
Brak pintu terbuka dengan kasarnya. Gio berjalan cepat tangannya menarik kasar Inah keluar dari kamar.
"Ma....Pa...." teriak Gio kasar. Masih dengan menarik paksa Inah ikut dengannya. Lagi Gio memanggil ayah dan ibunya beberapa kali hingga ia tahu ayah dan ibunya berada di bawah.
Divine terkejut mendengar teriakan Gio yang sangat tidak biasa. Dia sontak berdiri bersamaan dengan Gara yang tadinya sedang menikmati televisi di ruang tengah.
Mereka berjalan ke arah tangga melihat Gio mencengkram kuat lengan Inah yang wajahnya sudah basah oleh airmata.
"Gio!" suara Divine nyaring. Dia membentak putranya agar melepaskan Inah.
Sementara Gara menganga dengan mata terbuka lebar melihat wajah Inah yang semakin terlihat buruk di karenakan baru saja melakukan peeling yang menambah kemerahan pada wajahnya. Begitupun para pelayan yang melihat kejadian itu. Mereka sama kagetnya dengan Gara.
"Apa Papa dan Mama sudah melihat wajahnya?" Kenapa kalian menyembunyikannya dariku?" Melepas kasar cengkraman tangannya dari lengan Inah. Gio menatap Inah dari bawah hingga ujung kepala dengan pandangan sangat memalukan.
__ADS_1
"Bahkan Gio sangat percaya pada Papa, tapi apa yang Papa lakukan?" suara Gio lemah namun tersampaikan emosi yang sedang ia rasakan. Merasa sakit di hatinya. Orangtua yang paling dia percaya memilihkan seorang yang akan menemani hidupnya hingga maut memisahkan adalah orang dibawah rata-rata. Gio yang sadar dirinya adalah pria sehat dan cukup tampan merasa sangat di rendahkan oleh ayahnya sendiri. Bahkan Gio tidak pernah berpikir buruk tentang Inah walau namanya memang mengusik telinganya.
Gio berbalik hendak kembali naik ke kamar. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Dia pun tidak mendapatkan jawaban dari ayah dan ibunya. Divine memeluk Inah yang tengah menangis dengan air mata mengalir deras.
Terisak-isak dalam pelukan Divine. "Apa salahku, aku pun tidak menginginkan rupa yang seperti ini?" ucap Inah meratapi keadaannya.
"Tidak sayang, kamu cantik hanya saja kamu tidak pernah menyadarinya." Tulus Divine sembari mengusap-usap rambut Inah.
"Iya In, Gio saja yang buta tidak dapat melihatnya, kamu tenang saja ya. Nanti Papa akan berbicara dengannya. Sekarang ayo kembali ke kamarmu." ajak Gara berniat untuk mengantar menantunya itu kembali ke kamar.
"Sayang lihat Mama, kau hanya perlu untuk percaya diri, karena kamu tidak bersalah disini, kami yang bersalah. Jadi kau tidak perlu takut. Oke." tegas Divine. Sembari merangkul punggung Inah untuk bergerak menaiki anak tangga.
Inah dengan langkah yang berat menaiki anak tangga satu per satu bersama Divine.
__ADS_1
Papa dan Mama mertuanya akan mengantar dirinya hingga berbaring di tempat tidur.
Gara mengetuk pintu sebagai formalitas. Sebelum ia membuka pintu itu sendiri dan masuk secara bersamaan dengan Inah dan juga Divine.
Gio tengah berdiri di depan jendela. Dia tidak menoleh sedikitpun saat mendengar pintu kamarnya terbuka.
"Gio, apapun yang sedang kau rasakan, ingat itu bukan salah Inah istrimu. Dia pun merasa terpenjara dengan semua ini. Jangan egois." tuah Gara . Divine mendudukan Inah diatas tempat tidur queensize itu.
Gio masih tidak menoleh dan tidak menjawab. Gara pun mengajak Divine untuk keluar. Barulah Gio berbalik setelah ayah ibunya keluar. Melempar pandangannya pada Inah yang tengah duduk di atas tempat tidurnya.
"Cepat katakan, Siapa orangtuamu, dimana kantor pusatnya, bergelut di bidang minyak atau emas?" Berbicara dengan penuh intimidasi. Gio sangat penasaran seberharga apa wanita jelek di depannya ini hingga ayahnya, Gara menjual anaknya sendiri.
Inah bergerak-gerak sangat pelan. Tanpa berkata apa pun. Hanya terdengar aaa eeeee aaa eeee seperti orang bodoh membuat Gio semakin kesal. Saking geramnya hingga kepala Gio terasa ingin pecah.
__ADS_1
"Jika tidak baik dalam penampilan, setidaknya pintar!" cerca Gio. Berlalu meninggalkan Inah yang wajah dan gestur tubuhnya tampak mengesalkan. Membuat orang yang melihatnya menjadi kesal padanya. Lamban.