Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Pertemuan Gara dan Divine


__ADS_3

Gara membuka pintu di sebelahnya hendak turun menghampiri Divine mencari tahu apa yang terjadi di dalam rumah Divine.


"Heh..heh..jangan." Ben menangkap tangan Gara menghentikan Gara yang ingin turun.


"Ingat Dora ada di rumah mu, jika kau bertemu Divi sekarang dan tidak membawanya pulang entah apa yang dia pikirkan tentang mu." tambah Ben.


Gara menutup kembali pintu di sampingnya.


"Beberapa hari aku melihat Divi dari sini tidak pernah melihat ada pria. Jadi kau jangan berbicara sembarangan." Gara menoyor kepala Ben. Kesal dengan Ben yang terus membuatnya semakin cemburu.


"Apa yang kau lakukan selama melihatnya dari kejauhan?" suara datang dari kursi belakang.


"Tidak ada hanya duduk diam." ujar Gara. Di kepalanya terlintas cuplikan dimana ia hanya menatap lekat pintu rumah Divine yang tertutup selama 2 hari tanpa melihat istrinya itu. Ketika air matanya tumpah saat Gio keluar dari pintu hanya sekedar menadah air hujan yang bergulir dari atap rumah di tangannya. Tidak lama Divine keluar hanya mengenakan daster bak ibu rumah tangga biasa lainnya. Seutas senyum terukir di wajah Gara karena melihat Divine lebih manis dari biasanya. Menyeka air matanya bertekad harus mendapatkan semuanya kembali.


Gara kembali melajukan mobilnya keluar dari gang itu melalui jalan lain.


****


"Kamu tidak ke kantor?" tegur Dora melihat Gara sedang asyik bermain game selonjoran di sofa tengah.


"Untuk apa? Aku bisa menghasilkan uang walau tanpa bekerja." sahut Gara tanpa memalingkan wajahnya dari layar gawainya.


"Dan apa kau sudah menandatangani surat perpisahan kita?" tambah Gara masih dengan posisi yang sama.


Dora menggeretakkan giginya. Geram. "Aku tidak akan memberikannya sebelum aku hamil." Dora tetap pada pendiriannya.


"Kau pikir, kita akan melakukannya lagi sebelum kau menepati janji mu. Jangan harap!" tegas Gara. Permainannya semakin menegangkan sama dengan isi pikirannya yang sebenarnya tak tahan mendengar ucapan Dora yang tidak tahu malu. Berdiri dengan hasil mencuri.


"Aku tidak ingin bersama mu lebih lama, segera akhiri, dan keluar dari rumah ini atau aku saja, yah sebaiknya aku saja." Gara berdiri dari tempatnya beranjak untuk meninggalkan Dora.


Grep. Dora menangkap tangan Gara. "Baiklah aku akan memberimu 10% lagi dan jangan bercerai. Sisanya setelah aku hamil." Dora tidak bisa bertahan lagi. Sudah. terlalu lama dia bertahan di samping sikap cuek Gara. Ia menyayangkan jika harus berhenti saat kini ia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Berstatus Istri Gara orang yang ia cintai selama ini.


Gara tak bergeming. Melepaskan tangan Dora kasar dan terus melangkahkan kakinya. Ia menginginkan seluruhnya. Sesuai apa yang Dora ucapkan sebelumnya.


"Gara...Garaaa....." Teriak Dora. Teriakan yang sama saat ia di rawat di rumah sakit jiwa beberapa tahun lalu saat Gara mengirimnya kembali pada ibu Soraya. Dora menarik rambutnya kuat. Dia sangat terobsesi pada Gara. Berlari menyusul Gara menaiki tangga.


Tiba di dalam kamar utama. Gara masuk ke dalam ruang pakaian. Mengambil beberapa lembar pakaiannya.


"Gara hentikan, lihat ini." Dora yang baru masuk langsung menyodorkan ponsel ke depan Gara. "Kamu tinggal menunggu saja, tetap disini suamiku." tambah Dora.


Tertawa puas. Namun tidak tampak sedikitpun di wajah Gara kepuasan yang ia dapatkan. Dengan mudah ia sudah memiliki lebih dari setangah dari saham keseluruhan. Hanya menunggu prosesnya saja.

__ADS_1


Gara mendekat kearah Dora membelai rambut Dora sejenak. "Bagus, kau bisa di percaya." melepaskan tangannya dari kepala Dora.


Dora yang menerima sedikit perlakuan manis dari Gara seketika berhambur masuk ke tubuh Gara. Merangkul. Memeluknya.


Gara menarik napasnya. Mencoba kembali menganggap Dora adalah adiknya tapi tetap saja sudah tidak bisa.


******


Beberapa hari berlalu Gara sudah sangat bahagia baru saja membuka akun sahamnya yang angkanya sudah berubah. Ia duduk di dalam mobilnya sambil menunggu pintu rumah Divine terbuka. Lagi-lagi ia mengintai anak dan istrinya dari kejauhan. Bola Mata melirik ke kiri dan ke kanan memikirkan sesuatu. Turun dari mobilnya.


Berjalan masuk ke halaman kecil rumah Divine dan Gio dengan sepatu pentopel mengkilap. Menarik napas beberapa kali jantungnya sudah berdegup tidak karuan.


Gara memutar tubuhnya berbalik kembali ke arah mobilnya yang terparkir di bahu jalan.


Terdengar suara Gagang pintu yang di putar Gara terbirit melajukan kakinya bersembunyi di balik mobil. Jantungnya semakin berdebar kencang. Terengah-engah.


"Air mineral." ucap Gara sembari membuka pintu mobilnya meraih air mineral dan meneguknya hingga terdengar suara gluk..gluk..gluk.


Menarik napasnya lagi. Memantapkan niatnya. Gara berdiri tegap di samping mobilnya hinga sebagian tubuhnya bisa di lihat oleh Gio yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Gara siap berjalan bak lelaki jantan yang sedang menunjukkan pesonanya.


Percuma. Hilang sudah gambaran lelaki tegap sedang berjalan dengan pesonanya. Gara berlari cepat kearah Gio yang sudah melihatnya. Memeluk dan menggendong anak berusia 7 tahun itu tanpa permisi.


“Turunkan aku?" datar, tenang suara Gio. Ada rasa yang berbeda saat Gara menyentuh kulitnya.


"Gara?" ucap Divine baru melihat setengah wajah Gara. Gara menoleh ke asal suara.


Bug... Suara benturan tubuh Divine dan Gara. Gara seketika menarik Divine ke dalam pelukannya saat melihat istrinya begitu dekat dengannya.


Divine melepas pelukan Gara. "Silahkan masuk." tutur Divine sembari menarik Gio masuk bersamanya.


Duduk di kursi tamu, Gara membelakangi jendela duduk berhadapan dengan Divine dan Gio di depannya. Terasa seperti orang luar yang baru saja bertamu.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Divine. Sementara Gio menatap lekat pria yang ia duga kuat adalah ayahnya selain wajahnya yang sangat mirip. Pria di depannya ini terlihat masih sama dengan foto pria di pernikahan ibunya sebagai mempelai lelaki.


"Apa menurut mu aku bisa baik saja setelah kau mencampakkan ku begitu saja." jawab Gara setelah berdehem sebelumnya. Menahan keinginannya untuk memeluk menciumi seluruh tubuh Divine dan juga anak yang tidak ia lihat pertumbuhannya.


Divine terdiam. Ini termasuk kesalahannya. Gara sudah sering berkata apapun yang terjadi tetaplah di rumah. Namun malam itu rasanya ia sudah sangat muak hingga mengambil keputusan di saat pikirannya tidak tenang.


"Gio dia ayah mu." Divine beralih memperkenalkan Gara pada Gio. Terlihat Divine sedang menahan dirinya. Ia pun sangat merindukan suaminya ini. Terbaca dari matanya yang sejak tadi berkaca-kaca bibirnya bergetar saat berbicara. Namun tidak menumpahkan air matanya.


"Hmmm." Gio berdehem saja. Karena ia sudah tahu cukup dengan melihatnya.

__ADS_1


"Kau masih belum berubah." timpal Gara mendengar anaknya hanya berdehem. Berpindah tempat duduk di samping Gio.


"Apa kamu sehat? Apa kau tidak bersekolah? dan apa ini kenapa rambut mu sepanjang ini?" Gara memegang lengan Gio berbicara di depan wajahnya dan mengibas rambut Gio yang gondrong.


"Aku baik, aku bersekolah dari rumah dan aku memotong rambut ku hanya 1 tahun sekali, agar aku ingat jika suatu saat bertemu dengan ayah ku, bisa menceritakan padanya berapa kali aku memotong rambut ku tanpa ayah ku."


Menitik Air mata Gara karena ucapan Gio. Begitupun Divine. Kini ia punya alasan untuk menangis.


"Apa kau membenci papa?" tanya Gio terbata. Ia tidak cukup berani untuk mendengar jawaban Gio. Ia sadar bagaimana ia memperlakukan Gio walau sebenarnya ia menyayanginya.


"Tidak, Ibu selalu bercerita kau sangat menyayangi ku walau sering cemburu karena merasa ibu lebih memperhatikan ku." tutur Gio lagi yang langsung mendapat dekapan Dari ayahnya. Semakin membuatnya merasa menyesal karena tidak berdaya untuk menemukan Divine lebih cepat.


"Sudah Gio, ada yang ingin ibu bicarakan dengan ayah mu, bisa Gio tunggu sebentar di kamar." Divine meminta Gio untuk meninggalkan mereka. Gio pun menurut.


Gara membentangkan tangannya menerka Divine sudah ingin memeluknya namun malu jika di lihat oleh putranya.


"Apa Vely sudah datang,sudah menjadi istri mu?" tanya Divine menurunkan tangan Gara yang membentang kearahnya.


Gara mengkerutkan alisnya. "Apa maksud mu?"


"Ibu bilang padaku kau sedang menjemput Vely hari itu." Tenang suara Divine namun hatinya bertahan sangat kuat untuk berbicara tanpa membuat air matanya mengalir.


Jika seluruh wajah Gara bisa mengkerut. Semuanya kini telah mengkerut karena kebingungannya.


flashback.


Pagi hari Divine masih terlelap saat Gara hendak berangkat dinas lintas pulau dengan penerbangan jam 6 pagi. Gara bersiap tanpa membangunkan istrinya itu. Ia pun mengirim pesan untuk memberitahu Divine.


Saat terbangun pun langsung mengurus Gio. Hari-harinya selalu bersama Gio dan Soraya. Di tempat bermain Gio. Divine baru saja menghidupkan ponselnya yang baru selesai ia cas karena kehabisan baterai.


Divine meletakkan ponselnya dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan Gio.


Di saat bersamaan pesan masuk dari Gara yang terlihat di layar depan ponsel Divine. Soraya tanpa pikir panjang langsung membuka dan membalas pesan itu lalu menghapusnya. Hingga tidak ada jejak sedikit pun yang tertinggal.


___


"Kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Divine melihat wajah suaminya yang tampak lebih bingung darinya.


Gara meraih ponselnya. Membuka pesan chat dari nomor Divine. Menunjukkan ke hadapan Divine.


"Kau bukan menjemput Vely?" Divine menganga dan menutup mulutnya dengan 1 tangannya.

__ADS_1


"Ya bukan lah, berhubungan dengan dia pun tidak pernah." Gara menoyor kepala Divine. Ternyata cemburu ibu Gio ini lebih tidak terkontrol.


"Kau harus menerima hukuman ku sekarang. Karena ulah mu banyak hal menjadi berantakan." Mendorong Divine hingga terbaring di sofa.


__ADS_2