
Divine tidak juga membuka pintu kamarnya. Gara beranjak keluar menuju mobilnya. Sementara Divine duduk termangu dengan pandangan kosong memandang kunci di tangannya.
Cklek. Pintu terbuka.
“Jika ada sesuatu yang menurut Mama salah, maka bicarakanlah.” Gio duduk di depan sang ibu menggenggam tangannya.
Menatap Gio lalu menerbitkan senyum palsu.
“Semuanya sudah salah dari awal. Mungkin artinya harus berhenti agar tidak terus menimbulkan kesalahan.” Divine hanya berpikir untuk menyudahi hubungannya. Belum juga hilang dari pikirannya bahwa pernikahannya dengan Gara hanyalah untuk memiliki keluarga dan langsung membuat keputusan sepihak tanpa tahu seperti apa hidup seseorang yang ia pilih menjadi suaminya.
“Gio tidak terlalu mengerti, tapi Gio tahu Papa ingin bersama Mama, begitupun sebaliknya kan!” Gio berdiri lalu meninggalkan Divine yang memperhatikannya saat mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya melewati sang ayah yang berdiri di ambang pintu memegang gagang pintu yang menempel kunci cadangan miliknya sedang menyimak obrolannya dengan Divine.
“Apa kau benar-benar berpikir untuk berpisah?” Menangkap ucapan Divine untuk berhenti membuat kesalahan. Bicara berdiri di depan Divine.
__ADS_1
Divine diam membisu menunduk memeluk kakinya.
“Baiklah jika memang kau menginginkan seperti itu.” Gara melangkahkan kakinya untuk kembali. Jiwanya berkecamuk dan merasa lelah dengan semua ini. Tubuhnya pun terasa lemah untuk menopang dirinya seakan menarik seluruh tenaga yang ia miliki.
Berpisah sekalipun kau tak akan terganti. Hanya kamu yang membuatku merasa takut kehilangan. Selagi kau hidup, setidaknya aku masih bisa melihat mu. Batin Gara mengisi langkahnya keluar dari rumah sederhana yang sempat memberikan kehangatan walau hanya beberapa jam saja.
Masuk ke dalam mobilnya memegang lemas kemudi dengan pandangan mengambang dan memburam. Merasa semua perjuangannya seakan tak pernah di harapkan. Berjuang sendirian.
Sementara Divine masih saja duduk diam di dalam kamarnya. Mulai bingung dengan apa yang ia pikirkan. Apa yang dia inginkan. Hilang tujuan hidupnya. Gio bersamanya seakan sudah cukup namun kenyataannya hidupnya selama ini jauh dari kata tenang. Menginginkan sosok Gara berada di sampingnya.
Divine menarik napasnya panjang. “Tidak, ini tidak bisa di biarkan seperti ini terus.” Tegasnya. Berdiri tegar mengambil langkahnya memutuskan untuk menyusul Gara dimanapun suaminya kini berada.
Gio masuk ke dalam kamar Divine saat Divine baru saja ingin keluar, Gio menunjukkan sesuatu ke depan dada ibunya.
__ADS_1
“Apa ini Gio, tapi nanti saja.” Divine menerima benda kecil yang di berikan oleh Gio lalu ia letakkan di atas nakas di samping pintu kamarnya lalu keluar mencari dimana Gara saat ini.
Bernapas lega. Divine melihat mobil Gara masih berada di tempatnya. Ia pun langsung melajukan langkahnya. Mengintip ke dalam mobil. Gara tersandar dengan mata tertutup pada kemudi di depannya.
“Gara…Gara…” panggil Divine sembari mengetuk pelan jendela kaca di samping Gara. Namun tak membangunkannya. Terlintas di benak Divine bahwa suaminya sedang tidak baik-baik saja.
“Garaaaa……” teriak keras. Tangannya meraba handle pintu mobil hingga terbuka. Memegang wajah Gara yang tampak pucat.
Gio tiba karena mendengar suara teriakan ibunya. Divine pun langsung meminta Gio membantunya untuk memindahkan Gara ke kursi di sebelahnya.
“Gio duduk di sini.” Menyandarkan kepala Gara, memasang seatbelt, membuka lebar kaki Gara agar Gio bisa duduk di depannya. Gio pun mengikuti sesuai permintaan ibunya. Divine mulai melajukan mobil.
“Ada apa dengan Papa, Ma?” tanya Gio sembari mengalungkan tangan Gara di badannya.
__ADS_1
Divine hanya menggigit bibirnya. Ia pun tidak tahu. Badan Gara yang dingin. Pikiran buruk terus menghantui.
“Papa tidak mat…” Divine menutup mulut Gio “Jangan bicara seperti itu!” namun air matanya tak menunjukkan kekuatannya. Bulir air mengalir sendiri tanpa ia pinta. Berusaha tegar menyeka air bening yang terus membasahi pipinya.