Istri Pajangan

Istri Pajangan
S2 - Permintaan Menangis


__ADS_3

Uhuk...Uhuk.. Aku terbatuk saat masuk ke dapur.


“Sayang..." ku dengar suara jauh berteriak, yang ku tahu itu adalah suami ku, Gara.


Ia pun secepat kilap sudah berada di samping ku.


“Minum ini, apa kau sedang sakit?” tanyanya sembari menyodorkan segelas air puti.


“Tidak, ini sepertinya karena sambel Bibi.” Aku melirik sambel yang berada di dalam wajan di atas kompor.


“Buang itu dan tidak ada yang boleh membuat sambel lagi di rumah ini!” kecam Gara pada bibi Wen yang sedang mengoseng sambel.


Bibi Wen pun segera mengangkat wajan dan membuang sambel itu di tempat sampah.


“Buang di luar!” titah Gara lagi.


Bibi Wen langsung mengangguk dan membawa tempat sampah itu keluar.


“Kau sedang apa di sini? kau perlu apa katakan pada ku.” ucap Gara menggendong ku keluar dari dapur.


“Tidak, aku rasanya ingin saja.” jawab ku, menikmati dengan senang hati karena dia menggendongku.


Ku lihat wajahnya bingung. Mungkin ia berpikir apa ada orang ngidam merasa hanya ingin ke dapur saja, seperti istrinya ini.


Di rebahkannya diriku di ranjang dan menatap wajah ku memelas.


“Ada apa?” tanyaku padanya.


“Sudah lama sayang.” jawabnya merengek.


“Sudah lama apa?” tanya ku sungguh tak mengerti.


“Itu.” jawabnya mengerutkan alis.


“Itu apa?” tanya ku lagi.


“Emm begini, anak kita pasti sudah bertanya-bertanya kenapa ayahnya sudah lama tidak menengoknya.” tutur Gara.


Hmm begitu saja pakai berputar-putar, padahal hanya ingin bilang, kalau dia mau melakukan iya-iya dengan ku.


“Sebentar lagi ya sayang, aku takut.” ucap ku.


Gara pun langsung menempel. Mendusel bak kucing.


Beberapa Minggu lalu, flek darah mengotori celana dalam ku dan saat berkonsultasi dengan dr. Stella, kami di larang untuk melakukan cocok tanam sejenak, toh katanya sudah berbuah tidak perlu menanam lagi sementara ini.


Awalnya Gara menerima dan menuruti namun akhir-akhir ini, ia sering lama jika sedang mandi, entah rutinitas apa yang ia tambah.


Sedangkan sebelumnya, kami terbiasa melakukannya setiap hari, mungkin Gara menjadi terbiasa. Di pagi hari atau saat hendak tidur.

__ADS_1


“Aku akan pelan sayang, kan kasihan dia sudah rindu ayahnya.” ucap Gara yang menempelkan wajahnya di leher ku.


“Ah tidak, dia tidak rindu.” timpal ku.


“Dia rindu !” ucapnya tak mau kalah, tangannya sudah menyusup ke dalam bra ku.


Ahhh... Aku pasti mendesah jika ia menyentuh bukit ku yang semakin membesar ini. Bisa dikatakan bukit kembar ku ini adalah daerah sensitif ku.


Akhirnya dia mendapatkan apa yang ia inginkan. Dia berhasil membuat ku merasa tak sabar untuk segera melakukan penanaman kembali pada hutan gundul ku.


“Sayang ingat pesan dr.” kataku mengingatkannya dengan suara erangan hampir sampai.


Gara pun langsung mencabut pohon tanpa dahan itu hingga memuntahkan airnya di perut ku.


Aaaaa... Teriak ku. Kali ini bukan rintihan nikmat, melainkan jijik karena air itu memenuhi perut ku.


“Maaf sayang, aku tidak tau lagi harus mengarahkannya kemana.” Gara langsung menggendong ku ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Aku tidak bisa menahannya lagi, aku yakin anak kita akan baik-baik saja.” katanya sambil menyabuni seluruh tubuh ku.


“Hmm.. jika terjadi sesuatu itu karena mu.” ucap ku kesal tidak sepenuh hati.


“Ya...” Jawabnya terpaksa dengan mengerucutkan mulutnya.


“Tapi kan aku sudah mengikuti saran dokter.” tambahnya lagi.


Selesai mandi aku membaringkan tubuhku di tempat tidur bersiap tidur, rasanya aku sangat lelah.


“Ben, belikan aku pengaman.” ku lihat Gara sedang menelpon.


“Pengaman, begitu saja tidak tau!” ketus Gara.


“Antarkan sekarang!” tambahnya lagi lalu memutus telponnya. Entah Ben yang berada di dalam telpon itu mengerti atau tidak.


Di tempat lain. Ben mondar-mandir di dalam apartemennya. Ia memikirkan apa yang ingin Gara lakukan hingga butuh pengaman. Pikirnya Gara sedang membutuhkan gembok.


“Rasanya tidak mungkin rumah mewah itu butuh gembok.” ragunya dalam hati.


Ben pun segera melakukan penulusuran untuk memastikan. Matanya terbelalak melihat pengaman yang tampil di layar ponselnya.


“Aku juga berpikir ini, tapi untuk apa Gara butuh ini?” pipinya menggembung menahan tawa.


Dengan menggunakan topi dan masker ia membeli pengaman itu di mini market di dekat rumah Divine.


“Sayang kenapa mondar-mandir?” tanya Divine.


“Aku menyuruh Ben sesuatu, entah dia mengerti atau tidak. Tapi jika ia sudah mengerti, rasanya ia sedang menertawakan ku sekarang.” tutur Gara kesal.


Pffftt... Divine pun ikut menahan tawanya.

__ADS_1


“Ya kan kau saja menertawai ku.” kesal Gara lagi.


“Tidak sayang, aku tertawa karena melihat wajah mu yang lucu.” alih Divine.


“Apa lucu, di mananya bagian wajah ku yang lucu?” heran Gara.


Saat kau menangis.


“Hahaha.” akhirnya tawa Divine pecah, ia sudah tak sanggup menahannya.


“Sayang, rasanya aku ingin sesuatu.” Divine mengalihkan pembicaraan.


“Apa sayang, sebentar lagi Ben akan kesini, aku bisa memintanya, mencarikan untuk mu.” jawab Gara cepat.


Gara berubah menjadi kantong ajaib Doraemon, dapat mewujudkan semua permintaan istrinya. Apa pun itu.


“Tapi ini tidak bisa di wujudkan dengan bantuan Ben.” manja Divine.


“Ahh apa itu?” Gara berbinar-binar, ia sangat senang ada keinginan khusus yang hanya padanya.


“Ingin melihat mu menangis.”


“Hah.” bola mata Gara membesar, kaget dengan apa yang ia dengar.


Tok...tok..tok...


“Tuan, makan malam sudah siap.” suara pak Ann di depan pintu.


Divine langsung berdiri, ia sangat bersemangat untuk makan walau akhirnya ia akan memuntahkannya lagi.


Gara berjalan pelan di belakang Divine.


Memikirkan cara untuk menangis. Itu adalah hal yang sulit. Gara hanya bisa menangis jika Divine orang yang ia cintai itu dalam keadaan tidak baik, atau merasa Divine akan meninggalkannya.


Ben datang di saat yang tepat, saat Gara dan Divine akan makan malam.


Ben pun menyerahkan yang gara minta di depan pak Ann dan beberapa pelayan di meja makan.


“Apa itu, aku tidak memerlukannya?” Gara tidak melihat ke arah Ben. Ia mengisi piring makan Divine.


Ben bingung, ia pikir ia salah dan memberikannya pada pelayan untuk di buang.


Gara yang melihat apa yang Ben lakukan tak sengaja membunyikan piring hingga sangat keras.


Ben ini bodoh sekali, apa tidak bisa mengerti ku! geram Gara melihat tingkah Ben.


“Sayang biar aku menyuapi mu." Gara langsung menyuapi Divine dan mengambil sisa nasi yang menempel di sekitar bibir Divine dengan bibirnya.


Sengaja Gara lakukan, agar Ben merasa tak senang. Gara tau Ben memiliki masa lalu tak mengenakkan hingga ia tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita hingga saat ini, Ben tau bagaimana rasanya menjalin hubungan.

__ADS_1


__ADS_2