
Malam hari pukul 11 malam Gara baru saja tiba di rumah. Pak Ann yang biasa di tanya oleh Gara dimana istri yang begitu ia cintai kini hanya bisa menundukkan kepala saat menyambut Gara di rumah.
Gara kini hanya menerima laporan apa yang terjadi di rumah ini yang sangat memuakkan baginya.
"Hentikan!" Gara meninggalkan pak Ann yang baru saja mengeluarkan 1 kata dari mulutnya. Pak Ann pun cukup paham bahwa Gara tidak ingin mendengarnya.
Ayah dari Gio itu berjalan menuju kamar ibunya. Tertegun melihat ibunya masih terjaga dan duduk di tepi ranjang.
Soraya menyembunyikan tangan ke belakang punggungnya saat melihat Gara di ambang pintu.
"Ibu apa yang kau lakukan?" tanya Gara mendekati ibunya yang tampak sedang menyembunyikan sesuatu. Berjalan mendekat.
Soraya menyeka air matanya. Lidahnya kelu tidak tahu apa yang mau ia ucapkan. Sementara Gara sudah meraba bantal di belakang ibunya.
Setelah menemukan apa yang ibunya itu sembunyikan Gara hanya melihatnya, wajahnya datar tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Tidurlah ibu." titah Gara mengangkat kaki sang ibu naik ke atas tempat tidur dan menyelimutinya.
"Maafkan ibu Gara." lirih suara ibu soraya. Memegang tangan Gara yang sedang memegang selimutnya. Gara hanya mengangguk pelan dengan menutup kedua matanya sejenak lalu membukanya lagi. Jelas sekali ia belum menerima apa yang sudah terjadi.
Gara dapat menyimpulkan bahwa ibunya sangat menyesal. Ia pun tidur di sofa kamar sang ibu tangannya memegang bingkai foto yang dia ambil dari bawah bantal ibunya. Sebuah bingkai berisi gambar Divine dan Gio saat ulang tahun Gio yang ke-2.
Pagi hari. Gara terbangun karena mendengar keributan dari luar. Ia pun langsung berjalan menuju sumber suara. Dan melihat wanita berambut pirang tengah berdiri dengan congkak dengan kedua tangan di pinggang dan pak Ann berada di depannya menundukkan kepala.
"Ada apa pak Ann?" tanya Gara setelah mendekat. Rumah yang biasa tenang sudah tidak pernah di temukan lagi di rumah ini sejak kepergian Divine ditambah hadirnya wanita tidak tahu diri di rumah ini. Belum saja pak Ann menjawabnya. Wanita berambut pirang langsung menyambar "Pelayan rumah ini seperti orang cacat semua!" ketusnya. Pak Ann menarik napas mendengar ucapan Dora. Wanita rambut pirang yang pakaiannya tidak ada bagus-bagusnya.
Gara menaikkan tangannya yang siap mendarat di pipi merah Dora tapi pak Ann yang ada di dekatnya menghentikan apa yang akan Gara lakukan. Mereka harus mendewakan Dora untuk saat ini.
"Tenangkan dirimu Tuan." ucap pak Ann pelan. Menyadari hal buruk bisa semakin bertambah jika Gara tidak dapat mengendalikan dirinya.
__ADS_1
Dora hanya menunjukkan wajah songongnya ia tak gentar. Gara meninggalkannya. Tidak memperdulikan.
"Hei..Gara...Gara.." Dora memanggil Gara agar kembali namun Gara tidak menoleh sedikit pun. Berlalu ke kamar utama di lantai atas selagi orang yang menumpang di kamar itu sedang tidak berada di dalamnya.
Sementara pelayan lain saling berbisik menyalahkan Dora berjalan terlalu fokus pada ponselnya hingga tidak melihat pilar rumah dan menabraknya."Apa itu salah kami, sedari dulu pilar itu di sana, apa kita bisa memindahkannya karena dia mau lewat." kesal pelayan bernama Ani.
Setelah bersiap Gara berangkat dengan mengendarai mobilnya sendiri. "Ben apa kau sudah menemukannya?" Gara berbicara di telpon.
"Hasil sadap ponsel Viona tidak ada hasil, mungkin ia benar-benar tidak tahu dimana keberadaan Divine dan Gio." jelas Ben pada Gara. Gara mendengar jawaban Ben seketika merasa rapuh. Bertahun-tahun sudah ia mencarinya namun belum juga ada hasil. Tak cukup sudah kesabarannya untuk melalui hal yang tidak masuk akal ini.
"Apa dia masih hidup Ben?" Menitik air mata Gara. Takut Divine sungguh tidak bisa ia lihat lagi.
Ben pun menyakinkan Gara bahwa Divine masih hidup. Jika memang Divine telah tiada pasti jenazahnya akan di kirim ke rumahnya. Paling tidak Gara sebagai suaminya pasti akan mendapat kabarnya. Begitu pikir Ben.
"Mungkin saja dia juga sudah menikah lagi." seloroh Ben.
Gara yang mendengar ucapan Ben langsung tersulut emosi. Geram. Sedari di rumah emosinya terus saja terpancing hari ini. Ia pun memutar balik mobilnya menuju dimana Ben berada.
"Apa maksud mu, Divine bisa melupakan ku begitu saja?" Gara menarik kerah baju Divine. Wajahnya merah. kesal dengan ucapan Ben yang terus-terusan menyampaikan kemungkinan Divine melanjutkan hidupnya dengan menjadi istri seseorang. Karena resto miliknya pribadi pun sudah ia jual.
"Bagaimana pun juga ini sudah 5 tahun berlalu Gara, aku hanya mencoba realistis, dengan kepribadian Divine dan wajah cantiknya pasti banyak pria yang ingin memeliharanya." jawab Ben tak takut di depan wajah Gara.
Gara pun melepaskan Ben dengan kasar. "Mengapa kau bekerja begitu lamban?" protes Gara.
Ben menghela napasnya. "Uang yang kau berikan hanya bisa membayar beberapa orang saja, selebihnya aku bekerja sendiri." Ben tak mau kalah. Kini ia hanya seorang pengangguran bekerja sukarela dengan Gara yang bukan lagi pimpinan Andava.
Ben teringat saat mereka berkuasa semua informasi dengan sangat mudah ia dapatkan. Kini ia harus bekerja keras demi 1 informasi. Menyeka jidatnya yang terasa mengeluarkan keringat karena pikirannya.
"Apa ada yang bisa ku dengar? yang bisa sedikit membangkitkan semangat hidup ini." ucap Gara malas. Ia sudah sangat frustasi. Memikirkan ucapan Ben jika Divine mungkin sudah meiliki kehidupan baru.
__ADS_1
"Aku sudah berhasil menghubungi Jerry, ia akan kembali, ia juga telah melalui hal sulit hingga memutus kontak dengan dunia." tutur Ben.
"Apa ada yang ia sembunyikan?" Bola mata Gara bergerak ke kanan dan kiri mengingat-ingat kapan terakhir kali mendengar kabar Jerry.
Ben menganggukan kepalalanya menyetujui ucapan Gara. "Besar kemungkinannya."
Hening sejenak. Ben menatap kearah Gara. "Aku masih tidak percaya hal ini menimpa keluarga mu?" suara Ben memecah pikiran Gara.
Gara menghempaskan dirinya ke sofa saat mendengar ucapan Ben yang kalau diingat-ingat rasanya hanya ingin bertanya bagaimana bisa? kenapa? dan beribu pertanyaan lain yang menunjukkan hal yang harusnya tidak pernah terjadi namun terjadi begitu saja seperti mimpi.
"Aku seharusnya mati saja, daripada membuat Diviku dan anak ku terlantar entah dimana, dan akulah yang terlihat memanfaatkan dirinya demi menaikkan popularitas ku, entah bagaimana dia mengenang ku?" curhat Gara.
"Tidak ada gunanya curhat, kamu harus memerankan peran mu dengan baik, kita harus bergerak."
Ben jadi encer ya setelah Gara tidak bersama Divine. Bebas dari kebucinan atasannya.
"Sayang, aku masuk ya." ucap seorang wanita yang sudah berada di dalam. Terbelalak. Melihat ternyata ada orang lain di dalam apartemen Ben. Ben berdiri melihat kedatangan wanitanya dan langsung memeluk wanita itu. Gara shock dan memilih pergi. Tersiksa batin.
Ternyata sudah bukan jomblo ngenes lagi.
"Kenapa kesini, tidak kerja?" tanya Ben pada wanita berambut hitam tidak begitu panjang.
"Aku cuti haid." sahutnya. Membuka kulkas dang memasukkan makanan dan minuman yang ia bawa.
Harusnya mereka sudah menikah jika semua berjalan lancar. Namun keadaan sahabat-sahabatnya tidak dalam keadaan baik membuat Ben menunda pernikahan mereka.
__ADS_1