Istri Pajangan

Istri Pajangan
eps. 101 END


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Divine yang terlihat baik saja namun entah dimana keberadaan jiwanya.


"Div, kau terlihat sangat cantik dan juga sehat, bangunlah Div, kami merindukan mu." ucap Viona lembut melihat Divine seolah hanya sedang tertidur pulas dengan memegang tangan Divine.


Dokter memasuki ruang rawat Divine untuk melihat kondisi Divine.


"Pasien dalam ke adaan normal, namun ia tidak mampu untuk bangun." ucap Dokter setelah melihat kondisi Divine.


Semua orang terkejut mendengar ucapan dokter itu dan meminta dokter itu untuk menjelaskan.


"Koma adalah sesuatu yang sulit di jelaskan, kita hanya bisa menunggu, setiap pagi kami akan terus memberikan stimulasi untuk mencoba membangunkannya." ucap dokter itu, sebelum keluar Dokter itu pun tak lupa meminta pihak dari pasien terus bercerita pada pasien, lebih baik lagi untuk memberikan pandangan-pandangan yang bisa memicu pasien untuk segera bangun.


Mereka pun silih berganti berbicara pada Divine walau tidak ada jawaban.


"Hei sayangku Divi, ini ibu, ibu sudah di sini, terakhir kali kamu meminta ibu untuk datang, kamu ingin bicara pada ibu, bangunlah sayang." ucap ibu Gara dengan sangat riang namun air matanya menetes di akhir kalimatnya.


"Divi, seumur hidup hanya kau teman ku, keluarga ku, bangunlah aku akan menikahi gadis pilihan mu." ucap Jerry yang membuat Eza dan Ben melihat ke arahnya, merasa ini bukanlah moment yang tepat untuk mengatakan hal itu.


Namun mungkin bagus untuk Divine, karena ia merasa telah melakukan kesalahan dengan memilih suami tanpa mengenalnya terlebih dahulu. Divine tidak akan membiarkan Jerry mengikuti jejaknya.


"Div, aku berjanji jika kamu bangun, aku akan melihat semua hal tidak penting yang Gara dan kamu lakukan tanpa protes di dalam hati ku." ucap Ben, hanya itu yang ia pikirkan karena selama ini ia terus protes melihat keromantisan Gara dan Divine.


Mereka semua mengucapkan sesuatu pada Divine dengan harapan Divine akan bangun dari koma.


Divine merasa sedang berada di dalam mimpi dengan beragam suara sedang memanggil namanya yang tidak terlihat berasal dari mana.


Hari pun berlalu, Divine belum juga bangun, hingga 2 pekan berlalu begitu saja.


Setiap hari Gara hanya meminta maaf tidak bisa menghentikan kecelakaan itu, menceritakan semua hal yang terjadi setiap hari teman-teman yang datang silih berganti dengan bunga segar di tangan mereka lalu mereka mengganti bunga yang telah layu di dalam vas dengan bunga yang mereka bawa.


" Sayang, bangunlah, ini sudah sangat lama. aku selalu menjaga diriku sama seperti kamu menjaga dirimu. " Gara menceritakan bahwa ia tak seorang diri di Bar itu, pengawal bersamanya untuk menghindari kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


"Vely hanya termakan ucapan Shena sehingga ia mencoba menggodaku lagi, aku hanya mencintai mu dan ingin hidup hanya bersama mu."


"Ben pasti sudah mengirim jauh Shena dari hidup kita, dan tidak akan mampu memperlihatkan wajahnya lagi sampai kapan pun." tambah Gara.


Seketika terlihat jari Divine bergerak. Gara yang melihat gerakan jari Divine langsung menekan tombol untuk memanggil Dokter berkali-kali, hingga dokter itu datang barulah Gara berhenti menekan tombol itu.


"Dokter, jari istriku baru saja bergerak." ucap Gara dengan penuh harapan.


"Ya, kami akan memeriksanya." Dokter dan perawat itu pun melihat kondisi Divine.


"Semuanya baik, berdoalah semoga ini pertanda pasien akan segera sadar." ucap Dokter itu lalu kembali meninggalkan Gara sendiri.


Apa Divine mau aku membicarakan tentang Shena.


Gara bingung dengan reaksi Divine apakah itu reaksi suka atau tidak suka.


Bagaimana jika itu malah memicu kondisi hatinya dan memperburuk keadaanya, tidak-tidak aku tidak boleh berpikir buruk.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Gara sedang memandangi wajah Divine hingga ia merasa ngantuk dan naik ke ranjang Divine lalu tidur memeluk istrinya itu.


Tiba-tiba Gara merasa tangan lembut sedang menyentuh wajahnya, Gara membuka mata dan melihat Divine sedang melihatnya.


"Sayang, apa kau sungguh bangun, atau aku bermimpi?" ucap Gara membelai wajah Divine dan memeluk erat tubuh istrinya itu.


"Apa kau tidak bekerja, siang begini masih di rumah?" tanya Divine seolah ia hanya baru saja terbangun dari tidur semalam.


"Sayang kau sungguh bangun." ucap Gara setelah melihat wajah istrinya lagi dan Gara kembali memeluk Divine dan menciumi seluruh wajah istrinya itu.


Divine bingung dengan sikap suaminya ini, ia mulai memandangi sekeliling ruangan dan melihat selang infus yang terpasang di tangannya.


" Apa terjadi sesuatu? kita di rumah sakit. " ucap Divine saat mengetahui ia berada di rumah sakit.


Gara belum juga melepas pelukannya, ia terus mengucapkan dan melakukan gerakan yang sama,


melihat wajah istrinya, memeluknya dan mengatakan kau sungguh bangun terus hingga berkali-kali.


" Ya sayang aku sudah bangun, apa yang terjadi, saatnyaa menceritakan padaku. "


" Apa kau tau, sekarang sudah tanggal 1 juni? "


" Hah, lalu apa tidak ada hadiah untuk ku, bagaimana bisa hari ulang tahun ku berlalu begitu saja tanpa aku sadari. " ucap Divine saat mendengar 1 Juni yang artinya hari kelahirannya sudah lewat.


Gara menekan tombol untuk memanggil Dokter, beberapa saat kemudian dokter dan perawat pun datang untuk memeriksa Divine dan semua hasilnya baik, dan mengucapkan selamat kepada Divine yang telah bangun dari tidur panjangnya.


" Aku sangat senang kau bangun sayang, aku tidak tau harus berkata apa lagi. " lagi Gara memeluk Divine lagi.


"Ya, rasanya badan ku sangat lelah. " ucap Divine.


Gara meminta Divine untuk kembali istirahat, namun Divine menolaknya karena merasa lelahnya berasal dari tidur yang begitu lama.


Tidak lama kemudian, Ben datang bersama Jerry dan juga Tuan Amo.


Mereka sangat bahagia melihat Divine yang sedang duduk di tempat tidur. Memeluk Divine secara bergantian untuk sesaat.


"Bagaimana kau tau Divine sudah sadar? " tanya Gara, karena ia belum menghubungi siapa pun untuk memberi tahu kabar ini.


" Aku meminta perawat untuk mengabari ku jika Divine sudah sadar." Ucap Ben, karena Ben sangat tahu, Gara akan melupakan semua orang ketika Divine sadar.


Eza, Viona dan juga ibu Gara pun memasuki ruang rawat Divine, betapa senangnya mereka kembali melihat senyum Divine.


" Ibu sangat bahagia melihat mu telah sadar nak, Gara akan segera memiliki anak setelah ini. " ucap mertua Divine.


" Ibuuu... " Gara menegur ibunya yang membicarakan anak pada saat ini. Setelah melihat seorang ibu yang akan melahirkan Gara tidak siap untuk melihat Divine merasakan kesakitan seperti itu di tambah Divine yang baru saja sadar dari komanya.


" Aku membawa bubur untuk mu, makanlah. " ucap Viona dengan tersenyum.


" Aku akan menyuapi mu. " ucap Gara sembari membuka wadah bubur yang dibawa oleh Viona.

__ADS_1


Gara menyuapi Divine dengan lembut setiap ada bubur yang tertempel di sekitar bibir Divine, Gara membersihkan dengan bibirnya, membersihkan dan mencium Divine di saat bersamaan, Gara tidak melewatkan sedikit pun kesempatan untuk menciumi istrinya itu walau di saksikan oleh semua orang yang berada di sana.


1 pekan pun berlalu setelah Divine sadar, kini Divine benar-benar pulih, sehat seperti sedia kala, Divine pun telah kembali ke rumah.


Pak Ann dan seluruh pelayan menyambutnya dengan memasang ucapan selamat datang di depan pintu rumah Dan juga menyediakan banyak makanan di meja makan untuk makan siang bersama, semua orang terdekat mereka telah berkumpul di rumah megah itu


" Apa ini? " ucap Ben yang sedang membereskan kamar pasangan suami istri itu.


kotak hadiah dan piyama tidur sexy masih berhamburan di kamar itu.


Gara tidak mengizinkan siapa pun merapikan atau memindah apapun di dalam kamar itu saat Divine belum kembali ke rumah.


Hingga hari ini Ben mendapatkan tugas untuk itu.


Mereka pun makan siang bersama, suasana ramai dan penuh kebahagian seolah Shena tak pernah datang di kehidupan mereka, mereka lupa begitu saja, entah kemana Ben mengirimnya dan membuat hidup Shena jadi tak mudah sedangkan Vely di bawa kembali oleh ibu Gara beberapa hari setelah Divine sadar.


Data Vely dan Shena telah di block, mereka tidak akan bisa keluar dari tempat pengasingan Gara, Vely tetaplah seorang yang berjasa di hidup Gara, ia berbaik hati mengijinkan untuk hidup dengan ibunya dengan batasan tetap di sana dan tidak bisa keluar atau kemana pun yang ia mau.


Pagi hari.


" Divine...." teriak Gara yang baru saja bangun dari tidurnya melihat Divine di bawa oleh seseorang di depan pintu kamar mereka dengan penutup wajah hingga Gara tidak bisa mengenalinya.


Gara dengan cepat bangun dari tempat tidurnya untuk mengejar penculik itu, namun saat ia melewati pintu kamar, seseorang menempelkan sapu tangan di hidung Gara hingga Gara pun tak sadarkan diri.


Para penculik itu pun membawa Divine dan Gara, entah kemana seluruh pelayan rumah hingga tidak ada yang menghentikan mereka.


Setelah beberapa jam kemudian, Gara tersadar namun matanya di tutup oleh kain hitam hingga ia tidak bisa melihat apapun.


Jantungnya berdebar sangat kencang, penuh ketakutan memikirkan Divine yang entah dimana.


Gara menggerakkan tangannya yang terikat terus menerus hingga ia sadar ikatannya tidak begitu kuat hingga ia bisa melepaskan ikatan tali di tangannya dan membuka mata.


Gara terkejut saat melihat ia sedang berada di dalam pesawat yang sudah berada di udara.


" Diviiiiine...." seketika Gara berdiri dan berteriak menyebut nama Divine dengan sangat keras.


"Emm.." ucap pelan Divine yang baru saja tersadar.


Gara terkejut mendengar jawaban dari Divine yang ternyata berada di sebelahnya.


"Sayang, lihat. " ucap Gara meminta Divine untuk segera bangun dan melihat mereka sedang ada dimana.


Divine pun terkejut, mengingat semalam ia tidur di kamar rumahnya.


"Permisi Tuan, ada surat untuk mu." ucap pramugari seraya menyerahkan surat pada Gara.


Happy honeymoon


tertulis di sebuah surat yang baru saja mereka terima.

__ADS_1


Gara dan Divine pun terkejut bahagia setelah mengetahui alasan mereka berada di dalam pesawat ini.


Gara mengecup kening Divine, dan mereka pun tersenyum bahagia, pasrah kemanapun pesawat itu membawa mereka.


__ADS_2