintanya untuk masuk sebentar mendengarkan penjelasan dokter.
Saat Pre-eklamsia berkembang menjadi eklamsia, dimana ibu mengalami kejang sebelum atau sesudah melahirkan yang membuat nyawa ibu dan bayi tidak tertolong.
Sebagian penjelasan yang Gara dengar yang ia beri garis besar. Hingga ia di beri pilihan.
Apa yang Gara takutkan akhirnya terjadi. Kini Gara harus memilih. Anak yang sudah lama ia nanti atau istri yang begitu ia cintai.
Mudah saja, jika ia memilih istrinya. Kehamilan bisa datang lagi. Tapi entah seperti apa marahnya Divine jika lagi-lagi anaknya direnggut darinya bahkan kini suaminya sendirilah yang merenggut anak itu.
Seolah permohonan terakhir pun sudah Gara dengar sendiri dari istrinya
Tanpa dia memberitahu apapun. Divine sudah mengatakan keinginannya.
__ADS_1
Keguguran terakhir kali bisa ia terima karena mereka tidak mengetahuinya. Namun kini semua berbeda. Anak itu telah di tunggu, anak itu menunjukkan keberadaannya yang sekarang semakin sering bergerak, anak itu telah di jaga sejak awal, jika Gara harus membunuhnya, sama aja ia akan membunuh jiwa Divine.
Walau Divine tersiksa Divine selalu menunjukkan wajah ceria, Divine menahan segala rasa yang melandanya. Ia ingin anak itu lahir. Ia ingin menjadi seorang ibu. Bahkan dia sudah mempersiapkan diri untuk melakukan yoga hamil bersama instruktur yang namanya sudah sering ia dengar sebagai instruktur pembimbing melahirkan. Namun karena kondisinya yang semakin melemah ia hanya bisa menonton video.
Tak jarang Gara melihat Divine menangis diam-diam. Dengan alasan mengantuk air matanya keluar. Nyatanya air matanya mengalir deras.
Dengan sengaja Gara tidak pernah membahas masalah kehamilan Divine. Karena ia sudah tau dimana akhir obrolan mereka nanti. Dan benar tanpa di bahas pun, Divine telah begitu saja mengatakannya.
Divine telah di pindahkan ke ruang perawatan.
Divine terbangun dari tidurnya yang cukup lama.
Seketika matanya tertuju perut yang kini ia tekan menjadi lembek.
Divine menarik baju Gara mengguncang tubuh Gara dengan kuat.
Gara kau apakan anak ku?
Gara kau apakan diaaaa....
Kau tahu betapa aku menunggunya.
kau tahu Betapa merasa bersalahnya aku karena membunuh kakaknya. Kalimat Divine dengan suara berat dan kuat dengan air mata.
Garaaa.... jawab aku. Teriak Divine menggelegar hingga keluar ruangan menyebut nama suaminya.
Gara apa kau tidak mendengar ku, kenapa kau diam?
Dia baru berusia 27 minggu, dia masih sangat kecil dengan semangat tinggi yang bisa kurasakan dari gerakanya. lirih Divine meremas perutnya.
“Keluar kau dari sini.” bentak Divine, namun Gara tidak bergeming.
“Sudah ku katakan pada mu, tolong dia. Kenapa kau tidak mendengar ku!” tangis Divine semakin menjadi.
Gara hanya menunduk, terdiam membatu menerima guncangan dari istrinya itu.
__ADS_1