
Tak...tak..tak.... suara berlari menuruni tangga.
“Gara, dimana anak ku?” tanya Divine dengan cepat setelah menemui Gara duduk santai di ruang keluarga dan tidak melihat baby Gio bersamanya. Panik.
“Oh dia sedang tidur sayang.” Gara menjawab sembari merentangkan tangannya. Meminta pelukan Divine.
“Tidak sayang, dia tidak ada di kamar, dia masih bayi kan, dia belum bisa berjalan sendiri kan, tidak mungkin dia keluar sendiri dari kamar.” oceh Divine panjang lebar mengabaikan gestur tubuh Gara.
Gara menarik lebar sudut bibirnya, kesal Divine tidak memperdulikannya.
“Apa aku baru akan mendapatkan pelukanmu, setelah melihatnya?”
Divine kembali berlari meninggalkan Gara tanpa menjawab pertanyaan Gara terlebih dulu. Ia mencari pak Ann untuk bertanya.
“Div, kenapa berlari apa sudah tidak sakit?” teriak Ben dari lantas atas.
Begitupun Gara dengan tangan yang tak sampai hendak menghentikan gerakan Divine.
Divine terhenti. Matanya membesar. Ia sangat lupa dengan keadaannya.
Maklum Divine tidak terbiasa manja.
“Ayo, baby Gio ada di kamarnya.” Gara telah beranjak dari tempatnya duduk. Memegang tangan Divine. Menghentikan Divine yang terus bergerak cepat.
“Kamarnya. Apa maksud mu?” Divine mencerna ucapan Gara.
Gara hanya tersenyum tipis tidak menjawab ucapan Divine.
Gara membawa Divine kembali berjalan menaiki tangga menuju kamar baby Gio.
Ben memperhatikan sepasang orang tua baru memasuki kamar bercat putih dengan nuansa biru. Mata Divine mengitari seluruh ruangan tanpa menunjukkan raut wajahnya. Datar.
Divine melihat baby Gio sedang tidur lelap di dalam tempat tidurnya.
“Oh sayang, anak ibu ternyata disini.” Divine mengambil baby Gio dan duduk di ayunan rotan yang berada di kamar baby Gio sembari menimang anaknya itu.
“Ayah Gio, tolong ambilkan telpon itu?” pinta Divine.
Gara pun menuruti permintaan Divine.
Ternyata ia berpikir terlalu jauh, mungkin Divine akan marah sesaat setelah melihat baby Gio berada di kamarnya sendiri, ternyata tidak. Begitu pikir Gara.
Gara senang dengan kenyataan, baby Gio tidak akan merebut Divine darinya. Senyum smirk di wajah lelaki yang kini beranak 1.
Tak lama Bibi Wen masuk ke dalam kamar baby Gio mempersiapkan baby Gio untuk mandi.
“Bi, ini akan memudahkan.” ucap Ben menunjukkan baby bather di tangannya melihat bibi Wen yang sudah bersiap dengan menggulung celana panjangnya.
Sepertinya Bibi Wen sangat jadul, ia akan memandikan baby Gio dengan di baringkan di kaki.
Divine dan Gara terdiam memperhatikan Bibi Wen dan Ben. Begitu pun bibi Wen yang tidak mengerti apa yang di tunjukkan oleh Ben.
__ADS_1
Ben masuk ke dalam kamar mandi membawa baby bather dan meletakkannya.
“Kemari.” pinta Ben dengan tangan hendak meraih baby Gio dalam gendongan Divine.
“Kau yakin Ben?” ragu Divine melihat Ben akan memandikan anak yang sangat sulit ia dapatkan selama ini.
Ben mengambil baby Gio dari Divine. Mata Gara melihat ke arah Ben. Awas saja jika anak ku sampai jatuh. Begitu kira-kira yang Ben dapat dari tatapan Gara.
Ben mencium pipi kanan dan kiri baby Gio sebelum meletakkan baby Gio pada baby bather.
“Mandi sama om Ben ya sayang.” ucap Ben setelah meletakkan baby Gio dan membuka kain yang menutupi tubuh baby Gio yang sudah tidak memakai baju hanya tertinggal popok yang masih menempel.
Tangan baby Gio terus bergerak-gerak. Sementara Ben membuka popoknya dan hanya berisi air kencing.
“Ahh dia tidak pup?” ucap bibi Wen yang masih memperhatikan Baby yang akan mandi.
“Dia sudah pup tadi bi sebelum pulang?” ucap Divine.
Bibi Wen mengangguk.
Beruntung sekali ya om Ben tidak bertemu yang biasanya di temui oleh ayah dan ibu baru yang kadang membuat auto pengen muntah.
Sementara Gara memperhatikan Ben yang terus menerima pujian dari Divine karena pandai memandikan baby Gio.
“Aku juga bisa.” Gara menarik sedikit lengan bajunya dan menggantikan Ben.
Ben berdiri meninggalkan baby Gio dan berdiri di barisan Divine dan bibi Wen yang menonton baby Gio mandi.
Brut...Brut... Baby Gio menyemprotkan cairan kuning dengan biji-biji kecil bak biji lombok berwarna kuning.
Huahahahahha...
Tawa Ben dan Divine pecah. Menertawakan Gara yang sangat menyedihkan itu.
Sementara Gara hanya bisa terdiam menahan amarahnya. Ia sangat kesal.
Sedangkan baby Gio melirik ke arah ayahnya dengan wajah polos mata bulat. Ia tidak mengerti.
Melihat raut wajah Gara yang terlihat sangat tidak senang, membuat Ben dan Divine menutup mulut mereka. Berhenti tertawa.
“Biar aku sayang.” Divine mendekat dan duduk di sisi lain baby Gio.
Gara diam saja dan tidak beranjak dari tempatnya.
Divine meraih tangan Gara dan membersihkan tangan Gara dengan air walau tak terlihat sedikit pun noda pup baby Gio mengenainya.
Gara tersenyum namun ia sembunyikan. Ia senang Divine memperhatikannya.
“Tidak perlu.” Gara menarik tangannya. Ia merajuk. Ngambek.
Heeleh Gara, paling juga supaya Divine ngerayu dia.
__ADS_1
Gara mencipratkan air pada baby Gio.
“Awas ya tidak sopan begitu lagi.” tutur Gara mengintimidasi anaknya yang masih tidak mengerti apapun.
“Oh astaga, baby Gio masih tidak mengerti apapun sayang!” timpal Divine tidak terima anaknya dikecam. Sembari mulai memberikan sabun pada seluruh badan dan juga rambut gondrong baby Gio.
“Tidak mengerti apanya, jelas-jelas dia sangat fasih menyusu dengan mu.” Gara menimpali matanya tertuju pada baby Gio yang ia guyur pelan dengan air.
Seketika Divine terdiam tangannya yang sedang menyentuh seluruh tubuh baby Gio pun ikut terhenti mendengar ucapan Gara. Ia tahu itu tidak akan berakhir jika ia terus membahasnya.
Padahal semua orang tau. Semua bayi hidup dengan menyusu. Bagaimana jadinya kalau bayi tidak bisa menyusu. Sudahlah berikan wajah datar saja pada ayah Gara.
Benar saja. Wajah Ben tidak menunjukkan ekspresi apapun mendengar ucapan Gara. Wajah dengan otak yang tiba-tiba kosong. Mungkin ia kesal tapi malas berdebat.
Diam. Hening. Hanya ada suara gemericik air.
“Ben apalagi?” tanya Divine pada Ben setelah celingukan mencari keberadaan bibi Wen.
“Sudah, langsung saja pakaikan handuk.” jawab Ben. Ia telah mempersilahkan bibi Wen pergi beberapa saat lalu.
Divine pun paham dan mengambil handuk dari tangan Ben.
“Anak ibu sudah mandi, makin wangi.” ucap Divine dengan sangat ceria.
“Pakai baju, syenen (bacanya ***** alias menyusu) terus bobo.” tambah Divine sembari menggendong baby Gio yang ia rapatkan dengan dada dan wajahnya.
Ben tersenyum melihat ibu muda nan cantik itu sangat bahagia dan bersemangat mengurus anaknya.
“Oh ya Ben, tolong ambilkan pakaian Gara ya.” tukas Divine setelah meletakkan baby Gio di dalam tempat tidurnya.
“Kenapa tidak kamu saja?” sela Gara yang masih berdiri di depan kamar mandi.
“Aku.” Divine melihat ke arah Gara dan melirik baby Gio. Maksudnya ia sedang mengurus baby Gio.
“Ya !” Gara sedikit menaikkan suaranya menunjukkan ketidaksenangannya.
Divine tersenyum penuh sejuta makna mengabaikan Gara.
Mungkin ia sedang menata pembalasan untuk Gara. Berani sekali mengambil baby Gio dan membuatnya tidur di kamar terpisah dengannya di usia baby Gio yang masih sangat dini.
.
.
.
Author balik lagi.
hehe maaf ya.
Terimakasih yang masih setia.
__ADS_1
Doain bisa jumpa setiap hari.