
Jerry diam sejenak sambil meneguk minuman yang ia pesan tadi.
"Ya sudah ikutin aja maunya." ucap Jerry.
"Iya sih semalam, aku sudah tidak bergelayut lagi di lengannya, tadi pagi pun aku tidak memasak dan menyiapkan kebutuhannya lagi."
"Ya sudah gitu aja terus."
"Terus aku di rumah ngapain aja, makan tidur makan tidur doang?"
"Haha, kamu ke kantor aja Divi, aku janji ga kasih kamu kerjaan, setidaknya kamu tidak bosan di rumah."
"Baiklah, akan aku coba besok."
"Ya bagus, kalau begitu ayo kita pulang, aku ada rapat jam tiga sore ini."
Divine mengangkat tangannya dan seorang pelayan datang lalu Divine memberikan kartu debit untuk membayar bill mereka, setelah selesai Jerry dan Divine keluar dari restoran, sesampainya di luar, Jerry mengelilingi halaman parkir dengan pandangannya.
"Divi, dimana mobil mu?"
"Aku naik taksi Jer." Divine menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ho, sungguh orang kaya luar biasa, mobil ada, supir ada tapi lebih memilih naik taksi."
__ADS_1
"Ayo aku antar kamu pulang, aku masih ada waktu setengah jam sebelum rapat di mulai."
Sebuah mobil memasuki halaman restoran dan berhenti tepat di depan mereka.
"Daa Jerry, aku sudah pesan taksi online tadi." Divine mengejek Jerry dengan mengeluarkan sedikit lidahnya, lalu melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil.
"Dasar." Jerry menggerutu sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman Restoran.
Di dalam taksi Online.
Divine sedang memikirkan sesuatu dan mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Pak ke Mal Anda aja ya." Divine berbicara pada supir taksi Online
Mal Anda adalah Mal terbesar di kota ini dan Mal ini adalah milik Andava Grup.
Tak lama mobil yang ia tumpangi sudah memasuki kawasan Mal Anda, Divine pun turun di depan pintu masuk Mal. Divine segera masuk dan menuju ke sebuah salon.
"Divi, sudah lama banget ga kesini?" seorang Owner salon yang cantik menyapa Divi.
"Masa iya? rasanya baru 2 minggu yang lalu."
"Itukan untuk hari pernikahan mu, beda dong."
__ADS_1
perdebatan perdebatan kecil terjadi diantara mereka, karena temannya, Viona menawarkan semua perawatan untuk Divine, namun Divine hanya berniat untuk melakukan manicure dan pedicure.
Dan akhirnya tetap pada keinginan Divine, walaupun di tambah creambath yang kini sedang ia jalani, dan juga para ahli sedang menangani tangan dan kaki Divine.
setelah beberapa jam berlalu, kini kuku-kuku nya sudah terlihat cantik sekali dengan warna gradasi pastel pink dan sedikit hiasan, rambut Divine semakin halus dan lebih wangi dari sebelumnya.
"Ada bagusnya aku menuruti kemauan mu ini, kepala ku jadi ringan, pijatan therapist mu sangat enak." menepuk pundak Viona.
"Hah, kamu juga akan mengatakan itu bahkan lebih, jika kamu menuruti semua saran ku Divi."
Mereka lagi lagi berdebat ringan.
"Yasudah, aku sudah di tunggu." Divine menunjuk ke depan pintu masuk salon Viona dan menyerahkan kartu debitnya pada Viona.
"Hah, sejak kapan mereka disini"
"Sejak kau berdebat dengan ku, yaudah buruan."
Setelah selesai, Divine meninggalkan salon Viona, dan di ikuti oleh orang orang yang sudah menunggunya tadi, mereka adalah pengawal Divine. Divine membeli banyak pakaian dan juga sepatu dari brand kesukaan nya yang baru keluar kemarin.
"Eh Nona Divine yang yatim piatu." ucap seorang wanita yang Divine tidak ingat namanya. selalu saja ada yang iri dan tidak suka pada seseorang yang lebih baik dari dirinya.
Hati Divine sakit mendengar kata itu tapi Divine tidak lemah yang akan menunjukkan kesedihannya di depan publik.
__ADS_1
"Eh Nona, ayo pilih pakaian mana yang kamu suka aku traktir!" ucap Divine dengan tersenyum.